Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG YANG PUTUS DI TENGAH JALAN
Suara telepon yang berdering di kamar kontrakan itu seperti petir yang tiba-tiba menerangi malam yang tadinya tenang. Murni mengambil telepon dengan tangan yang sedikit gemetar, layar hp menunjukkan nama "Joko – Cinta Abadi" – nama yang dulu seperti pagar yang melindungi hati, kini terasa seperti rantai yang mengikat kaki. Joko, pacarnya sejak SMA di kampung, suara nya dulu seperti alunan seruling yang menghibur, tapi saat ini terdengar seperti batu yang jatuh ke dalam kolam tenang.
"Kita harus berhenti, Murni," ucapnya dengan nada yang datar seperti jalan aspal yang tidak punya lekukan. "Kita sudah berbeda jalannya. Kamu sekarang berada di kota, bekerja seperti orang kota, sementara aku tetap di sini – hanya petani yang menangani tanah yang kadang tidak mau memberi hasil." Kata-katanya seperti pisau yang memotong benang merah yang menghubungkan mereka, satu per satu tanpa ampun.
Murni diam sejenak, telinganya seolah-olah tidak bisa menangkap kata-kata itu seperti wadah yang bocor tidak bisa menampung air. Ingatan tentang Joko datang seperti ombak yang menghantam pantai dengan keras – mereka pernah berlari bersama di sawah yang hijau seperti kasur alami, pernah duduk di bawah pohon rambutan yang buahnya merah seperti hati yang penuh dengan cinta, pernah berjanji bahwa cinta mereka akan kuat seperti akar pohon beringin yang meresap jauh ke dalam tanah.
"Kamu bilang kita akan bersama walau apa terjadi," bisik Murni dengan suara yang seperti daun kering yang bergetar di angin. "Kita seperti biji yang tumbuh dari satu buah-buahan, kan? Bagaimana bisa tumbuh di tempat yang berbeda dan menjadi sesuatu yang tidak bisa bersatu lagi?" Joko terdengar menghela napas seperti angin yang keluar dari dalam gua gelap. "Kamu sudah seperti bunga yang tumbuh di taman kota – cantik tapi tidak cocok lagi dengan tanah kampungku. Aku seperti rumput liar yang hanya bisa hidup di ladang terbuka."
Setelah telepon diputus, bunyi dering yang hilang seperti nyanyian yang tiba-tiba berhenti di tengah bait. Murni menjatuhkan hp ke kasur yang tipis seperti kertas tipis yang tidak bisa menahan beban, matanya menatap langit-langit kamar yang kusam seperti langit yang tertutup awan tebal. Rasa sakit yang muncul di hatinya seperti akar yang dicabik dari tanah, menyakitkan dan membuatnya merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya sendiri.
Malam itu, hujan datang lagi seperti tangisan yang tidak bisa dihentikan. Murni keluar dari kamar tanpa membawa payung, merasakan tetesan air hujan yang mengenai wajahnya seperti air mata yang datang dari luar diri. Dia berjalan tanpa tujuan di jalanan kota yang lembap seperti perasaan yang penuh dengan kelembapan hati, melihat lampu-lampu jalan yang berkedip-kedip seperti mata yang merasa kasihan.
Di sudut jalan, ada seorang penjual bakso yang gerobaknya seperti pulau kecil yang hangat di tengah lautan yang dingin. Murni duduk di kursi kecil yang seperti tempat perlindungan sementara, memesan mangkuk bakso yang uapnya seperti embun yang menghangatkan wajahnya. Penjualnya adalah seorang wanita tua yang wajahnya seperti peta kehidupan yang penuh dengan cerita, dia melihat Murni dengan mata yang penuh pengertian seperti orang yang pernah merasakan sakit yang sama.
"Cinta itu seperti benang yang kita anyam untuk membuat kain," kata wanita tua itu sambil menyajikan bakso. "Kadang kita sudah menganyamnya dengan baik, tapi tiba-tiba benangnya putus. Kadang karena terlalu kuat kita tarik, kadang karena benangnya sudah tua dan rapuh. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa membuat kain lagi – kita bisa mencari benang baru, atau membuat sesuatu yang berbeda dari benang yang tersisa."
