Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Armada Emas
Surga Kedua - Langit di atas Kota Roda Besi.
Kota Roda Besi bergetar hebat di bawah bayang-bayang kehancuran. Langit kelabu Surga Kedua tidak lagi memancarkan awan debu logam, melainkan terbakar oleh lautan emas yang menyilaukan dan menyesakkan napas. Tabir dimensi telah terkoyak sepenuhnya, membiarkan kemurkaan Surga Kesembilan tumpah ruah bagaikan air bah.
Tiga puluh tiga kapal perang emas raksasa melayang menutupi matahari kelabu. Tubuh kapal-kapal itu diukir dengan rune surgawi yang menyedot energi kehidupan dari dataran di bawahnya.
Namun, kengerian sejati bukanlah armada tersebut, melainkan tiga pilar cahaya absolut yang memancar dari kapal utama di garis depan. Di dalam pilar cahaya itu, melayang tiga sosok berbalut zirah. Mata mereka memancarkan hukum alam yang berbeda-beda Petir, Angin Kosmik, dan Api Suci.
Tiga Dewa Sejati Tahap Awal. Pengadilan Langit tidak lagi mengirim satu eksekutor; mereka mengirim pasukan pemusnah.
Di alun-alun kota, Mo Han jatuh berlutut hingga tempurung lututnya retak menghantam lantai baja. Darah mengalir dari hidung dan telinganya. Puluhan ribu pasukan Sekte Malam Abadi terkapar tak berdaya, tubuh fana mereka ditekan oleh tiga hukum dewa yang tumpang tindih. Formasi pertahanan Divisi Besi yang baru saja dibangun hancur menjadi debu bahkan sebelum diaktifkan.
"Di manakah tikus fana yang berani menelan Eksekutor Cahaya?" suara Dewa Petir bergema, mengubah setiap partikel debu di udara menjadi percikan petir yang menyengat kulit pasukan di bawahnya. "Apakah anomali itu melarikan diri setelah menyadari bahwa ia telah memancing murka surga?"
Mo Han menggertakkan giginya yang berlumuran darah. Ia mendongak menatap pilar cahaya itu dengan fanatisme yang mengalahkan rasa takutnya.
"Kaisar Malam... tidak pernah lari!" raung Mo Han dengan sisa tenaganya. "Saat beliau kembali, darah emas kalian akan mencuci jalanan kota ini!"
Dewa Angin Kosmik di udara mendengus dingin. "Kesetiaan dari seekor serangga sungguh menggelikan. Karena ia tidak ada di sini, kita akan membersihkan sarangnya terlebih dahulu. Bakar kota ini hingga tak bersisa satu jiwa pun."
Dewa Api Suci mengangkat tangannya yang memancarkan nyala putih menyilaukan, bersiap melepaskan lautan api yang akan meleburkan Kota Roda Besi beserta puluhan ribu isinya menjadi lahar cair.
Para kultivator Malam Abadi memejamkan mata mereka, keputusasaan merayapi hati mereka. Kesenjangan ini terlalu mutlak.
Namun, sebelum setetes pun Api Suci itu jatuh...
SWUUUUUUUSH!
Sebuah tekanan kedinginan yang membekukan jiwa membelah cakrawala barat Surga Kedua. Hawa itu begitu pekat hingga lautan api putih di tangan sang Dewa tiba-tiba meredup dan bergetar hebat, seolah nyala api itu sendiri merasakan ketakutan.
Tiga Dewa Sejati serentak menoleh ke arah barat.
Dari ujung cakrawala, garis hitam pekat melesat membelah langit emas dengan kecepatan yang menolak hukum ruang. Garis itu tidak memancarkan cahaya, melainkan menelan setiap partikel cahaya emas armada surga yang dilewatinya.
Di saat yang sama, setangkai teratai es ungu mekar di tengah-tengah alun-alun kota, langsung meredam tekanan tiga dewa tersebut dan membiarkan Mo Han beserta pasukannya meraup udara kembali. Lin Xue telah tiba, pedang teratainya terhunus anggun, matanya menatap tajam ke arah langit.
Namun, perhatian ketiga dewa tidak tertuju pada Sang Ratu Abadi, melainkan pada bayangan hitam yang tiba-tiba muncul tepat melayang sejajar di depan armada raksasa mereka.
Shen Yu berdiri di tengah udara. Jubah hitamnya berkibar malas. Kulitnya memancarkan kilau Tulang Besi Naga Bintang, dan Dantian-nya dengan tenang mengendalikan hukum cahaya surga yang telah ia asimilasi. Di bahu kanannya, bersandar Pemutus Samsara Primordial sabit yang memancarkan kegelapan mutlak, dengan urat emas dan perak yang berdenyut layaknya pembuluh darah kosmik.
"Kalian mencariku?" Shen Yu menyeringai, sebuah senyuman tirani yang membuat darah mengalir lebih cepat. "Maaf membuat kalian menunggu. Aku harus mencari pisau daging yang cukup tajam untuk menyembelih babi-babi dari surga atas."
