NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Beijing, China.

Kilau lampu kristal di salah satu pusat perbelanjaan paling elit di jantung kota Beijing memantul sempurna pada jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan pria itu. Garvi Darwin melangkah dengan aura yang begitu mendominasi, membuat setiap pasang mata—baik pria maupun wanita—seolah tersedot ke arahnya. Ia mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya, dengan dua kancing teratas terbuka, memamerkan garis leher yang kokoh dan maskulin.

Di sampingnya, Roy berjalan dengan sigap, menjaga jarak yang tepat sementara beberapa pengawal berpakaian safari mengikuti beberapa meter di belakang.

Langkah Garvi terhenti di depan sebuah butik perhiasan kelas dunia. Pintu kaca tebal terbuka otomatis menyambutnya dengan aroma parfum mahal yang menenangkan.

"Tunjukkan koleksi berlian terbaik yang kalian miliki," ucap Garvi dalam bahasa Inggris yang fasih. Suaranya rendah, namun memiliki getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.

Seorang pelayan butik dengan sarung tangan putih segera membawa sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya, melingkar sebuah set perhiasan bertahtakan berlian murni—kalung, anting, dan cincin yang kilaunya sanggup membutakan mata siapa pun yang melihatnya.

"Satu set ini seharga tiga puluh miliar rupiah, Tuan Garvi. Ini adalah koleksi terbatas kami musim ini," jelas pelayan itu dengan nada sangat hormat.

Garvi menatap perhiasan itu sejenak. Pikirannya melayang pada leher jenjang Sava yang putih mulus. Berlian ini akan terlihat sangat kontras dan menggoda jika melingkar di sana.

"Bungkus. Saya ambil ini," ucapnya tanpa ragu sedikit pun. Baginya, tiga puluh miliar hanyalah angka kecil untuk sebuah alat penenang bagi istrinya yang keras kepala.

"Baik, Tuan."

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Garvi segera berbalik. "Roy, siapkan jet pribadi. Kita kembali ke Medan sekarang."

"Sudah siap di bandara, Tuan. Kita bisa berangkat dalam dua puluh menit," jawab Roy sigap.

**

Medan, Indonesia. Pukul 07.00 WIB.

Udara pagi di Kota Medan sudah mulai terasa gerah oleh aktivitas manusia, namun di dalam mobil mewah yang dikendarai sopir pribadinya, Sava merasakan dingin yang menusuk tulang. Ia baru saja menerima pesan singkat dari Roy bahwa jet pribadi Garvi sudah mendarat di Bandara Kualanamu satu jam yang lalu.

Sava menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di iPad. Ketenangannya selama seminggu ini hancur seketika.

"Predator itu sudah kembali," batinnya kesal.

Mobil Sava mulai memasuki area komplek perkantoran Skyline Group. Dari kejauhan, ia sudah melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap yang sangat ia kenal terparkir tepat di depan lobi utama.

Garvi sudah sampai. Roy membukakan pintu mobil untuk tuannya. Garvi keluar dengan perlahan, membetulkan letak jas custom-made abu-abu gelapnya. Tubuh tinggi tegapnya berdiri dengan kokoh di bawah pilar-pilar gedung SL Group yang megah.

"Apa Miss Sava sudah sampai?" tanya Garvi, suaranya terdengar tidak sabar. Matanya yang tajam terus memindai setiap kendaraan yang masuk.

"Belum, Tuan. Seharusnya sebentar lagi," jawab Roy.

Tepat saat Garvi akan melangkah menaiki anak tangga gedung, suara decit halus ban mobil di atas aspal menghentikan gerakannya. Sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti tepat di belakang mobilnya. Garvi menghentikan langkah, membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menanti dengan tatapan yang sulit diartikan.

Pak Hadi, sopir Sava, turun dengan cepat dan membukakan pintu untuk nonanya.

Sava keluar dengan keanggunan yang mematikan. Pagi ini ia mengenakan setelan semi-formal berupa rok pensil hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna dan atasan blus sutra berwarna emerald green yang mempertegas kesan mewah. Rambut brunette-nya yang curly tertata rapi, bergoyang mengikuti setiap langkah kakinya yang mengenakan stiletto hitam.

Sava menyadari kehadiran Garvi. Ia melangkah pelan menuju suaminya, wajahnya datar, seolah ia hanya sedang menyapa atasan biasa.

"Selamat pagi, Mr. Garvi," ucap Sava sambil membungkukkan tubuhnya sedikit—gestur formal yang selalu mereka lakukan di depan umum.

Garvi menatap Sava tanpa berkedip. Ada gurat posesif di matanya yang berkilat lapar. Ia memperhatikan bagaimana pakaian itu menempel di tubuh istrinya, bagaimana aroma parfum floral-woody milik Sava menyerang indranya.

"Selamat pagi, Miss Sava," jawab Garvi dengan suara yang sengaja ia buat lebih dalam. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum menggoda yang sanggup meluluhkan hati wanita mana pun, namun hanya mendapat tatapan dingin dari Sava.

