NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Kedua Orang Tua

Pagi di kampung selalu terlihat damai, dan itulah yang membuatnya berbahaya. Seorang gadis cantik berdiri di halaman rumahnya, menatap jalan tanah yang masih basah oleh embun. Ada sesuatu yang akan datang ia belum tahu apa, hanya tahu bahwa pagi ini adalah awal dari akhir ketenangan yang selama ini ia kenal.

'Semoga hari ini semuanya baik baik saja. ' Ya, dia adalah Hani sosok gadis jenius si kembang desa yang sedang melamun di ambang pintu. Ia bermalam di rumah tempat ia tumbuh semasa kecil tanpa kedua orang tua nya. Ia terpaksa pulang dengan perasaan yang tidak tenang dikala kedua orang tua nya masih koma dirumah sakit dan belum dapat di jenguk karena hasil pemeriksaan dokter terhadap beberapa retakan ditubuh belum menunjukkan hasil. Ia melangkah gontai menuju rumah sakit dengan berjalan. Walaupun ia membawa mobil nya pulang tapi ia tetap memilih untuk jalan.

Hani berjalan dengan sesekali tersenyum ketika orang-orang kampung menyapa nya. 'Aku tidak berhak bahagia diatas penderitaan kedua orang tua ku. Aku benar-benar bodoh karena tidak memberikan kabar semasa bekerja. Andai mereka tidak berniat menyusul ku ke kota pasti kejadian ini tidak akan terjadi, ini semua karena salahku.' ucap Hani dalam menyalahkan dirinya.

Kaki mungil nya terus melangkah mengikuti jalan, tidak peduli akan jarak yang di tempuh, ia sudah merasa sangat bersalah akan kejadian yang menimpa kedua orang tua nya itu. Ia terlalu sibuk akan pekerjaan hingga melupakan kedua orang tua nya yang selalu menunggu nya memberikan kabar.

'Aku tidak tau cara memaafkan diriku sendiri jika kedua orang tua ku tidak selamat, maafkan aku ayah dan ibu yang telah mengecewakan mu' sesal Hani sembari terus melangkah menyusuri jalan.

Sementara itu di kantor Cakrawala Holdings.

Darren tiba didampingi oleh Jack Asisten Pribadi nya. Ia melangkah masuk kedalam ruangan nya lalu duduk dikursi besar saksi perjuangan nya selama menggantikan tugas sang ayah.

Jack melangkah mendekat lalu mulai menjelaskan jadwal kepada sang tuan. " Hari ini kita akan melakukan meeting di restoran X dengan perusahaan Chiper Tech pukul 13.00 WITA tuan. " ujar asisten Jack.

"Hmm hanya itu? " balas Darren yang tetap fokus pada berkas di tangan nya.

"Iya tuan"

"Baiklah kamu boleh keluar"

Jack kemudian mengangguk kan kepalanya dan pergi melangkah keluar ruangan.

'Chiper Tech dibawah naungan Dika Argantara, hmm tempat bekerja wanita aneh yang meninggalkan sendal heels nya dimobil ku' Pikir Darren sambil menyandarkan punggung gagah nya itu ke kursi kerjanya. Ia mengingat name tag yang ia baca sekilas ketika tatap tatapan dengan Hani dimobil, lalu terdapat logo perusahaan Chiper Tech.

"Sialan, kenapa aku jadi terlalu sering memikirkan wanita aneh itu" ucap Darren yang tersadar akan apa yang sedang ia pikirkan.

Sedangkan Jack sedang memeriksa beberapa laporan perusahaan diruangan nya, ia menghentikan pekerjaan nya ketika ponsel nya mendapat sebuah panggilan masuk.

dreett... dreett..

dreet..

Ia melihat layar ponsel nya yang berdering dan menampilkan sebuah panggilan yang rupanya berasal dari Tuan Marco yaitu Papa Darren, Jack pun segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo tuan besar, ada yang bisa saya bantu? " Ucap Jack ketika terhubung pada sambungan telepon.

"Halo Jack, kamu sekarang pergi ke mansion ku tanpa memberi tahu Darren, jika Darren sampai tau maka kau akan rasakan akibatnya" Ucap tuan Marco.

