NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PASAR DI BALIK KABUT

BAB 4: PASAR DI BALIK KABUT

Arga menatap angka "2" yang menghitam di telapak tangannya. Rasanya perih, seperti kulit yang disetrika. Ibunya memang sudah stabil, tapi Arga tahu nyawa ibunya sekarang hanyalah "jaminan" atas kontrak berdarah ini.

Siang itu, Arga mencoba kembali ke gudang Layanan Pengiriman Sembilan. Namun, yang ia temukan hanyalah lahan kosong berisi rongsokan mesin tua. Gudang itu hilang, seolah hanya muncul saat matahari telah tenggelam.

"Mencari Pak tua itu?"

Sebuah suara mengejutkan Arga. Di balik tumpukan besi tua, duduk seorang pria sebaya Arga dengan jaket kurir yang sama, namun warnanya biru pudar. Namanya Baskara. Wajahnya pucat, matanya memiliki lingkaran hitam yang sangat dalam, seperti orang yang tidak tidur selama bertahun-tahun.

"Siapa kau?" tanya Arga waspada.

"Sama sepertimu. Budak kontrak," jawab Baskara sambil menghisap rokok yang asapnya berwarna ungu aneh. "Bedanya, angka di tanganku sudah '25'. Lima nyawa lagi, dan aku bebas... atau aku mati."

Baskara menjelaskan bahwa paket-paket yang mereka antar bukanlah barang biasa. Itu adalah Sajen atau bagian dari ritual yang dilakukan oleh orang-orang kaya untuk menukar nyawa orang lain demi keberuntungan mereka sendiri.

"Hati-hati, Arga," Baskara memperingatkan. "Malam ini adalah malam Jumat Kliwon. Paketnya tidak akan datang di gudang. Kau harus mengambilnya di Pasar Tengah Malam."

Jam menunjukkan pukul 00.00. Arga mengendarai motornya menuju sebuah jembatan tua yang tertutup kabut tebal. Sesuai instruksi Baskara, ia memutar motornya melawan arah jarum jam sebanyak tiga kali di atas jembatan itu.

Tiba-tiba, kabut itu menyibak. Di bawah jembatan, yang seharusnya adalah sungai, kini berubah menjadi pasar yang sangat ramai. Namun, tidak ada lampu listrik. Ribuan lampion merah temaram menggantung di udara tanpa tali.

Pedagangnya bukan manusia. Ada yang berkepala hewan, ada yang tubuhnya hanya berupa asap hitam, dan ada yang menjual potongan tubuh manusia di atas meja kayu. Inilah pasar tempat para lelembut bertransaksi.

Arga berjalan dengan kepala menunduk, jantungnya berdebu kencang. Ia sampai di sebuah kios yang paling pojok. Di sana, seorang wanita cantik dengan kebaya merah sedang duduk membelakanginya.

"Ambil ini," kata wanita itu tanpa menoleh. Suaranya terdengar merdu namun dingin, seperti suara lonceng kematian.

Ia menyerahkan sebuah toples kaca yang ditutupi kain hitam. Di dalamnya, Arga bisa merasakan sesuatu yang menggeliat. Sesuatu yang basah dan licin.

"Jangan sampai kainnya lepas," pesan wanita itu. "Jika cahaya lampion ini menyentuh isinya, ia akan bangun dan memakan matamu."

Arga menerima toples itu. Di secarik kertas alamat, tertulis: Gedung Menara Kaca, Lantai 44. Kamar VIP.

Itu adalah gedung perkantoran paling mewah di pusat kota. Siapa yang memesan paket mistis di tempat semewah itu?

Arga segera memacu motornya keluar dari dimensi pasar tersebut. Namun, di tengah jalan menuju Menara Kaca, sebuah mobil hitam mewah mulai membuntutinya. Mobil itu mencoba menyerempet motor Arga berkali-kali.

DUAK!

Motor Arga oleng. Ia hampir jatuh. Dari jendela mobil yang terbuka, muncul seorang pria dengan pakaian rapi tapi wajahnya penuh dengan jahitan kasar.

"Berikan toples itu! Itu milik tuanku!" teriak pria itu.

Arga baru menyadari satu hal: Menjadi kurir nyawa bukan hanya soal melawan hantu, tapi juga melawan manusia-manusia serakah yang ingin mencuri paket tersebut untuk ritual mereka sendiri.

Arga melakukan manuver berbahaya, masuk ke gang-gang sempit untuk menghindari mobil itu. Namun, tiba-tiba toples di tangannya mulai berbunyi.

Srek... srek... srek...

Suara kuku yang menggaruk kaca. Dan yang lebih mengerikan, kain hitam yang menutupi toples itu mulai tersingkap perlahan. Sebelah mata merah besar menatap Arga dari dalam toples.

"Antar aku... atau aku makan kau..." bisik isi toples tersebut.

Arga terjepit. Di belakangnya ada manusia bersenjata yang mengejarnya, dan di tangannya ada monster yang siap keluar dari toples jika kainnya terlepas.

Tepat di depan lobby Menara Kaca, Arga melihat jam tangan. 03.55. Lima menit lagi!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!