Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
klan Xiao
"Wahh..wahh..wahhh.. Lihat otot-otot itu, lihat rahang yang tegas itu..!!! Aku bahkan bisa merasakan kengerian dari energi yang kau pancarkan.." Ucap si peri kecil tatkala menatap Xiao Chen untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Apakah kau sudah siap?"
"Kurasa sudah.." Jawab Xiao Chen sembari memberikan hormatnya kepada Master virtual yang perlahan menghilang seiring dengan kibasan tangan Xiao Chen.
"Baiklah, tapi kau tidak bisa kesana dengan tampang dan potongan seperti ini.."
Dengan klik dari si peri, tampilan Xiao Chen berubah. Rambutnya menjadi panjang hitam legam, dengan wajah runcing dan dagu tegas serta pakaian yang serba hitam.
...(Foto hanya illustrasi)...
"Nah sekarang kau sudah siap untuk kesana, jangan lupa jika kau adalah anak kedua dari salah satu keluarga di klan Xiao."
"Kau juga memiliki seorang kakak bernama Xiao Wu."
"Selebihnya akan kau mengerti ketika kau tiba disana, dan berhati hatilah."
"Bawalah ini, anggap ini hadiah dariku.. Karena setelah ini kita tidak akan bertemu lagi.."
Kira-kira itulah yang diucapkan si peri kecil sebelum mendorong tubuh Xiao Chen memasuki sebuah lorong pusaran yang gelap dan panjang.
Xiao Chen menutup matanya sesaat, sebelum akhirnya ia merasakan tubuhnya terhempas di sebuah tanah yang lembab dan basah.
BHUUUGGGGG....
Xiao Chen membuka matanya secara perlahan, tepat saat ujung pedang yang runcing mengarah tepat ke jantungnya.
Dengan reflek yang cepat Xiao Chen menghindar, namun pedang itu tetap menggores tipis pinggangnya. Membuat darah mengucur.
"Ahhhhh..." Teriak Xiao Chen yang dengan cepat bangkit dan mundur.
Tangannya menutup luka di pinggang kiri, sedang matanya menatap ketiga orang yang berpakaian ala ninja dengan senjata yang siap di genggaman tangan, dimana salah satunya terdapat bekas darahnya.
"Si..siapa kalian?? Dan kenapa kalian menyerangku???"
Teriak Xiao Chen kepada tiga kawanan ninja dihadapannya. Namun ketiganya diam membisu.
"Siall.. Jadi begini rasanya tersayat pedang? Lalu kenapa juga peri itu mengirimku di situasi yang seperti ini?" Maki Xiao Chen dalam hati.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, satu yang harus kamu tahu...Malam ini adalah saatnya sampah sepertimu mati..!!!" Ucap salah satu dari mereka, sesaat sebelum ia berlari sambil menghunuskan pedangnya ke arah Xiao Chen.
Namun kali ini Xiao Chen sudah bersiap, luka berdarah di pinggangnya juga sudah tertutup. Kedua tangannya membentuk cakar sedangkan kedua kakinya membentuk kuda-kuda.
Mata api Xiao Chen segera aktif dan mulai memindai, tiga orang dihadapannya rupanya baru berada di tingkatan pendekar ahli awal.
"Jadi itu sebabnya gerakan kalian terasa begitu lambat dimataku??" Batin Xiao Chen yang saat ini bisa dengan mudah menghindari serangan ketiga ninja sekaligus.
"Apakah kalian ingin main keroyokan? Baiklah aku ladeni..!!! Lagipula aku tidak mau mati konyol disaat aku baru saja dihidupkan kembali.."
Xiao Chen mulai menyalurkan tenaga dalamnya ke kedua telapak tangannya, hingga membuat telapak tangannya berpendar cahaya putih menyilaukan.
"Seni Naga Langit, Cakar naga membelah bumi..!!!"
Dengan cepat Xiao Chen melesat menyerang ketiganya sekaligus. Cakarnya menjadi setajam pedang hingga ketiga tubuh lawannya terbelah menjadi beberapa bagian hanya dalam tiga tarikan napas saja.
Xiao Chen menghembuskan napas dengan kasar, ia mencoba menstabilkan tenaga dan juga detak jantungnya yang sempat berdegup sangat kencang.
Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya ia membunuh, dan itu langsung tiga orang sekaligus. Setelah tenang Xiao Chen mendekati potongan tubuh ketiganya. Menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh arti sebelum akhirnya berbalik dan bergerak menjauh dari tempat itu.
Namun baru beberapa meter berjalan, ia terjatuh. Xiao Chen merasakan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya. Bahkan itu membuatnya sampai berteriak,
"Arrrrrgggghhhh..."
Rupanya itu adalah saat-saat dimana semua informasi tentang pemilik tubuh sebelumnya di transfer ke dalam memori Xiao Chen.
"Haaa..Haa..Haaaa.."
Xiao Chen menyeka dahinya yang penuh dengan keringat dingin, kini ia paham semua hal yang terjadi. Dirinya adalah "Xiao Chen" Seorang putra kedua dari salah satu tetua di klan Xiao. Saat ini berusia 20 tahun, "Seharusnya" kultivasi dari Xiao Chen berhenti di tingkatan pendekar tingkat tiga, hingga sering disebut sampah atau beban.
