Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Back to Jakarta
Setelah perjalanan yang dilalui Tia bersama Idris tadi, dia akhirnya sampai ke hotel dengan di antar oleh Idris.
Suasana malam yang dingin membuat dirinya mengurungkan niat untuk mandi apalagi tubuhnya yang terasa sangat lelah. Tapi mau bagaimana lagi karena berkeringat dan sudah menghabiskan banyak waktu di luar yang membuat banyak kuman di tubuhnya akhirnya dia memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum tiduran di ranjang.
Tia menikmati mandinya didalam bathtub bahkan dia hampir ketiduran karena kelelahan.
...----------------...
Saat akan tidur Tia mengambil ponselnya yang bergetar karena ada pesan masuk dari Idris yang muncul di layar. " Kapan kamu pulang ke jakarta ya?"
Jemarinya menari di atas layar. "Aku akan pulang besok Dris rencananya mau bikin toko kue seperti brownies dan cookies karena aku gamau kalau disuruh nerusin perusahaan eyang." sambil menunggu balasan , Tia mengambil laptopnya untuk menonton film.
"Tring" notifikasi dari ponselnya terdengar. "Jadi kamu pulang beskk dan mau bikin bisnis brownies? Omg itu berita yang bagus aku yakin pasti kamu pandai dalam membuat kue. Aku jadi tidak sabar untuk mencobanya."
"Ya kamu harus mencobanya Dris, aku yakin akan cocok di lidahmu nanti btw kapan kamu balik ke jakarta juga?" tanyanya.
Idris mengetikkan pesan balasan "Aku akan pulang besok juga kurasa karena di sini pekerjaanku sudah selesai."
"Jadi kamu naik apa? Pesawat?"
"Aku naik kereta karena sudah booking tiket kalau kamu naik apa?"
"Aku akan naik pesawat Dris, sorry aku harus tidur dulu soalnya udah lelah banget rasanya btw good night Idris." jawabnya.
Idris tersenyum "Good night and sleep well Tia" setelah membaca pesan balasan dari idris tia langsung menutup laptop miliknya dan meletakkan diatas meja bersama dengan ponsel miliknya.
...----------------...
Malam di Jogja terasa lebih sunyi setelah Idris mengantar Tia kembali ke hotel. Ia duduk di teras rumahnya yang bergaya klasik di daerah dekat Prawirotaman, ditemani secangkir teh melati hangat. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gamelan dari radio tetangga. Idris menatap langit malam yang bersih, terbayang kembali ekspresi keberanian Tia saat melayang di atas tebing Gunung Kidul tadi sore.
Dia tersenyum sendiri mengingat betapa cemasnya Tia sebelum lepas landas, namun betapa tenangnya wanita itu saat sudah menyentuh awan. "Dia benar-benar akan membuka toko kue dan itu adalah hal sempurna," gumam Idris. Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari titik balik hidup Tia, sebelum realita Jakarta kembali menjemput mereka esok hari.
Pagi terakhir di Yogyakarta disambut dengan gerimis tipis yang membasuh debu di sepanjang Jalan Malioboro. Bagi Tia dan Idris, udara pagi itu terasa sedikit melankolis. Setelah petualangan di langit Gunung Kidul yang mengubah cara pandang mereka, hari ini adalah saatnya mereka kembali ke aktivitasnya seperti biasa di Jakarta, namun melalui dua jalur yang berbeda.
Tia telah memesan tiket pesawat karena ia harus segera sampai untuk bertemu dengan vendor kemasan kue, sementara Idris memilih kereta api eksekutif karena ia ingin menikmati sisa-sisa ketenangan Jawa dari balik jendela kaca sebelum kembali ke hiruk-pikuk ibu kota.
Idris berangkat lebih awal karena jadwal kereta fajar. Tia bersikeras mengantarnya ke Stasiun Tugu sebelum ia sendiri menuju Bandara YIA di Kulon Progo.
Di depan pintu keberangkatan stasiun yang bersejarah itu, keduanya berdiri di antara kerumunan orang yang membawa tas punggung dan kotak bakpia.
"Yakin nggak mau bareng pesawat aja?" tanya Tia sambil membetulkan syal yang melilit lehernya.
Idris menggeleng sambil tersenyum tenang. "Kereta punya ritmenya sendiri, Tia. Aku butuh delapan jam buat pelan-pelan 'mendarat' dari liburan ini. Pesawat terlalu cepat buat aku. Kamu yang butuh kecepatan itu buat mulai Crumbs & Clouds, kan?"
Tia mengangguk. Ada rasa haru yang menyelip di dadanya. "Hati-hati ya, Dris. Makasih sudah nemenin aku 'gila' di Gunung Kidul kemarin. Ketemu sama kamu juga bagaikan rezeki untuk aku karena punya temen yang baik."
Idris menepuk bahu Tia dengan mantap. "Ingat pesanku di mobil kemarin: jangan lawan anginnya, ikuti arahnya. Sampai ketemu di Jakarta. Kabari aku kalau sudah mendarat."
"Can i hug you Idris?"
"Of course come" Idris menyuruh Tia mendekat, ia merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Tia dengan erat.
"Thanks udah nemenin liburan aku selama di Jogja. So much fun!"
"Kabarin aku nanti kalau mau liburan lagi atau mau melakukan hal apapun yang kamu mau rasakan".
Tia melerai pelukannya dari Idris lalu tersenyum dengan hangat.
Ia melambaikan tangannya untuk say good bye.
Tia memperhatikan punggung Idris menghilang di balik gerbang pemeriksaan tiket. Ada perasaan aneh saat menyadari bahwa perjalanan pulang ini harus dilakukan masing-masing, seolah alam semesta sedang menguji kemandirian mereka setelah momen kebersamaan yang intens di atas langit Jogja.
...----------------...
Dua jam kemudian, Tia sudah duduk di kursi dekat jendela pesawat. Saat mesin mulai menderu dan pesawat melakukan take-off, Tia tidak lagi mencengkeram lengan kursi dengan ketakutan seperti biasanya. Ia justru menatap keluar jendela dengan penuh minat.
Saat roda pesawat meninggalkan landasan, ia bergumam pelan, "ayo cepat lepas landas, aku sudah tidak sabar untuk pulang dan membuka toko kue." Kalimat itu sekarang menjadi mantranya.
Dari ketinggian ribuan kaki, ia melihat bentang alam Jawa Tengah yang hijau. Ia membayangkan di suatu tempat di bawah sana, ada kereta api yang sedang merayap membelah sawah, membawa Idris pulang. Tia merogoh tas kabinnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil. Di dalamnya, ia mulai menggambar desain logo untuk toko kuenya: sebuah kepakan sayap yang terbentuk dari lelehan cokelat.
Ia tahu, begitu roda pesawat menyentuh aspal Jakarta, ia bukan lagi Tia yang lama. Ia adalah seorang perintis. Ia memikirkan oven yang menunggunya, aroma mentega, dan daftar kontak calon pelanggan. Di atas awan, komitmennya semakin mengeras.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada