Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pintu kamar tertutup rapat. Seorang perawat senior masuk dengan langkah terukur, membawa sebuah botol cairan bening yang labelnya sengaja ia tutupi.
Bukan sekadar cairan infus biasa untuk penderita lambung, melainkan dosis penguat yang khusus diresepkan oleh dokter pribadi Rangga dari Jakarta.
"Tarik napas panjang, Pak Rangga," bisik perawat itu dengan nada prihatin.
Saat cairan itu mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya, Rangga seketika mencengkeram pinggiran ranjang.
Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi merah padam.
Rasa panas yang membakar seolah merambat dari lengan menuju seluruh tubuhnya, menyiksa saraf-sarafnya yang memang sudah rapuh sejak kecil.
Air mata jatuh tanpa bisa dibendung dari sudut mata Rangga.
Ia tidak terisak, namun getaran di tubuhnya menunjukkan betapa hebatnya ia menahan rasa sakit yang luar biasa.
Pria yang di depan Linggar selalu tampak kuat dan penuh percaya diri itu, kini meringkuk tak berdaya.
"Sakit... sekali..." desis Rangga dengan suara yang pecah.
Perawat itu segera mengusap dahi Rangga dengan kain basah.
"Sabar, Pak. Ini untuk menjaga Bapak tetap bisa berdiri tegak besok pagi."
Rangga mengatur napasnya yang tersengal. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menarik ujung baju perawat itu, matanya yang basah menatap tajam namun penuh permohonan.
"Saya mohon..." suaranya serak.
"Rahasiakan ini. Jangan sampai Linggar tahu kalau saya mendapatkan infus ini. Katakan saja ini hanya vitamin biasa untuk maag saya."
Perawat itu menghela napas berat, merasa iba melihat beban yang dipikul CEO muda ini.
"Baik, Pak. Saya mengerti. Tapi Bapak tidak bisa terus-menerus memaksakan diri seperti ini."
Rangga memejamkan matanya, membiarkan cairan itu perlahan menyatu dengan darahnya. Ia harus terlihat sehat.
Ia harus terlihat kuat agar Linggar tidak perlu merasakan kesedihan yang sama seperti saat ia menderita di masa kecilnya.
Baginya, melihat Linggar tersenyum jauh lebih penting daripada rasa sakit yang sedang menghujam tubuhnya saat ini.
Mobil yang dikendarai Fabian melaju stabil menembus jalanan Yogyakarta yang mulai padat. Namun, suasana di dalam kabin terasa jauh lebih berat daripada kemacetan di luar.
Fabian mencengkeram kemudi dengan erat, sesekali matanya melirik ke arah Linggar yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah deretan pohon di tepi jalan.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Fabian, sesuatu yang ia simpan sejak melihat bagaimana Linggar begitu telaten merawat Rangga semalam.
"Linggar," panggil Fabian pelan, memecah kesunyian.
"Ya?" Linggar menoleh sedikit, namun matanya tetap tampak lelah.
Fabian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang paling ia takuti.
"Boleh aku jujur? Melihatmu begitu cemas kepada Rangga. Itu membuatku bertanya-tanya. Apakah kamu sebenarnya masih mencintainya?"
Linggar terdiam. Pertanyaan itu menghujam tepat di tengah keraguannya sendiri.
Bayangan saat Rangga menggenggam tangannya dengan erat di rumah sakit, serta raut wajah Rangga yang pucat, kembali melintas di benaknya.
Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
"Entahlah, Fabian," jawab Linggar lirih. Suaranya terdengar jujur namun penuh beban.
"Aku sudah terlalu lelah untuk mendefinisikan rasa itu sebagai cinta atau hanya sekadar sisa-sisa kenangan."
"Untuk sekarang, aku tidak ingin terjebak dalam masa lalu, tapi aku juga belum siap memikirkan masa depan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, Fabian. Menjadi Linggar yang mandiri, yang tidak harus hancur hanya karena satu orang pria."
Fabian tertegun mendengarnya. Jawaban itu tidak memberikan kepastian baginya, namun ia bisa merasakan tekad kuat Linggar untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
"Aku mengerti," bisik Fabian, meski hatinya sedikit perih.
"Tapi ingat, Linggar. Menjadi diri sendiri bukan berarti kamu harus memikul semuanya sendirian. Aku ada di sini."
Linggar hanya memberikan senyum tipis sebagai balasan, sementara pikirannya entah mengapa tetap tertuju pada kamar 302—tempat seorang pria yang ia tinggalkan sedang berjuang melawan rasa sakit yang jauh lebih besar dari yang bisa Linggar bayangkan.
Pembahasan di kantor Pak Richard berlangsung cukup alot.
Denah proyek yang terbentang di atas meja kayu besar itu penuh dengan coretan revisi.
Di tengah diskusi, Pak Richard melipat tangannya di dada, lalu menatap Linggar dan Fabian secara bergantian dengan ekspresi yang sulit dibantah.
"Setelah saya pertimbangkan, pembagian tugasnya harus lebih spesifik agar tidak terjadi tumpang tindih," ucap Pak Richard tegas.