"Lancang!" raung Dewa Petir, murka oleh arogansi yang tidak masuk akal dari seorang kultivator fana. "Beraninya kau menatap kami sejajar! Hukum Petir: Pasak Hukuman!"
Sang Dewa menunjuk ke arah Shen Yu. Sebuah tombak petir raksasa setebal menara melesat dari langit, membawa hukum pemusnah yang dirancang untuk merobek jiwa. Serangan itu sangat cepat, nyaris mustahil dihindari oleh mata fana.
Namun Shen Yu tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip.
Mata kirinya yang bercincin perak dan emas berputar halus.
KRAAAK!
Tombak petir dewa itu mendadak berhenti satu jengkal dari wajah Shen Yu. Bukan ditahan oleh Qi, melainkan tertahan oleh distorsi Dao Waktu. Sedetik kemudian, urat emas di bilah sabit Shen Yu menyala terang. Sang Tiran menempelkan bilah Pemutus Samsara Primordial ke tombak petir tersebut.
SRAAAAAASH!
Dalam keheningan yang menakutkan, petir hukum dewa itu dihisap habis tak bersisa ke dalam bilah sabit, ditiadakan sepenuhnya seolah serangan itu hanyalah ilusi semata.
Ketiga Dewa Sejati membelalakkan mata mereka. Ratusan komandan emas di kapal-kapal perang menahan napas. Mereka baru saja melihat hukum alam murni ditelan oleh sebuah senjata!
"Logam apa itu?!" Dewa Api Suci berseru, insting abadinya berteriak memperingatkan bahaya mutlak. "Senjata itu menolak hukum kita!"
Shen Yu mencengkeram gagang sabitnya dengan kedua tangan. Otot Tulang Besi Naga Bintang-nya mengencang hingga udara di sekitarnya retak bagaikan kaca.
"Senjata ini bukan hanya menolak hukum kalian," bisik Shen Yu, suaranya membelah kesunyian yang tegang. "Senjata ini menelan eksistensi kalian."
Shen Yu memutar tubuhnya, menarik sabit raksasa itu ke belakang punggungnya, lalu melepaskan satu ayunan horizontal penuh ke arah salah satu kapal perang emas terbesar di barisan depan armada.
"Seni Kaisar Malam: Garis Kematian Primordial."
Satu tebasan dilepaskan.
Tidak ada ledakan energi yang menyilaukan. Tidak ada suara gemuruh badai. Yang ada hanyalah sebuah garis lengkung berwarna hitam legam setipis sehelai rambut, memanjang ratusan tombak melintasi langit. Garis itu diapit oleh kilatan emas dan perak yang berdenyut pelan.
Garis hitam itu melesat tanpa suara, melewati formasi pelindung kapal perang emas tingkat dewa seolah formasi itu terbuat dari udara kosong. Garis itu terus melaju, memotong lurus lambung kapal perang raksasa tersebut dari ujung haluan hingga ke buritan, sebelum akhirnya menghilang ke dalam cakrawala Surga Kedua.
Keheningan mutlak menyelimuti langit dan bumi.
Satu detik. Dua detik.
Para prajurit di atas kapal perang emas itu masih berdiri bingung, tidak merasakan apa-apa.
Namun, pada detik ketiga...
KRAAAAAAAAK! BLAAAAAARRRRR!
Kapal perang raksasa yang ditempa dari logam surga itu mendadak tergeser. Garis potongannya begitu halus hingga terbelah secara absolut. Setengah bagian atas kapal itu tergelincir dari setengah bagian bawahnya.
Ledakan masif meledak saat inti tenaga kapal terbelah menjadi dua. Kapal perang emas itu hancur berkeping-keping di tengah udara, menumpahkan lautan api dan menjatuhkan ribuan prajurit elit Pengadilan Langit yang menjerit histeris menuju kematian mereka di tanah baja Kota Roda Besi.
Dewa Petir, Angin, dan Api membeku di tempat mereka. Mata tanpa pupil mereka menatap puing-puing kapal yang jatuh dengan ketidakpercayaan yang mengguncang kewarasan dewa mereka.
Satu tebasan santai dari seorang Dewa Fana Tahap Menengah... membelah kapal perang dewa beserta formasi absolutnya tanpa perlawanan?
"Oops," Shen Yu menyandarkan kembali sabitnya ke bahu, senyum tiraninya kini terlihat seperti seringaian iblis maut di mata para armada surga. "Sepertinya pisaunya cukup tajam."
Di bawah sana, puluhan ribu pasukan Malam Abadi bersorak dengan fanatisme yang menggila. Dewa Sejati tidak lagi terlihat menakutkan saat junjungan mereka bisa merobek langit semudah memotong sutra.
Shen Yu menunjuk ke arah tiga Dewa Sejati yang masih tertegun.
"Tinggal tiga kepala lagi," deklarasi Shen Yu, suaranya menggetarkan bintang-bintang kelabu. "Turunlah, Dewa-dewa palsu! Biarkan Ketiadaan-ku mencicipi sisa keabadian kalian!"
💪💪💪