“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Malam datang, rasa gelisah di dalam rumah Albiru semakin keras terasa. Alisha terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya kering, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping, tempat Albiru seharusnya berbaring namun sisi ranjang itu kosong.
“Bi…” panggilnya lirih, namun tak ada jawaban.
Alisha bangkit pelan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi rasa cemas memaksanya berdiri. Ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati.
Lampu ruang tamu menyala redup. Di sana, Albiru duduk sendirian di sofa. Ponselnya berada di tangan, rahangnya mengeras, dan sorot matanya terlihat lelah sekaligus dingin.
“Kamu belum tidur?” tanya Alisha pelan. Albiru menoleh dengan senyuman, wajahnya langsung melunak. Ia berdiri dan menghampiri istrinya itu.
“Kok bangun?” tanya Albiru dengan lembut.
“Aku nyariin kamu.” Albiru menuntun Alisha duduk kembali di sofa, lalu meraih selimut kecil dan menyelimutinya agar Alisha tak masuk angin.
“Aku cuma kepikiran banyak hal. Takut kamu kebangun nanti makanya aku duduk di sini dulu.” Alisha menatap wajah suaminya yang lelah itu. Ada sesuatu yang berubah di sana. Ia tidak bisa menjelaskannya, tapi tatapan Albiru terasa lebih keras dari biasanya.
“Kamu capek ya, Bi?” Albiru tersenyum tipis. “Capek, tapi lebih capek mikirin kamu.” Alisha menunduk lemah.
“Aku takut Rafi datang lagi.” Kalimat itu membuat tangan Albiru terhenti sesaat sebelum akhirnya kembali mengusap bahu Alisha.
“Dia gak akan berani.”
“Kalau dia nekat?”
“Kalau dia nekat,” jawab Albiru pendek, “dia yang akan rugi.” Nada suaranya datar, tapi justru di situlah Alisha merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Di tempat lain, Rafi menghentikan mobilnya di sebuah penginapan kecil pinggir kota. Ia turun dengan langkah tergesa, menunduk, dan memakai topi untuk menutupi wajahnya.
Tangannya masih gemetar saat membuka kamar. Ia mengunci pintu berlapis-lapis, lalu duduk di tepi ranjang. Nafasnya berat. Kepalanya terasa penuh oleh satu nama yang terus mengganggunya. Alisha.
Kalau perempuan itu masih hidup, berarti hidupnya belum benar-benar bebas. Ia tahu itu.
Ia juga tahu satu-satunya cara menghentikan semua ini hanyalah memastikan Alisha tidak pernah lagi bisa bicara. Rafi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa kamu gak mati saja, kenapa malah menimbulkan masalah untukku dan Naya?” gumamnya pelan dan geram.
Pagi datang dengan langit yang pucat, Alisha duduk di meja makan, menatap piringnya tanpa selera. Dhevi berusaha mengajaknya bicara, tapi Alisha hanya mengangguk pelan. Albiru turun dengan langkah tenang. Ia menarik kursi di samping Alisha dan mengerutkan kening melihat Alisha yang termenung itu, dia kecup puncak kepala Alisha hingga Alisha menoleh padanya.
“Kamu belum makan?” tanya Albiru pelan.
“Nanti aja.” Albiru tidak membantah. Ia hanya meraih tangan Alisha di bawah meja dan menggenggamnya.
“Kamu di rumah aja hari ini ya. Jangan keluar. Aku ada urusan sebentar di luar.”
“Kamu mau ke mana?” Alisha menoleh dengan wajah khawatir.
“Ke luar kota. Sebentar aja.” Alisha menatap Albiru, hatinya kian tidak enak sekarang.
“Kenapa aku harus di rumah? Kok mendadak kamu keluar kota?” Albiru tersenyum. “Biar aku tenang menyelesaikan pekerjaanku, hanya sebentar kok.” Ia bangkit, mencium kening Alisha singkat, lalu pergi.
Dari jendela, Alisha melihat mobil Albiru meninggalkan halaman. Dadanya terasa makin sesak. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka bersama lagi, Alisha merasa bahwa dia tidak hanya sedang dilindungi. Ia juga sedang disembunyikan.
...***...
