NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Sosok Dingin Sang Kolonel

Nama ayah kandungnya tertera jelas dalam sebuah berkas rahasia militer yang ditandai dengan stempel merah bertuliskan sangat rahasia. Lana merasakan jemarinya bergetar hebat saat mencoba meraih map cokelat yang sedikit terbuka di atas meja jati tersebut. Jantungnya berdentum keras seolah ingin menembus tulang rusuknya yang terasa sangat sempit.

Baru saja ujung kuku Lana menyentuh pinggiran kertas itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi cahaya lampu ruangan. Hawa dingin yang sangat pekat seketika menyergap tengkuk Lana hingga ia mematung di tempatnya berdiri. Ia mengenali wangi kayu cendana yang sangat tajam menyengat indra penciumannya.

"Apa yang sedang kamu lakukan di ruang kerja saya, Lana?" suara berat itu menggelegar di belakang punggungnya.

Lana tersentak kaget dan refleks menyembunyikan tangannya di balik punggung seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah mencuri cokelat. Ia berbalik perlahan dan menemukan Adrian sudah berdiri dengan seragam militer lengkap yang sangat rapi. Tatapan mata pria itu terlihat sangat gelap dan menyimpan kemarahan yang tertahan.

"Saya hanya mencari pulpen untuk menandatangani buku tugas sekolah, Tuan," dusta Lana dengan suara yang nyaris hilang.

Adrian melangkah maju hingga tubuhnya yang tinggi besar benar-benar mengurung posisi Lana di antara meja dan dadanya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun namun tangannya bergerak cepat mengambil map rahasia tersebut. Adrian memasukkannya ke dalam laci meja dan menguncinya dengan sebuah kunci kecil dari saku celananya.

"Jangan pernah menyentuh apa pun di ruangan ini jika kamu masih ingin melihat matahari esok hari," ancam Adrian dengan nada yang sangat rendah.

Lana menunduk dalam-dalam sambil meremas kain seragam SMA yang baru saja ia kenakan dengan sangat kuat. Ia merasa sangat sesak karena tuduhan dan ancaman yang selalu keluar dari mulut pria yang kini menjadi suaminya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang kembali di sudut matanya yang indah.

"Kenapa ada nama ayah saya di dalam berkas itu? Apa ayah saya masih hidup?" tanya Lana dengan penuh keberanian yang tersisa.

Adrian tidak memberikan jawaban melainkan hanya menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar ke arah samping. Ia mencengkeram dagu Lana agar gadis itu terpaksa menatap wajahnya yang kaku seperti patung perunggu. Tidak ada empati sedikit pun yang terlihat dari balik manik mata hitam yang dingin milik sang Kolonel.

"Tugasmu adalah sekolah dan menjadi istri yang tidak banyak tingkah, bukan menjadi detektif," sahut Adrian dengan tegas.

Adrian kemudian melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa memedulikan Lana yang masih mematung dalam kepedihan. Ia memberikan isyarat dengan lambaian tangan agar Lana segera mengikutinya turun menuju lantai bawah. Suara sepatu bot militer milik Adrian beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang sangat mencekam.

Lana mengikuti langkah kaki Adrian dengan perasaan yang hancur berkeping-keping karena pertanyaannya tidak kunjung mendapatkan jawaban pasti. Mereka berdua menuruni tangga melingkar menuju ruang makan yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam hidangan mewah. Aroma masakan lezat yang biasanya menggugah selera kini justru terasa sangat mual bagi lambung Lana yang kosong.

"Duduk dan habiskan sarapanmu sebelum ajudan saya mengantarmu ke sekolah," perintah Adrian sambil menarik kursi di kepala meja.

Lana duduk di kursi yang paling jauh dari posisi Adrian karena ia merasa tidak sanggup berdekatan dengan pria sedingin itu. Ia hanya mengaduk-aduk bubur ayam di depannya tanpa ada niat sedikit pun untuk memasukkannya ke dalam mulut. Pikirannya masih tertuju pada map cokelat yang berisi nama ayahnya yang selama ini ia kira sudah tiada.