Murni menyendok bakso yang hangat ke dalam mulutnya, rasanya seperti kehangatan yang masuk ke dalam hati yang dingin. Dia mulai mengingat semua momen bersama Joko – baik dan buruknya seperti warna gelap dan terang yang menyusun sebuah lukisan. Mereka memang pernah saling mencintai seperti matahari dan bulan yang saling melengkapi, tapi seiring waktu, dia mulai tumbuh seperti pohon yang menjulang tinggi, sementara Joko memilih untuk tetap seperti tanah yang tenang dan tidak berubah.
Keesokan harinya, Murni pergi ke pasar untuk membeli surat kabar dan pulpen baru seperti orang yang akan mulai menulis halaman baru. Dia menulis surat panjang untuk Joko – bukan untuk meminta maaf atau memaksa dia kembali, tapi untuk mengatakan terima kasih seperti orang yang berterima kasih atas hasil panen yang pernah didapatkan. "Kita adalah dua kapal yang pernah berlabuh di pelabuhan yang sama," tulisnya, "tapi sekarang waktunya kita berlayar ke arah yang berbeda. Semoga kamu menemukan lautan yang sesuai dengan dirimu, dan semoga aku juga menemukan pelabuhan yang tepat untuk diriku."
Ketika surat itu dikirim seperti pesan yang diterbangkan oleh burung, Murni merasa seperti beban berat yang diangkat dari pundaknya. Dia kembali ke pabrik dengan langkah yang lebih ringan seperti burung yang baru saja melepaskan rantai yang mengikat sayapnya. Pak Slamet melihatnya dan tersenyum seperti matahari yang tahu bahwa hari baru sudah datang, Ibu Yanti memberikan dia makanan tambahan seperti orang yang mendukung setiap langkah yang diambil.
Murni menyadari bahwa putus cinta bukanlah akhir dari segalanya – itu adalah daun yang rontok agar pohon bisa tumbuh lebih kuat, itu adalah air yang menguap agar bisa menjadi awan dan hujan di tempat lain. Dia masih menyimpan kenangan tentang Joko seperti bunga kering yang disimpan di dalam buku, indah untuk dilihat tapi tidak lagi hidup seperti dulu. Sekarang, dia fokus pada dirinya sendiri – pada pekerjaannya, pada uang yang dia tabung, pada impian yang masih ada di dalam hatinya seperti bintang yang selalu bersinar di malam hari.
Di malam hari, Murni duduk di balkon kamar kontrakan, melihat kota yang semakin ramai seperti hidup yang terus bergerak maju. Dia merasakan angin kota yang menyapu wajahnya – angin yang kini tidak lagi terasa asing, tapi seperti angin yang membawa harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan cinta lagi – cinta yang sesuai dengan dirinya yang sudah tumbuh dan berkembang seperti bunga yang menemukan tanah yang tepat untuk tumbuh subur.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Murni menatap ke arah langit yang mulai terbentuk titik-titik bintang seperti pijar harapan yang tidak pernah padam. Cinta yang dia impikan bukan lagi seperti matahari yang harus menyinari seluruh dunia, melainkan seperti cahaya lilin yang hangatkan ruang kecil bersama-sama – sebagai teman yang saling mengerti, bukan pasangan yang harus mengikat satu sama lain.
Beberapa minggu kemudian, ketika pabrik sedang menjalani perbaikan mesin yang berlangsung selama seminggu seperti istirahat yang dibutuhkan oleh tubuh yang lelah, Murni memutuskan untuk mengunjungi taman kota yang terletak di tengah kebisingan seperti oasis yang ada di tengah gurun pasir. Di sana, dia melihat seorang pria sedang duduk di bangku taman, tangan nya sedang menggaris bawahi halaman-halaman buku dengan pensil seperti seni yang dilakukan dengan penuh perhatian.
