Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4. rencana punya bayi
Kepala Bella terasa berdenyut hebat saat ia mengangkatnya sedikit dari bantal. Rasa sakit itu langsung memaksanya menengadahkan kepala, lalu kembali terjatuh ke bantal tak sanggup bangun.
Ia mengusap pelipisnya sambil perlahan membuka mata. Saat menoleh ke samping, Bella melihat Ruby tidur nyenyak di sisinya, sementara Anne terlelap di sisi lainnya.
Pacar Anne pasti yang mengantar mereka pulang ke rumahnya tadi malam.
Potongan-potongan ingatan dari malam sebelumnya kembali menyerbu pikirannya.
Ia belum pernah minum sebanyak itu sejak dirinya putus dengan Leon.
“Aduh…” gumamnya lirih. Ia melakukannya lagi. Sempat berpikir alkohol akan menghapus nama itu dari kepalanya, ternyata tidak.
“Selamat pagi,” Anne mengerang pelan sambil bergeser turun dari tempat tidur.
“Selamat pagi,” balas Bella dengan suara serak dan mengantuk, tangannya masih sibuk mengusap dahinya yang berdenyut.
Anne berjalan ke meja rias dan berdiri di depan cermin, langsung memulai ritual ‘pemeriksaan wajah pagi’-nya. Tak lama kemudian, Ruby ikut terbangun. Keduanya tampak jauh lebih baik dibanding Bella yang jelas tidak semabuk dirinya.
“Semalam menyenangkan,” kata Ruby sambil turun dari tempat tidur. “Kita harus lebih sering mengajak Bella.”
Suara mereka terasa seperti palu kecil yang memukul kepala Bella.
“Tentu,” sahut Anne ceria. “Siapa tahu kita bisa dapat lebih banyak minuman gratis.”
“Kalian berdua sebaiknya diam,” gerutu Bella sebelum meraih bantal dan melemparkannya ke arah Anne, bantal itu meleset dan mengenai Ruby lebih dulu.
“Bukankah seharusnya kamu sudah keluar sekarang untuk membuka kafe?” tanya Ruby sambil tertawa kecil.
Bella memiliki sebuah kafe kecil di pusat kota. Kafe itu buka enam hari seminggu dari Senin hingga Sabtu, dan hanya tutup pada hari Minggu. Bisnisnya berkembang pesat, bahkan mulai menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan.
Kesadaran itu menghantamnya seperti tamparan. Bella langsung duduk tegak, meskipun rasa nyeri tajam di dahinya seolah menolak gerakan itu.
“Aku benar-benar lupa,” katanya sambil memegangi kening. Pandangan matanya tertuju pada jam di dinding. Pukul sepuluh pagi. Kafe itu seharusnya sudah buka sejak pukul delapan.
“Tenang saja, aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” kata Anne mencoba menenangkan.
Bella menggeleng pelan, kecemasan masih jelas di wajahnya. “Aku ingin mengembangkan bisnisku. Aku tidak bisa melakukan itu kalau pelanggan yang sekarang saja tidak puas,” ucapnya panik. Ia seharusnya memikirkan semuanya dengan matang sebelum menyetujui ajakan ke klub semalam.
“Ini cuma satu hari,” timpal Ruby santai.
“Bernard dan para pelayan lainnya mungkin masih menungguku di depan kafe,” ujar Bella.
Bernard adalah calon manajer kafenya. Bella memang berencana memberinya posisi itu setelah kafe keduanya resmi dibuka, agar pengelolaan dua tempat bisa berjalan lebih mudah.
Dengan gerakan tergesa, Bella meraih tas tangan di meja samping tempat tidur dan mengobrak-abrik isinya sampai akhirnya menemukan ponselnya. Jarinya gemetar saat menekan nomor Bernard.
“Hai,” jawab Bernard dengan ceria seperti biasa.
“Hai, maaf sekali aku terlambat. Aku akan sampai di sana sekitar tiga puluh menit lagi untuk membuka kafe,” kata Bella cepat.