Adrian memperhatikan gerak-gerik istri kecilnya itu dari balik koran pagi yang sedang ia baca dengan sangat serius. Ia meletakkan koran tersebut di atas meja dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat sendok di tangan Lana terjatuh. Lana terlonjak kaget dan segera menundukkan kepalanya semakin dalam karena merasa ketakutan.

"Saya tidak suka melihat makanan terbuang percuma hanya karena kamu sedang berakting sedih," tegur Adrian dengan tajam.

Lana terpaksa menyuapkan sedikit bubur ke dalam mulutnya meski rasanya seperti menelan gumpalan pasir yang sangat kering. Ia ingin berteriak dan memaki pria di depannya namun ia sadar bahwa posisinya hanyalah seorang tawanan dalam sangkar emas. Keheningan di ruang makan itu terasa lebih menyiksa daripada hukuman lari keliling lapangan sekolah.

Setelah sarapan yang terasa sangat lama itu berakhir, Adrian bangkit dan memakai baret merahnya dengan gerakan yang sangat gagah. Ia mendekati Lana dan meletakkan sebuah kartu plastik berwarna hitam mengkilap di samping piring milik gadis itu. Lana menatap kartu itu dengan dahi yang berkerut karena ia tidak mengerti apa kegunaan benda tersebut.

"Gunakan kartu itu untuk membeli semua kebutuhanmu, jangan sampai ada yang menghina keluarga Al Fahri karena kamu tampil kumal," ujar Adrian.

Lana tidak menyentuh kartu itu karena ia tidak butuh kekayaan melainkan ia butuh penjelasan mengenai keberadaan orang tuanya. Ia hanya diam saat Adrian melangkah pergi menuju pintu depan tempat mobil dinas militer sudah menunggu dengan mesin yang menderu. Lana merasa harga dirinya benar-benar diinjak-injak oleh tumpukan uang dan kekuasaan sang Kolonel.

Ajudan pribadi Adrian yang bernama Letnan Yoga masuk ke dalam ruangan dan memberikan hormat yang sangat sopan kepada Lana. Pria muda itu tersenyum ramah seolah mencoba mencairkan suasana beku yang ditinggalkan oleh atasan tertingginya. Yoga membawakan tas sekolah Lana dan membukakan pintu menuju mobil sedan hitam yang sudah siap di teras.

"Silakan, Nyonya muda, mari saya antar menuju sekolah agar tidak terlambat mengikuti jam pelajaran pertama," ucap Yoga dengan lembut.

Lana masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang sangat berat karena ia harus berpura-pura menjadi siswi biasa lagi. Selama perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela sambil membayangkan wajah ayahnya yang sudah sangat samar di dalam ingatannya. Ia berjanji dalam hati akan mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh Adrian di dalam ruang kerjanya.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang sudah mulai ramai oleh para siswa yang berdatangan dengan sepeda motor. Lana segera turun dan mencoba berlari masuk agar tidak ada teman-temannya yang melihat ia turun dari mobil mewah. Namun langkahnya terhenti saat ia menyadari bahwa Letnan Yoga ikut turun dan berjalan di belakangnya.

"Kenapa Letnan mengikuti saya? Saya bisa berjalan sendiri ke kelas," protes Lana dengan wajah yang memerah karena malu.

Yoga tetap berjalan dengan tegap dan menjaga jarak dua langkah di belakang Lana seolah sedang menjaga seorang putri raja. Ia tidak memedulikan tatapan heran dari para siswa lainnya yang mulai berbisik-bisik melihat kehadiran pria dewasa berseragam di sana. Lana merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga karena pusat perhatian kini tertuju padanya.

"Ini adalah perintah langsung dari Kolonel Adrian untuk menjaga keamanan Nyonya selama berada di area sekolah," jawab Yoga dengan tegas.

Lana menghela napas panjang dan terpaksa membiarkan dirinya menjadi bahan pembicaraan paling panas di sekolah hari itu. Ia berjalan menuju kelasnya dengan kepala tertunduk namun matanya menangkap sosok pria tua yang berdiri di balik pohon besar. Pria itu menatap Lana dengan tatapan yang sangat dalam seolah ia mengenali siapa gadis itu sebenarnya.

Siapakah pria misterius itu dan apa hubungannya dengan berkas rahasia yang ia lihat di meja kerja Adrian tadi pagi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!