"Buku itu menarik sekali ya?" suara Murni keluar tanpa sengaja, seperti angin yang secara tidak sengaja menyentuh daun. Pria itu menoleh, wajahnya yang ceria seperti matahari pagi yang menyinari taman, matanya seperti danau yang jernih dan dalam. Namanya Budi – seorang guru les yang juga merantau dari desa kecil , cerita hidupnya seperti jalan yang berkelok-kelok tapi penuh dengan makna.
Mereka mulai berbincang seperti dua orang lama yang baru saja bertemu kembali. Budi bercerita tentang bagaimana dia harus bekerja keras untuk menyekolahkan adik-adiknya seperti petani yang merawat tanaman dengan penuh cinta, sementara Murni menceritakan tentang kampungnya, kuliah yang harus ditinggalkan, dan pekerjaannya di pabrik seperti cerita rakyat yang penuh dengan perjuangan dan harapan. Tidak ada kata-kata cinta yang terucap, tidak ada janji yang mengikat – hanya obrolan yang mengalir seperti sungai yang tenang dan damai.
"Teman sejati itu seperti tanah yang baik," ucap Budi sambil menutup bukunya, "dia tidak memaksa kita untuk tumbuh menjadi apa yang dia inginkan, tapi malah menyuburkan kita agar bisa tumbuh menjadi diri kita sendiri." Murni mengangguk dengan senyum yang seperti bunga yang mekar di pagi hari. Dia merasa seperti menemukan sesuatu yang dicarinya tanpa sengaja mencari – seseorang yang bisa dia ajak berbagi cerita seperti orang yang berbagi makanan di meja makan bersama.
Sejak itu, mereka sering bertemu di taman kota atau di warung makan kecil yang menjual bubur ayam yang rasanya seperti kehangatan keluarga yang jauh. Budi membantu Murni melanjutkan belajar secara mandiri – dia mengajarkan matematika dengan cara yang mudah seperti jalan setapak yang mempermudah perjalanan, sementara Murni mengajarkan Budi tentang kepekaan alam yang dia pelajari dari kampung seperti cara membaca bahasa tanah dan langit.
Hubungan mereka seperti dua pohon yang tumbuh berdampingan – masing-masing memiliki akar sendiri dan menjulang ke arah langit sendiri, tapi saling memberikan naungan ketika matahari terlalu terik, saling menopang ketika angin terlalu kencang. Tidak ada rasa khawatir akan kehilangan satu sama lain, tidak ada tuntutan yang harus dipenuhi – hanya rasa hormat dan kasih sayang yang tumbuh seperti rumput hijau yang merata di tanah yang subur.
Suatu hari, Budi membawa Murni ke tempat di pinggiran kota di mana dia mengajar anak-anak pekerja kasar – anak-anak yang mata nya penuh dengan rasa ingin tahu seperti bintang yang bersinar di malam hari kota. Murni melihat mereka dan merasa seperti ada bagian dari dirinya yang kembali hidup. Dia mulai membantu Budi mengajar anak-anak itu – mengajarkan mereka cara menulis huruf yang rapi seperti menanam benih pengetahuan di dalam hati mereka, atau bercerita tentang kehidupan di kampung seperti dongeng yang penuh dengan pesan baik.
"Kita tidak perlu menjadi pasangan untuk bisa melakukan hal baik bersama," ucap Murni kepada Budi ketika mereka sedang melihat anak-anak itu bermain seperti burung yang terbang bebas di taman kecil. "Kita bisa menjadi teman yang saling mendukung, seperti dua tangan yang bekerja sama untuk membawa beban yang berat." Budi tersenyum dan mengangguk – tangannya menyentuh bahu Murni dengan lembut seperti sinar matahari yang menyentuh daun tanpa menyakitkannya.
Di malam hari, ketika Murni kembali ke kamar kontrakan, dia mengambil foto teman-teman kuliahnya dan menuliskan surat panjang seperti pesan yang mengirimkan cinta dan harapan dari jauh. Dia juga menulis surat untuk Joko yang sekarang sudah menikah dengan gadis lain dari kampung – dalam surat itu, dia mengucapkan selamat seperti orang yang berterima kasih atas waktu yang pernah bersama dan bahagia melihat orang yang dicintai menemukan kebahagiaan sendiri.
