Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Lebih Profesional
Ruangan otopsi yang dingin dan steril, hanya diterangi oleh lampu neon yang terang, menjadi saksi kerja keras tim forensik yang dipimpin oleh Dr. Sophia. Mereka bekerja dengan teliti, memeriksa setiap jejak dan luka di tubuh Zia, gadis muda yang ditemukan dalam tumpukan sampah di belakang pusat perbelanjaan pagi tadi.
Dr. Sophia, seorang ahli forensik yang berpengalaman, ia tampak fokus memperhatikan jasad yang meringkuk kaku masih terikat dan terdapat beberapa luka.
Dr. Sophia memperhatikan ikatan simpul kupu dan kain penjejal di tubuh Zia dengan seksama. Dia mengambil penggaris dan mengukur panjang kain itu.
"Ikatan simpul kupu dan kain penjejal ini memiliki panjang yang sama, 25cm. Ini sangat menarik."
Dr. Lee asisten dokter forensik, memperhatikan kain itu dengan seksama. "Dok, apakah ini berarti pelaku ingin meninggalkan pesan atau tanda tertentu?"
Dr. Sophia memikirkan kemungkinan itu. "Mungkin. Tapi, saya curiga bahwa ikatan dan kain sumpal ini diganti setelah gadis ini meninggal."
Dr. Lee terlihat terkejut. "Apa? Mengapa Anda berpikir begitu, Dok?"
Dr. Sophia mulai menjelaskan. "Karena jika ikatan dan kain sumpal ini digunakan saat korban masih hidup, maka seharusnya ada jejak darah atau kotor dari gesekan kulit. Tapi ini sangat bersih, bahkan setelah tertumpuk dalam sampah. Ini menunjukkan bahwa ikatan dan kain sumpal ini diganti setelah korban meninggal, mungkin untuk meninggalkan pesan atau tanda tertentu."
Ruangan otopsi dipenuhi dengan suasana yang tegang, semua mata tertuju pada tubuh Zia, berharap dapat menemukan petunjuk yang dapat membantu memecahkan kasus pembunuhan ini.
Dr.Sophia melanjutkan memeriksa luka di punggung Zia. "Luka ini terlihat seperti hasil dari pisau yang tajam, hanya berupa goresan tapi kurasa ini pasti sangat menyakitkan." katanya kepada timnya. "Perhatikan, ada bekas tekanan yang kuat di sekitar luka, mungkin pelaku menggunakan kekuatan yang cukup besar."
Asistennya, Dr. Lee, mencatat setiap detail yang disampaikan oleh Dr. Sophia. "Apakah ada tanda-tanda perlawanan, Dok?" tanya Dr. Lee.
Dr. Sophia memeriksa tangan dan kuku Zia. "Ada beberapa goresan di tangan kanan, mungkin Zia mencoba melawan pelaku. Kita perlu memeriksa di bawah kuku untuk mencari DNA."
Dr. Sophia melanjutkan pemeriksaan pada tungkai Zia, di mana terdapat sayatan yang menarik perhatiannya. Dia mengambil penggaris dan mulai mengukur kedalaman dan panjang sayatan.
"Hmm, sayatan ini sangat tipis dan dalam," kata Dr. Sophia, suaranya yang tenang namun penuh konsentrasi. "Kedalaman sayatan 5 cm dan panjangnya 10 cm. Ini sangat presisi."
Dr. Lee memperhatikan sayatan itu dengan lebih seksama. "Dok, sayatan ini terlihat seperti dibuat dengan pisau yang sangat tajam dan terampil. Lihat, tepi sayatan ini sangat rapi dan tidak ada tanda-tanda sobekan."
Dr. Sophia mengangguk. "Ya, saya setuju. jumlah sayatan ada 8 lapisan, tapi lapisan sayatan terluar dipotong, entah karena gagal atau sebab lain, tapi ini bukan sayatan biasa. Pelaku pasti memiliki keterampilan dalam menggunakan pisau. Saya curiga ini adalah hasil dari pisau sushi atau pisau khusus semacamnya yang dirancang untuk membuat sayatan yang presisi.”
Dia melanjutkan memeriksa sayatan itu lebih lanjut. "Ada pola yang unik di sekitar sayatan, menunjukkan bahwa pelaku menggunakan pisau dengan mata yang bergerigi atau bergerinda."
Dr. Sophia melanjutkan pembedahan organ dalam Zia, memeriksa setiap organ dengan teliti. Dia memulai dengan lambung, memotongnya terbuka untuk memeriksa isinya.
"Hmm, ada cairan yang tidak biasa di sini," kata Dr. Sophia, suaranya yang tenang namun penuh dengan ketelitian dan fokus yang tajam.
Dr. Lee memperhatikan cairan itu dengan seksama. "Dok, itu terlihat seperti minuman keras. Saya bisa mencium aroma alkohol."
Dr. Sophia mengangguk. "Ya, benar. Ini adalah alkohol. Hanya alkohol, tidak ada jejak makanan apapun di lambung ini. Korban tidak makan apa-apa sebelum dibunuh."
