NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Kepalaku masih terasa berat saat Lukman membangunkanku secara tiba-tiba. Rasa kantuk belum sepenuhnya hilang, tetapi situasi memaksaku kembali sadar. Aku meraih ponsel dan membuka grup WhatsApp internal. Beberapa foto sudah memenuhi layar, disertai pesan laporan singkat.

“Telah ditemukan mayat seorang pria, usia sekitar lima belas tahun. Lokasi toilet SMK Karya Bangsa. Selasa, 10 Februari 2024. Korban tergantung di area toilet. Status masih dalam olah TKP.”

Aku menatap layar lebih lama dari yang seharusnya. Toilet lagi. Gantung diri lagi. Dan jamnya pukul 13.00. Dadaku terasa mengeras. Belum genap dua puluh empat jam, kejadian serupa kembali terulang.

Aku berdiri, mengambil jaket kulit, lalu meraih kunci mobil. Tanpa banyak bicara, aku melangkah keluar menuju parkiran. Mesin mobil menyala, pikiranku dipenuhi pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Ponselku berdering. Nama Dika muncul di layar. Aku mendecak pelan. Dalam situasi darurat seperti ini, aku benar-benar tidak ingin diganggu. Aku membiarkannya berdering sampai mati.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk darinya. “Yah, nanti lihat di lehernya ada tandanya lagi atau tidak.”

Aku menghela napas. Anak itu rasa penasarannya terlalu besar. Ponsel kutaruh di dasbor. Aku harus fokus. Dua kejadian serupa dalam waktu kurang dari sehari jelas bukan kebetulan.

Belum jauh mobil melaju, ponsel kembali berdering. Kali ini istriku. Dengan berat hati, aku mengangkat telepon.

“Ada apa, Sayang?” tanyaku.

“Mas, aku mau pulang ke kampung,” jawabnya pelan.

“Kenapa mendadak? Bagaimana kalau besok saja? Aku bisa ajukan cuti,” kataku.

“Mana bisa kamu cuti. Kamu itu terlalu sibuk mengurus orang lain, tapi tidak pernah berani memanfaatkan orang lain,” ucapnya.

Aku terdiam sejenak. Entah itu pujian atau sindiran, aku sendiri tidak yakin.

“Mas, Andika besok ada ujian, jadi tidak aku bawa,” lanjutnya.

“Keperluan Dika sudah kamu siapkan semua?” tanyaku.

“Sudah. Tenang saja,” jawabnya.

“Kenapa kamu pulang, Sayang?”

“Orang tuaku sakit.”

“Baiklah. Nanti aku menyusul,” kataku singkat.

Sambungan terputus. Aku menatap jalan di depan dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa aku curiga ini hanya alasan. Istriku masih cantik di usia tiga puluh dua tahun, sementara mertuaku sejak dulu tidak menyukaiku karena aku polisi yang hidup pas-pasan.

Aku curiga kalau kalau istriku akan dijodohkan oleh mertuaku, dari kemarin mertuaku menyuruh ratna meminta cerai, ah pikiran ini semakin berat, bisa saja aku menerima suap dan melakukan hal-hal memanfaatkan jabatan tapi sebagai anak yatim piatu yang hidup di panti asuhan sudah jadi polisi saja sudah untung

Aku melirik ponsel sekilas dan merasa ada yang janggal. Dika tidak meneleponku. Biasanya, dalam situasi seperti ini, ia akan menghubungiku berkali-kali karena tidak ada yang mengawasinya. Perasaan itu sempat mengganggu, tetapi sirene mobil patroli di depan memaksaku kembali fokus.

Aku akhirnya tiba di tempat kejadian perkara. Sekolah ini dikenal sebagai sekolah elit, tempat anak-anak orang kaya menimba ilmu. Begitu turun dari mobil, aku langsung mengenakan sarung tangan lateks dan masker, lalu melangkah masuk ke area toilet yang sudah disterilkan.

Garis polisi terbentang rapi. Beberapa petugas berjaga, dibantu petugas keamanan sekolah, menghalau siswa dan guru yang mencoba mendekat. Suasana tegang, tetapi terkendali. Aku mengangguk singkat pada rekan-rekanku yang sedang bekerja.

Di dalam area, tim identifikasi sudah bergerak. Ada yang mengambil foto, ada yang mencatat posisi barang, dan ada pula yang mengukur jarak antara tubuh korban dengan lantai. Aku mendekat perlahan, menjaga agar tidak menyentuh apa pun.

Korban masih tergantung di dekat pintu toilet. Aku mengamati dari jarak aman, lalu mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi awal. Langkah kakiku terhenti ketika teringat pesan konyol anakku, “Yah, lihat lehernya.”

Aku mendekat sedikit. Di leher korban hanya terlihat jeratan tali. Tidak ada bekas memar lain, tidak ada tanda cekikan tambahan. Bajunya rapi, tidak robek. Sepatu yang dikenakannya mahal, jelas milik anak dari keluarga berada. Dari penampilannya saja, mungkin harga sepatunya setara sebuah sepeda motor.