Murni menyadari bahwa cinta tidak selalu harus dalam bentuk pasangan hidup – ada cinta sebagai teman, cinta sebagai saudara, cinta sebagai orang yang peduli dengan orang lain. Dia adalah bunga yang telah menemukan tanah yang tepat, bukan untuk tumbuh sebagai bagian dari pasangan, tapi untuk tumbuh sebagai diri sendiri yang kuat dan penuh kasih sayang. Hubungan dengan Budi adalah buktinya – hubungan yang sederhana seperti air yang menghidupi tanaman, tapi begitu penting bagi kehidupan keduanya.
Ketika bulan muncul di langit kota yang berkedip-kedip seperti mata yang tersenyum, Murni berdiri di balkon kamar nya dan merasakan kedamaian yang datang seperti hujan yang menyegarkan tanah setelah musim kemarau panjang. Dia tahu bahwa hidupnya akan terus berjalan seperti sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, dengan teman-teman yang seperti batu-batu indah yang menghiasi jalanan sungai, membuat perjalanan semakin indah dan berharga.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Murni menghadapkan wajahnya ke arah langit yang mulai memerah seperti hati yang baru saja menemukan warna kembali. Sungai kehidupan yang dia sebutkan bukan hanya omongan kosong – dia bisa merasakannya mengalir di dalam dirinya, deras seperti air yang keluar dari sumber pegunungan, membawa semua cerita masa lalu untuk bergabung dengan lautan yang lebih luas.
Tidak lama setelah itu, sebuah pesan masuk dari Siti – kata-katanya seperti bunga yang dikirim melalui angin: "Kita sedang merencanakan kumpul kembali akhir bulan ini. Tempat kita yang dulu – di bawah pohon kamboja. Jangan lupa datang ya, seperti dulu kita selalu bersama." Murni membaca pesan itu berulang-ulang, setiap hurufnya seperti peluit yang memanggilnya kembali ke dunia yang dulu hampir dia tinggalkan.
Hari H datang seperti hari libur yang sudah lama ditunggu. Murni mengenakan baju batik yang pernah diberikan Siti, kainnya berwarna biru muda seperti langit pagi, motifnya bunga teratai yang seolah-olah berbunga di atas permukaan air yang tenang. Dia naik bis menuju kampus dengan hati yang berdebar seperti anak kecil yang akan bertemu teman bermain.
Ketika dia sampai di depan pohon kamboja yang sudah begitu akrab, teman-temannya sudah menunggu seperti bintang-bintang yang sudah ada di langit sebelum malam datang. Siti berlari menjemputnya dengan pelukan yang seperti selimut hangat yang menutupi seluruh tubuh, Rio memberikan dia sapaan tangan yang kuat seperti janji bahwa persahabatan tidak akan pernah patah, Dina membuka kotak makan yang penuh dengan makanan seperti penghormatan terhadap masa lalu yang mereka lalui bersama.
Mereka duduk di bawah pohon kamboja yang kembangnya merah seperti hati yang penuh dengan cinta persahabatan, berbagi cerita seperti orang yang berbagi hasil panen terbaik. Siti cerita tentang bagaimana dia berhasil menangani kasus pertama sebagai pengacara muda – membela seorang petani yang tanahnya dirampas, perjalanannya seperti perahu yang melawan ombak tapi akhirnya sampai ke pelabuhan. Rio menunjukkan foto-foto desain perabot kayu yang sudah mulai diproduksi – bentuknya seperti perpaduan antara tradisi dan masa depan yang indah. Dina cerita tentang aplikasi yang sedang dia kembangkan – sebuah sistem yang bisa membantu petani memantau kondisi tanah dan cuaca, seperti mata dan telinga yang ada di dalam sawah.
