NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Demam

Halo kawan tersayang Vera, terimakasih ya sudah mendukung sampai sekarang... Muach, sayang semua-nya... hehe...

"Oh my god... Aluna... That—you... " tangan Pharita sampai bergetar hebat, centong sayur yang dia pegang sampai jatuh hingga sampai kuah yang menempel pada benda itu ikut berceceran dilantai. Aluna menunduk, dia meremas pahanya keras. "Kak Pharita... aku bukan bermaksud kabur atau aku pengen ngehindar dari suamiku, tapi aku ga tahu harus bagaimana setelah ini—" kata Aluna malah bingung sendiri.

Jelas Pharita langsung melempar celemek, dan memegang kedua bahu wanita itu. "Ini beneran Aluna... jawab aku, oke dari nomor satu—"

"Kak... " Aluna memasang wajah sedih, seberapa banyak pertanyaan yang akan wanita itu ajukan untuknya? Aluna sudah lelah sendiri, dia seperti dicurigai oleh banyak wartawan. Pharita mengganti apa yang akan dia pertanyakan, "Gak deh... aku mau tanya satu hal ini aja, jawab... apa beneran kamu itu istrinya Arkan Seo Dirgantara yang punya perusahaan gede itu? What! Aluna... kau ga bilang dari kemarin? "

"Soal itu... "

"Kalau aku beritahu Kak Pharita, aku ga tahu gimana reaksi Kakak padaku... emang gak pantas ya Kak? Orang miskin kaya aku dipasangkan dengan Mas Arkan... pasti Kak Pharita merasa kalau aku ini wanita hina. "

"Fuck, no! " seru Pharita, dia berdiri sambil berkacak pinggang. Wanita tomboi itu berdecak melihat kelakuan Aluna yang dari dulu selalu tak yakin pada dirinya sendiri, "Sekarang gimana Aluna? Lihat dirimu, sudah sampai ke televisi... "

"Iya Kak... aku tahu itu... "

"Pulang atau gimana nih? " tanya Pharita, dia juga ikut kebingungan di sini. Tak tahu apakah Aluna dengan suaminya ini memiliki konflik atau apa, wanita itu menggeret tangan Aluna untuk berdiri. "Sekarang kamu harus pulang Aluna... "

"Kak... tunggu, aku... —" entah mengapa ia malas untuk melangkah kakinya keluar. Pasti kalau ia ditemukan, seberapa marahnya pria itu padanya? Bahkan saat dibayangkan saja, Aluna tak sanggup bila harus mendengar amukan pria itu. "Kak nanti dulu aku pulangnya... aku masih pengen di sini, sebentar aja ya? "

"Ah sialan... " Pharita menoleh ke televisi, dia melihat harga melejit untuk siapapun yang bisa menemukan Aluna. "500 juta! Gila! Suamimu itu ga kusangka memasang angka yang sangat menggoda Aluna! Kalau aku itu adalah wanita brengsek, pasti sudah kutelepon nomor di televisi itu. "

Aluna memendam kepalanya di sela kedua paha, dia menggigit bibir kecil, takut kalau seniornya benar-benar akan melaporkannya sekarang. "Tunggu Kak, kalau mau Kakak melaporkan aku ke suamiku... aku pikirkan dulu alasan yang bisa dia terima... "

"Oh hm... ya sudah, beneran nih enggak apa-apa? Sebenarnya kenapa sih sampai keluar nekat gitu kamu itu Lun? "

"Kayak gak ada pekerjaan aja di rumah... " ucap Pharita, dia mendengus keras. Aluna mengusap air mata di wajahnya cepat, "Sebenarnya aku cuma mau ketemu sama Ayah, aku takut bilang karena Mas Arkan biasanya gak ngizinin aku buat keluar... jadi—"

"Hal seperti itu untuk apa dipikirkan Aluna? Biarkan ayahmu seperti itu, lagian aku tahu sejak kita bekerja bersama menjadi rekan di kafe selalu setiap hari ayahmu menagih uang padamu, padahal belum gajian. Itu hasil kerja kerasmu, jangan kau bagikan termasuk ayah bajinganmu itu! Kau... kau sangat—ah tak tahulah... "

Aluna mengadah pipinya dengan punggung tangan, dia angguk kepala paham akan apa yang seniornya katakan, namun itu mungkin yang ia pikirkan beberapa hari lalu di bandara—saat ayahnya membuat kericuhan, ia juga ingin ayahnya tidak terus bergantung pada uang suaminya hanya itu.

