Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
E-V-E-R-Y!!
Every berjalan dengan langkah lebar menuju area parkir belakang, tidak memedulikan Axel yang masih terpaku di dalam aula. River menyusul di sampingnya, langkahnya yang santai namun lebar dengan mudah mengimbangi ritme stiletto Every yang memekakkan lantai semen.
Saat mereka keluar dari pintu belakang, Every tertegun sejenak. Di depannya, barisan truk logistik berlogo Armani Group terparkir rapi. Itu bukan sekadar truk biasa, melainkan truk taktis yang mampu menembus medan berat. Di sekelilingnya, puluhan anak buah River sedang melakukan pengecekan akhir pada muatan yang menggunung.
"Gue pikir lo cuma bawa motor-motor rongsok lo itu," gumam Every, berusaha menyembunyikan rasa terkesan nya di balik wajah ketusnya.
River melompat ke atas salah satu bak truk yang terbuka, menunjukkan tumpukan kotak logistik yang tertata sangat efisien. "Lo meremehkan gue, Eve. Sparepart motor mungkin bisnis utama bokap gue, tapi urusan distribusi barang ke seluruh pelosok dunia itu spesialisasi gue. Gue nggak main-main kalau soal logistik."
Every mendekat, memeriksa salah satu label di kotak itu. Matanya membelalak kecil saat melihat isinya: tenda darurat kualitas militer, bahan makanan kaleng premium, hingga generator listrik portabel. Ini bukan barang murah. Ini adalah donasi yang nilainya bahkan bisa menyaingi bantuan dari keluarga Axel.
"Semua ini dari Armani Group?" tanya Every, suaranya sedikit melunak tanpa ia sadari.
River menunduk, menatap Every dari atas truk. "Bokap gue cuma kasih izin pemakaian armada. Semua isinya... itu hasil kerja keras gue sendiri. Anggap saja ini biaya 'pendaftaran' karena gue sudah lancang masukin nama lo jadi Ketua BEM."
Every mendongak, matanya bertemu dengan mata River yang kini tampak lebih serius di bawah temaram lampu parkir. "Lo sengaja, kan? Lo mau bikin gue berutang budi?"
"Utang budi?" River melompat turun, mendarat tepat di depan Every hingga ujung sepatu botnya menyentuh ujung high heels Every. "Gue nggak butuh utang budi dari lo. Gue cuma mau lo lihat kalau dunia itu nggak selamanya bisa lo selesaikan pakai cek dan tanda tangan di atas kertas wangi."
River mengambil sebuah rompi oranye dengan logo BEM yang tergeletak di atas kotak, lalu tanpa permisi, ia memakaikannya ke bahu Every. Every sempat tersentak dan ingin menepis, namun tangan River menahan pundaknya dengan kuat namun lembut.
"Besok pagi jam lima, Eve. Kalau lo telat satu menit, gue tinggal," bisik River tepat di depan wajah Every. "Dan lepasin baju mahal lo itu. Lo bakal butuh sesuatu yang lebih... tahan banting."
Every menepis tangan River setelah rompi itu terpasang. Ia merapikan rompi itu dengan gerakan angkuh, seolah-olah rompi itu adalah kain sutra. "Gue nggak butuh saran fashion dari orang yang bau bensin, River. Dan berhenti panggil gue Eve. Gue bukan bidadari pelindung lo, dan gue pasti nggak akan telat."
River terkekeh, ia melangkah maju hingga berdiri tepat di zona pribadi Every. "Jangan marah-marah terus, Eve. Nanti aura malaikatnya hilang."
Every seketika mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia sangat muak setiap kali kata itu keluar dari mulut River. Bagi River, 'Eve' adalah singkatan dari namanya, tapi Every tahu filosofi di baliknya—River mengejeknya sebagai bidadari atau malaikat yang jatuh ke bumi, sosok yang suci namun kaku.
"Jangan panggil gue dengan sebutan sampah itu, River," desis Every dengan nada yang sangat rendah dan mengancam. "Nama gue Every. E-V-E-R-Y. Panggil gue sesuai jabatan gue, atau jangan panggil sama sekali."
River justru semakin mendekat, menunduk hingga Every bisa mencium aroma sisa bensin dan musk dari tubuh pria itu. "Tapi lo emang kelihatan kayak malaikat, Eve. Putih, bersih, dan nggak tersentuh. Masalahnya, malaikat nggak akan bisa bantu orang di bawah sana kalau dia nggak mau sayapnya kena lumpur."
"Gue nggak butuh ceramah dari orang yang bahkan nggak bisa menyesuaikan pakaian dengan benar," balas Every, matanya berkilat penuh kebencian. "laporkan bantuan lo ke bagian logistik dan pergi dari sini. Kehadiran lo cuma merusak estetika acara gue."
Every berbalik, namun ia sempat berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi. "Dan River..."
"Ya?"
"Makasih. Buat logistiknya. Bukan buat panggilannya," ucap Every tajam,"Dan sekali lagi lo panggil gue Eve...gue bakal pastikan mulut lo itu nggak bisa dipakai buat bicara lagi selama seminggu." lalu ia melenggang pergi tanpa menoleh lagi.
River berdiri di sana, menyeringai sambil memasukkan tangan ke saku celananya. "Sama-sama, Tuan Putri," gumamnya pelan. Ia tahu, di balik lidah berbisa Every, ada seorang pemimpin yang sebenarnya sangat peduli. Dan itu membuat River semakin bersemangat untuk meruntuhkan tembok es gadis itu besok pagi.