Fabian menegakkan duduknya, berharap ia akan tetap bersama Linggar di lapangan. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Richard justru membuatnya terdiam.
"Linggar, saya minta kamu yang menjadi pendamping tetap untuk Rangga selama masa konsultasi ini. Kamu yang paling tahu sejarah teknis proyek ini dan kamu punya kesabaran untuk menghadapi gaya kerjanya. Pastikan dia meninjau setiap sudut lokasi begitu dia keluar dari rumah sakit."
Mata Fabian melebar. "Tapi Pak, bukannya saya yang lebih paham soal teknis lapangan? Seharusnya saya yang—"
"Fabian," potong Pak Richard sambil mengangkat tangan.
"Kamu punya tugas yang tidak kalah krusial. Saya butuh kamu bersamaku untuk turun langsung mencari vendor material. Kita harus menekan biaya tanpa mengurangi kualitas, dan hanya kamu yang punya kemampuan negosiasi setajam itu. Kita akan berkeliling ke beberapa supplier besar mulai besok."
Linggar mengangguk patuh, meski ada sedikit kegelisahan di matanya.
"Baik, Pak. Saya akan mendampingi Pak Rangga."
Fabian hanya bisa terdiam, rahangnya mengeras. Keputusan ini secara otomatis memberikan "panggung" bagi Rangga untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Linggar di lokasi proyek yang sunyi.
Ia melirik Linggar, berharap wanita itu akan protes, namun Linggar justru sibuk mencatat instruksi Pak Richard.
"Nah, sudah diputuskan," Pak Richard menutup rapat itu dengan tepukan tangan.
"Linggar, kamu boleh kembali ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Rangga. Pastikan dia siap bekerja lusa."
Linggar segera merapikan berkas-berkasnya. Di dalam hatinya, ia merasa ini adalah kesempatan untuk menjaga Rangga lebih dekat, namun di sisi lain, ia teringat ancamannya pada Rangga tadi pagi.
"Semoga pria itu benar-benar tidak turun dari ranjang,"batinnya.
Linggar melangkah masuk ke kamar 302 dengan napas sedikit terengah.
Benar saja, firasatnya tidak meleset. Di sana, Rangga sudah duduk di tepi ranjang, sebelah kakinya sudah terbungkus sepatu pantofel, sementara tangannya yang bebas infus sedang berusaha menarik tali sepatu lainnya.
"Rangga! Apa yang aku bilang tadi?!" pekik Linggar sambil berkacak pinggang di depan pintu.
Rangga tersentak, hampir saja terjungkal dari ranjang.
Ia menatap Linggar dengan cengiran tanpa dosa.
"Aku bosan, sayang. Kamar ini terlalu putih, aku butuh melihat warna hijau perbukitan lagi."
"Kembali ke atas atau aku panggilkan Siska perawat seksi tadi untuk menjagamu?" ancam Linggar sambil mendekat.
"Jangan! Lebih baik aku mati bosan daripada dijaga dia," tolak Rangga cepat. Ia tetap bersikeras ingin berdiri, membuat Linggar benar-benar gemas.
Tanpa banyak bicara, Linggar melepas bandana kain yang menghiasi rambutnya.
Dengan gerakan cekatan, ia menarik tangan Rangga yang tidak terpasang infus, lalu melilitkan bandana itu dan mengikatnya kuat-kuat ke tangannya sendiri.
"Nah! Sekarang kamu tidak bisa ke mana-mana tanpa aku. Kalau kamu turun, aku ikut terseret," ucap Linggar puas sambil duduk di kursi tepat di samping ranjang.
Rangga menatap tangan mereka yang kini terikat menjadi satu oleh selembar kain bandana. Sebuah ide jahil melintas di benaknya.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Linggar, matanya berbinar nakal.
"Wah, kalau begini, berarti kalau aku mandi, kamu ikut masuk juga kan? Kita kan satu paket sekarang," goda Rangga dengan suara rendah yang menggoda.
PLAKK!
Linggar memukul lengan Rangga—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat suara nyaring. Wajah Linggar mendadak panas, merah padam sampai ke telinga.
"Diam!! Jangan mesum, ini rumah sakit!" semprot Linggar galak, mencoba menutupi kegugupannya.
Rangga justru tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat lepas dan bahagia.
Meskipun tangannya terikat dan perutnya masih terasa nyeri di bagian dalam, melihat Linggar yang sedang marah namun sangat memperhatikannya adalah obat yang jauh lebih mujarab daripada cairan infus yang tadi menyiksanya.
"Galak sekali bidadariku ini," gumam Rangga sambil menyandarkan kepalanya ke bantal, tetap membiarkan tangannya terikat pada Linggar dengan senyum yang tak kunjung hilang.
mengharukan 👍
dan juga penuh pembelajaran agar lebih menghargai orang lain, bukan dari cover nya saja 👍👍👍
Good....sukses selalu 👍👍👍👍
buat linggar bersatu dengan rangga
menikah beranak cucu sampai maut memisahkan
kak thor sehat swmangat terus yaaa
crazy upnya ditunggu selalu💪🙏👍