Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Pertemuan Yang Berantakan
Sudah tiga jam Jennie berkutat dengan naskahnya, bungkus camilan dan botol air mineral kosong berserakan di bawah meja.
Jika ada kompetisi "Manusia paling berantakan" mungkin dia akan langsung membawa pulang trofi emas, piagam perhargaan, sekaligus uang tunai pemenang utama.
Kaos oblong bewarna abu-abu yang sudah melar hingga mencapai tengah paha, rambut yang diikat asal-asalan ke atas yang lebih terlihat seperti sarang burung, serta kaca mata tebal yang terus melorot ke ujung hidung karena keringat.
"Akhirnya Bab 10 selesai juga!" pekiknya sembari melakukan selebrasi kecil di atas kursi kerjanya yang beroda.
Namun kegembiraan itu berhenti saat dia mengingat paket yang dia pesan seharusnya sudah sampai sejak tadi. Tiga hari yang lalu dia memesan beberapa buku referensi arsitektur.
Dengan langkah gontai wanita itu berjalan menuju pintu. Benar saja, saat pintu terbuka sudah ada kardus berukuran sedang tergeletak di depan pintu.
Tanpa memeriksa label karena matanya sudah terlalu lelah menatap layar, Jennie mengambil kotak itu dan kembali masuk ke dalam. Dia mengambil gunting dapur dan mulai menyobek selotip kardus dengan brutal.
"Loh, kok bukan buku referensi?" monolognya dengan ekspresi bingung saat melihat isi paket tersebut.
Di dalam kotak tersebut, bukannya buku referensi malah terdapat sebuah maket bangunan minimalis yang sangat detail serta beberapa kertas kalkir.
Jennie mengerjapkan matanya lalu dengan buru-buru melihat label di kardus yang sudah koyak tersebut.
Kepada : Johan Alexander, ST. Unit 502
Saat itu juga jantung Jennie seolah sedang mengikuti lomba maraton. "Sial! Ini paket milik sebelah!"
Dia menatap pintu apartemennya, lalu beralih menatap cermin yang menggantung di dekat ruang tamu. Penampilannya benar-benar seperti seseorang yang baru saja selamat dari isolasi mandiri selama setahun di dalam gua.
"Bodo amat, lah! Cuma mau nganter paket juga. Cukup ketuk pintunya, taruh paketnya, lalu lari masuk ke sini secepat kilat. Dengan begitu dia tidak akan sadar jika aku adalah wanita yang mengintipnya saat dia pindah," ucapnya berusaha meyakinkan diri sendiri dengan suara bergetar.
Dengan tangan gemetar, dia merapikan sedikit rambutnya yang mencuat sebelum keluar menuju unit 502.
Wanita itu kini sudah berdiri di depan pintu unit milik Johan, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tok Tok Tok
Tidak ada jawaban
"Baguslah jika dia tidak ada di rumah, "ucapnya dengan senyum lega dan langsung membungkuk untuk menaruh kotak tersebut.
Namun kali ini dewi fortuna sedang tidak bersamanya, saat dia membungkuk untuk meletakkan kotak di lantai, pintu terbuka dengan pelan.
Jennie segera mendongak dan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis ke luar angkasa.
Johan berdiri di sana, pria itu tidak mengenakan kemeja linen atau pakaian kantor seperti biasanya.
Pria itu hanya mengenakan celana jogger abu-abu yang duduk rendah di pinggulnya, memamerkan garis V-line yang sangat tegas di atas pinggangnya.
Dadanya bidang dengan otot-otot yang sangat padat dan sedikit bulu-bulu halus yang memberikan kesan maskulin yang liar. Rambutnya sedikit basah, sepertinya baru selesai mandi karena bau sampo yang mengudara.
Jennie terpaku di tempat, dalam posisi setengah membungkuk dia tidak bisa berhenti memindai semuanya dibalik kaca mata tebalnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Johan.
Seketika otak Jennie mengalami down system, alih-alih memberikan paket atau meminta maaf, dia malah beralih ke mode "Lady Velvet" secara otomatis.
"Lihatlah rahang itu, ternyata lebih tajam dari imajinasi yang kutulis di bab terbaru," gumamnya tanpa sadar yang sayangnya terdengar cukup jelas di keheningan lorong.
"Bahunya juga, benar-benar sempurna untuk adegan di bawah lampu temaram."
Mendengar itu Johan mengeryitkan dahinya, dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara bingung, curiga, atau mungkin....tertarik?
"Maaf? Apa katamu tadi?" ucap pria itu.
Jennie tersentak, kesadarannya kembali secepat kilat membawa rasa malu yang sanggup membakar seluruh gedung apartemen ini.
"E-eh! Maksud saya....rahang! Eh, bukan! Maket!" Jennie menyodorkan kotak itu ke depan dada Johan dengan gerakan kasar, hampir saja menghantam perut kotak-kotak pria itu.
"Paket, ini paket Anda! Tertukar! Tadi saya...saya salah ambil! Saya tidak sengaja melihat isinya, tapi saya bersumpah tidak merusaknya sedikitpun!" sambungnya dengan tergagap.
Johan menerima kotak itu, jemarinya yang panjang dan kokoh tak sengaja bersentuhan dengan jemari Jennie yang dingin. Sentuhan singkat itu terasa seperti aliran listrik yang membuat bulu kuduk Jennie merinding.
"Oh, paket saya. Terima kasih," ujar Aris. Dia menatap Jennie dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Anda penghuni unit 501?" tanyanya.
Jennie mengangguk kaku, "Benar, nama saya Jennie."
"Baiklah Nona Jennie, nama saya Johan." balas Johan memperkenalkan dirinya sebagai basa basi dan mendapatkan anggukan dari Jennie.
Pria itu terdiam sejenak, lalu sebuah seringai tipis yang sangat misterius muncul di sudut bibirnya. "Jika sedang butuh bantuan tentang suatu hal, anda bisa langsung mengetuk pintu saya," ucapnya lagi saat Jennie baru saja berbalik untuk kabur.
Jennie membeku, bukankah seharusnya dia yang menawari hal tersebut? Secara dia adalah penghuni lama di gedung apartemen ini.
"Seperti tentang rahang tadi, akan jauh lebih efektif jika Anda bertanya langsung kepada yang bersangkutan," sambung Johan yang semakin membuat Jennie menegang.
Tanpa menoleh kembali, Jennie berbicara. "Maaf untuk hal itu, saya cuma suka rahang yang....ah, sudahlah! Permisi!"
Brak!
Jennie kabur dan masuk ke dalam unitnya, menutup pintu itu dengan kasar. Dia menyandarkan punggungnya di pintu dengan jantung yang berdegup kencang hingga telinga yang berdenging, wajahnya sudah sepanas setrikaan.
"Dia tidak mungkin tahu jika aku menjadikannya bahan imajinasi, kan?" gumamnya.
Sementara itu di unit apartemennya, Johan meletakkan paket di atas meja dan berjalan ke arah cermin, menyentuh garis rahangnya sendiri lalu terkekeh pelan.
"Lebih tajam, ya?" gumamnya sembari menggelengkan kepala. "Tetangga yang menarik."
Bersambung