“Oh, tidak apa-apa,” jawab Bernard sambil tertawa kecil. “Aku sudah memakai kunci cadangan yang kamu berikan untuk berjaga-jaga kalau ada keadaan darurat. Semuanya baik-baik saja di sini. Kenapa kamu tidak ambil cuti saja hari ini?”
Bella menghembuskan napas lega. “Terima kasih, Benny. Kau benar-benar penyelamat.”
Bella akhirnya memutuskan menerima saran itu. Setidaknya hari ini bisa menjadi ujian kecil untuk memastikan semuanya tetap berjalan lancar tanpa kehadirannya. Lagipula, ia memang berencana mengambil cuti sehari. Ia merasa pantas mendapatkannya.
“Sampai nanti,” ucapnya sebelum menutup telepon dan meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur.
“Kau sebaiknya berhenti memanggilnya Benny,” kata Ruby tiba-tiba.
Bella menyandarkan kepala ke bantal. “Kenapa?”
“Pernah lihat cara dia memandangmu?” lanjut Ruby. “Dia diam-diam jatuh cinta padamu. Bisa jadi tanpa sadar kamu memberinya harapan palsu.”
Bella terdiam. Ia memang pernah menyadarinya. Namun baginya, itu tak lebih dari rasa kagum. Saat pertama kali bertemu Bernard, pria itu sedang berada di titik terendah hidupnya. Tak ada yang mau memberinya pekerjaan. Bella hanya memberinya kesempatan. Sebuah pekerjaan.
“Kalian cuma berhalusinasi,” ujar Bella dengan nada meremehkan. “Kenapa kita tidak makan saja?”
Bella bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke lemari obat untuk mengambil aspirin demi meredakan sakit kepalanya. Seperti biasa, ia harus mengunyah pil itu lebih dulu, karena ia selalu kesulitan menelan obat. Rasa pahit segera menyebar di mulutnya, membuatnya meringis.
Setelah itu, mereka bertiga menuju dapur. Ruby dan Anne duduk mengelilingi meja makan, sementara Bella mulai memasak telur orak-arik dan sandwich. Dari mereka bertiga, hanya Bella yang benar-benar bisa memasak. Ruby bahkan masih sering bergantung pada masakan orang tuanya. Bella menyajikan sarapan lalu ikut duduk di meja.
“Kalian harus lihat Marcus dari SMA sekarang. Aku bertemu dia minggu lalu. Dia tampan sekali, aku bahkan hampir tidak mengenalinya.” kata Ruby antusias.
“Marcus yang itu? Yang dulu gemuk?” sahut Anne.
Percakapan itu berlalu begitu saja, namun pikiran Bella justru melayang ke kejadian semalam. Ide yang muncul di kepalanya kembali berputar tanpa bisa dihentikan.
Ia mencoba mengabaikannya, tetapi semakin ia menepis, semakin kuat gagasan itu tumbuh. Bella merasa siap mengambil kendali atas hidupnya sendiri, bukan lagi menunggu sesuatu yang mungkin tak akan pernah terjadi.
Jika sesuatu itu tidak datang, maka ia sendiri yang akan mewujudkannya.
“Guys,” ujar Bella tiba-tiba sambil berhenti makan. Suaranya membuat Ruby dan Anne langsung menoleh padanya. “Aku ingin punya bayi.”
Garpu Ruby terlepas dari tangannya dan jatuh ke piring dengan bunyi nyaring.
Anne tersedak, terbatuk sambil menepuk dadanya. “Apa?”
“Aku ingin punya bayi,” ulang Bella, kali ini terdengar sedikit antusias.
Ruby mengerjapkan mata. “Maksudmu… boneka? Atau anak anjing?”
“Bukan,” jawab Bella tenang. “Aku bicara tentang bayi sungguhan. Bayi yang harus ku kandung sembilan bulan, yang menangis, tidur, dan melakukan semua hal yang biasa dilakukan bayi.”
Keheningan menyelimuti meja makan.
“Bagaimana caramu akan hamil?” tanya Anne hati-hati. “Atau, kamu hanya akan mencari pria sembarangan untuk menghamilimu?”