Rumah terasa lebih sunyi sejak Albiru pergi pagi itu. Alisha duduk di sofa ruang keluarga dengan selimut tipis menutupi bahunya. Ibnu berada di dapur bersama Dhevi, sesekali terdengar suara peralatan makan yang bergesekan, tapi tidak cukup untuk mengusir perasaan kosong yang menggelayuti dada Alisha.
Ia memegang ponselnya, tapi tak benar-benar membaca apapun. Matanya hanya terpaku pada layar yang sejak tadi tak menunjukkan nama Albiru. Biasanya, walau sibuk, Albiru tetap mengabari dirinya. Sekedar bilang sudah sampai, atau menanyakan dia sudah makan atau belum. Tapi hari ini tidak ada. Alisha menghela napas pelan.
“Sha, kamu mau jus?” tanya Dhevi dari dapur.
“Iya, Bun,” jawabnya pelan. Tak lama Dhevi datang dan meletakkan segelas jus di meja.
“Minum yang habis ya.”
Alisha mengangguk, tapi kembali hanya memegang gelas itu tanpa benar-benar meminumnya. Ibnu memperhatikan putrinya. “Kamu kenapa?”
“Aku cuma gak enak perasaan, Yah.” Ibnu tidak memaksa untuk menjawab putrinya, ia hanya berkata, “Kalau capek, istirahat saja. Albiru hanya keluar kota sebentar.”
Alisha tersenyum tipis. Ia berdiri dan kembali ke kamar. Di sana, ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Kepalanya dipenuhi banyak pikiran yang tidak ingin ia miliki. Kenapa Albiru pergi tanpa banyak bicara? Kenapa ia merasa Albiru bukan hanya ingin melindunginya, tapi juga menyembunyikan sesuatu?
Sementara itu, di sebuah kota kecil dua jam dari sana, Albiru duduk di dalam mobilnya di depan sebuah warung kopi sederhana. Dia tidak masuk, hanya menunggu seseorang. Di tangannya ada selembar kertas berisi alamat sebuah penginapan dan satu nama tertera yaitu Rafi.
Albiru menatap alamat itu lama sebelum akhirnya meremas kertas tersebut. Ia menyalakan mesin mobil kembali. Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti di depan penginapan kecil. Albiru turun, menatap bangunan itu tanpa ekspresi, lalu masuk. Petugas resepsionis mengangkat wajah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya cari seseorang. Menginap di sini. Namanya Rafi.” Petugas itu terlihat ragu. “Maaf, Pak, kami tidak bisa—”
“Saya keluarganya,” potong Albiru. Suaranya tenang. “Dan dia sedang dalam masalah.” Petugas itu terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
“Kamar 207.”
Albiru tidak mengucapkan terima kasih. Ia langsung berjalan menuju tangga. Rafi duduk di kamar 207 dengan tirai tertutup. Televisinya menyala tanpa suara. Ia memandangi pintu kamar seolah menunggu sesuatu yang tidak ingin ia temui.
Ketukan itu datang pelan. Tapi cukup untuk membuat jantung Rafi jatuh ke perut. Ia berdiri perlahan dan mendekati pintu.
“Siapa?” tanyanya.
Tak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi, lebih tegas dan Rafi mengintip lewat lubang pintu. Wajah yang ia lihat membuat darahnya seketika terasa dingin.
Albiru. Rafi mundur satu langkah. Tangannya gemetar saat membuka pintu sedikit.
“Ngapain kamu ke sini?” Albiru tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rafi, lama.
“Kita perlu bicara.” Rafi menelan ludah. “Gak ada yang perlu dibicarakan.”
“Buka pintunya.” Nada itu datar, tapi membuat Rafi tanpa sadar membuka pintu lebih lebar. Albiru masuk ke dalam kamar Rafi tanpa sepatah katapun, dia terlihat tenang namun ketenangan Albiru malah membuat Rafi sedikit merinding. Mantan adik iparnya itu cukup mengerikan baginya saat ini.
Albiru menatap tajam ke arah Rafi dan jelas kalau saat ini Albiru sangat ingin menghantamkan tinjunya berkali-kali pada pria di hadapannya. Pria yang sudah berani menculik, menyekap, dan menyiksa istri tercintanya.