Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Yang Menembus Dunia Paralel
Pagi ini udara Desa terasa lebih segar dari hari-hari sebelumnya.
Kabut tipis masih menggantung rendah di atas ladang, sementara embun menempel di ujung daun pepohonan dan rumput yang sebagian kemarin telah dipangkas oleh Aliana.
Sementara itu dengan pakaian sederhana dan rambut yang diikat asal, Alina yang baru saja keluar dari rumah, ia tampak seperti gadis Desa pada umumnya, sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa di balik kesederhanaannya, sebuah Sistem lintas dunia tengah bekerja tanpa henti.
Hari ini adalah hari ketujuh sejak sistemnya naik ke Level 2.
Dan juga hari ketujuh sejak Alina mulai menanam benih sayuran di sebagian kecil ladangnya.
Alina berjongkok di tengah ladang, meraba tanah yang lembap dan gembur.
Benih kangkung dan sawi yang ia tanam dua hari lalu mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Kecambah hijau kecil mulai bermunculan dari permukaan tanah.
“Pertumbuhan yang bagus~” gumamnya pelan, sementara bibirnya melengkung tipis membentuk siluet senyuman puas.
Ia tidak berharap adanya sebuah keajaiban instan. Ia hanya berharap semua berjalan dengan baik.
“Kalau tumbuh dengan baik, aku tidak perlu menjual tanah subur lagi,” ucapnya pada dirinya sendiri.
Saat Alina berdiri setelah beberapa lamanya ia jongkok, suara langkah kaki terdengar dari arah jalan setapak di samping ladangnya.
“Pagi, Alina!”
Seorang pria muda dengan senyum ramah melambai. Usianya mungkin sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun, mengenakan kemeja sederhana dan celana kerja yang sudah sedikit pudar warnanya.
“Pagi,” balas Alina sopan.
“Namaku Raka. Aku tinggal di rumah sebelah timur ladangmu. Baru sempat kenalan,” katanya sambil tersenyum.
“Oh,” Alina agak terkejut. “Aku Alina,” ucapnya.
“Aku tahu,” Raka terkekeh ringan. “Desa ini memang kecil. Tapi kamu tenang saja, di sini sejak dulu terkenal akan keamanan dan keramahan orang-orang khas orang Desa.”
Kalimat itu membuat Alina merasa hangat tanpa alasan jelas.
“Kalau butuh bantuan soal ladang atau tanam-menaman, bilang saja, jangan sungkan!”lanjut Raka. “Ayahku petani, aku ikut bantu sejak kecil, jadi aku cukup memiliki pengetahuan soal tanam-menanam”
“Terimakasih!” ucap Alina tulus. “Aku memang masih belajar, dan ke depannya mungkin membutuhkan bantuan Kakak.”
Raka mengangguk. “Pelan-pelan saja dalam belajar! Lagipula tanah di sini sangat subur, asal dirawat, semua jenis tanaman pasti bisa tumbuh dengan baik!”
Setelah berbincang sebentar, Raka pamit melanjutkan pekerjaannya.
Sejenak Alina menatap punggung Raka yang semakin menjauh sebelum akhirnya kembali fokus pada ladangnya.
“Kenalan baru, tidak buruk,” gumamnya.
Begitu mengenal Raka dan beberapa penduduk Desa, kini ia merasa tak lagi sendiri, meski tak ada ikatan keluarga dengan mereka semua.
***
Siang harinya, setelah makan sederhana hasil masakannya sendiri, Alina duduk di meja kayu dan membuka layar hologram Sistem.
[Ding!]
[Sistem Perdagangan Dunia Pararel: Pasar Dunia Aktif.]
Ia memilih Pasar Dunia lalu mengaktifkan filter permintaan berdasarkan kategori Benih Tumbuhan.
Seketika itu juga deretan Dunia Pararel muli bermunculan.
Namun satu notifikasi langsung menarik perhatiannya.
