NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 – Murid Inti

Balai Murid Inti terletak di bagian tertinggi Sekte Awan Hitam. Bangunannya lebih megah, lantainya bersih, dan udara di sekitarnya terasa lebih berat dipenuhi energi spiritual yang lebih murni.

Ren Tao melangkah masuk dengan sikap tenang.

Di dalam, tiga orang sudah menunggunya. Dua murid inti berdiri di sisi kiri dan kanan, aura mereka jelas lebih kuat. Di tengah, duduk seorang pemuda berpakaian putih dengan sulaman emas di ujung lengan.

Wei Kang.

Wajahnya tampan, ekspresinya santai, tapi matanya dingin seperti ular yang sedang mengamati mangsa.

“Kamu Ren Tao?” tanyanya pelan.

Ren Tao menangkupkan tangan. “Ya.”

Wei Kang tersenyum tipis. “Kudengar kamu murid luar yang… menarik.”

Ren Tao tidak menjawab. Ia tahu, kata menarik dari mulut orang seperti Wei Kang bukan pujian.

Wei Kang bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh tekanan. Aura kultivasinya sedikit dilepaskan cukup untuk membuat murid biasa gemetar.

Ren Tao merasakan tekanan itu. Napasnya sedikit berat. Tapi ia tidak mundur.

Pamer kekuatan, pikirnya. Murahan.

“Mu Chen terluka parah,” ujar Wei Kang. “Lengan kirinya patah. Tabib bilang butuh waktu lama untuk pulih.”

Ren Tao mengangguk pelan. “Aku dengar.”

“Kamu dengar?” Wei Kang berhenti tepat di depan Ren Tao. “Kamu ada di sana.”

“Benar.”

“Dan kamu selamat.”

“Keberuntungan.”

Ia mengangkat tangan, lalu menjentikkan jarinya. Salah satu murid inti di samping langsung melangkah maju dan menghantam lantai. Batu di bawah kaki mereka retak.

“Di dunia ini,” lanjut Wei Kang tenang, “keberuntungan jarang datang tanpa alasan.”

Ren Tao menatap lantai yang retak, lalu kembali menatap Wei Kang. Wajahnya tetap datar.

Ren Tao menatap lantai yang retak, lalu kembali menatap Wei Kang. Wajahnya tetap datar.

“Kalau Kak Wei mencari orang yang salah,” katanya pelan, “aku hanya murid luar. Terlalu lemah untuk bermain trik.”

Jawaban itu membuat Wei Kang menyipitkan mata.

“Menarik,” ulangnya. “Kamu tahu caranya bicara.”

Ia berbalik, berjalan kembali ke kursinya. “Mu Chen memang bodoh. Kalau dia celaka karena kelalaiannya sendiri, itu bukan urusanku.”

Ren Tao tidak menunjukkan reaksi.

“Tapi,” Wei Kang melanjutkan, nadanya berubah dingin, “aku tidak suka bidak yang bergerak tanpa izin.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Ren Tao mengerti. Ini peringatan.

Ia menunduk sedikit. “Aku tidak berniat menyinggung Kak Wei.”

Wei Kang tersenyum. “Bagus. Karena aku sedang butuh orang sepertimu.”

Ren Tao mengangkat kepala. “Orang sepertiku?”

“Lemah,” kata Wei Kang tanpa basa-basi. “Dan tidak mencolok.”

Dua murid inti tertawa pelan.

Wei Kang melanjutkan, “Sebulan lagi ada Ujian Murid Luar. Banyak mata akan tertuju ke sana. Aku ingin tahu… apakah kamu tertarik ikut?”

Ren Tao terdiam sejenak.

Ujian Murid Luar adalah satu-satunya jalan naik status. Tapi juga tempat banyak murid ‘hilang’ tanpa penjelasan.

“Kalau aku ikut,” tanya Ren Tao hati-hati, “apa keuntunganku?”

Wei Kang menatapnya lama. Lalu tertawa kecil.

“Kamu berani menawar?” katanya geli. “Menarik sekali.”

Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan melemparkannya ke Ren Tao. “Pil Pemulih Meridian tingkat rendah. Anggap saja… tanda niat baik.”

Ren Tao menangkap botol itu. Jarinya sedikit bergetar bukan karena takut, tapi karena menahan senyum.

Umpan.

“Aku akan mempertimbangkannya,” katanya.

Wei Kang mengangguk. “Pintar. Ingat satu hal, Ren Tao.”

Ia berdiri, auranya kembali ditekan. “Di sekte ini, yang berguna hidup lebih lama.”

Ren Tao membungkuk ringan. “Aku akan mengingatnya.”

Saat ia keluar dari balai, punggungnya terasa basah oleh keringat dingin. Bukan karena takut melainkan karena tekanan murni.

Namun begitu ia melangkah cukup jauh, wajah Ren Tao berubah datar kembali.

Ia membuka botol kecil itu, mencium aromanya.

“Pil asli,” gumamnya. “Dan mahal.”

Ren Tao menyimpan botol itu ke dalam bajunya.

“Wei Kang,” bisiknya pelan.

“Kamu bukan musuh pertama yang ingin memanfaatkan aku.”

Angin malam berhembus pelan.

Ren Tao melangkah pergi dengan langkah ringan.

Dan yang seperti itu… biasanya jatuh paling keras.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!