NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuntutan Peran

Setiap sore, rumah itu punya ritual baru yang tidak pernah dibicarakan secara resmi.

Ravindra biasanya tiba menjelang magrib, jas masih rapi, langkahnya terukur seperti angka-angka di kepalanya belum sepenuhnya pulang. Dan hampir selalu, Tafana sudah menunggu di ruang makan. Bukan dengan makan malam formal, melainkan kotak-kotak kecil berisi sesuatu yang aromanya langsung mengundang pertanyaan.

“Hari ini kamu pulang agak telat,” kata Tafana suatu sore, mendorong sebuah mangkuk ke arahnya.

Ravindra menatap isinya. Merah, berminyak. Ada kerupuk yang tampak… lembek.

“Apa itu?”

“Seblak.”

Ravindra duduk, tapi belum menyentuh sendok. “Kamu aja yang makan.”

“Coba dulu,” kata Tafana ringan. “Setidaknya buat menghargai.”

“Menghargai siapa?”

“Aku dan tukang seblak depan gang. Penjualnya bersih, telaten.”

Ravindra menghela napas pelan. Ia bukan skeptis karena rasa, tapi prinsip. Makanan murah seringkali berarti standar yang tidak jelas. Namun Tafana menatapnya dengan ekspresi yang tidak memaksa, hanya yakin.

“Kamu tahu nggak,” kata Tafana sambil menyendok, “kebanyakan orang suka keju mozzarella bukan karena rasanya, tapi karena teksturnya.”

Ravindra mengangkat alis. “Lalu?”

“Kerupuk basah di seblak ini menurutku menawarkan tekstur yang sama.” Ia berpikir sebentar. “Menurutku, ya.”

Perbandingan itu… aneh. Tapi cukup untuk membuat Ravindra mengambil sendok. Ia menyicip pelan, siap kecewa. Yang datang justru rasa gurih, pedas yang bersih, dan tekstur kenyal yang mengejutkan.

Ia menelan. Menyendok lagi.

“Enak?” Tafana bertanya, pura-pura netral.

Ravindra tidak menjawab. Ia terus makan.

Hari-hari berikutnya, Tafana pulang dengan jajanan merakyat lainnya. Cireng isi. Lalu sempol. Telur gulung yang diberi sambal cair yang komposisinya mencurigakan.

Setiap kali Ravindra bilang, “Buat kamu aja,” Tafana selalu mengulang kalimat yang sama. "Setidaknya coba dulu."

Dan setiap kali jajan, pilihannya tidak pernah mengecewakan.

Suatu sore, Ravindra menyadari satu hal saat mengambil sempol terakhir tanpa diminta. Ia tidak lagi mempertanyakan kualitas. Ia mempercayai Tafana.

Dan itu, bagi seseorang seperti Ravindra, bukan perkara kecil.

-oOo-

Jam menunjukkan hampir pukul sembilan ketika Tafana turun ke lantai bawah, berniat mengambil camilan untuk menemani maraton drama Korea yang sudah ia siapkan sejak sore. Lampu dapur menyala setengah, rumah terasa lengang—sampai ia mendengar suara televisi dari ruang tengah.

Ravindra duduk di sofa, lengan bersilang, menatap layar dengan fokus yang jarang ia pakai untuk hiburan. Tafana berhenti sebentar di ambang pintu, penasaran, lalu membawa mangkuk camilannya mendekat.

“Nonton film apa?” tanyanya sambil duduk di ujung sofa.

“Film horor,” jawab Ravindra singkat.

“Oh.” Tafana melirik layar. Rumah tua. Musik rendah. Karakter yang jelas-jelas akan melakukan keputusan buruk. Ia ikut menonton, tanpa sadar camilannya ikut pindah ke meja kecil di depan sofa.

“Kalau aku jadi dia, aku nggak bakal sebodoh itu,” Tafana berkomentar saat tokoh utama berjalan ke lorong gelap, “aku udah kabur dari sepuluh menit lalu. Nggak akan samperin tempat yang jelas-jelas seram. Nggak akan menengok ke belakang. Atau datangi suara-suara mencurigakan.”

Ravindra melirik sekilas. “Terus filmnya cepat selesai dong.”

Tafana terdiam, memproses. “Iya juga ya.”

Mereka tertawa bersamaan. Tafana menoleh, tertegun. Ravindra tertawa. Bukan senyum sopan, tapi tawa singkat yang lepas.

