NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 | PERTUNJUKAN PEMBUKA

Sudah lima menit Summer hanya berdiri bersedekap memandangi lukisan abstrak di dinding sebuah kamar hotel. Suasana di dalam sana sangat tenang, hampir tanpa suara. Hanya deru lembut pendingin ruangan yang menjadi satu-satunya pemecah hening.

Kepala Summer baru tertoleh pelan saat mendengar pintu dibuka dari luar, untuk tak lama setelahnya muncul seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam dengan sepatu oxford berwarna senada. Dua kancing teratas kemejanya sudah dilepaskan, pun dasi birunya sedikit diturunkan.

Seraya memutar tubuh, Summer jadi bertanya-tanya apa banquet hall menyerap semua tatapan dan ekspresi hangatnya, karena yang kini berdiri berhadapan dengannya tak ubahnya sesosok yang diliputi kebencian pada setiap jengkal tubuhnya.

“Kau terlihat semakin tampan, Denver.” Summer tersenyum lebar, menyapukan pandangannya pada wajah yang mengeras di hadapannya. “Hei, kita sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali aku melihatmu saat kau menjadi saksi di pengadilan. Kau tidak rindu denganku? Tidak ingin memelukku?”

Bibir Denver yang semula terkatup rapat, perlahan terbuka seiring muak yang membayang semakin pekat di wajahnya. “Apa yang kau inginkan?”

Dalam dan mengabarkan antipati. Suara Denver yang ini baru Summer ketahui. Daripada tiga tahun lalu, jelas suaranya terdengar lebih berat, lebih dewasa.

Summer melangkah mendekat dengan terkendali, tangannya kemudian terangkat untuk menaikkan dasi pria itu dengan gerakan halus, seolah memastikan penampilan Denver tiada cela.

Ia kemudian mengangkat wajah, kembali mempertemukan pandangan mereka. “Ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan. Kepalaku penuh sesak oleh pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini masih mengambang tanpa ada jawaban. Tentang apa yang salah dalam diriku sehingga kau bersikap dingin, tentang masa depan yang menungguku, tentang kita—”

“Berhenti berbasa-basi. Aku tidak punya waktu meladeni omong kosongmu.” Denver menyingkirkan tangan Summer dari dasinya, menunjukkan keresahan yang sedang bersarang di hatinya.

“Ah, kenapa kau jadi pemarah begini?” Summer cemberut dengan cara yang terlalu dramatis. Ia memutuskan mundur selangkah, bersedekap. “Baiklah, aku tidak akan bertanya alasanmu tidak pernah sekali pun menjengukku di penjara. Aku juga tidak akan bertanya tentang kesaksianmu di pengadilan. Tapi, berhubung masing-masing dari kita tidak pernah memutuskan hubungan … kurasa aku masih berhak menemuimu.”

Atmosfer di dalam ruangan itu meretihkan ketegangan. Tatapan Denver menggelap, mengarah tajam ke mata Summer hingga ia merasa cahaya di sekitarnya sedikit terdistorsi. Tidak bersisa sedikit pun iba di rahangnya yang mengencang.

“Hubungan apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau tidak punya malu? Bahkan setelah sekian lama kau masih menggangguku dengan tingkah konyolmu yang memuakkan.” Denver mendengus, membuang muka dengan ekspresi berang. Di hadapan perempuan yang telah berjasa membuat hidupnya dipenuhi ketakutan sepanjang waktu, ia bertekad untuk tidak menunjukkan kelemahannya.

“Mengganggumu? Sekarang kau sudah pintar bergurau ya, Denver.” Summer tertawa geli. “Kau yang lebih dulu mengejarku, bersikeras mendekatiku bahkan setelah aku menolakmu mentah-mentah. Tapi, setelah berhasil mendapatkanku, kau muak?”