“Tidak juga. Ini dunia modern. Sekarang aku punya lebih banyak pilihan.” Bella berhenti sejenak sebelum melanjutkan, seolah memastikan kata-kata itu benar-benar siap keluar dari mulutnya. “Seperti donor sperma.”
Ruby menatapnya lama. “Apa kamu benar-benar yakin ingin punya bayi? Itu tanggung jawab besar.”
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau terus menunggu pangeran tampan yang mungkin tidak akan pernah datang.” jawab Bella mantap.
Ruby menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Kalau kamu memang menginginkan ini, ketahuilah kami akan selalu ada untuk mendukungmu.”
“Ya, dan juga untuk membujukmu agar tidak melakukan hal bodoh. Selama kamu tidak memintaku jadi pengasuh penuh waktu, aku mendukungmu,” sahut Anne sambil terkekeh.
Bella ikut tertawa kecil. Mungkin ini terdengar gila bagi sebagian orang, tetapi baginya ini terasa seperti satu-satunya kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Dan seaneh apa pun kedengarannya, ia siap mencobanya.
Tak lama kemudian, Ruby dan Anne berpamitan. Menjelang sore, Bella sudah sepenuhnya meyakinkan dirinya sendiri memiliki bayi bukan sekadar ide impulsif, melainkan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.
Ia memutuskan untuk meresmikannya.
Saat ini, Bella sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya. Ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka terhadap kabar ini. Meski mereka jarang sepakat dalam banyak hal, pendapat orang tuanya tetap penting baginya.
Orang tua Bella tinggal di kawasan pinggiran kota. Ayahnya memiliki firma hukum ternama. Hingga kini, ibunya masih belum sepenuhnya memaafkannya karena memilih membuka kedai kopi alih-alih terjun ke bisnis keluarga.
Bella memarkir mobilnya di halaman rumah, di antara beberapa Range Rover milik ayahnya.
Meski tumbuh dalam keluarga kaya, ayahnya selalu menanamkan satu prinsip: segala sesuatu harus diperoleh dengan usaha sendiri. Kerja keras adalah nilai yang tak bisa ditawar, sesuatu yang sayangnya tak pernah benar-benar dipahami oleh saudara laki-lakinya.
Bagi ibunya, baik Bella maupun saudaranya adalah kecelakaan yang datang terlalu dini dalam hidupnya.
Bella menghela napas panjang sebelum keluar dari mobil. Ia tak tahu bagaimana reaksi orang tuanya nanti, dan justru itulah yang membuat dadanya berdebar. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Ami menyambutnya dengan senyum hangat.
“Apakah orang tuaku ada di rumah?” tanyanya.
“Ya, mereka ada di ruang tamu,” jawab Ami ramah.
“Terima kasih,” ucap Bella sebelum melangkah masuk.
Ibunya duduk di sofa panjang, sementara ayahnya menempati kursi berlengan tampak setengah tertidur. Televisi menyala, menampilkan acara realitas yang penuh warna dan suara nyaring.
“Hai, Sayang,” sapa sang ibu begitu melihat Bella.
“Hai, Bu,” jawab Bella sambil mendekat. Ia mengecup pipi ibunya, lalu pipi ayahnya.
Ibunya kembali memusatkan perhatian ke layar televisi, sementara ayahnya hanya mengangguk pelan tanpa membuka mata sepenuhnya.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya sang ibu tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Aku punya kabar,” kata Bella sambil duduk di kursi di hadapan mereka.
Ia mengenal orang tuanya dengan baik. Biasanya, kabar besar harus diawali dengan percakapan ringan dan tidak mengguncang hidup. Namun hari ini, ibunya tampak tidak tertarik berbincang, dia terlalu larut dalam acara favoritnya.
Entah mengapa, Bella merasa tak sanggup menunggu lebih lama. Dadanya dipenuhi kegembiraan dan tekad yang sudah terlalu lama dipendam.
“Ibu, Ayah. Aku ingin punya bayi.”
Seketika, ibunya meraih remote dan mematikan televisi. Ayahnya mendongak, sepenuhnya terjaga.