Oh. Jadi dia bisa ketawa juga, pikir Tafana.

Layar tiba-tiba gelap. Suara dentuman keras meledak.

Tafana refleks melompat, tubuhnya menabrak sisi Ravindra. Tangannya mencengkeram lengan kaus rumah yang dikenakan Ravindra, wajahnya tersembunyi di bahunya.

“Astaga—”

Ravindra membeku sepersekian detik. Lalu, tanpa sadar, tangannya terangkat, menahan Tafana agar tidak jatuh. Ada rasa hangat di dadanya, asing, tapi menyenangkan.

Ego kecilnya tersentuh. Jadi begini rasanya jadi tempat berlindung, pikirnya, terkejut oleh kepuasan yang muncul.

Beberapa detik kemudian, Tafana sadar. Ia menjauh cepat, wajahnya memanas. “Maaf. Refleks.”

Ravindra menoleh ke layar lagi, pura-pura fokus. “Not a problem.”

Namun sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang ia simpan rapat. Dan untuk pertama kalinya malam itu, film horor di layar terasa kalah menarik.

Jurnal Ravindra Arvana

Ada perubahan pola sejak pernikahan ini berjalan. Saya mencatatnya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai observasi.

Pertama: toleransi saya terhadap makanan baru meningkat drastis. Jika dihitung, dalam beberapa minggu terakhir saya mencoba lebih banyak jenis makanan dibandingkan seluruh fase dewasa saya sebelumnya. Seblak, cireng, sempol, telur gulung—nama-nama yang dulu tidak akan saya izinkan mendekati meja makan. Risiko higienis, kualitas bahan, dan standar pengolahan selalu menjadi alasan penolakan saya.

Namun Tafana memperkenalkannya dengan pendekatan berbeda. Tidak memaksa. Tidak meremehkan kekhawatiran saya. Ia hanya meminta satu hal: coba. Setidaknya sekali, sekadar menghargai.

Menariknya, ia tidak pernah salah memilih. Rasanya konsisten baik. Dan saya mulai menikmati proses mencoba hal baru itu sendiri. Ada kepuasan kecil ketika asumsi lama terbukti tidak sepenuhnya akurat. Catatan: mengambil risiko dalam skala kecil—urusan lidah dan perut—ternyata tidak berbahaya.

Kedua: kejadian menonton film horor bersama.

Saya menonton untuk hiburan ringan. Tafana bergabung tanpa rencana, membawa camilan, lalu mulai berkomentar tentang logika karakter yang buruk. Secara teori, kebawelan semacam itu mengganggu fokus. Faktanya, saya tidak merasa terganggu. Justru sebaliknya, ritmenya membuat film terasa lebih hidup.

Ada satu momen yang perlu dicatat secara jujur.

Saat jumpscare, Tafana terkejut dan refleks merengkuh saya. Tubuhnya kecil, ringan, dan—saya baru menyadarinya saat itu—jauh lebih rapuh dibanding citra cerewet dan percaya diri yang biasa ia tampilkan. Ia menyembunyikan wajahnya, mencari perlindungan tanpa berpikir panjang.

Reaksi saya tidak sepenuhnya rasional. Alih-alih canggung, saya merasakan sesuatu yang mendekati… rasa kehormatan. Kebanggaan, mungkin. Bahwa saya berada di posisi diandalkan. Bahwa keberadaan saya memberi rasa aman.

Ini temuan baru. Saya tidak terbiasa memandang perempuan sebagai “makhluk lemah”. Namun Tafana, dalam momen itu bukan lemah, melainkan manusiawi. Dan anehnya, saya ingin memastikan ia baik-baik saja.

Kesimpulan sementara:

Ada dinamika yang berkembang di luar kerangka kerja sama awal. Perlu diwaspadai.

Namun untuk saat ini—saya akui—perubahan ini tidak sepenuhnya merugikan.

-oOo-

Di suatu malam yang tenang. Tafana sedang melipat selimut tipis di sofa ketika ponsel Ravindra bergetar. Nama orang tuanya muncul di layar.

Ravindra menghela napas singkat sebelum mengangkat video call. “Halo, Ma.”

Suara di seberang langsung riuh. “Kamu di mana? Istrimu mana?”

