Kharis, seorang gadis di sebuah kota kecil, seorang mahasiswa, hidupnya terlalu fokus dengan studinya sehingga cenderung tidak peduli dengan apa itu cinta, sampai Lewi menjadi tetangganya. Cowok itu mengalihkan dunianya, ia jatuh cinta, sayangnya Lewi yang begitu supel, berteman dengan siapa saja tetapi bersikap berbeda pada Kharis, cenderung tidak peduli. Akankah cinta pertama Kharis menemukan tempat yang seharusnya di hati Lewi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abygail TM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30 Wisuda Bersama
Acara wisuda berlangsung khidmat. Sebelum pengukuhan sarjana S2, S1, Pengukuhan Dokter dan Dokter Spesialis, para wisudawan terbaik dari setiap Fakultas dipanggil ke depan untuk menerima piagam penghargaan.
Nama Meylia Kharis Angela dipanggil sebagai kedua terbaik dan wisudawan termuda. Kharis berjalan dengan gugup ke arah podium di bawah ribuan pasang mata. Menerima piagam penghargaan yang diberikan oleh Rektor, dan menerima hadiah dari Kepala Daerah yang hadir dan ada di sisi pak Rektor.
Di deretan kursi keempat di antara para wisudawan program magister, Lewi menatap penuh sejuta rasa berbalut kekaguman pada sosok gadis yang sementara berjalan berjabat tangan menerima ucapan dari dewan Senat Universitas di podium. Dia mengambil ponsel canggihnya dan berdiri mengabadikan moment itu. Tanpa berkedip dia melihat dari kejauhan, mengikuti dengan pandangan sampai Kharis turun dari podium.
Akhirnya mereka wisuda bersama-sama. Kharis terlihat berbeda mungkin karena make up. Tak sabar rasanya menunggu acara selesai.
Di luar auditorium universitas Revy dan Nivia duduk di bawah tenda-tenda yang disiapkan, mengikuti jalannya acara lewat layar lebar yang disediakan. Yang boleh masuk ke dalam hanya 2 orang, biasanya orang tua para wisudawan.
Nivia mencolek bahu Revy saat melihat seseorang yang dia kenal sementara dikukuhkan oleh Rektor di layar besar itu.
"Itu Lewi Andrean bukan?"
"Iya... dia."
"Kharis sama Lewi gimana, Rev...?"
"Kayaknya udah nggak punya hubungan deh..."
Revy menjawab lirih. Sesuatu terbersit di hatinya...
"Sebentar kita cari Lewi ya Via..."
"Iya... pengen kasih ucapan selamat ya?"
"Lebih dari itu..." Revy menjawab yakin.
Akhirnya acara yang mendebarkan dan membahagiakan sekaligus melelahkan selesai. Halaman auditorium masih sangat ramai. Setelah mencari agak lama di antara kerumunan wisudawan yang sibuk berfoto, Revy menemukan Lewi yang juga sedang berfoto dengan beberapa temannya.
"Bro..."
Revy menarik tangan Lewi, di tengah keributan panggilan pertamanya tadi tidak didengar Lewi.
"Iya..."
Lewi menoleh dan langsung kaget ketika mengenali siapa yang menarik tangannya. Secepatnya Revy mengulurkan tangan meminta bersalaman...
"Selamat ya bro... sudah menyandang gelar S2."
"Terima kasih, Rev."
Canggung Lewi menerima jabat tangan itu dan segera beralih ke Nivia yang sudah mengangkat tangan kanan untuk bersalaman.
"Selamat ya Lewi..."
"Terima kasih Nivia..."
"Om Peter dan tante Vero mana?"
"Mereka nggak bisa hadir, sibuk."
Lewi menjawab dengan senyum kecil. Kecanggungan mulai pudar karena dia melihat sikap Revy yang ramah sekarang.
"Mama papa aku ada di sebelah sana, mereka pasti senang bertemu kamu bro... Mau ke sana?"
Revy punya tujuan lain sebenarnya, tentu saja di sana ada Kharis juga. Revy hanya ingin tahu sikap Lewi. Sementara Lewi juga tanpa Revy tahu sudah tidak sabar ingin mencari Kharis tapi tertahan teman-temannya yang meminta foto bersama. Lewi langsung menganggukkan kepala. Dengan senyum Revy langsung berjalan sambil mengamit lengan Nivia.
Mama Melissa dan papa Didi masih berdiri di tempat saat Revy meninggalkan mereka tadi. Semakin dekat Lewi semakin berdebar.
Apa Kharis masih sama seperti dirinya, masih cinta? Jika alasan Kharis berpisah darinya karena Revy, seharusnya sekarang tidak lagi melihat sikap Revy yang sepertinya sengaja mencari dia. Lewi berharap bisa bersama Kharis lagi.
"Ma, pa... ada Lewi..."
Mama dan papa menengok ke arah mereka bertiga, memperhatikan Lewi yang menggunakan toga spontan mama menarik tangan Lewi, bukan hanya jabat tangan tapi langsung cipika-cipiki. Lewi kaget dengan reaksi tante Melissa tapi kemudian dia tersenyum.
