NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.4 -Kakek Harsa Tau Semuanya

Setibanya di ruang tamu yang luas dan plafon tinggi itu, suasana terasa begitu formal sekaligus hangat secara bersamaan. Semua orang sudah berkumpul, seolah memang menantikan kehadiran mereka. Harsa, sang kakek, menyambut kehadiran cucu kesayangannya dan gadis yang dibawanya dengan senyum yang sangat tulus.

“Selamat datang, Nak,” ucap pria tua itu dengan suara lembut namun berwibawa.

Tanpa ragu, Harsa bangkit dari kursi mahoni-nya yang antik dan langsung merangkul Aylin. Aksara sempat membelalakkan mata, ia benar-benar tak menyangka jika sang kakek akan memberikan sambutan sehangat itu kepada orang asing.

Sementara itu, Kirana hanya menatap datar. Sorot matanya tajam, menilai gadis di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki—diam-diam, penuh perhitungan. Seolah Aylin adalah berkas lamaran kerja yang harus diperiksa berlapis-lapis sebelum diterima.

Aylin membalas senyum tipis Kirana dengan sopan. Ia lalu menyalami wanita itu, juga Abian—ayah Aksara—yang menyambut dengan senyum kecil dan anggukan ramah.

Dengan jantung berdebar seperti sedang ikut ujian tes CPNS, Aylin duduk di sisi Aksara. Tangannya menggenggam ujung dress yang ia kenakan, mencoba menyembunyikan getaran gugup yang terasa sampai ke tulang.

‘Astaga, jantung gue nggak aman,’ batinnya panik.

Kakek Harsa menatapnya penuh kelembutan. “Jadi, siapa namamu, Nak?”

“Nama saya Aylin, Kek,” jawabnya sopan, suaranya sempat bergetar.

“Nama yang cantik. Cocok dengan orangnya,” ujar sang kakek tersenyum.

Aylin tersipu. Di tengah atmosfer formal dan tekanan yang tak terlihat, kehangatan dari pria tua itu seperti penyelamat kecil bagi kewarasannya.

Setelah perkenalan di ruang tamu selesai, semua berpindah ke ruang makan. Meja panjang di ruangan itu sudah tertata rapi dengan hidangan makan siang khas rumahan yang elegan—sup buntut, sayur bening, irisan buah segar, dan tentu saja satu menu yang membuat Aksara langsung tersenyum kecil begitu melihatnya: ayam taliwang kesukaannya.

Kakek Harsa mempersilakan Aylin duduk di sisi Aksara. Di seberang mereka, Kirana dan Abian duduk dengan tenang.

Aylin melirik Aksara pelan. “Kamu suka ayam taliwang? Itu pedas, loh.”

Aksara menunduk sedikit, berbisik balik. “Kakek tahu aku doyan banget. Dulu tiap ulang tahun mesti disiapin.”

Aylin mengangguk kecil. Ia makan perlahan, berusaha tenang. Tapi di sela suapan itu, suara Kirana terdengar datar.

“Orang tuamu tinggal di mana, Aylin?”

Aylin meletakkan sendoknya pelan. “Mama tinggal bersama saya, Tante. Kami tinggal di apartemen kecil, tak jauh dari tempat saya bekerja.”

“Oh.” Kirana menatapnya singkat. “Ibunya tidak bekerja?”

Aylin menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Tidak, Tan. Hanya sesekali menerima pesanan kue.”

Kirana hanya mengangguk, tapi tatapannya masih menilai. Sementara di sisi lain meja, Abian tersenyum hangat. “Usaha sendiri ya? Bagus, mandiri.”

Kakek Harsa ikut tersenyum, mengambil sepotong ayam taliwang dan meletakkannya di piring Aksara.

“Dulu waktu kecil, Aksara bisa makan dua piring cuma gara-gara ayam ini,” ucapnya tertawa. “Sekarang bawa calon istri, jadi makin lahap, kan?”

Aksara mendengus malu. “Kek, jangan begitu dong.”

Aylin tertawa kecil, tulus. Suasana yang semula tegang kini mulai mencair, meski Kirana tetap tak banyak bicara.

Dan di tengah semua itu, Aylin sadar—perkenalan ini memang baru langkah awal. Tapi dari sambutan Harsa, senyum Abian, dan tatapan Aksara yang entah kenapa terasa hangat… mungkin semua ini tidak seseram yang ia bayangkan. Hanya tatapan Kirana sama seperti kebanyakan calon Ibu mertua pada umumnya.

Selesai makan, Aylin dan Aksara berdiri di balkon samping rumah. Udara siang hari mulai teduh, semilir angin membawa aroma taman yang lembab oleh sisa embun.