Pintu apartemen Pharita diketok-ketok tiga kali, tangan wanita itu menghalangi Aluna yang akan menghampiri. "Tunggu saja di sini Aluna... "

"Sembunyi di dapur saja. "

Aluna angguk menurut, dia mengikuti apa yang Pharita perintahkan. Saat ia membukakan pintu apartemennya, ia melihat tetangganya yang membawakan sesuatu untuknya. "Mbak Pharita ini ada oseng-oseng kangkung Mbak... saya masak lebih nih, "

"Oh ya ampun alhamdulillah... terima kasih loh Mbak Rani... baik banget deh! " seru Pharita, dia pura-pura senang agar tetangganya ikut senang. "Ya sudah ya Mbak Pharit, saya izin pergi soalnya mau ngantar anak saya sekolah—hehe... "

"Eh mangkoknya gimana Mbak Rani? "

"Nanti aja atuh, ga usah terburu-buru... "

Pharita angguk kepala, dia sangat bersyukur memiliki tetangga yang sangat perhatian. Ia juga ikut basa-basi, membahas anaknya Mbak Rani. "Oh Difa itu pinter banget ya Mbak Rani... soalnya pas saya shift sore, Difa selalu sapa saya pas saya tanya " mau ke mana" si Difa-nya ngomong mau ngaji... wah pinter banget ya Mbak Rani... "

"Ah alhamdulillah Mbak, emang Difa itu kalau ngaji sekarang udah Iqro 4 lho! "

Pharita menaruh mangkok kangkung di atas rak sepatu untuk tepuk tangan singkat. "Wah hebat banget... kapan-kapan saya juga mau diajari ngaji, "

"Loh Mbak Pharita ga bisa—bla... bla... bla... "

Perbincangan mereka berdua sangatlah panjang, Aluna tak tahu sampai kapan selesainya. Ia sudah sakit kepala di dapur, merasa pening.

Saat akan ingin Pharita akhiri obrolan mereka berdua, Mbak Rani membicarakan berita hot tadi pagi. "Eh Mbak Pharita tahu gak soal istrinya Arkan itu yang katanya kabur dari rumah? Kenapa ya... "

Seketika Pharita panik, dia menutup pintu di belakangnya pelan agar keadaan di dalam tak bisa dilihat tetangganya. "Oh ya kah?! Wah saya baru bangun... "

"Mbak Pharita ga kerja? " tanya Rani.

"Gak Mbak Ran, ini lho si bos kan ngasih cuti ke semua karyawannya dua hari... padahal ga ada hari spesial di kalender... "

"Enak banget Mbak Ran, bisa nyantai-nyantai gitu dong... "

Pharita menoleh ke samping, "Loh Mbak Ran anaknya ini jadi diantar ke sekolah gak? Takut telat lho? "

Rani langsung tutup bibir, "Ya ampun! Astagfirullahaladzim! Makasih ya Mbak Pharita udah ngingetin..."

"Santai aja Mbak Rin..."

Akhirnya tetangganya pulang juga, Pharita menyuruh Aluna untuk keluar tapi tak keluar-keluar juga. Saat wanita tomboi itu cek di dapur, ia membelalak saat Aluna terkapar tak berdaya di samping kompor dengan wajah pucat pasi.

"Aluna! Fuck! Kenapa lagi kau! " seru Pharita dia panik sendiri, saat punggung tangannya menempel ke dahi wanita itu rasanya sangat panas hingga menjalar sampai ke dalam kulitnya. "Kamu demam Aluna?! Kenapa bisa! Padahal kau yang tidur di ranjang, sedangkan aku yang tidur di lantai... "

Pandangan Aluna memburam, tangannya mencoba menggapai Pharita yang khawatir dengan keadaannya. "Kak... uhuk—ga tahu... ini sudah terjadi sejak aku sama Mas Arkan honeymoon di Maldives, aku juga demam begini... "

"Bangke... lemah banget sih kau Lun! Duh... gimana ya caranya, aku angkat dulu aja kali ke ranjang? " pikir wanita itu, dia segera menggotong tubuh kecil Aluna yang untungnya sangat ringan dan tidak terlalu berat untuk seukuran kekuatan sesama wanita. Setelah tubuh Aluna ditaruh di atas ranjang, dengan panik untuk kedua kali kini ia membuka kulkas mengeluarkan semua es batu yang ia miliki.

"Eung—dingin... dingin... "

"Ya sabar Lun! Ini masih kuwadahi sama kain... " kata Pharita dari ujung dapur.