[Permintaan Prioritas Tinggi Terdeteksi]
[Dunia Tujuan: Sylva-03]
[Kondisi Dunia: Flora melimpah, namun kehilangan varietas tanaman dasar akibat wabah tanah]
[Permintaan: Segala Jenis Bibit Tanaman]
Alina mengernyit. “Segala jenis bibit tanaman?”
Ia segera membuka detail permintaan.
[Harga Penawaran: 1 Paket Bibit Sayuran (berat bersih 10 gram) seharga 25 Poin Sistem.]
Jantung Alina seketika berdegup lebih kencang.
“Ini~, harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga tanah subur dan air.”
Saat itu juga ia menatap kantong kecil berisi sisa benih yang baru kemarin ia beli.
Semuanya adalah benih alami, tanpa adanya unsur rekayasa, dan dapat tumbuh alami di tanah yang subur maupun yang tak begitu subur.
Namun di dunia lain?
“Sebenarnya bisa saja aku jual semua, tapi nanti aku tidak bisa menanam karena stok benih ini di toko sangat terbatas,” gumamnya.
Ia berpikir cepat, lalu tak lama kemudian tersenyum kecil.
“Aku tidak perlu menjual semuanya.”
Alina membagi benih menjadi dua bagian. Satu untuk ditanam di ladangnya, satu lagi untuk dijual di Sistem.
[Ding!] [Barang terdeteksi: Bibit sayuran alami.]
[Konfirmasi jumlah: 1 paket berat bersih 10 gram.]
“Langsung konfirmasi,” ucap Alina
Udara di sekitarnya bergetar halus.
[Ding!] [Transaksi lintas dunia berhasil.]
[+25 Poin Sistem.]
[Saldo Poin Sistem: 66]
Alina menutup mulutnya, sejenak menahan napas karena sebuah keterkejutan.
“Hanya benih tapi menghasilkan dua puluh lima Poin Sistem.”
Tanpa merusak tanah yang sedang ia rawat. Tanpa mengurangi air dari sumur miliknya. “Jelas ini keberuntungan!” gumamnya.
Dan lagi ke depannya ia bisa melakukan perdagangan yang berkelanjutan, sesuatu yang saat ini menjadi satu harapan kecilnya.
Tak lama kemudian, layar sistem kembali menyala.
[Ding!]
[Pesan Dari Dunia Tujuan – Sylva-03.]
[Pesan Diterjemahan Secara Otomatis]
“Bibit ini masih alami. Kami telah lama kehilangan bibir seperti ini, kalau diingat-ingat, itu sudah jutaan tahun lalu sejak bibit alami terakhir musnah.
Pedagang Dunia Biru, jika kau memiliki lebih banyak bibit alami, kami bersedia membayar lebih tinggi!”
Alina menatap pesan itu cukup lama.
“Pedagang Dunia Biru?” Sebuah nama muncul begitu saja, tanpa ia minta.
Ia tidak membalas pesan. “Bibit alami sulit didapatkan, kalau bisa aku ingin melakukan pembibitan sendiri, baru nanti menjualnya!”
Ia menutup layar hologram dengan perasaan yang sulit digambarkan, campuran antara perasaan kagum, rasa tanggung jawab, dan kesadaran bahwa tindakannya bisa saja berdampak besar pada kehidupan di dunia lain.
***
Sore hari, Alina pergi ke warung Desa untuk membeli beberapa keperluan sepeeti gas di rumah yang kebetulan habis.
Saat menunggu uang kembalian, ia tak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita di sudut warung.
“Kamu masih ingat keluarga Kalingga yang belasan tahun lalu pernah datang ke Desa kita untuk membantu korban banjir?”
“Iya, ingat, bukannya itu keluarga konglomerat yang sangat kaya raya?”
“Memang keluarga itu yang aku bicarakan, dan saat ini sedang heboh kabat putri angkat keluarga Kalingga yang terusir dari keluarga, disaat putri kandung mereka telah ditemukan.”