Aku hampir menjauh ketika rasa penasaran mendorongku untuk meneliti lebih dekat. Aku memiringkan kepala, memperhatikan area dekat telinga kanan korban. Di sana, samar tetapi jelas, ada tulisan kecil dengan tinta biru. Angkanya terbaca pelan-pelan, “17212001800.”

Aku tertegun. Tubuhku seolah membeku. Kode itu muncul lagi.

“Pak Andi,” suara memanggilku. Rani berdiri di belakangku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Anda harus lihat ini,” katanya sambil menyerahkan ponselnya.

Di layar ponsel, terlihat rekaman CCTV dengan keterangan tanggal 10 Februari 2024. Rekaman dimulai pukul 11.30. Seorang siswa laki-laki berpakaian rapi masuk ke lorong toilet sambil membawa kursi plastik dan seutas tali. Langkahnya mantap, bahkan terlihat tenang. Ia mengikat tali pada penyangga pintu, meletakkan kursi tepat di bawahnya, lalu naik dan memasukkan lehernya ke dalam jeratan. Beberapa detik kemudian, ia menendang kursi itu.

Tubuhnya sempat kejang sebelum akhirnya diam tergantung. Di pojok layar, waktu menunjukkan pukul 12.00 tepat.

Tanganku gemetar. Pikiranku kacau. Semua peringatan itu terlintas kembali. Aku menelan ludah. Mungkin selama ini aku yang salah, karena memilih mengabaikannya.

Belum sempat aku menstabilkan pikiranku, beberapa mobil mewah berhenti di halaman sekolah. Pintu-pintu terbuka hampir bersamaan. Seorang wanita paruh baya turun tergesa-gesa sambil menangis histeris. Di belakangnya, seorang lelaki bertubuh gemuk melangkah dengan sikap tegak, wajahnya merah oleh amarah. Beberapa guru segera menghampiri mereka, berusaha menenangkan suasana.

“Sekolah ini tidak becus menjaga keamanan,” bentak lelaki itu lantang. “Saya akan menuntut sekolah ini. Kalian membiarkan anak saya terbunuh di sini.”

Aku mengamati dari jarak dekat. Entah mengapa, hari ini terasa penuh dengan orang-orang berkuasa yang kehilangan kendali.

“Sekolah biadab,” teriak wanita itu sambil terisak. “Saya membayar mahal, bahkan menyumbang banyak uang, tapi malah harus menyaksikan anak saya dibunuh.”

Lelaki itu lalu menoleh ke arahku. Tatapannya tajam, nadanya tinggi, seolah-olah aku bukan apa-apa. Padahal aku mengenakan tanda pengenal kepolisian, meski tanpa seragam.

“Hei, kamu,” katanya kasar.

“Ya, Pak. Ada apa?” jawabku setenang mungkin.

“Tangkap semua guru di sini. Jebloskan mereka ke penjara dengan pasal kelalaian,” perintahnya.

Aku menghembuskan napas berat. “Kami tidak bisa menangkap siapa pun tanpa dasar hukum yang jelas, Pak.”

“Berani sekali kamu melawan saya,” hardiknya. “Kamu tahu siapa saya? Bahkan Kapolres bisa saya pindahkan sekarang juga.”

Aku menatapnya tanpa gentar. Dalam hati aku merasa lelah menghadapi tipe orang seperti ini. Mereka terbiasa menekan dengan kekuasaan, seolah hukum bisa dibengkokkan sesuka hati. Ia mungkin mengira semua polisi bisa ditakuti dengan ancaman jabatan. Sayangnya, tidak denganku.

“Sebelum Bapak menuduh siapa pun, sebaiknya Bapak melihat ini,” ucapku sambil menyerahkan ponsel.

Ia menatap layar dengan saksama. Beberapa detik kemudian, tubuhnya mulai gemetar. Wajahnya memucat. Wanita di sampingnya merebut ponsel itu dan ikut melihat rekaman tersebut. Lututnya melemas, lalu ia terduduk di lantai.

“Tidak,” teriaknya histeris.

“Alex, kenapa kamu melakukan hal ini? Kurang apa Mamah sama kamu? Kemarin motor sport dan mobil baru sudah Mamah belikan,” ratapnya sambil meronta dalam pelukan orang-orang di sekitarnya.

Aku hanya terdiam. Polanya kembali terulang. Korban berasal dari keluarga berada, mendapat kasih sayang berlebihan, dimanjakan tanpa batas. Dari keterangan awal, anak ini pun dikenal sebagai sosok yang ditakuti teman-temannya.

Dan yang paling mengganggu pikiranku, di tubuh korban kembali muncul kode 172.

Dadaku terasa sesak. Ini tidak lagi terlihat sebagai kejadian terpisah. Terlalu banyak kesamaan untuk disebut kebetulan. Pertanyaannya kini semakin jelas, apakah semua ini berdiri sendiri, atau justru saling terhubung dalam satu rangkaian yang belum kupahami.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!