Ravindra menoleh ke Tafana. Isyarat kecil. Tafana mendekat, masih setengah bingung. Kamera diangkat, bingkai melebar, dan refleks Ravindra bekerja. Lengannya melingkar di pinggang Tafana, ringan tapi pasti. Tafana menegang sepersekian detik, lalu memaksa diri tersenyum.

“Ini Tafana,” kata Ravindra.

“Eh, Nak!” Ibunya berseri. “Kok kelihatan cantik begini di rumah?”

Ravindra menunduk, mengecup puncak kepala Tafana. Cepat. Alami, terlalu alami. Tafana menahan napas, lalu menempelkan telapak tangan ke dada Ravindra, seolah bercanda. Jantungnya berlari, tapi wajahnya tetap profesional.

“Iya dong, Ma. Kan buat nyenengin suami,” Tafana ikut bicara. Suaranya stabil. Ajaib.

Mereka tertawa bersama, tawa yang dilatih dengan baik. Tafana sesekali mendorong bahu Ravindra genit. Ravindra membalas dengan senyum kecil dan usapan ibu jari di pinggangnya. Kamera menangkap kemesraan mereka.

“Ada undangan buat kalian,” kata ayah Ravindra. “Sabtu depan ada pernikahan kerabat kita. Kalian harus datang, biar makin akrab. Tafana perlu kenal keluarga.”

“Tentu,” jawab Ravindra tanpa jeda. "Kasih aja undangannya ke aku, Ma."

“Iya, aku bisa kok,” Tafana mengangguk, lalu mengelus pipi Ravindra pelan. Refleks bercanda yang nyaris terlalu lembut.

"Sampai ketemu di sana, Ma."

Telepon ditutup.

Hening turun tiba-tiba. Mereka menjauh hampir bersamaan, canggung. Memberi jarak aman.

Ravindra merapikan kerah kausnya. “Maaf,” katanya. “Tuntutan peran. Mulai sekarang kemungkinan akan sering begitu. Kamu harus membiasakan diri.”

Tafana mengangguk. “Aku paham.”

Ia benar-benar paham. Hanya saja, degup jantungnya menolak patuh.

-oOo-

Malam itu Ravindra berhenti di ambang pintu kamar Tafana. Perempuan itu sedang mengobrak-abrik lemari, memindahkan pakaian kasual ke kiri, daster ke kanan, lalu berhenti dengan wajah kusut. Sepasang sepatu dikeluarkan, ditimbang, dimasukkan lagi.

“Kamu sedang apa?” tanya Ravindra.

Tafana menoleh, tersenyum tipis. “Cari baju yang cocok buat undangan itu… kayaknya aku nggak punya.”

Kata terakhir diucapkan pelan, nyaris meminta maaf. Ia tahu uangnya ada, tapi rasa percaya diri bukan sesuatu yang bisa dibeli tergesa.

Ravindra tidak menanggapi. Ia mengamati sejenak—bahu kecil yang tegang, jari-jari yang gelisah. Potensi pesona Tafana jelas terlihat, pikirnya, hanya perlu bingkai yang tepat.

Malam itu ia pulang lebih larut dari biasanya.

Pagi datang dengan ketukan ringan. Di depan kamar Tafana, dua kotak rapi menunggu. Ia membuka yang pertama, isinya gaun pesta malam berwarna ombre biru cerah mengalir ke ungu di bawah, berkilau halus. Bahannya jatuh melambai, sementara potongan badannya tegas, seolah dibuat untuk mengikuti lekuk yang selama ini Tafana sembunyikan. Kotak kedua berisi sepatu berkilauan dengan warna serupa.

Tafana tercekat. Lalu ia tertawa kecil, menutup mulutnya.

Ravindra muncul di ujung koridor. “Kupikir itu cocok untukmu,” katanya datar, tapi matanya menilai jujur. “Dan kamu akan terlihat… bersinar.”

“Semalam kamu pulang malam karena ini?” Tafana bertanya.

Ravindra mengangguk singkat. “Anggap persiapan.”

Tafana memeluk kotak itu ke dada. Dadanya hangat, campur aduk antara gugup dan terkejut. “Terima kasih,” katanya, lebih pelan dari biasanya.

Ravindra membalas dengan senyum kecil, puas, tenang. Ia sudah bisa membayangkan Tafana melangkah percaya diri, berpenampilan cantik serupa burung merak yang melebarkan ekornya yang memukau. Agar semua mata tahu, tanpa ragu, ia pantas berada di sana.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!