Jelly Putri Wijaya sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Benjamin Huang. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Jelly ke Hongkong mempertemukan gadis itu dengan Oscar Liu, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Jelly yang kikuk dan misterius, membuat Oscar tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Oscar yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Jelly bukanlah gadis sembarangan, membuat Oscar jadi mempertanyakan niatnya. Jelly pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Jelly kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?
Bagaimana kisahnya? yuk ikuti di novel baruku.. 🙏
Jika suka, like, komen positif, sub, rate 5 and share ya.. Terimaka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Maaf, Mama. Aku tidak bisa mengikuti keinginanmu untuk kali ini. Pernikahan bukan sesuatu yang aku rencakan dalam waktu dekat. Kalaupun aku berubah pikiran, kurasa aku yang paling berhak memilih siapa pun yang menjadi pasanganku.
Ia bahkan sudah berlatih mengucapkan kalimat yang akan dilontarkan kepada mamanya beberapa kali di depan cermin sejak dua minggu lalu.
Ya ampun, kenapa aku harus memikirkan hal yang semacam ini sekarang? Jelly bertanya dalam hati. Di situasi dilematis ini benar-benar menyiksanya.
"Oh, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, Oscar Liu! "
Mendengar pekikan antuasias seorang gadis, Jelly menoleh ke seberangnya sekali lagi. Lalu, "As.. ta... ga. " Ia melotot ke arah laki-laki bernama Oscar Liu yang sedang mencoret dada perempuan muda. "Apa yang dilakukan laki-laki itu? "
Selama beberapa detik Jelly membisu. Ia pun masih memperhatikan Oscar Liu dan gadis tadi dengan raut wajahnya tercengang. "Apa laki-laki itu menikmati apa yang dilakukannya? Oh ya, dia pasti benar-benar menikmatinya." Jelly sangat yakin.
Setelah mengecup pipi Oscar Liu, gadis tadi sudah melenggang pergi disertai lambaian singkat. "Apa itu tadi? " Jelly memalingkan wajah, tiba-tiba merasakan ingin muntah. Ia mengintip Oscar Liu sekali lagi dan sambil menahan muntah.
"Oscar Liu! " seru sseorang yang berdiri di belakang Jelly. Jelly menoleh dan alisnya langsung bertaut ketika laki-laki itu tersenyum dan berbicara kepada dirinya. "Aku ingin berfoto bersama dengannya, kau bisa memegangi tasku sebentar? "
"Apa yang... " Belum sempat Jelly melanjutkan kata- kata, laki-laki tadi sudah meletakkan ransel diatas pangkuan Jelly, atau lebih tepatnya diatas tasnya. Ih, Apa- apaan ini? " Jelly menatap punggung laki-laki itu barusan, lalu Oscar Liu, laki-laki tadi.
"Sulit dipercaya. " Jelly menggeleng- geleng sambil berengut pada tas di pangkuannya. "ini mulai amat dan sangat menjengkelkan." Ia menggesek - gesek botnya di lantai dan bersedekap.
Sekembalinya laki-laki tadi, Jelly cepat- cepat pasang wajah datar.
"Trims." Laki-laki itu menarik tasnya dan tersenyum lebar ke arah Jelly, seolah Jelly Putri Wijaya seorang penunggu tempat penitipan barang yang memang sedang bertugas disitu.
"Memangnya siapa Oscar Liu itu? " Jelly benar-benar memberanikan diri untuk bertanya sebelum laki-laki itu berlalu. Dan benar, sekarang ekspresi laki-laki itu persis seperti ekspresi gadis yang sebelumnya ada di sebelah tempat duduk Jelly.
"Kau tidak tahu Oscar Liu? " tanya laki-laki itu. Jelly menggeleng. Laki-laki itu menyipit ke arah Jelly dan melemparkan seulas senyum meremehkan. " Kau ini serius? "
Demi Tuhan, jawab saja pertanyaannya. Jelly benar- benar tidak tahan lagi untuk menggertakkan gigi.
"Dia penyanyi muda Asia."Laki-laki itu memakaikan ranselnya. " Salah satu yang paling terkenal saat ini sebetulnya, " lanjutnya disertai lirikan tajam. Lirikan tajam itu yang dianggap Jelly sebagai penekanannya berapa tersesat dirinya selama ini tidak mengenal sosok Oscar Liu.
"Aku mengerti sekarang. " Penyanyi? Ya, Jelly bisa melihatnya dari tas gitar dan violin disekitar Oscar Liu. Tapi Asia mana? Ia menyerah. Pengetahuan Jelly tentang musik di Asia manapun berada di level yang paling terendah. Lalu jelly bertanya lagi, " Apa dia itu benar-benar terkenal? "
"Dia legenda, " sahut laki-laki itu cepat, "dan sangat populer di kalangan remaja, terutama gadis- gadis. Kau lihat tadi? Gadis tadi bahkan membiarkan laki- laki itu membubuhi tanda tangan di dadanya. "
Ya, Jelly Putri Wijaya melihatnya dan itu menjijikkan. " Tentu saja." Jelly tersenyum kecut.
