"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: RACUN DALAM PERAYAAN
Malam ini, suasana di dalam villa terasa berbeda. Adrian tampak begitu puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Bagi Adrian, keberhasilan Ghea mematahkan mental Tuan Haryo di ruang interogasi tadi sore bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan bukti bahwa "istri" impiannya telah lahir.
Di ruang tengah yang mewah, Adrian menyalakan perapian. Cahaya api yang menari-nari memantulkan bayangan panjang di dinding marmer. Ia menuangkan dua gelas whisky tua ke dalam gelas kristal.
"Untuk kerja sama kita yang pertama, Sayang," ujar Adrian dengan suara bariton yang berat dan penuh gairah. Ia memberikan satu gelas kepada Ghea yang duduk di sofa beludru.
Ghea menerima gelas itu dengan tangan yang tampak tenang, meski di dalam kepalanya, badai sedang mengamuk. "Aku tidak menyangka akan semudah itu membuatnya bicara," ucap Ghea, menyesap minumannya sedikit, hanya untuk membasahi bibir.
Adrian tertawa, suara tawa yang terdengar sangat lepas—sebuah tanda bahwa kewaspadaannya sedang berada di titik terendah. "Itu karena kau memiliki insting pembunuh yang dibungkus dengan kecantikan, Ghea. Kau jauh lebih mematikan daripada anak buahku yang hanya tahu cara menggunakan otot."
Adrian duduk di samping Ghea, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ghea membiarkan kepalanya bersandar di bahu Adrian. Ia bisa mencium aroma alkohol dan parfum maskulin yang kuat. Namun, fokus Ghea bukan pada kemesraan itu. Matanya tertuju pada jas Adrian yang tersampir di sandaran sofa dekat tangan pria itu.
Di saku jas itu, Ghea tahu ada sebuah kotak kecil berbahan kulit—kotak medis darurat yang selalu dibawa Adrian sejak Ghea mencoba bunuh diri di awal penculikannya.
"Kau tampak lelah, Adrian," bisik Ghea lembut. Ia mulai menggerakkan jemarinya, mengusap dada Adrian dengan gerakan yang sensual namun terencana. "Minumlah lagi. Kau berhak merayakannya."
Adrian, yang merasa telah berhasil menaklukkan hati sang detektif, meneguk habis gelas keduanya. Euforia dan alkohol mulai bekerja pada sistem sarafnya. "Aku hanya merasa... akhirnya aku tidak sendirian lagi dalam perjuangan ini, Ghea."
Ini saatnya.
Ghea sengaja menjatuhkan bantal sofa ke lantai. "Oh, maafkan aku."
Saat ia membungkuk untuk mengambil bantal, tubuhnya menutupi pandangan Adrian ke arah jas tersebut. Dengan gerakan secepat kilat—kemampuan yang ia asah selama bertahun-tahun di kepolisian—jemari Ghea merogoh saku jas Adrian. Ia merasakan permukaan kotak kulit itu.
Klik.
Suara kancing kotak itu sangat kecil, terendam oleh suara gemeretak kayu bakar di perapian. Ghea meraba isinya. Ada beberapa ampul kaca. Ia mengambil satu yang berlabel kuning—Diazepam dosis tinggi. Sebuah obat penenang yang bisa melumpuhkan orang dewasa dalam hitungan menit jika disuntikkan atau dicampurkan ke dalam minuman.
Ghea menyelipkan ampul dingin itu ke dalam lipatan dalam gaunnya, tepat di balik ikat pinggang rahasianya. Ia kembali duduk dengan posisi semula, memberikan senyum paling manis yang pernah ia miliki.
"Kau tahu, Adrian? Aku mulai berpikir bahwa mungkin kau benar," ucap Ghea, menatap mata Adrian yang kini mulai sedikit sayu. "Dunia luar memang busuk. Mungkin tempatku memang di sini, di sisimu."
Adrian menarik dagu Ghea, menciumnya dengan intensitas yang meluap-luap. Ghea membalas ciuman itu, sebuah pengalihan perhatian yang sempurna sementara tangannya yang lain memastikan ampul itu tidak jatuh.
"Aku akan memberimu segalanya, Ghea. Besok, aku akan menunjukkan padamu lebih banyak rahasia. Aku akan membiarkanmu masuk ke dalam duniaku sepenuhnya," gumam Adrian di sela ciumannya.
"Aku menantikannya," jawab Ghea dengan nada yang menggoda.
Beberapa menit kemudian, Adrian mulai merasa kantuk yang luar biasa menyerangnya. Bukan karena obat, tapi karena kelelahan emosional dan alkohol yang ia konsumsi dengan cepat dalam suasana hati yang terlalu senang.
"Maafkan aku, Sayang... sepertinya aku terlalu bersemangat malam ini," ujar Adrian sambil menguap. Ia berdiri dengan sedikit sempoyongan. "Ayo kembali ke kamar. Besok akan menjadi hari yang panjang."
Ghea membantu Adrian berjalan menuju kamar utama. Begitu Adrian merebahkan tubuhnya di ranjang dan jatuh tertidur dalam hitungan detik, Ghea berdiri di sisi tempat tidur. Ia tidak lagi tampak seperti wanita rapuh yang jatuh cinta.
Wajahnya berubah menjadi sedingin es.
Ia mengeluarkan ampul obat bius dari balik gaunnya. Ia menatap benda itu di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela. Satu ampul ini adalah tiket keamanannya. Jika suatu saat rencananya terbongkar, ia bisa melumpuhkan Adrian dalam sekejap.
Ghea menatap Adrian yang sedang tertidur pulas. Pria itu tampak begitu damai, seolah-olah dia bukan monster yang telah menghancurkan hidup banyak orang.
"Tidurlah, Adrian," bisik Ghea dengan nada yang mematikan. "Rayakan kemenanganmu malam ini. Karena mulai besok, aku tidak lagi hanya menggunakan saran taktis untuk membantumu. Aku akan menggunakan seluruh pengetahuanku untuk membongkar setiap rahasia yang kau sembunyikan di rumah ini."
Ghea berjalan menuju sudut kamar, menyembunyikan ampul itu di tempat rahasia di dalam laci riasnya, bersanding dengan kunci titanium dan sekrup besar.
Minggu ke-6 berakhir dengan Ghea yang berhasil memenangkan kepercayaan penuh Adrian—dan satu ampul racun yang siap ia gunakan kapan saja. Persiapan fisiknya hampir selesai. Kini, ia siap untuk Minggu ke-7: memasuki labirin memori dan menemukan rahasia yang akan mengubah segalanya.
Ghea naik ke atas ranjang, berbaring di samping pria yang paling ia benci, menunggu fajar tiba untuk memulai babak baru dalam perang saraf ini.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....