"Selamat ya Lewi, tante nggak nyangka bisa ketemu lagi, bisa bareng Kharis lagi wisudanya... apa kabar?"
"Baik tante..."
"Selamat Lewi..."
Giliran om Didi memberi selamat.
"Makasih om..."
"Orang tua kamu datang juga?"
"Tidak om... mereka sibuk."
"Oh... ya sudah, sini foto bareng tante om, anggap saja pengganti orang tua kamu. Rev, tolong foto... mana ponsel kamu..."
Mama meminta ponsel Lewi, memberikan ponsel itu ke Revy dan memposisikan Lewi di tengah mama dan papa. Sementara itu saat Lewi hendak berdiri sejajar dengan tante Melissa dan om Didi, matanya melihat sosok Kharis yang datang mendekat dari arah belakang mereka berdiri tapi kemudian hendak pergi lagi.
Dengan cepat tangan Lewi menangkap pergelangan tangan gadis itu, sementara dari arah depan Revy mengambil foto, di belakang Kharis sedang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Lewi.
"Rev... adikmu mana?? Tadi pamit berfoto dengan kakak tingkatnya..."
"Kharis di sini tante, di belakang tante..."
Lewi menjawab sambil bergerak mundur ke arah Kharis. Memandang dari samping ke arah wajah yang menunduk menghindari Lewi. Tangannya masih dalam genggaman Lewi. Kalau tidak ada tante Melissa dan om Didi, tangan Lewi pasti sudah membawa gadis itu ke pelukannya.
Mama membalikkan badan melihat Kharis.
"Rev... fotoin mereka berdua juga.."
Mama tertawa melihat tingkah Kharis yang belum mau memandang Lewi...
"Darling, lihat ke sini biar fotonya bagus..."
Akhirnya beberapa foto diambil dengan posisi canggung mereka berdua.
"Lewi, tante om duluan ya... tolong antar Kharis pulang."
Mama mengedipkan mata ke arah Lewi yang disambut raut senang Lewi. Revy dan Nivia juga pamit. Mereka berdua masih berdiri diam di antara lalu lalang orang, sama-sama masih kehilangan kata tapi tangan masih bertaut, akhirnya tak tahan lagi Lewi menarik Kharis ke dalam pelukan.
"Kakak... lepas, malu banyak orang."
Kharis jengah dengan pelukan itu dan berusaha melepaskan diri. Tanpa suara Lewi beranjak diikuti Kharis yang tangannya kembali digenggam Lewi. Kejutan buat Kharis yang sama sekali tidak berpikir bertemu Lewi lagi. Nggak ada sih perkataan 'apa aku mimpi yaaa'... Kharis realistis nggak ada halusinasi apalagi fatamorgana, tangannya sudah sakit sejak tadi.
"Kakak... tangan aku sakit."
Lewi tersadar. Ketidaksabarannya untuk segera berduaan saja dengan Kharis serta perasaan tak ingin ditinggalkan lagi tanpa dia sadari tangannya mencengkram kuat tangan Kharis. Terlebih dengan langkahnya yang panjang-panjang, Kharis sampai berlari kecil mengikutinya.
"Maaf sweetheart... "
Lewi memiringkan kepalanya menatap Kharis dan memindahkan telapak tangannya dari pergelangan tangan Kharis, meraih jemari tangan hingga jemari mereka berdua saling bertautan. Kini dia melangkah pelan di samping Kharis.
Di kejauhan Sendra mengikuti mereka dengan sedih. Dia mendapat informasi dari teman-temannya bahwa Lewi datang ke M untuk wisuda. Dia sengaja datang tapi menemukan dua fakta yang sama-sama menyakitkan; mantannya sudah nggak mungkin diajak balikan karena sudah menggandeng gadis lain, gebetannya apalagi tampaknya cinta mati sama adik sang mantan. Menyesal pernah menyia-menyiakan sesuatu yang berharga? Sudah sangat terlambat.
Di mobil... setelah mesin dihidupkan, ac juga hidup, pintu sudah terkunci topi toga sudah diletakkan di jok belakang, Lewi menatap sejenak gadis yang sekarang sudah mulai meliriknya kemudiannnn....
Lewi melakukan apa yang sudah ingin dilakukan sejak tadi bahkan sejak lama, merengkuh kedua bahu gadis itu dan membawa ke dalam pelukannya...
"Kangen banget sweetheart... aku kangen banget..."
--Senang rasanya mereka berdua bisa bertemu lagi--
¤¤¤
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca karya pertamaku... mohon dukungannya yaaa...
¤¤¤
.
👨🎓💙👩🎓
maka kemungkinan M cuma dua, Makassar atau Medan. tp lebih condong k Makassar sih
Sungguh cerita novel yg ringan tdk terlalu berbelit belit aqu suka kak..🤗🤗😘😘😘😘😘😘