Mendengar itu, Alina berhenti bergerak.
Ia tidak menoleh ataupun menunjukkan reaksi apa pun. Namun telinganya menangkap setiap kata yang bisa terdengar.
“Bukan hanya kabar anak angkat dan anak kandung yang membuat heboh, tapi sejak si anak kandung kembali, tiba-tiba saja saham perusahaan goyah meski hanya sesaat, dan penyebab semua itu terjadi adalah konflik internal.”
“Kok bisa tiba-tiba ada konflik internal?”
“Entahlah, tapi yang jelas aku kasihan pada anak angkat yang tiba-tiba terusir dari rumah.”
Alina tersenyum sinis tanpa ada yang melihat ataupun menyadarinya.
“Diusir atau dibuang itu rasanya sama saja,” pikirnya.
Ia menarik napas pelan, lalu melangkah keluar warung seolah tidak mendengar apa pun.
Namun entah kenapa langkahnya kali ini terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada emosi yang ingin diluapkan.
***
Malam ini seorang diri Alina duduk di rumah dengan lampu listrik yang kembali menyala setelah kemarin ia meminta petugas listrik kembali menghidupkan meteran listrik rumahnya.
Ponsel lamanya menyala terang, menampilkan berita yang sangat jarang ia buka.
Judul besar muncul di layar ponsel yang sudah memiliki retakan kecil.
“Keluarga Kalingga Hadapi Tekanan Publik Setelah Kasus Anak Tertukar Terungkap!”
Alina tidak membaca semuanya. Ia hanya membaca satu paragraf kecil di bagian bawah berita.
“Sumber menyebutkan bahwa orang tua kandung gadis tersebut berasal dari daerah pedesaan dan telah meninggal dunia bertahun-tahun lalu. Identitas mereka belum sepenuhnya dipublikasikan.”
Dada Alina seketika bergemuruh.
“Orangtua kandungku sudah tiada, dan itu fakta.”
Ia mematikan layar ponselnya.
Melihat sekeliling rumah, ia benar-benar tidak melihat ada foto sebuah keluarga, bahkan sampai detik ini ia belum tau nama ayah ataupun ibunya, dan apa di luar sana mereka memiliki kerabat.
Hanya satu yang ia tau. Orangtuanya memang ada, tapi kini kini mereka sudah tiada.
“Mungkin aku bisa menanyakan pada penduduk Desa tentang makam mereka, tapi sejak awal datang ke Desa ini, aku merasa aneh saat penduduk Desa seolah tidak mengenali siapa sebelumnya yang menempati tempatku saat ini!”
Alina menatap langit-langit rumah kayu, membiarkan keheningan menelan dirinya sejenak.
“Hah~, sebenarnya aku berharap ibu dan ayah kandungku masih hidup, dan mereka datang menjemputku untuk tinggal bersama!” bisiknya pelan.
Tidak ada balasan dari semua keinginannya
Namun setidaknya kini ia memiliki Sistem, dan yakin bisa menjalani hidup kedepannya dengan baik.
“Aku akan hidup dengan baik,” ucapnya lirih. “Dengan atau tanpa siapa pun!”
[Ding!]
[Sistem mendeteksi mental Pemilik semakin kuat.]
[Kupon Diskon 80% untuk 10 barang di Toko Sistem diberikan pada Pemilik. Bisa digunakan begitu akses ke Toko Sistem terbuka]
Alina tersenyum kecil. “Ternyata Sistem selalu mengamatiku.”
Ia bangkit, membuka jendela, dan membiarkan angin malam masuk ke dalam rumah kayu.
Di luar sana ladang terbentang luas, dan benih-benih kecil mulai tumbuh.
Sedangkan di dunia lain, sebuah peradaban mungkin baru saja menemukan harapan, harapan menikmati makanan alami setelah sekian lama menikmati produk olahan yang terlalu banyak mengandung bahan kimia.