NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Liana mematung saat Genata yang langsung memeluknya.

Kehangatan tubuh wanita itu justru membuatnya merasa semakin bersalah.

Bisikan lembut Genata di telinganya masih terngiang, sebuah kalimat yang tidak disangka-sangka akan keluar dari mulut seorang istri pertama yang dikhianati takdir.

“Selamat datang di keluarga kami, Liana. Maafkan aku karena harus menarikmu ke dalam beban ini,” bisik Genata lirih.

Liana tidak bisa menjawab dan perlahan ia melepaskan pelukan itu dan melihat Genata menghapus setetes air mata yang jatuh di pipinya sendiri sebelum beralih mencium tangan Papa Habibie.

Kemudian Liana mendekat Papa Habibie yang ingin bicara dengannya.

Papa Habibie memanggil Abi yang masih mengobrol dengan Penghulu.

Abi melangkah mendekat, lalu berlutut di sisi ranjang medis Papa Habibie, tepat di samping Liana yang masih terisak.

Papa Habibie meraih tangan kanan Abi dan tangan kiri Liana, lalu menyatukan keduanya di atas dadanya yang naik-turun dengan lemah.

"Abi, Liana..." bisik Papa Habibie dengan suara yang nyaris hilang.

"Sekarang kalian sudah sah. Jangan ada dendam. Hiduplah rukun. Abi, bimbing Liana. Liana, berbaktilah pada suamimu dan hormatilah Genata."

Liana hanya bisa menganggukkan kepalanya dan merasakan jemari Abi yang menggenggam tangannya.

Di sudut ruangan, Genata menyaksikan pemandangan itu dengan ketegaran yang luar biasa, meski matanya tak bisa berbohong akan rasa pedih yang menyayat.

Abi merapikan jasnya, lalu menatap Mama Prameswari dengan penuh hormat sebelum pandangannya beralih kepada Liana yang masih terduduk lemas.

“Papa Habibie, Mama Prameswari, karena urusan administrasi rumah sakit dan kebutuhan istirahat Papa Habibie sudah tertangani, saya rasa sudah saatnya saya membawa Liana ke rumah,” ucap Abi dengan suara yang rendah namun tegas.

Mama Prameswari mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.

“Bawa dia, Bi. Dia istrimu sekarang. Tolong bimbing anak saya.”

"Tapi, Ma. Liana masih mau disini sama Mama sama Papa." ucap Liana.

Wajah Mama Prameswari tampak sendu namun penuh permohonan.

Ia menggenggam tangan Liana, mencoba memberikan pengertian melalui sentuhan yang gemetar.

"Liana, Papa butuh ketenangan untuk pulih. Kamu sekarang sudah punya tanggung jawab baru sebagai istri. Abi, adalah suamimu. Pergilah bersama mereka. Mama di sini menjaga Papa bersama Tante Rani dan tim medis," ujar Mama dengan suara yang sangat lembut.

Liana menoleh ke arah Angela yang hanya bisa memberikan anggukan kecil, sebuah isyarat bahwa tidak ada lagi jalan untuk menghindar.

Dengan langkah yang terasa seberat timah, Liana bangkit dari duduknya.

Ia mencium tangan Papanya yang masih terpejam lemah, lalu mencium tangan Mamanya dengan air mata yang kembali membasahi riasannya.

Angela memeluk sahabatnya dan ia sudah menyiapkan koper milik Liana.

"Telepon aku kalau ada apa-apa, ya." bisik Angela.

Liana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

Di teras rumah, sebuah pemandangan yang tak pernah Liana bayangkan sebelumnya kini nyata di depan mata.

Mobil hitam milik Abi sudah menunggu. Abi membukakan pintu belakang untuk Genata, namun Genata justru berhenti dan menoleh pada Liana.

"Liana, duduklah di depan bersama Mas Abi. Aku akan duduk di belakang," ucap Genata dengan suara yang begitu tenang, tanpa ada nada kecemburuan sedikit pun.

"Tidak, Tante. Saya di belakang saja," jawab Liana canggung, lidahnya masih kelu menyebut nama wanita itu.

"Panggil aku Mbak Gen, Liana. Mulai hari ini, kita adalah satu keluarga. Masuklah, di depan lebih nyaman untukmu yang sedang lelah," Genata tersenyum tulus sambil menuntun Liana ke kursi penumpang depan.

Selama perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil.

Abi fokus menyetir mobilnya, sementara Liana hanya bisa menatap jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang memulai aktivitas pagi mereka.

Mereka tidak tahu bahwa di dalam mobil ini, tiga hati sedang mencoba berdamai dengan takdir yang baru saja dipahat.

Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah rumah bergaya kolonial modern yang asri.

Halaman luas dengan pepohonan rindang itu sejenak memberikan rasa sejuk, namun bagi Liana, setiap jengkal tanah ini terasa seperti wilayah asing yang penuh duri.

Abi turun lebih dulu, mengeluarkan koper Liana dari bagasi tanpa sepatah kata pun.

Ia tampak efisien, namun matanya memancarkan kelelahan yang sama besarnya dengan Liana.

