Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Tak Dijawab
Aruna nggak bisa berhenti mikirin kemarin.
Dari bangun tidur—subuh, waktu adzan berkumandang dari mesjid deket rumah dan dia bangun buat sholat—sampai sekarang, pagi-pagi di sekolah, otaknya cuma mengingat satu adegan terus-menerus. Dhira berdiri di bawah payung hitam, senyum tipisnya, suaranya yang bilang "Lucu", dan... dan jarak mereka yang terlalu deket waktu jalan bareng.
Aruna duduk di bangku belakang, pulpen di tangan, tapi nggak nulis apa-apa. Buku catatannya terbuka di halaman kosong. Kosong. Kayak otaknya sekarang—penuh tapi kosong. Penuh sama Dhira, tapi kosong dari hal-hal lain.
Kayla belum dateng. Kelasnya masih sepi—cuma ada beberapa anak yang udah duduk-duduk santai, ngobrol, ketawa, ada yang nyontek PR temen. Aruna ngeliat jendela. Langit cerah. Nggak kayak kemarin yang mendung deres. Matahari pagi masuk, bikin lantai keramik kelas bersinar dikit.
Aruna senyum sendiri.
Nggak tau kenapa senyum.
Cuma... inget Dhira. Inget hujan. Inget payung hitam. Inget—
"Aruna Pratama, kamu kenapa sih?"
Deg.
Aruna nyaris lompat dari kursinya. Dia noleh cepet.
Kayla.
Berdiri tepat di sampingnya, tas masih di bahu, rambut poni nya—poni tebel yang selalu rapi, selalu bikin Kayla keliatan... lucu—agak berantakan dikit, mungkin buru-buru tadi. Matanya melotot, tapi bukan melotot marah. Melotot... bingung.
"K-Kay... kamu... dari kapan berdiri di situ?" tanya Aruna, suaranya agak tinggi karena kaget.
"Dari tadi. Dari kamu senyum-senyum sendiri kayak orang gila."
Senyum-senyum sendiri?
Aruna langsung sadar. Tangannya refleks nutup mulutnya—nggak, bukan mulut—dia tarik ujung jilbabnya, tutupin setengah wajahnya, sampe hidungnya. Cuma matanya yang keliatan sekarang.
"A-aku... nggak senyum kok..."
"Bohong. Kamu senyum. Aku lihat." Kayla duduk di bangku sebelahnya, natap Aruna dengan tatapan... curiga. "Ada apa? Kamu kenapa? Kok aneh?"
"Nggak aneh..."
"Aruna." Kayla nunduk dikit, supaya sejajar sama mata Aruna. "Aku sahabatmu. Aku kenal kamu dari SMP. Dan kamu... nggak pernah senyum-senyum sendiri gitu. Paling juga cuma senyum tipis kalau baca buku lucu, tapi nggak sampe kayak tadi. Tadi kamu... kamu keliatan... seneng."
Seneng.
Aruna... seneng?
Iya sih. Dia memang seneng. Tapi kenapa seneng? Karena... karena Dhira? Karena kemarin? Karena dia ngerasa... ngerasa ada yang... nemenin?
*Astafirullah. Ya Allah, aku kenapa sih.*
"Aku... cuma... cuma lagi mikirin tugas kelompok aja, Kay..." jawab Aruna pelan, masih nutupin setengah wajahnya pake jilbab. "Serius."
"Tugas kelompok?" Kayla ngangkat satu alis. "Sama Dhira?"
Nama itu disebut. Dan jantung Aruna langsung... dag dig dug.
"I-iya..."
Kayla diam. Ngeliatin Aruna lama. Lama banget. Sampai Aruna ngerasa... telanjang. Kayak Kayla bisa baca semua yang ada di kepalanya.
Tapi akhirnya... Kayla cuma senyum kecil. Senyum yang... ngerti.
"Oke. Aku nggak maksa kamu cerita. Tapi kalau ada apa-apa... kamu tau kan, aku selalu ada buat kamu?"
