Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Shela terbangun pagi-pagi, antusias mempersiapkan diri untuk hari itu. Dia segera memakai seragamnya, lalu beranjak menuju meja rias untuk mengaplikasikan riasan wajah yang sempurna pada wajah polosnya. Setelah puas dengan hasilnya, ia mengambil tas sekolah dan keluar dari kamarnya.
Wajah Shela berseri-seri, memancarkan rasa harap yang mendalam; ingin sekali dia dapat merasakan kehangatan sarapan bersama kakak-kakak dan ayahnya di pagi yang cerah ini. Tapi sayangnya, begitu melangkah masuk ke ruang makan, wajahnya seketika suram. Rupanya orang-orang di meja makan sudah bangkit dan mulai beranjak. Walau telah berusaha bangun lebih awal, Shela belum juga berhasil meraih momen berharga itu.
Dengan langkah gontai, Shela menatap ayahnya yang masih berada di sekitar meja makan. Laki-laki paruh baya itu menatapnya dengan wajah datar,seolah kehadiran Shela begitu mengganggu penglihatannya.
"Uang bulanan sudah saya transfer ke rekening kamu," ucap ayahnya, lalu meninggalkan Shela begitu saja, menambah panjang daftar kekecewaan yang menghantui hati gadis kecil itu.
Shela menghela napas berat, menghadapi kenyataan bahwa bahkan ucapan selamat pagi pun tak pernah ia dapatkan dari keluarganya. Perlahan, ia duduk di salah satu kursi dan menatap meja makan yang terasa begitu kosong. Dalam benaknya bergema pertanyaan, "Ayah mana yang berbicara dengan putrinya sendiri menggunakan bahasa formal seperti itu? Saya?" Shela tersenyum getir, menyadari bahkan panggilan sehari-hari ayah padanya pun seperti menunjukkan bahwa Shela hanyalah orang asing yang menumpang hidup di keluarga ini.
Mata Shela mendongak ke atas, berusaha mencegah butiran-butiran air yang menggenang di pelupuk matanya jatuh begitu saja. Ia tak ingin riasan wajahnya luntur karena air mata yang mengalir dari penyesalan tak berujung ini.
"Non, sarapannya sudah?" tanya Mbok Inah, tiba-tiba berada di samping Shela.
"Belum, mbok. Ini baru mau makan," jawab Shela lembut.
Mbok Inah tersenyum hangat. "Yasudah makan, mbok temenin."
Seulas senyum tulus menghiasi sudut bibir Shela. "Makasih mbok," ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Shela segera mengambil makanan yang ada di hadapannya dan melahapnya. Meski keluarganya tidak peduli, setidaknya masih ada sosok Mbok Inah yang selalu peduli padanya, bagai oasis di tengah gurun yang tandus.
-----
Shela memandangi langit biru yang dipenuhi awan, pemandangan yang begitu menakjubkan sehingga mampu mengubah suasana hatinya yang sempat kelam menjadi sedikit lebih cerah. Matanya kemudian terpejam sejenak, menatap pemandangan orang-orang yang sedang berolahraga di lapangan, seperti semut dari atas sini.
Saat ini, Shela berada di rooftop, perasaan tercekik membuatnya memilih untuk bersembunyi dari keramaian kelasnya.
Menghela napas, ia melangkah dengan lemah menuju sebuah kursi tak terpakai, lalu melemparkan tubuhnya dengan lelah ke sana.
Karena bosan, Shela menutup matanya dan mencoba untuk tidur, berharap gelisah di dalam hatinya perlahan menghilang.
Tapi baru saja beberapa menit matanya terpejam, ia terbangun mendadak saat mendengar seseorang berbicara tak jauh darinya. Merasa terganggu dan emosinya kembali memuncak, Shela mengernyitkan dahi dan beranjak dengan penuh kekesalan untuk melihat siapa yang tidak berpikir dua kali sebelum mengganggu tidurnya yang singkat.
"Gue udah lama suka sama lo!" seru gadis itu dengan suara yang bergetar, menahan air mata. "Maaf, tapi gue udah punya cewek." jawab pria di hadapannya dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.
Gadis itu mencoba menegakkan wajahnya dan menatap mata pria yang dicintainya, "Gue tau, gue... cuma ingin ungkapin perasaan gue sebelum terlambat. Gue nekat lakuin ini karena lusa gue bakal pindah dari sini," ucapan itu keluar bersama isak tangis yang tertahan.
"Sebagai permintaan terakhir, boleh gak gue peluk lo, sebentar aja?" pintanya dengan mata berkaca-kaca. Shela yang mengintip dari kejauhan hanya bisa mencibir melihat pemandangan di depannya. "Dasar modus, nyari kesempatan aja!" gerutunya dengan wajah merah padam.
Namun tak disangka, Marvin, pria yang didekati oleh gadis itu, mengangguk pelan dan merentangkan tangannya dengan sikap lemah lembut. Wajahnya yang hangat dan penuh pengertian membuat gadis yang mencoba mengungkapkan perasaannya merasa bersyukur, walau tahu bahwa cinta takkan pernah bersatu.