Setelah Dion mengunjungi stasiun berita jam 06.00 pagi barusan, kini pria itu menghadap pada tuannya. "Sudah Tuan, tinggal menunggu—"

...****************...

PRANG—

"Anjing! Tunggu sampai kapan! Lumutan! Iya?! "

Dion tak bisa berkata-kata, kini keadaan pria itu sudah kacau balau padahal menghilang tadi malam—keadaannya seperti berada di Maldives kemarin, seperti tampak tak tidur sama sekali. "Dion, sudah kau pastikan pelat nomor taksi itu hah! "

"Sudah Tuan, katanya mengarah ke gang sempit dekat rumah Nyonya Aluna. "

"Lalu saat kau cek?! " seru Arkan, matanya melotot tajam. Dion membeku, sekujur tubuhnya seketika mati total. "Saat saya cek di rumah lama Nyonya Aluna, tak ada orang sama sekali... saya juga sudah tanya ke tetangga Keldo juga tak ada kepastian, para tetangga hanya bilang kalau biasanya Keldo itu emang suka keluyuran tidak tahu kapan pulang ke rumahnya... "

"BANGSAT!!! " Arkan melemparkan gelas wine ke arah Dion yang untung saja kalau tidak menghindar, pasti dia sudah masuk ke UGD. "Sekarang keluar. "

"Tuan, mari kita tunggu sebentar lagi. Saya menjamin akan ada orang yang menemukan Nyonya Aluna... pasti—"

"KELUAR DION! KAU MAU KUBUNUH DI SINI!! "

Dem! Seketika pertahanan Dion runtuh, dia angguk kepala cepat segera keluar. Saat keluar ia dihampiri beberapa bodyguard, memberitahukan sesuatu. "Mas Dion, dari tadi ada yang ngaku-ngaku terus melihat Nyonya Aluna... bagaimana ini Mas? Apa kita tanggapi? "

"Abaikan saja bodoh. Masa begitu doang harus ditanyakan. " ketus Dion, kini amarahnya disalurkan pada temannya yang tak tahu apa-apa keadaan di dalam. Dion membenturkan kepalan tangan ke tembok, sudah berpuluh-puluh menit matanya memandang ke arah rekaman CCTV detik-detik sebelum Aluna kabur dari rumah.

"Kalian semua, cari Nyonya Aluna sampai dapat atau malam ini kalian tak akan makan sama sekali!! "

"Si—siap Mas Dion! "

"Mas Arkan... Mas... "

...****************...

"Aluna... kamu enggak apa? Uhh—untungnya, nih minum air lemon hangat biar badanmu enak... " Aluna yang masih pusing meneguk segelas air hangat dari tangan Pharita, kini suhu tubuhnya tak sedingin tadi. Pharita juga memberikan pil demam untuknya. "Nih Lun, minum cepet... ini aman kok buat diminum sebelum makan, biasanya kalau sakit aku juga pake obat ini. "

Aluna geleng kepala, tenggorokannya sakit—suaranya serak, dia tak nafsu untuk minum obat. Membayangkannya saja sudah mual. "Plis deh Lun, lu jangan lebay gitu... masih mending ya aku baik hati ke kamu? "

"Iya... ma—ka... sih... tapi... "

"Kamu... tahu—lah ba—gaimana orang... sa—kit itu... "

Pharita diam, jelas dia tahu bagaimana orang sakit kalau ditawari minum obat pasti banyak sekali alasannya. Kini obat yang ada di dalam genggaman wanita itu ditaruh di atas meja, tak jadi dia berikan. "Ya sudah kalau gitu, makan dulu sup buatanku ya? Aman kok, gak pedes. "

Aluna kini angguk kepala, dia akhirnya mau. Pharita langsung senang, dia segera mengambilkan semangkok sup tahu, lalu akan disuapkan ke bibir wanita itu. "Pelan-pelan saja... aaa—" ucap Pharita dia sudah seperti menjaga adiknya sendiri, Aluna diam saja dia tak membuka mulutnya sama sekali.

Keheranan menyeruak, Pharita tak tahu kenapa wanita itu hanya diam saja. Sebelum detik-detik, Aluna meneteskan air matanya sampai ia menangis sesenggukan—memegang dadanya sendiri.

"Ibu! Hiks! Ibu!!! Aku kangen Ibu... "

"Aluna sudah cukup, jangan nangis begitu... kamu itu lagi sensitif atau apa sih—"

"Ibu!!! Hiks... Ibu... "

"SUDAH ALUNA! "

Tapi terus berlanjut, Pharita menaikkan sebelah alis. Dia menaruh mangkok tersebut di atas meja, menenangkan pundak belakang wanita itu mungkinkah adalah jalan terbaik?