"Kamu terlihat sangat... segar pagi ini."

"Terima kasih. Laporan rapat dewan komisaris sudah ada di meja Anda," sahut Sava pendek, suaranya sedingin es.

Garvi maju selangkah, jarak mereka kini sangat dekat, cukup dekat bagi karyawan yang berada di lobi untuk melihat namun tidak cukup dekat untuk mencurigai sesuatu. Secara halus, Garvi mengulurkan tangannya seolah ingin membimbing Sava masuk, namun jemarinya justru menyapu pelan pinggang Sava—sebuah sentuhan posesif yang hanya bisa dirasakan oleh wanita itu.

"Mari kita masuk bersama, Miss Sava. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan secara pribadi," bisik Garvi, matanya menatap tajam ke arah seorang staf pria yang sejak tadi tertangkap basah mengagumi kaki jenjang Sava. Tatapan Garvi begitu dingin hingga staf itu langsung menunduk ketakutan.

Sava menahan diri agar tidak meledak saat itu juga. Ia benci cara Garvi menandai wilayahnya di depan umum seolah ia adalah barang milik pria itu.

Mereka berjalan beriringan melintasi lobi. Aura yang mereka pancarkan luar biasa kuat—perpaduan antara ketampanan rupawan bak dewa Yunani dan kecantikan memukau yang berkelas. Para karyawan yang berpapasan serentak menepi, memberikan jalan dengan kepala tertunduk. Di mata semua orang, mereka adalah pasangan pemimpin yang paling mematikan di dunia bisnis.

Begitu pintu lift khusus itu tertutup rapat dan bergerak naik, suasana di dalam ruangan sempit itu berubah drastis. Tidak ada lagi formalitas, hanya ada tensi yang siap meledak.

Garvi segera berbalik, memojokkan Sava ke dinding lift dengan satu tangan bertumpu di samping kepala istrinya.

"Kudengar kamu menghabiskan malam di XZone saat aku di China, Ave?" suara Garvi berubah menjadi rendah, penuh nada intimidasi.

Sava tidak gentar. Ia menatap langsung ke dalam mata gelap suaminya. "Aku hanya butuh hiburan, Mas. Daripada aku memikirkan apa yang sedang suamiku lakukan dengan model di Beijing, lebih baik aku menari, bukan?"

Garvi menyeringai, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. "Aku tahu kamu sedang marah. Ini untukmu. Hadiah dari Beijing."

Garvi membuka kotak itu. Cahaya berlian senilai tiga puluh miliar itu berpendar, menerangi ruang lift yang temaram. Perhiasan itu sangat indah, impian setiap wanita di dunia.

Sava melirik sekilas perhiasan itu, lalu kembali menatap suaminya dengan tatapan paling dingin yang pernah Garvi lihat.

"Tiga puluh miliar untuk menebus satu ciuman di pipi dari Jia?" tanya Sava sinis. Ia sama sekali tidak menyentuh kotak itu. "Terima kasih, Mas. Tapi aku tidak butuh berlian ini. Aku punya cukup uang untuk membeli butiknya sekalian jika aku mau."

Wajah Garvi menegang. Senyumnya menghilang, digantikan oleh rahang yang mengeras. Ia tidak terbiasa ditolak, apalagi dengan cara sekasar ini.

"Ave, jangan memancing amarahku," desis Garvi. "Aku membawakan ini karena aku memikirkanmu sepanjang waktu di sana."

"Memikirkanku sambil memangku wanita lain?" Sava tertawa pahit, tawa yang penuh dengan luka. "Simpan saja berlian ini untuk koleksimu yang berikutnya, Mas. Karena bagiku, kilau berlian ini tidak bisa lagi menutupi bau parfum wanita lain yang ada di jasmu."

Lift berdentang, menandakan mereka sampai di lantai paling atas. Sava mendorong dada bidang Garvi dengan kuat, membuatnya mundur satu langkah.

"Satu lagi, Mr. Garvi," ucap Sava sambil merapikan blusnya yang sedikit kusut. "Di kantor ini, saya adalah COO Anda. Jangan pernah menyentuh saya tanpa izin saya lagi, atau saya tidak akan ragu untuk mengirimkan surat pengunduran diri ke meja Anda pagi ini juga."

Sava melangkah keluar dari lift dengan anggun, meninggalkan Garvi yang berdiri terpaku dengan kotak perhiasan di tangan. Garvi mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya menonjol. Amarah dan rasa cemburu membakar dadanya—bukan cemburu pada pria lain, tapi cemburu pada sikap dingin Sava yang seolah mulai tidak peduli lagi padanya.

"Kamu ingin bermain dingin denganku, Ave?" gumam Garvi dengan tatapan gelap yang mematikan. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan sebelum kamu memohon padaku untuk kembali memelukmu."

Garvi melemparkan kotak perhiasan itu ke lantai lift dengan kasar, lalu melangkah keluar dengan aura predator yang siap berburu.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!