"Kita seperti empat sungai yang mengalir ke arah yang berbeda, tapi setiap kali bertemu, kita bisa menyatu seperti lautan," ucap Dina sambil membagikan kue yang dibuatnya sendiri. Murni mulai menceritakan tentang kehidupannya di pabrik, tentang Pak Slamet dan Ibu Yanti, tentang putusnya hubungan dengan Joko – setiap cerita keluar dari mulutnya seperti air yang mengalir bebas dari sumber, tidak lagi terhalang oleh rasa malu atau kesedihan.
Siti memegang tangannya dengan lembut seperti air yang menyentuh batu: "Kamu tidak pernah sendirian, kan? Kita selalu ada di sini, seperti batu-batu yang ada di sungai hidupmu – terkadang membuat arus menjadi lebih menarik, terkadang menjadi tempat beristirahat ketika kamu lelah." Rio menambahkan: "Kamu sudah kuat seperti batu yang dipoles oleh arus sungai, lebih halus tapi tidak kehilangan kekuatanmu."
Setelah kumpul itu, Murni merasa seperti sungai yang mendapatkan aliran baru dari sumber lain. Dia mulai menggunakan waktu luangnya untuk belajar lagi – membaca buku yang diberikan Dina, menulis catatan seperti petani yang merawat bibit-bibit baru. Pak Slamet membantu dia menyewa ruangan kecil di belakang gudang pabrik sebagai tempat belajar, ruang itu sederhana seperti tempat ibadah yang penuh dengan ketenangan, tapi cukup untuk membuatnya fokus pada impian yang dulu terpaksa ditinggalkan.
Suatu hari, bos pabrik melihat catatan analisis yang Murni buat tentang proses produksi – ide-idenya segar seperti air mata pertama kali jatuh ke tanah kering. "Kamu punya pemikiran yang bagus," kata bos dengan wajah yang seperti awan yang mulai menerawang. "Kita sedang mencari orang untuk bekerja di bagian pengembangan produk. Apakah kamu tertarik? Bisa belajar sambil bekerja."
Murni menerima tawaran itu seperti orang yang menerima kunci untuk membuka pintu baru. Pekerjaannya sekarang berbeda – bukan hanya mengoperasikan mesin seperti kuli yang hanya mengikuti perintah, tapi merencanakan dan mengembangkan seperti arsitek yang merancang rumah. Dia mulai belajar tentang manajemen produksi dan teknologi makanan, setiap hal baru yang dia pelajari adalah seperti butir pasir yang menyusun pantai yang luas.
Di malam hari, ketika dia selesai bekerja dan belajar, Murni sering berjalan ke tepi sungai kecil yang ada di dekat pabrik. Sungai itu mengalir tenang seperti hati yang sudah menemukan kedamaian, batu-batu di dalamnya bersinar seperti permata yang tersembunyi. Dia sering mengingat kata-kata teman-temannya, seperti suara yang mengiringi aliran sungai, membuat perjalanan hidupnya semakin berarti.
"Hidup memang seperti sungai yang tidak pernah berhenti mengalir," bisik Murni sambil melihat cahaya bulan yang memantul di permukaan air seperti mata yang melihat semua cerita. "Ada saatnya kita melewati batu-batu yang membuat kita bergoyang, ada saatnya kita melalui sungai yang dalam dan tenang, ada saatnya kita bertemu dengan sungai lain yang membuat kita semakin kuat. Dan teman-teman adalah batu-batu indah yang membuat setiap tikungan jalan menjadi lebih indah, membuat setiap aliran menjadi lebih berharga."
Ketika bulan mulai naik lebih tinggi ke langit, Murni berdiri dan berjalan kembali ke kamar kontrakan yang kini terasa seperti rumah yang penuh dengan makna. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh masih panjang seperti sungai yang harus melewati banyak daratan, tapi dia sudah siap – dengan teman-teman yang selalu ada seperti batu-batu yang menghiasi jalanan sungai, dengan impian yang sudah mulai tumbuh seperti tanaman yang tumbuh di tepi sungai, dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang dia ambil akan membawa dia ke tempat yang tepat.
...