“Ya, aku muak—sangat muak hingga rasanya ingin muntah setiap melihatmu,” sergah Denver nyaris berseru, napasnya memberat dengan alis menukik sengit. Ruap kemarahan tertera dalam gurat-gurat lugas di wajahnya. “Kau dan obsesi gilamu adalah perpaduan yang tidak ingin kuingat bahkan untuk sepintas lalu. Sejak awal, masalahnya ada dalam dirimu. Kau selalu berusaha menempatkan setiap orang di bawah telapak kakimu agar bisa kau mainkan, mengandalkan ancaman bunuh diri agar semua orang menuruti kemauanmu. Kau menempeliku seperti belatung, mengisolasiku dari semua temanku seperti psikopat gila. Kalau bisa memutar waktu, aku tidak akan pernah muncul di hadapanmu sedetik pun, lenyap ke tempat yang bahkan tidak bisa kau baca namanya. Setiap hari aku berharap kau membusuk di penjara agar aku tidak perlu melihatmu lagi.”

Ujung ucapan tajam Denver mengalunkan hening di ruangan itu. Summer mendapati dirinya terguncang meskipun sudah mencoba membangun benteng paling kokoh. Raut main-mainnya sempurna lenyap, digantikan oleh semburat perih yang mati-matian dia tepis menjauh.

Rupanya itu yang Denver pikirkan tentangnya selama ini. Sesuatu yang tidak bisa ia katakan dulu, namun sekarang tidak tertahankan lagi untuk menyeruak keluar. Rupanya nilai dirinya di mata pria itu terlampau rendah, lebih hina dari sekor anjing jalanan. Rupanya benar, Summer hanya merangkai mimpi semu, di mana tanah yang ia pijak ternyata jurang kematian, dan langit yang menaunginya adalah kecamuk badai yang meluluhlantakkan dunianya.

Summer memaksa dirinya bertahan dengan mengepalkan kedua tangannya. “Kau bisa membicarakannya denganku, memutuskanku secara baik-baik—”

“Kau sedang melucu sekarang? Aku memutuskanmu secara baik-baik?” Denver tertawa sumbang sarat akan frustrasi. “Lalu apa? Kau akan mengadu pada papamu yang punya kewenangan untuk menendang ayahku dari perusahaannya sambil menangis mengancam lompat dari lantai tiga rumahmu? Pada akhirnya hanya aku yang akan disalahkan, karena mencampakkan putri Julian Almaja, karena membuat ayahku kehilangan pekerjaan—”

“Oleh karena itu kau menyingkirkanku dengan menjebakku?”

Detik seketika mengental saat senyap ganjil merambat cepat di ruangan, seusai Summer memutuskan untuk berhenti berbasa-basi. Kerjapan mata Denver tertunda, seiring kebekuan yang menjalari tubuhnya, napasnya yang menyendat berubah tertahan selama beberapa saat. Ada semacam gigil yang merayapi punggungnya berikut ketakutan yang menjeluak dari dadanya.

“Apa mulutmu hanya bisa mengatakan omong kosong?” Suara Denver melindap dalam nada rendah, dan saat itulah Summer tahu ia sudah menyentuh tepat di mana memar berada.

“Omong kosong?” Seringaian tertera di sudut bibir Summer. “Mau kuceritakan sejak awal epos Denver Adair ini?”

Kegugupan semakin kentara melalui pupil Denver yang bergetar. “Sepertinya penjara membuatmu pintar membual. Aku tidak punya waktu untuk ocehan tidak bergunamu.”

“Kalau jadi kau, aku akan bertahan sampai akhir.” Ucapan dengan intonasi ringan namun jelas menyelipkan ancaman itu berhasil menahan Denver yang hendak membalikkan tubuh dan minggat dari sana. “Sekali keluar dari sini, aku jamin kau akan menyesal seumur hidup.”

Bibir Denver terkatup jengkel, matanya semakin melesatkan kebencian bertubi-tubi. Namun, ia tetap di sana, menyumpal mulutnya secara sukarela.

“Anak baik.” Summer tersenyum miring sembari menepuk pelan kemeja Denver seolah sedang menghalau debu di sana. “Nah, dengarkan baik-baik, Denver, aku yakin kau akan menyukainya.”

Hidung Summer mengerut jahil, matanya berkilat antusias. Pertunjukkannya resmi dimulai setelah ini.

Ia berjinjit untuk mencapai samping telinga Denver, lantas berbisik dengan nada main-main, “Aku melihat jejak rembesan darah di gaun Allura yang ditutupi dengan jasmu, jauh sebelum perempuan itu menyentuh mayat. Aku melihatnya … saat kalian tiba di ambang pintu.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!