“Ayo, Liana. Mari masuk,” ajak Genata lembut.

Ia merangkul bahu Liana, menuntunnya melewati pintu jati besar yang terbuka lebar.

Liana berjalan menunduk, matanya hanya menangkap kilap lantai marmer dan aroma terapi lavender yang menenangkan di dalam rumah.

Genata tidak berhenti di ruang tamu, ia justru membimbing Liana menuju tangga melingkar yang menuju ke lantai atas.

“Rumah ini punya empat kamar di atas,” Genata menjelaskan sambil menaiki anak tangga satu per satu.

“Kamar utama ada di ujung sana, kamar Mas Abi dan aku. Tapi untukmu, aku sudah menyiapkan kamar yang paling tenang.”

Di ujung selasar lantai atas, Genata membuka sebuah pintu kayu berwarna putih.

Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang dan kolam renang.

Gorden tipis berwarna krem melambai tertiup angin sore.

Sebuah tempat tidur besar dengan seprai sutra berwarna sage green tampak sangat mengundang bagi tubuh Liana yang sudah remuk oleh emosi.

“Ini kamarmu,” ucap Genata pelan.

"Mbak, ini terlalu bagus. Saya bisa di kamar tamu mana saja."

Genata menggeleng, ia melangkah masuk dan menepuk bantal yang tertata rapi.

"Kamu bukan tamu, Liana. Kamu adalah bagian dari hidup Mas Abi sekarang, yang artinya kamu bagian dari rumah ini. Aku ingin kamu merasa nyaman agar kamu tidak merasa seperti tawanan."

Tak lama kemudian, Abi muncul di belakang mereka membawa koper Liana.

Ia meletakkan koper itu di dekat lemari pakaian besar.

Suasana mendadak menjadi sangat kaku saat ketiganya berada dalam satu ruangan yang sama.

Abi berdehem kecil, memecah kecanggungan.

"Gen, apa semua kebutuhannya sudah lengkap?"

"Sudah, Mas. Aku juga sudah meminta Bi Inah menyiapkan air hangat untuk Liana mandi. Dia perlu istirahat total," jawab Genata tenang.

Abi menatap Liana sejenak. Ada gurat penyesalan sekaligus ketegasan di matanya.

"Istirahatlah, Liana. Jangan memikirkan apa pun dulu. Di rumah ini, kamu aman."

Setelah mengatakan itu, Abi berbalik pergi, meninggalkan kedua wanita itu dalam keheningan yang menyesakkan.

Liana merasa seolah-olah ia baru saja merusak sebuah harmoni yang selama ini terjaga dengan indah di rumah ini.

Suasana kamar terasa sunyi setelah suara gemericik air di kamar mandi berhenti.

Liana keluar dengan rambut yang masih basah, mengenakan pakaian ganti yang tadi disiapkan.

Ia duduk di tepi tempat tidur yang luas itu, merasa kecil dan tersesat di tengah kemewahan yang tidak ia inginkan.

Tubuhnya masih gemetar, dan setiap suara kecil di luar kamar membuatnya tersentak.

Tok, tok, tok.

Pintu terbuka pelan dan Abi melangkah masuk ke kamar.

Ia sudah melepaskan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.

Wajahnya tampak letih, namun matanya langsung tertuju pada sosok Liana yang meringkuk di tepi ranjang.

Abi berjalan mendekat dan duduk di samping Liana.

Jarak mereka tidak terlalu dekat, namun Liana langsung menegang.

Ia meremas sprei dengan jemarinya yang pucat, bahunya naik, dan napasnya menjadi pendek-pendek.

"Liana..." suara Abi berat dan rendah.

Liana tidak berani menoleh. Ia hanya menunduk, membiarkan rambut basahnya menutupi wajah.

Melihat reaksi Liana yang seolah sedang menunggu vonis hukuman, Abi menghela napas panjang.

Ada rasa sesak yang menghantam dadanya melihat wanita muda itu begitu ketakutan karenanya.

Abi perlahan bangkit dari duduknya, memberikan ruang bagi Liana untuk bernapas.

"Istirahatlah, Li. Jangan takut. Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun malam ini. Tidurlah yang nyenyak, kamu butuh tenaga untuk besok."

Abi berbalik menuju pintu, namun langkahnya terhenti.

Di ambang pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Genata berdiri di sana.

Istri pertamanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada kesedihan, ada pengertian, namun juga ada luka yang ia coba sembunyikan rapat-rapat.

Pandangan Abi dan Genata bertemu sejenak. Ruangan itu seakan dipenuhi oleh beban emosi dari tiga hati yang berbeda.

Abi menoleh kembali sekilas ke arah Liana yang masih mematung, lalu kembali menatap Genata.

"Malam ini, aku tidur di sofa saja."

Perkataan itu dijatuhkannya sebagai keputusan akhir.

Ia tidak akan masuk ke kamar Genata, pun tidak akan menetap di kamar Liana.

Abi melangkah keluar, melewati Genata yang hanya bisa menarik napas panjang, membiarkan keheningan malam menyelimuti rumah yang kini dihuni oleh dua istri tersebut.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!