Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Gerbang Neraka Berbalut Emas
Pagi itu, matahari menyinari pilar-pilar putih Akademi Kekaisaran Langit yang menjulang hingga menembus awan. Bangunan itu bukan sekadar tempat belajar para pendekar berbakat; itu adalah sebuah benteng raksasa tempat berkumpulnya para monster berbakat dari sekte-sekte kuno, klan bangsawan, hingga organisasi rahasia. Di sini, status darah memang penting, namun kekuatan adalah hukum mutlak.
Chen Kai berdiri di depan gerbang utama yang terbuat dari campuran perak dan kristal. Langkah kakinya tenang, namun kehadirannya memberikan tekanan yang tidak nyaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Di dekat aula pendaftaran, sebuah monolit batu hitam berdiri kokoh. Di permukaannya, terukir dengan tinta emas yang berpendar, tingkatan kultivasi yang diakui oleh Kekaisaran Langit.
Hierarki Kekuatan Dunia:
Pengerasan Dasar (1-10)
Arus Qi (1-10)
Inti Qi (1-10)
Penyatuan Roh (1-10)
Manifestasi Roh (1-10)
Jiwa Sejati (1-10)
Transformasi Esensi (1-10)
Domain Kehendak (Awal/Menengah/Akhir)
Setengah abadi (Awal/Menengah/Akhir)
Puncak Abadi (Awal/Menengah/Akhir
"Puncak Abadi..." gumam Chen Kai, matanya yang tajam menyipit menatap baris paling bawah. "Orang-orang mengejarnya seolah itu adalah kenyataan, padahal mereka bahkan tidak tahu apakah jalan menuju ke sana benar-benar ada."
Di usianya yang baru tujuh belas tahun, mencapai Ranah Jiwa Sejati Tahap 5 adalah sebuah keajaiban yang mengerikan. Jika kabar ini tersiar, seluruh kekaisaran akan gempar. Namun bagi Chen Kai, ini hanyalah angka yang belum cukup untuk menebas kepala Chen Xo.
Tiba-tiba, fokusnya terbuyar saat seseorang dengan terburu-buru menabrak bahunya.
Bruk!
"Aduuh! M-maaf! Aku benar-benar minta maaf, aku sedang terburu-buru!"
Seorang gadis terjatuh di hadapannya. Rambutnya sedikit berantakan, mengenakan jubah abu-abu sederhana yang sudah agak pudar warnanya. Ia tidak berani menatap mata Chen Kai, tangannya gemetar saat memunguti beberapa gulungan kertas yang berserakan.
Chen Kai hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Ia bisa mencium aroma samar obat-obatan murah dan debu dari pakaian gadis itu. "Jenius dari kalangan rakyat jelata" batinnya dingin.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa niat membantu, Chen Kai melangkah pergi begitu saja. Baginya, berinteraksi dengan orang lain hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menjadi lebih kuat.
"Dia bisa saja akan hancur di sini seperti domba yang di terkam oleh serigala" bisik Chen Kai pada dirinya sendiri saat melewati gerbang dalam. "Akademi ini tidak punya tempat untuk mereka yang tidak memiliki taring.tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. semoga saja dia beruntung."
Saat ia melangkah masuk ke area utama, pemandangan luar biasa menyambutnya. Ribuan murid dari berbagai penjuru benua memenuhi lapangan luas. Ada yang menunggangi binatang buas tingkat tinggi, ada yang terbang dengan pedang, dan ada pula yang memancarkan aura elemen yang menghanguskan udara.
Di tengah kerumunan yang bising itu, Chen Kai berdiri tegak dengan Pedang Kristal Abadi yang tersembunyi di balik jubahnya. Ia merasa seperti seekor serigala penyendiri yang masuk ke dalam sarang naga.
"Nikmatilah kemewahan ini selagi bisa," batinnya sambil menatap puncak menara akademi. "Karena aku datang ke sini bukan untuk berteman. Aku datang untuk merampas semua kekuatan yang ada, lalu pergi menuju neraka tempat kakakku berada."