Aruna ngangguk pelan.
Kayla mengelus rambut Aruna sekilas—messy banget, padahal Aruna udah merapihkan jilbabnya pagi tadi—terus buka tasnya, keluarin buku. "Oh iya, ngomong-ngomong... kamu dengerin nggak tadi? Si Nisa ngomong aneh-aneh lagi."
Aruna langsung tegang. "Ngomong apa?"
"Ngomongin kamu. Sama Dhira. Dia bilang... eh tunggu, nanti aja deh. Nggak penting juga."
Tapi Aruna pengen tau. Pengen tau banget. "Kay, tolong... bilang apa dia?"
Kayla ragu. Gigit bibir. Terus... napas panjang. "Dia bilang... kenapa Dhira harus sekelompok sama kamu. Katanya... kamu beban. Kamu nggak bisa apa-apa."
Deg.
Aruna nunduk.
Dalam-dalam.
Tangannya menggenggam pulpen itu erat. Sampai buku-buku jarinya putih. Dada sesak. Tenggorokan kering.
*Beban.*
*Nggak bisa apa-apa.*
Suara-suara itu... suara-suara dari SMP. Dari jaman dia di-bully. Suara-suara yang ngejek, ngerendahin, bikin dia... bikin dia ngerasa kayak sampah.
Dan sekarang... sekarang Nisa ngomong hal yang sama.
"Aruna..." Kayla pegang tangan Aruna. "Jangan dipikirin. Nisa itu cuma iri. Dia suka sama Dhira, semua orang tau. Jadi wajar aja dia kesel kamu deket sama Dhira—"
"Aku nggak deket sama Dhira." Aruna potong cepet. Suaranya... agak keras. Lebih keras dari biasanya. "Kami cuma... cuma ngerjain tugas. Itu aja."
Kayla diam.
Aruna... langsung nyesel. Kenapa dia nada suaranya kayak gitu? Kenapa dia defensif? Kenapa—
"Maaf, Kay... aku... aku nggak bermaksud bentak kamu..."
"Nggak papa." Kayla senyum lagi. Senyum yang tulus. "Aku ngerti kok. Kamu pasti... kesel sama Nisa. Wajar."
Bel masuk bunyi.
Anak-anak mulai masuk kelas, berisik, berebut tempat duduk, ngobrol kenceng-kenceng. Guru belum dateng. Aruna ngeliat ke depan.
Dan di sana...
Nisa.
Duduk di barisan ketiga dari depan, dikelilingi temen-temennya—dua cewek yang... yang selalu ikut-ikutan Nisa kemana-mana. Mereka lagi ngobrol, ketawa, sesekali ngelirik ke belakang—ke arah Aruna.
Aruna... nggak bisa denger mereka ngomong apa. Tapi dari gerak bibir Nisa... dari tatapan mata cewek itu yang... meremehkan... Aruna tau. Tau banget.
Mereka lagi ngomongin dia.
*Tong kosong nyaring bunyinya.*
Aruna inget kata-kata Arya, kakaknya, yang suka ngomong gitu kalau ada orang yang suka nyinyir tapi sebenernya nggak punya apa-apa. "Orang yang ribut paling kenceng, biasanya yang paling kosong, Na. Jangan dengerin."
Tapi... susah.
Susah untuk nggak dengerin.
Aruna... diem aja. Natap Nisa dari belakang. Tajam. Dalem.
Terus... nggak tau kenapa... tangannya gerak sendiri.
Dia julurkan lidah.
Cepet.
Terus langsung ditarik masuk lagi.
Nisa nggak liat. Cewek itu lagi asik ngobrol, nggak nengok ke belakang lagi.
Tapi Aruna... ngerasa sedikit lega. Sedikit puas. Meskipun childish. Meskipun... stupid.
Kayla ngeliat. Dan ketawa pelan. "Aruna... kamu baru aja menjulurkan lidah?"
Aruna merah. "Nggak..."
"Bohong. Aku lihat."