“KAMU MAU APA?!” teriak sang ibu, menoleh tajam ke arah Bella.
“Aku ingin punya bayi,” ulang Bella, duduk lebih tegak. “Melalui donor sperma.”
Keheningan jatuh begitu berat di ruangan itu.
Wajah ibunya memerah, amarah jelas terlihat dari sorot matanya. Ayahnya justru menyandarkan tubuh lebih dalam ke kursi berlengan, telapak tangannya menutupi wajah.
“Apakah kamu sudah gila?” bentak ibunya. “Pernah kamu pikirkan apa yang akan dikatakan orang-orang? Klien ayahmu?”
Bella menahan napas. Ia baru saja mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi seorang ibu, dan hal pertama yang terlintas di benak ibunya adalah citra, reputasi, dan klien firma hukum ayahnya.
Firma hukum ayahnya memang besar, berpengaruh, dan disegani. Namun bagi sang ibu, yang terpenting bukanlah kebahagiaan putrinya, melainkan bagaimana keluarga mereka terlihat di mata orang lain.
Bella menggumam pelan, merasa kepercayaan dirinya runtuh seketika. Ia sempat berharap akan mendapat sedikit dukungan, apa pun bentuknya.
“Apa kau dengar putrimu, Justin?” teriak ibunya kepada sang ayah.
Justin masih duduk di kursi berlengan. Bahkan kabar sebesar ini tampaknya belum sepenuhnya membangunkannya. Lelaki itu memang bekerja terlalu keras demi memenuhi tuntutan istrinya, dan itu terlihat jelas.
“Hm?” gumamnya sambil duduk tegak, mengedipkan mata untuk mengusir kantuk. Ia menggeleng pelan, lalu mengarahkan pandangannya pada Bella. “Ayah tidak akan membiarkan cucu ayah lahir dari laboratorium sains,” katanya tegas.
Bella mengangkat dagu. “Aku akan melakukannya dengan atau tanpa persetujuan kalian.”
Ia seharusnya sudah tahu. Persetujuan ibunya bukanlah sesuatu yang mudah didapat. Perempuan itu hampir terkena serangan jantung saat saudara laki-lakinya menghamili mantan pacarnya dulu.
“Terima kasih atas dukungannya,” ujar Bella datar. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar rumah dengan amarah yang mendidih, dan membanting pintu depan hingga bergetar.
Dari kejauhan, ia masih bisa mendengar ibunya berteriak memanggil namanya.
“Bella!” teriak sang ayah.
Langkah Bella terhenti. Ia berbalik dengan gerakan dramatis, menatap ayahnya yang menyusul ke arah mobil.
“Ayah juga mau memberiku ceramah?” tanyanya tajam.
Justin menggeleng. Ia melangkah lebih dekat dan menggenggam tangan putrinya. “Tidak. Hari ketika ayah memiliki kamu dan saudaramu adalah hari paling bahagia dalam hidup ayah. Jika ini benar-benar yang kamu inginkan, ayah akan mendukungmu. Tidak ada apa pun di dunia ini yang akan ayah tukarkan dengan kalian berdua.”
Bella terdiam. Ayahnya selalu seperti ini, selalu tahu kata-kata yang tepat untuk meredakan badai di hatinya. Tubuhnya mengendur, napasnya terasa lebih ringan.
“Benarkah? Jadi ayah tidak akan menukar kami dengan anak-anak yang lebih baik?” tanyanya, mencoba bercanda sambil cemberut.
Justin tertawa kecil. “Tidak akan pernah.”
“Terima kasih, Ayah,” ucap Bella lirih.
Justin menariknya ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya dengan hangat. “Pergilah. Kejarlah mimpimu, macan kecil,” bisiknya.
“Selamat tinggal, Ayah.”
Bella melepaskan pelukan itu dan berjalan menuju mobilnya. Dukungan ayahnya adalah dorongan yang ia butuhkan. Keputusannya kini bulat. Ia akan melanjutkan rencana ini, apa pun risikonya.
Ia akan memiliki bayinya. Dan tidak seorang pun akan menghentikannya.