NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BATAS YANG MULAI KABUR

Malam turun perlahan di Jakarta, membawa lampu-lampu kota yang berpendar seperti bintang palsu. Dari jendela besar lantai eksekutif Dirgantara Group, Aira Senja memandangi cahaya itu tanpa benar-benar melihat apa pun.

Pukul delapan lewat.

Gedung hampir kosong, namun ia masih duduk di mejanya. Layar laptop menyala, menampilkan laporan keuangan yang sama sejak satu jam lalu—belum ia sentuh sama sekali.

Pikirannya terlalu penuh.

Clarissa.

Kontrak.

Dan Arlan.

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.

Di gedung ini, aku satu-satunya orang yang berhak menghancurkanmu.

Aira menelan ludah. Jemarinya dingin, meski AC ruangan tidak sedingin rasa yang merambat di dadanya.

Ia menghela napas panjang dan akhirnya memaksa diri fokus. Jika ia ingin bertahan, maka ia harus bekerja. Tidak ada ruang untuk rapuh.

“Masih di sini?”

Suara itu datang tiba-tiba.

Aira tersentak dan refleks berdiri. “Pak Arlan.”

Arlan Dirgantara berdiri di ambang ruangannya, jasnya masih rapi, dasi sudah dilepas dan digantung longgar di leher. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan kesan lelah yang jarang ia perlihatkan.

Tatapannya jatuh pada layar laptop Aira.

“Kau belum pulang.”

“Saya… masih menyelesaikan laporan, Pak.”

Arlan melangkah mendekat. Langkahnya tenang, terukur, namun selalu membawa tekanan yang membuat Aira otomatis menegakkan punggung.

Ia berhenti tepat di samping meja Aira, membaca sekilas isi layar.

“Laporan ini seharusnya selesai satu jam lalu.”

Aira menunduk. “Maaf, Pak. Saya—”

“Alasan,” potong Arlan dingin. “Kontrak kita tidak mengenal kata itu.”

Aira menggigit bibirnya. Ia tahu. Ia hafal setiap baris kontrak itu seolah sudah terukir di kulitnya.

“Besok pagi,” lanjut Arlan, “aku ingin laporan ini di mejaku sebelum jam delapan.”

“Baik, Pak.”

Arlan hendak berbalik, namun langkahnya terhenti.

“Kau sudah makan?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja—tanpa intonasi, tanpa emosi. Namun cukup membuat Aira terkejut.

“Belum, Pak.”

Arlan menoleh. Tatapannya singkat, sulit dibaca. “Kenapa?”

Aira ragu sejenak. “Saya tidak sempat.”

Itu setengah kebohongan. Ia memang tidak sempat… dan tidak punya selera.

Arlan terdiam beberapa detik. Lalu, tanpa menatapnya lagi, ia berkata, “Ikut aku.”

Aira terperangah. “Maaf, Pak?”

“Aku tidak mengulang perintah.”

Arlan melangkah menuju lift pribadi. Aira terpaksa mengikuti, jantungnya berdetak tidak karuan.

Lift melaju turun dalam keheningan canggung. Pantulan mereka terlihat jelas di dinding kaca—Arlan dengan postur dominan dan wajah dingin, Aira berdiri sedikit di belakang, tampak kecil dan tegang.

Mobil Arlan meluncur menembus malam kota. Tidak ada percakapan selama perjalanan. Hanya suara mesin dan lampu jalan yang berganti cepat.

Mereka berhenti di sebuah restoran kecil yang tersembunyi di balik gedung tua. Bukan restoran mewah. Tidak ada kemilau berlebihan. Hanya tempat sederhana dengan aroma makanan rumahan.

Aira mengernyit tanpa sadar.

Arlan menyadarinya. “Kenapa?”

“Saya kira… Bapak tidak makan di tempat seperti ini.”

Arlan mendengus kecil. “Kau pikir aku lahir di dunia marmer dan kristal?”

Aira terdiam.

Mereka duduk berhadapan. Makanan datang tak lama kemudian. Arlan mulai makan tanpa basa-basi.

Aira menatap piringnya ragu, lalu akhirnya ikut menyuap. Rasa hangat menyebar di lidahnya, membuat perutnya yang kosong sejak pagi terasa hidup kembali.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Kau masih sama,” ujar Arlan tiba-tiba.

Sendok Aira berhenti di udara. “Maksud Bapak?”

“Selalu menahan lapar demi orang lain,” jawabnya singkat. “Dulu kau juga begitu.”

Dada Aira mengencang. “Pak Arlan—”

“Jangan,” potongnya cepat. “Aku tidak minta penjelasan.”

Nada suaranya keras, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang retak.

“Aku hanya mengingatkan,” lanjut Arlan. “Kau memilih jalan ini. Jangan berharap aku akan berubah lembut.”

Aira menunduk. “Saya tidak berharap apa pun, Pak.”

Arlan tertawa pelan. “Bohong.”

Ia bersandar di kursinya. “Kalau kau benar-benar tidak berharap apa-apa, kau tidak akan kembali ke hidupku.”

Kata-kata itu menghantam tepat di dada Aira.

“Saya kembali karena terpaksa,” ucapnya lirih, hampir bergetar. “Kalau saya punya pilihan lain, saya tidak akan pernah—”

“Cukup.”

Arlan berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser kasar.

“Aku tidak tertarik mendengar pembenaranmu,” katanya dingin. “Makanlah. Setelah itu kita pulang.”

Perjalanan kembali lebih sunyi dari sebelumnya.

Di depan apartemen Arlan, Aira bersiap turun.

“Besok,” kata Arlan tanpa menoleh, “kau ikut aku ke acara makan malam bisnis.”

Aira terkejut. “Saya?”

“Kau sekretarisku,” jawabnya singkat. “Belajar beradaptasi.”

Ia membuka pintu mobil. “Dan satu hal lagi.”

Aira menoleh.

“Jangan salah paham dengan apa yang terjadi malam ini,” ucap Arlan datar. “Ini bukan perhatian. Ini hanya bagian dari kontrak.”

Pintu tertutup.

Aira berdiri sendiri di trotoar, angin malam menerpa rambutnya.

Namun untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kebencian Arlan.

Batas antara dendam dan perhatian…

mulai kabur.

Dan ia tidak tahu, apakah itu akan menjadi penyelamat—

atau justru awal kehancuran yang lebih dalam.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!