"Aluna... sudah ya menangisnya... kalau mau peluk—"

Segera Aluna memeluknya, padahal dia belum tuntas bicara. Hingga pada siang itu, Aluna mencurahkan semuanya. "Hiks... Ibu... hidupku susah Ibu, aku punya ayah yang sangat jahat... dia... dia membuatku tersiksa Ibu... kenapa Ibu tega meninggalkanku sendirian... Ibu... kenapa Ibu senang aku menikah dengan Mas Arkan Ibu... aku mau Ibu kembali—"

Kepala Aluna dielus Pharita, dia memejamkan mata ikut merasakan kesedihan juniornya yang baru dicurahkan padanya itu, ia kira dahulu Aluna di tempat kerja adalah wanita caper yang mencoba menarik perhatian mata laki-laki, rupanya ia telah salah menilai Aluna.

"Aluna... jangan terus memanggil ibumu... "

"Dia... sudah tak ada kan? " tanya Pharita, dari curahan Aluna ia yakin kalau ibu juniornya ini sudah meninggal, juga dia dulu pernah mendengarnya dari rekan kafe yang bilang kalau Aluna hanya tinggal sendiri bersama ayahnya, sedangkan ibunya sudah meninggal di umurnya yang ke-7 tahun.

"Hiks... Mas Arkan jahat... tapi dia baik... tapi aku gak tahu harus nyebut Mas Arkan itu apa... "

Mendengarnya, Pharita langsung menganga. Dia menjauhkan kepala Aluna yang mengotori bajunya dengan ingusnya. "Jadi yang bener mana Lun? Suamimu itu jahat atau tidak? "

Aluna tidak tahu, mana yang benar mana yang salah. Dia geleng kepala tak yakin, di sisi lain suaminya selalu mencekiknya, membantingnya, bahkan melakukan pelecehan padanya padahal jelas di surat kontrak tidak boleh ada kontak fisik—ia selalu memberontak, mengapa sikap Arkan tak sesuai dengan isi kontrak dengan alasan yang melanggar itu adalah berhubungan badan.

Tapi juga di sisi lain, Arkan membelanya, membuat matanya terbuka lebar. Mana yang benar? Memikirkannya saja membuatnya pusing sendiri. Aluna tetap menggeleng sebagai jawaban. Pharita mendengus keras, dia menoleh ke bawah menyadari kalau ada bercak darah menempel di seprai putih bersihnya.

"Tunggu, Lun... kau itu, gak bilang sedang bocor kan? "

Aluna juga ikut menatap ke bawah, dia segera berdiri. "Ah... aku lupa Kak Pharita, seharusnya sekarang... "

Kini Pharita menepuk jidat keras. "Sialan kau! Junior nakal!! "

"SANA CEPAT KE KAMAR MANDI!! "

Aluna angguk kepala, dia segera lekas ke kamar mandi tak lupa Pharita juga memberinya pembalut dan dipinjamkan celana dalam miliknya. Pharita khawatir sebenarnya kalau miliknya kebesaran dipakai olehnya.

...****************...

Setelah Dion menyusuri gang-gang kecil bersama bawahan Arkan yang menemaninya, akhirnya mereka menemukan Keldo yang tertidur di bawah jembatan dengan memperlihatkan perut buncitnya. "Ah... em... ya kalah lagi... " kata Keldo mengigau tak jelas. Dion menyuruh mereka untuk membangunkan pria itu, Keldo dibuat berdiri serentak membuatnya membuka mata kaget melihat asisten menantunya datang menghampiri. Keldo mengira kalau dia akan diberi uang, "Eh... ini apa aku bakal dapat rezeki dari kalian? Hahaha, akhirnya Arkan membuka hatinya ya untuk ayah mertuanya ini? "

Dion mendengus kesal, dia menyuruh salah satu untuk memberikan salam pagi pada pria itu. Keldo tertawa sendiri, sebelum dia menerima bogeman spesial dari dua bodyguard yang sudah melemaskan otot-otot mereka.

Dion menatap nyalang ke bawah, "Saya ke sini bukan untuk memberikan uang pada pemalas sepertimu Pak, sekarang saya tak main-main. Di mana putrimu? Pasti dia menemuimu kan? "

Mendengar putrinya disebut, Keldo yang terduduk menahan perutnya kesakitan langsung mendongak.

"Aluna... "

Bersambung...

POOR MY BABY:

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!