"Kay... jangan keras-keras..."
Kayla ketawa lagi, tapi pelan, nutup mulut pake tangan. "Oke oke. Aku nggak bilang siapa-siapa."
Pelajaran dimulai.
Tapi Aruna nggak fokus.
Matanya ke papan tulis. Tangannya nulis catatan. Tapi otaknya... di tempat lain.
Di Nisa. Di kata-kata cewek itu. Di... di Dhira.
*Apa... apa Dhira juga mikir gitu? Apa dia ngerasa aku beban?*
Aruna nggak tau.
Dia nggak berani nanya.
Takut jawabannya... iya.
Jam pelajaran kedua. Matematika. Pak Budi jelasin rumus di depan—trigonometri atau apa gitu—Aruna nggak denger. Dia ngeliat ke depan lagi.
Nisa lagi bisik-bisik sama temennya. Ketawa kecil. Ngelirik ke belakang lagi.
Dan kali ini... mata mereka ketemu.
Nisa senyum. Senyum yang... nggak tulus. Senyum ngejek.
Aruna... nggak tau kenapa dadanya panas. Panas banget. Marah. Kesel. Dongkol.
*Astafirullah. Jangan marah. Jangan. Sabar. Sabar.*
Tapi tangannya... tangannya bergerak lagi.
Pelan-pelan.
Dia angkat tangan kanan. Tangan yang nggak pegang pulpen. Jari-jarinya melipat satu-satu—jempol, telunjuk, manis, kelingking—sampai tinggal... jari tengah.
Aruna acungkan jari tengahnya.
Ke Nisa.
Diem-diem. Di bawah meja. Nisa nggak liat—cewek itu udah noleh ke depan lagi.
Tapi Aruna... Aruna ngelakuin itu.
Dan dadanya... rasanya sedikit lega. Sedikit puas. Meskipun... meskipun bodoh. Meskipun nggak mengubah apa-apa.
Kayla yang duduk di sebelahnya ngeliat lagi. Dan kali ini... dia nggak ketawa. Dia cuma... Mengelus punggung Aruna pelan.
"Aruna... kamu oke?"
"Aku oke..." jawab Aruna, suaranya kecil. "Aku... aku baik-baik aja."
Bohong.
Kayla pasti tau itu bohong.
Tapi Kayla nggak bilang apa-apa lagi.
Jam istirahat.
Aruna nggak keluar kelas. Dia duduk aja di bangkunya, keluarin bekal—nasi goreng sisa semalam yang dimasukin ke kotak makan plastik—terus makan pelan-pelan sambil baca buku. Buku novel lama yang udah lusuh, judulnya "Hujan Bulan Juni". Aruna suka buku ini. Udah baca berkali-kali, tapi nggak bosen.
Kayla pergi ke kantin, beli minum katanya.
Kelas lumayan sepi. Ada beberapa anak yang masih di kelas, duduk-duduk santai, main hape, ngobrol.
Aruna fokus ke bukunya. Atau... nyoba fokus. Tapi matanya membaca kalimat yang sama berkali-kali tanpa ngerti artinya.
Sampai...
Tok.
Suara ketukan di meja.
Aruna menengadah.
Dan jantungnya... berhenti sedetik.
Dhira.
Berdiri tepat di depan mejanya. Seragam rapi. Rambut agak berantakan—mungkin habis main basket, karena wajahnya masih agak berkeringat—tapi tetep... tetep keliatan...
*Astafirullah, jangan mikir yang aneh-aneh.*
"Aruna." Dhira manggil, suaranya datar. Tenang.
"I-iya...?" Aruna nutup bukunya cepet, tangannya gemetaran dikit.
Dhira nggak ngomong apa-apa. Dia cuma... Menaruh sesuatu di meja Aruna.
Sebotol teh kotak. Rasa melati. Yang ada gambar bunga melati di kemasannya.
Dan... roti bakar. Roti isi kacang merah. Dibungkus plastik bening.
Aruna bengong.