"Kau berasal dari sini? " Laki-laki itu tersenyum dan sudah bersiap untuk pergi. Tanpa menunggu reaksi Jelly, ia kembali berkata, " Kau perlu mendengar lagu- lagunya. Musiknya beraliran folk dengan sentuhan komposisi pop, kurasa kau akan menyukainya. "
Tepat setelah pemuda itu berlalu, Jelly terenyak oleh getaran hpnya di pangkuannya. Ia mengangkat dan membaca nama di layarnya. " Oh, tidak..."
Melihat nama Benjamin Huang tertera di layar hpnya, perasaan Jelly kembali campur aduk. " Bukankah seharusnya pesawatnya sudah berangkat? "
Memikirkan apa yang harus ia lakukan pada hpnya untuk panggilan Benjamin Huang sungguh membuat kepala Jelly membatu. Jangan-jangan ada yang salah dengan keberangkatannya ah di tunda sampai besok, jangan-jangan.. segala kemungkinan besar hal yang mengerikan datang dan kini berputar dalam kepala Jelly, membuat jantungnya akan meloncat tak beraturan.
Jelly mengintip sekelilingnya sambil berharap tidak menemukan Benjamin Huang di sekitarnya. Ya Tuhan tolong, jangan sampai dia melihatku. Jangan pula Kau gagalkan rencana ini, Tuhan. Tepat ketika hpnya berhenti bergetar, Jelly buru- buru melepas baterai smartphonenya dan membuangnya ke tong sampah di sebelahnya.
Namun, beberapa detik kemudian....
"Sial! " Jelly memekik. Menyadari kekeliruannya tadi. Ia menaruh tasnya ke samping, lalu berdiri cepat- cepat.
****
"Apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu? " tanya pria tua di sebelah Oscar Liu.
Oscar Liu melirik nya sekilas, kemudian menoleh dan mengikuti arah mata pria itu. "Apa yang... " Alis Oscar Liu terangkat melihat gadis bertopi beanie yang tadi kelihatan sibuk mengaduk- aduk tabung berukuran besar berisi sampah di seberangnya.
"Apa dia akan menumpahkan semua sampah yang ada di dalam tempat sampah itu? "
Oscar Liu diam saja ketika beberapa orang di sekitar dirinya mulai membicarakan dan menertawakan ulah gadis itu.Meski pemandangan itu cukup lucu , tetapi Oscar Liu merasa enggan tersenyum. Ia pun memilih untuk mengemasi barang- barang, menyampirkan tas gitar di pundak, lalu segera meninggalkan tempat itu.
Kenapa bandara bisa seaneh ini? pikir Oscar Liu. Ia mulai berjalan menyusuri lorong- lorong yang mulai dibanjiri calon penumpang beberapa saat kemudian ia berbelok ke toilet terminal 5.
****
"Nona muda, ada yang bisa kubantu? "
Jelly menghentikan gerakannya, lalu menengok kaget dan matanya menemukan petugas keamanan sudah berdiri dibelakangnya. "Tidak, " sahutnya cepat dan sambil berdiri secara perlahan- lahan."Aku... aku ini mencari baterai smartphone ku yang terjatuh. "
Petugas berkemeja putih dan ditutupi rompi hitam itu melirik sampah- sampah yang berserakan di dekat kaki Jelly. Sambil tersenyum ia akhirnya berkata, " Ku harap usul ku bisa membantu. Anda bisa membeli baterai smartphone baru di gerainya. "
"A.. Aku mengerti, Tuan. " suara Jelly melemah. Rasa kagetnya belum pulih saat meredakan napasnya dan menghindari tatapan petugas itu. Namun celaka, kini yang dilihat Jelly justru orang-orang tengah melihat dan mengawasinya. Kenyataan itu langsung cepat membuat sekujur tubuh Jelly kaku. Ia pun kembali melirik petugas tadi dan memaksakan bibirnya bisa tersenyum tenang. " Aku sudah membuat masalah besar, bukan? "
Petugas tadi menggeleng dan tersenyum lebih lebar. "Aku bisa mengantar Anda... "
"Tidak, " potong Jelly cepat. Lalu ia menambahkan lebih pelan, " Maksudku, tidak apa- apa. Aku bisa ke gerai smartphone sendirian. Terimakasih, Tuan."
"Baiklah, aku akan memanggil petugas kebersihan di bandara ini sebentar lagi." petugas itu membetulkan topi hitamnya sambil menunjuk sampah- sampah di lantai. Nada suaranya yang ringan membuat Jelly semakin merasa bersalah.
"Terimakasih.Maksudku maaf,tapi terimakasih,Tuan." Tanpa pikir panjang Jelly segera menarik tasnya lalu meninggalkan ruang tunggu secepat yang ia bisa.
Bersambung!!