Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bermula dari ponsel mati
Sebelum jam kuliah dimulai, suasana kelas masih dipenuhi obrolan ringan. Mandala duduk di bangkunya, membuka buku catatan, mencoba menenangkan pikirannya. Ponselnya bergetar pelan di saku celana.
Satu pesan masuk.
Nama Pak Darman pemilik bengkel tempat Mandala bekerja tertera di layar.
Mandala membuka pesan itu tanpa prasangka. Namun baru beberapa baris ia baca, napasnya langsung tertahan.
Man, maaf baru bisa kabar. Saya dan keluarga kecelakaan di jalan pulang kampung. Istri dan anak saya… meninggal dunia. Bengkel tutup sementara. Saya harus urus pemakaman dan semua urusan keluarga. Saya belum tahu kapan bisa kembali.
Layar ponsel itu terasa bergetar di tangannya.
Mandala menunduk, dadanya sesak. Suara di sekelilingnya mendadak menjauh, seolah kelas itu terbungkus dalam keheningan yang hanya ia rasakan sendiri. Pak Darman bukan sekadar bos. Pria itu adalah orang yang memberinya pekerjaan saat tak ada siapa pun yang percaya padanya. Bengkel itu bukan hanya tempat kerja melainkan sandaran hidup.
Dan kini… semuanya terhenti.
Mandala menutup ponselnya perlahan. Tangannya gemetar tipis. Ia menelan ludah, berusaha menahan gelombang panik yang datang tiba-tiba. Tanpa bengkel, berarti tanpa penghasilan. Tanpa penghasilan, berarti beasiswanya bisa terancam. Segala sesuatu yang selama ini ia bangun dengan susah payah, seolah rapuh dalam satu kabar duka.
Dari bangku belakang, Keyla memperhatikan perubahan di wajah Mandala. Sorot matanya meredup, bahunya menegang. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan pegangan.
“Mandala?” panggil Keyla pelan.
Mandala mengangkat kepala, sedikit terkejut. “Iya?”
“Kamu… nggak apa-apa?” tanya Keyla ragu.
Mandala menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”
Jawaban itu terdengar otomatis, bukan jujur.
Erga melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Namun Keyla tak melewatkan kegelisahan yang jelas terlihat di wajah Mandala. Ada sesuatu yang terjadi dan itu bukan hal kecil.
Bel tanda masuk berbunyi.
Dosen melangkah masuk ke kelas, dan semua mahasiswa kembali ke posisi masing-masing. Mandala mencoba memusatkan perhatian pada papan tulis, namun pikirannya terus kembali pada satu hal... bengkel tutup.
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Mandala merasa benar-benar kehilangan arah. Ia tak tahu bahwa kabar duka itu bukan hanya mengubah rutinitas hidupnya melainkan menjadi titik awal yang memaksanya melangkah ke jalan lain.
Jalan yang kelak akan membawanya semakin dekat pada Keyla…
...
Sepulang kuliah, langit mulai berwarna jingga. Mahasiswa satu per satu meninggalkan gedung kampus, sebagian terburu-buru, sebagian lagi berjalan santai menunggu senja benar-benar turun.
Mandala merapikan bukunya dengan gerakan lambat. Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah bersiap menuju bengkel mengejar waktu, mengejar upah harian. Namun hari itu, ia hanya duduk diam, menatap meja tanpa tujuan.
“Mandala,” panggil Keyla sambil menghampiri. “Kita jadi bahas tugas kelompok, kan?”
Mandala mengangguk pelan. “Iya.”
Mereka berkumpul di salah satu bangku taman kampus. Erga ikut duduk, membuka laptop, mulai membahas pembagian materi. Mandala mendengarkan, sesekali mencatat, namun pikirannya masih terpecah. Ia lebih banyak diam dari biasanya.
Setelah hampir satu jam, Erga berdiri lebih dulu. “Aku ada urusan. Kalian lanjutin aja, nanti kabarin.”
Ia pergi tanpa menoleh lama. Menyisakan Mandala dan Keyla dalam jarak yang canggung.
Keyla menutup bukunya. Ia menatap Mandala, ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Biasanya… kamu langsung ke bengkel, ya?”
Mandala mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Ada kejujuran yang hampir tumpah di mata Mandala, namun ia segera menunduk.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Tapi sekarang kamu masih di sini,” lanjut Keyla, nadanya lembut. “Aku pikir kamu selalu buru-buru pulang.”
Mandala menarik napas panjang. Sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Ia tak terbiasa berbagi cerita, apalagi pada seseorang yang baru ia kenal.