Ngeliat teh sama roti itu. Terus ngeliat Dhira. Terus ngeliat teh lagi.
"A-apa... ini...?"
"Buat kamu," jawab Dhira singkat. "Tadi kamu nggak sarapan, kan?"
Deg.
Aruna... speechless.
Gimana... gimana Dhira tau?
"K-kok... kok tau...?"
Dhira ngangkat bahu. Senyum tipis. "Mana tau. Pokoknya makan. Nanti sakit."
Dan cowok itu... pergi. Gitu aja. Jalan santai keluar kelas, tangan di saku celana, nggak nengok lagi.
Aruna duduk di sana.
Sendirian.
Natap teh kotak sama roti bakar di mejanya.
Tangannya... tangannya gemetar. Jantungnya dag dig dug nggak karuan. Wajahnya... panas. Panas banget.
*Ya Allah... kenapa dia... kenapa dia ngasih ini? Kenapa dia tau aku nggak sarapan? Kenapa dia...*
Aruna ambil teh kotak itu pelan. Buka tutupnya. Minum sedikit.
Manis. Seger. Dingin.
Dan... entah kenapa... dadanya terasa hangat.
Tapi...
Dari sudut matanya, Aruna ngeliat sesuatu.
Nisa.
Berdiri di pintu kelas. Baru balik dari kantin mungkin. Ngeliat Aruna.
Ngeliat teh kotak di tangan Aruna.
Dan... tatapannya.
Tatapan Nisa itu... tajam. Dingin. Penuh... benci.
Aruna... langsung nunduk. Masukin teh kotak ke dalam laci meja. Sembunyiin roti bakarnya juga.
*Ya Allah... kenapa Nisa liat? Kenapa dia harus liat?*
Nisa masuk kelas, jalan ke bangkunya, duduk dengan gerakan kasar—bangkunya bunyi kriet keras—terus ngeliatin Aruna lagi dari depan.
Aruna... nggak berani balas ngeliatin.
Dia cuma... tutup matanya sebentar.
Tarik napas.
*Ya Allah, tolong... tolong jangan ada masalah...*
Sore itu, pulang sekolah, Aruna jalan sendirian. Kayla ada les lagi. Jadi Aruna jalan kaki ke rumah, lewat jalanan yang sama kayak kemarin—jalanan yang kemarin dia jalan bareng Dhira.
Langit cerah. Nggak hujan. Nggak mendung.
Tapi Aruna... ngerasa ada yang beda.
Ada yang... berubah.
Dan dia nggak tau itu baik atau buruk.
Sampai di rumah, Arya belum pulang—masih kerja. Aruna masuk kamar, ganti baju, terus duduk di kasur.
Jurnal coklatnya dia buka.
Halaman baru.
Pulpen di tangan.
Tapi... dia nggak nulis apa-apa.
Cuma... natap halaman kosong itu.
Lama.
Sampai matanya panas.
Sampai napasnya... sesak.
Dan dia bisik pelan:
"Ya Allah... aku... aku takut."
Takut kenapa?
Takut... Dhira bakal pergi kalau tau siapa Aruna sebenarnya.
Takut... perasaan ini makin gede.
Takut... pada akhirnya Aruna cuma... cuma jadi beban buat cowok itu.
Takut...
Nisa bener.
Malam itu, hape Aruna bunyi.
Notifikasi.
Aruna ambil hapenya dari meja belajar. Layarnya nyala.
Pesan.
Dari... nomor nggak dikenal.
Aruna buka pesannya.
Dan dadanya... langsung dingin.
Pesan itu cuma satu kalimat:
**"Jauhi Dhira. Atau kamu bakal nyesel."**
Aruna natap layar hapenya.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdebar.
Dan dalam hati... dia teriak:
*Siapa ini?*
*Siapa... yang kirim pesan ini?*
Tapi hapenya nggak bunyi lagi.
Cuma satu pesan.
Cuma itu.
Dan Aruna...
Aruna nggak tidur malam itu..