“Gimana?” tanya Aksara sambil meliriknya.

Aylin menghembuskan napas panjang. “Kayak di sidang ujian skripsi. Tapi lebih menyeramkan.”

Aksara tertawa pelan. “Kamu hebat tadi. Tenang banget.”

“Serius?” Aylin menatapnya ragu.

“Serius. Apalagi waktu kamu bilang Mama tinggal sama kamu. Kakek pasti makin respect. Keluarga itu hal besar buat beliau.”

Aylin menatap langit sebentar, lalu memejamkan mata. “Ini gila. Aku nggak tahu kenapa aku melangkah sejauh ini.”

Aksara menatapnya serius. “Kalau kamu mau mundur, aku nggak akan paksa.”

“Maksudnya?”

“Tapi aku nggak ingin kamu mundur.”

Aylin langsung menoleh. Mata mereka bertemu.

Dan untuk sesaat, semuanya terasa berhenti.

Tatapan itu… terlalu nyata. Terlalu hangat untuk disebut pura-pura.

“Hah?” Aylin berdehem gugup, pura-pura menatap ke arah taman.

“Aku ke toilet sebentar.” Pamit Aksara dengan cepat dan gugup.

“Ya,” balas Aylin singkat, dia menatap Aksara yang menjauh.

Aylin memutuskan untuk melangkah menuju taman kecil di sisi rumah, penuh mawar berwarna lembut. Saat ia tengah menikmati bunga-bunga itu, pintu geser di belakangnya terbuka.

“Tante Kirana,” sapa Aylin sopan.

Kirana berdiri tegak, posturnya anggun tapi dingin. 

“Ada yang ingin saya bicarakan.”

Aylin menoleh, berusaha tetap tenang. “Tentu.”

Beberapa detik hening sebelum Kirana membuka suara lagi. “Kamu tahu, kan, Aksara itu tidak pernah tertarik pada perempuan?”

Aylin mengernyit. “Maaf?”

“Seluruh dunianya tahu. Terutama hubungannya dengan Arvano yang... Menyimpang,” Kirana menoleh, menatap Aylin dengan pandangan merendahkan. 

“Saya tidak tahu apa tujuanmu. Uang? Atau status? Tapi saya peringatkan satu hal: jangan pernah jatuh cinta padanya. Karena jika dia kembali 'normal', saya akan memastikan dia bersama perempuan yang sepadan, dan itu bukan kamu.”

Dada Aylin terasa panas mendengarnya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang menantang.

“Kalau suatu hari nanti Aksara benar-benar jatuh cinta pada saya bukan karena tekanan, saya harap Tante bersedia menarik kembali ucapan Tante tadi.”

Kirana tertegun. Ia tak menyangka gadis 'miskin' ini punya keberanian untuk menjawabnya sesinis itu. Tanpa menunggu balasan lagi, Aylin membungkuk sopan dan melangkah pergi menuju area kolam ikan koi.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Aylin merasa menang. Ia tak ingin terus dipandang rendah hanya karena latar belakangnya.

“Eh… tadi katanya teman-temannya tahu? Kasihan banget kalo Kakek juga tahu,” gumamnya pelan sambil berdecak. “Kasihan Kakek punya cucu ‘belok’.”

Ia menapaki jalan setapak menuju kolam ikan di sisi rumah. Air kolam tenang, dipenuhi ikan koi besar berwarna cerah. Udara siang terasa menenangkan—sampai suara lembut memanggilnya.

“Aylin, kemarin lah, Nak.”

Aylin menoleh cepat dan tersenyum. “Kakek?”

Ia menghampiri pria tua itu yang tengah menaburkan pakan ikan. Riak air berlarian mengikuti gerakan tangannya.

“Terima kasih sudah mau menerima cucu Kakek,” ucap Harsa tanpa menoleh.

“Hah? Maksud Kakek?” Aylin menatapnya bingung.

Harsa akhirnya menoleh perlahan, sorot matanya tajam tapi hangat.

“Kakek tahu semuanya, Aylin.” Ucapnya dengan lirih.

Aylin terdiam. Matanya membulat, jantungnya berdebar tak karuan.

‘Semuanya?’ pikir Aylin dengan jantung berdebar.

Apakah yang dimaksud Kakek… soal pernikahan pura-pura ini? Atau sesuatu yang bahkan belum ia pahami?

Dan kali ini, untuk pertama kalinya, Aylin benar-benar takut.

Bersambung ...

Aduh, jantung Aylin (dan jantung Author) hampir copot! Menurut kalian, apa sih yang Kakek Harsa tahu? Jangan lupa klik FAVORIT dan LIKE ya biar aku semangat lanjut ke Bab 5 nanti siang atau malam! ❤️✨

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!