Gadis itu tersenyum cerah, matanya berbinar seolah mengandung ribuan bahagia, kemudian dengan langkah ringan, ia segera menghambur ke pelukan laki-laki itu. Namun tak lama, gadis itu melepaskan pelukannya. "Terima kasih, ya. Cewek lo sungguh beruntung bisa dapat cowok kayak lo. Semoga kalian langgeng dan selalu bahagia bersama," ujar gadis itu dengan suara tulus yang menggema dalam hatinya.
Marvin mengangguk, matanya kembali menyiratkan segala makna yang tak perlu diucapkan. "Ya, anggap saja ini sebagai pelukan perpisahan terakhir kita. Yaudah, gue pergi dulu. Ingat, jangan pernah membahas soal ini kepada siapa pun, termasuk cewek gue." Kalimat tersebut terucap seraya ia menatap gadis itu dalam-dalam.
Gadis itu mengangguk mantap, dan setelahnya Marvin meninggalkan gadis itu sendirian di sana . Setelah memastikan bahwa Marvin benar-benar pergi, Shela keluar dari persembunyiannya. Dengan ekspresi cemoohan di wajahnya, ia bertepuk tangan keras dan berjalan mendekati gadis itu yang kini terdiam dalam keheningan malam.
"Wow! Pertunjukan yang sangat dramatis. Luar biasa!" Seru Shela sambil bertepuk tangan. Namun, begitu gadis itu berbalik dan melihat siapa yang ada di depannya, wajah cerianya berubah menjadi panik. "Shela, g-gue..."
Mata Shela menyala dan ia menghentikan langkah di depan gadis itu. Dengan tangan yang terlipat di dada, Shela memandang gadis yang lebih pendek darinya dengan tatapan tajam. "Berani banget ya, lo mendekati Marvin? Bahkan memeluknya? Padahal, gue aja belum pernah dipeluk sama Marvin!"
Shela maju selangkah dan dengan geram mendorong bahu gadis itu. "Shel, gue minta maaf. Gue gak bermaksud deketin Marvin."
Mendengus dengan kesal, Shela membentak, "Gak bermaksud? Lo kira gue tuli, apa gue buta?! Gue lihat sendiri lo menyatakan perasaan lo dan pelukan manis yang lo berikan padanya!"
"Itu cu-cuma... aw!" Rintih gadis itu saat tamparan mendarat di pipinya. Meski tidak begitu keras, rasa perih tetap menyeruak di wajahnya.
"Sialan! Gak boleh ada seorang pun yang berhak mendekati Marvin selain gue!!! Sudah cukup cewek cupu sialan itu menghalangi jalan gue!" Shela berteriak, amarahnya membuat gadis di hadapannya bergemetar ketakutan. "Shel, Ma-maaf."
Shela tersenyum sinis. "Oh, lo mau pindah sekolah ya? Setelah menerima hadiah perpisahan dari Marvin, gue juga akan memberikan hadiah perpisahan buat lo, bagaimana?"
Gadis itu menggeleng cepat, merasa ketakutan. "G-gak usah, jangan.."
Namun, tanpa menggubris ucapan gadis itu, Shela menjambak rambut gadis itu hingga kepalanya terangkat. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong roknya, lalu mengoleskan benda berwarna merah itu pada seluruh wajah gadis itu. Setelah cukup lama mengoleskan lipstik, Shela melepaskan genggamannya dan tersenyum puas melihat hasil karyanya.
Masih belum cukup, Shela mengeluarkan sebuah maskara dan dengan kejam, mengoleskan benda berwarna hitam itu ke wajah gadis itu. Setelah puas mempermainkan wajah si gadis, Shela menyeringai dan menyatakan, "Oke, selesai!"
Sambil menangis, gadis itu tak mampu berbuat apa-apa, merasakan perasaan hancur dan terhina. Di balik derai air mata, ia berjanji suatu hari akan bangkit dari keterpurukan dan membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban Shela yang kejam.
Shela menatap wajah gadis itu yang kini tampak tak beraturan, penuh coretan lipstik dan maskara memenuhi seluruh wajahnya. Dia mengamati tulisan di lipstik dan maskara miliknya, lalu ekspresinya berubah menjadi pura-pura panik yang menyiratkan rasa penyesalan.
" Yah, lipstik sama maskara ini tahan air, gimana dong? Kan susah dihapus pakai air. Maaf deh ya, gue nggak sengaja ngegambar di wajah lo, apalagi di sekolah pasti gak ada yang bawa penghapus make up," ujar Shela dengan senyuman jahil.
Gadis di hadapannya menunduk, tubuhnya menggigil. Shela menduga gadis itu tak kuasa menahan tangis, namun dia sama sekali tak merasa peduli.
"Sana pergi! Gue muak liat wajah jelek lo!" Usir Shela tanpa ampun.
Dengan tubuh yang masih bergetar, gadis itu berbalik perlahan dan meninggalkan Shela sendiri di sana, seolah membawa luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan air mata.