Ayahnya bernama Xiao Feng, Ibunya bernama Li Mao dan kakaknya, seperti yang sudah diberitahu oleh peri kecil, bernama Xiao Wu. Klan Xiao sendiri memiliki 5 orang tetua, termasuk ayahnya dan dipimpin oleh seorang ketua utama yang bernama Xiao Dun.
Xiao Dun sendiri memiliki seorang putra bernama Xiao Huang yang disebut sebut sebagai salah satu kultivator jenius di klannya, dan meskipun umurnya sepantaran dengan Xiao Wu (22 tahun), namun memiliki tingkatan yang berada sedikit diatasnya.
Dari memori pemilik tubuh sebelumnya juga lah Xiao Chen mengetahui bahwa satu bulan lagi akan di adakan sebuah turnamen internal klan untuk memilih seorang tetua muda dan juga untuk mewakili klan Xiao pada turnamen antar klan.
Setelah berjalan selama beberapa jam, Xiao Chen mulai keluar dari hutan dan dari tepian hitan ia bisa melihat jalanan utama dimana tak jauh dari sana terdapat gerbang kota yang begitu megah.
Kota Yunshang yang berarti kota diatas awan, adalah salah satu kota besar yang berada di wilayah kekuasaan kekaisaran Song. Kota Yunshang sendiri berada di sebelah selatan sungai Nam, sebuah sungai besar yang mempunyai aliran deras dan membelah wilayah kekaisaran Song menjadi sisi selatan dan utara. Karena letak geografis sungai Nam yang bermuara langsung ke samudra raya, membuat darah di pesisir sungai selalu ramai dengan aktifitas warga.
Dan kota Yunshang bisa dianggap sebagai kota transit sebelum menuju ke dermaga-dermaga yang ada di sepanjang aliran sungai Nam. Bukan tanpa sebab kota ini diberi nama Yunshang, sesuai artinya, Kota Yunshang di awal musim semi selalu tertutup embun tebal di pagi hari layaknya awan yang sedang turun menyelimuti kota.
Di kota Yunshang terdapat banyak klan besar dan kecil, klan Xiao sendiri menghidupi keluarga besarnya dengan menjadi pelindung para saudagar atau pedagang yang hendak melakukan perjalanan jauh dengan membawa barang dagangannya.
Jasa pengawalan Xiao sudah terkenal di seluruh penjuru pesisir selatan sungai Nam sebagai pengawalan yang kredibel dan bisa dipercaya keamanannya.
Selain klan Xiao, di kota Yunshang juga ada klan Wu, dan juga klan Ming yang merupakan dua klan terbesar di kota, disamping puluhan klan kecil lainnya.
Xiao Chen bahkan tidak perlu menunjukkan plakat keluarganya kepada para penjaga pintu gerbang tatkala dirinya berjalan santai melintasi gerbang pintu kota Yunshang.
Jalanan yang luas dan ramai dengan lampion aneka warna menyambut Xiao Chen, di sepanjang jalan, kanan dan kiri terdapat banyak sekali pedagang yang dengan antusias menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang melintas malam ini. Terlihat restoran, kedai dan rumah hiburan ramai dengan tamu.
Ketika sedang asyik menjelajah kota, tiba-tiba saja ada yang menarik tangan Xiao Chen lalu membawanya ke sebuah gang sempit.
"Kau tidak apa-apa??" Ucap pemuda di hadapannya yang ia ketahui dari memori pemilik tubuh sebelumnya sebagai Xiao Yi, sahabat sejatinya yang telah menemani dan membantunya selama ini.
Xiao Yi merupakan teman sedari kecil Xiao Chen, Xiao Yi adalah anak dari salah satu keluarga klan Xiao, ayahnya adalah seorang pendekar hebat dan sering ikut dalam misi pengawalan saudagar kaya.
Xiao Yi memiliki seorang adik yang bernama Xiao Ting, dengan selisih umur yang hanya satu tahun dari sang kakak, membuat Xiao Ting dan Xiao Yi terlihat seperti saudara kembar.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Jawab Xiao Chen tenang.
"Syukurlah, karena ada isu yang mengatakan kau ditangkap oleh segerombolan pembunuh bayaran."
"Sebenarnya isu itu tidak sepenuhnya salah.." Ucap Xiao Chen sembari memperlihatkan bajunya yang robek karena tebasan salah satu pembunuh bayaran.
"Tidak mungkin??? Lalu bagimana kamu bisa selamat?? Apakah ada seorang pendekar hebat yang datang membantumu???"
"Hmmm.."
"Siapa?? Siapa beliau??"
"Entahlah, saat itu suasananya gelap sekali dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.."
"Syukurlah, yang penting kau baik-baik saja.." Pungkas Xiao Yi sembari memeluk sahabatnya.
Keduanya lalu berjalan santai sambil sesekali membeli cemilan. Mereka menuju ke ke arah klan Xiao tanpa menyadari jika sesuatu yang besar, baru saja akan dimulai.