Dr. Lee mencatat informasi itu. "Apakah ini berarti korban dipaksa minum alkohol sebelum dibunuh, Dok?"
Dr. Sophia memikirkan kemungkinan itu. "Mungkin. Tapi kita perlu memeriksa lebih lanjut untuk memastikan. Saya ingin tahu apakah ada tanda-tanda kekerasan atau pemaksaan lainnya."
Dia melanjutkan memeriksa organ dalam lainnya, termasuk hati, ginjal, dan paru-paru. "Tidak ada tanda-tanda kekerasan di organ dalam lainnya," kata Dr. Sophia. "Tapi, saya ingin memeriksa sampel darah dan urin untuk memastikan tidak ada racun atau zat lainnya yang terlibat."
Dr. Sophia melanjutkan pemeriksaan, ia kembali memperhatikan leher Zia dengan seksama. Dia melihat tanda jeratan biru di leher, yang membuatnya berhenti sejenak.
Dr. Sophia mengernyit, "Tanda jeratan biru di leher ini menunjukkan bahwa korban mengalami kehabisan udara karena dicekik atau dijerat dengan tali."
Dr. Lee mencatat informasi itu. "Jadi, penyebab kematian adalah kehabisan udara, Dok?"
Dr. Sophia mengangguk. "Ya, saya yakin itu adalah penyebab kematian. Tapi, saya ingin menambahkan bahwa rahang korban terlihat tegang, yang mungkin menunjukkan bahwa korban disiksa terlebih dahulu."
Dr. Lee memperhatikan rahang Zia dengan seksama. "Ya, saya lihat itu sekarang. Apakah itu berarti pelaku ingin menyakiti korban sebelum membunuhnya?"
Dr. Sophia memikirkan kemungkinan itu. "Mungkin. Tapi, yang lebih menarik adalah sayatan-sayatan di tungkai korban. Saya yakin sayatan-sayatan itu dilakukan saat korban masih hidup."
Dr. Lee terlihat tak yakin, "Apa? Pelaku menyayat korban saat dia masih hidup?"
Dr. Sophia mengangguk. "Ya, saya yakin itu. Sayatan-sayatan itu terlalu presisi dan tidak ada tanda-tanda reaksi tubuh yang biasa terjadi setelah kematian. Ini menunjukkan bahwa korban masih hidup saat sayatan-sayatan itu dilakukan."
Proses otopsi pun berakhir, Dr.Sophia menghela napas, menemui petugas Sammy yang meski sedikit terlambat datang, tapi ia berhasil mengawasi proses otopsi dari ruangan lain berbatas kaca khusus.
“Kasus ini mengingatkanku pada Santaroni.” ucap Dr.Sophia kemudian. “Ia juga meninggalkan jejak yang sama. Tapi….”
“Ada detail yang terasa berbeda,” sahut petugas Sammy, memotong ucapan Dr.Sophia.
“Benar, kali ini terasa lebih rapi dan profesional.” Dr.Sophia pun menyetujui pemikiran itu.
“Kurasa pengalaman masa lalu menjadikannya lebih berhati-hati, dan mungkin saja perilaku yang ditunjukkan Santaroni selama di penjara, hanya bagian dari dramanya agar dibebaskan segera untuk mengulang pembunuhan lagi. Sial!” sahut petugas Jack yang berjalan mengekor keduanya.
Detektif Sammy pun tampak serius. "Kita harus menyelidiki Santaroni lagi," katanya kepada rekannya. "Kita tidak bisa membiarkan dia meloloskan diri dari keadilan lagi."
Jack mengangguk. "Benar, aku sangat yakin pria tua itu sengaja menantang kita!"
Detektif Sammy memikirkan kembali kasus lama. "Cara pembunuhan, ikatan simpul kupu, kain penjejal... semua itu mirip dengan modus operandi Santaroni. Tapi, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Pembunuhan ini terasa lebih rapi, lebih profesional. Seolah-olah Santaroni telah belajar dari kesalahannya sebelumnya."
Dr. Sophia pun mengangguk setuju. “Santaroni adalah orang yang cerdas dan licik. Dia tahu bagaimana memainkan sistem untuk membebaskan dirinya. Tapi, kali ini kalian jangan membiarkan dia meloloskan diri."
Dr. Sophia menambahkan, "Semoga hasil yang lebih menguatkan dari forensik. Setidaknya satu saja jejak DNA pelaku. Kita perlu sesuatu yang bisa menghubungkan pelaku dengan TKP."
“Ya, Dok. Itu akan sangat membantu. Kita perlu sesuatu yang bisa memecahkan kasus ini,” sahut Jack begitu yakin.
Dr. Sophia mengangguk. "Saya akan pastikan tim saya bekerja keras untuk mendapatkan hasil forensik secepat mungkin. Semoga kita bisa menemukan sesuatu yang berguna."
Detektif itu mengangguk, "Terima kasih, Dok. Kami sangat mengandalkan Anda."
...****************...
Bersambung