“Bengkelnya tutup,” ucapnya akhirnya, pelan.
Keyla terdiam. “Tutup?”
“Pemiliknya… kecelakaan. Istri dan anaknya meninggal.” Mandala mengucapkannya tanpa menatap Keyla, seolah kalimat itu akan lebih mudah keluar jika tak harus melihat reaksi orang lain.
“Oh…” Keyla menutup mulutnya pelan. “Aku… aku turut berduka.”
Mandala mengangguk. “Terima kasih.”
Hening jatuh di antara mereka. Angin sore menggerakkan daun-daun kering di taman kampus. Keyla menatap Mandala yang kini terlihat jauh lebih rapuh dari kesan pertama yang ia tangkap pemuda kuat, mandiri, seolah selalu tahu ke mana harus melangkah.
“Kalau bengkel tutup…” Keyla ragu melanjutkan, “kamu nggak apa-apa?”
Mandala tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip usaha untuk bertahan. “Aku nggak apa-apa.”
Jawaban itu sederhana, tapi Keyla tahu, di baliknya ada ketakutan besar yang sedang Mandala sembunyikan.
“Kalau butuh bantuan…” Keyla berhenti sejenak, memilih kata-kata. “Atau sekadar teman bicara… kamu bisa bilang.”
Mandala menoleh, menatapnya untuk pertama kali tanpa buru-buru mengalihkan pandangan. “Makasih, Keyla.”
...
Usai kerja kelompok selesai, matahari nyaris tenggelam di balik gedung-gedung kampus. Lampu-lampu taman mulai menyala, memantulkan cahaya kuning lembut di jalan setapak yang mereka lewati.
Mandala dan Keyla melangkah keluar gedung bersama untuk pertama kalinya.
Tak ada percakapan berarti. Hanya langkah kaki yang berjalan seirama, diiringi suara malam yang perlahan turun. Ada rasa canggung, namun bukan canggung yang menekan lebih seperti keheningan yang belum berani diberi nama.
Di depan gerbang kampus, Keyla berhenti.
“Aku tunggu jemputan dulu,” ujarnya sambil melirik ke arah jalan.
Mandala mengangguk. “Iya.”
Ia melanjutkan langkah menuju parkiran motor, namun tak langsung pergi. Dari kejauhan, Mandala melihat Keyla berdiri sendiri di bawah lampu jalan, sesekali menoleh ke kiri dan kanan. Beberapa menit berlalu. Keyla merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel.
Layar itu gelap.
Keyla menekan tombolnya beberapa kali. Tetap mati.
Alisnya berkerut. Ia menghela napas pelan, baru teringat ponselnya belum sempat di charge sejak pagi. Jemarinya meremas tas, wajahnya jelas menunjukkan kebingungan.
Mandala yang sudah mengenakan helm menghentikan gerakannya. Ia memperhatikan dari parkiran. Ada dorongan untuk pergi, membiarkan semuanya seperti seharusnya. Dunia mereka berbeda. Terlalu berbeda.
Namun kaki Mandala justru melangkah mendekat.
“Ponsel kamu mati?” tanyanya pelan saat sudah berdiri tak jauh dari Keyla.
Keyla menoleh, sedikit terkejut. “Iya… lupa nge-charge.” Ia tertawa kecil, canggung. “Sopir aku belum datang.”
Mandala melirik jalan yang mulai lengang. “Biasanya lama?”
“Nggak, biasanya kan sudah nunggu. Makanya aku bingung.” Keyla menghela napas. “Aku juga nggak bisa hubungi siapa-siapa.”
Ada jeda sesaat. Mandala mengusap tengkuknya, ragu.
“Aku bisa… anterin kamu,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya hati-hati, seolah takut tawarannya terdengar terlalu jauh.
Keyla menatapnya. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
“Kamu nggak keberatan?” tanya Keyla.
Mandala menggeleng. “Nggak.”
Keyla tersenyum bukan senyum sopan seperti di kelas, melainkan senyum yang lebih hangat, lebih tulus. “Kalau begitu… aku boleh nitip.”
Mandala berjalan menuju motornya, memberikan helm cadangan. Saat Keyla menerimanya, jemari mereka bersentuhan singkat cukup singkat untuk diabaikan, namun cukup lama untuk meninggalkan getar aneh di dada masing-masing.
Motor itu melaju meninggalkan gerbang kampus.
Di balik helm, Keyla menatap punggung Mandala. Di balik kaca spion, Mandala sesekali melirik pantulan wajah Keyla. Tak ada kata-kata yang terucap, tapi malam itu terasa berbeda.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