Jack pun was was akan perintah tuan besar nya, Darren bisa mengamuk jika ia pergi tanpa memberitahu nya. "T-tapi tuan... "

"Aku tidak menerima alasan apapun Jack, sekarang cepat pergi ke mansion ku. " ucap tuan Marco tegas

tutt

Belum sempat Jack menjawab lagi, telepon nya sudah di matikan secara sepihak oleh tuan Marco. Mau tak mau Jack segera bangkit dari duduknya kemudian segera menuju ke parkiran mobil dan melajukan mobil tuan nya ke mansion keluarga Vireaux.

Sesampainya di mansion Jack melangkah masuk kedalam mansion dengan raut muka yang nampak gugup, pasalnya ia tahu pasti akan diinterogasi oleh tuan besar nya itu mengenai Darren.

"Selamat pagi tuan, nyonya. Ada yang bisa saya bantu? "

tanya Jack dengan pandangan menunduk saat melihat keberadaan tuan besar dan nyonya besar nya sedang duduk di ruang keluarga.

"Duduklah Jack, ada hal yang perlu ku tanyakan." ucap tuan Marco.

Jack kemudian segera duduk berhadapan dengan tuan dan nyonya besar nya itu, dengan perasaan gugup, tak terasa keringat sebesar biji jangung yang menetes dari pelipis nya.

"Langsung ke intinya saja Jack, apa benar Darren putraku sedah memiliki calon istri? atau dia hanya berbohong?" tanya tuan Marco to the point.

degh

Jantung Jack berdebar tidak karuan, ia bingung akan memberikan jawaban apa. 'Pertanyaan macam apa ini tuhan? aku harus menjawab apa? ' tanya Jack pada dirinya sendiri didalam hati.

Jack menghela nafas berat, lalu ia menjawab dengan sedikit ragu. "Emm anu tuan, sebenarnya saya tidak tahu pasti apakah tuan Darren sudah memiliki calon istri atau belum" ucap Jack hati-hati.

Mama Diana tampak tidak puas akan jawaban asisten pribadi putranya itu, ia ingin sekali menjewer telinga sang putra yang telah berbohong pada nya. "Lalu apakah kamu pernah melihat Darren pergi dengan seorang wanita atau dekat dengan seorang wanita, Jack? " tanya mama Diana, berharap mendapatkan jawaban yang sebenarnya.

Jack merasakan suasana semakin menegang, ia berfikir sejenak untuk mengingat ingat, lalu ia teringat akan kejadian yang menimpa nya bersama Darren beberapa waktu lalu. Dengan ragu ia berkata. "Saya tidak pernah melihat tuan Darren pergi dengan seorang wanita, nyonya. Tapi... " Jack sedikit ragu untuk mengatakan kejadian malam itu

"Tapi apa Jack? cepat katakan semuanya, jangan ada yang ditutup-tutupi atau terlewat." sahut mama Diana kesal, karena Jack tidak segera melanjutkan perkataan nya.

Jack akhirnya menceritakan kejadian dimalam hari itu, dimana ia menabrak seorang gadis yang tak lain adalah Hani, lalu ketika Jack akan meletakkan nya disamping kursi kemudi, Darren memerintahkan nya agar meletakkan gadis itu disamping nya. Ia juga menjelaskan nama, dan juga ciri-ciri fisik nya kepada tuan Marco dan nyonya Diana.

Nyonya Diana yang tadinya kesal pun tampak antusias mendengarkan semua yang diceritakan oleh Jack. Apalagi Jack berkata bahwa putranya duduk di sebelah gadis yang ia tabrak tadi, padahal ia tahu bahwa putranya tidak suka berada didekat perempuan luar selain Amora mantan kekasih nya dulu.

"Jadi menurutmu apakah putra ku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis bernama Hani itu, Jack? " tanya mama Diana dengan mata yang berbinar binar, sepertinya harapan untuk mendapatkan seorang menantu cantik akan segera ia dapatkan setelah mendengar cerita dari Jack yang juga menjelaskan ciri-ciri fisik nya.

'Ya tuhan, aku harus jawab apa ini? aku pun tidak tahu perasaan tuan yang sebenarnya. huft....' batin Jack mengeluh.

Belum sempat Jack menjawab pertanyaan sang nyonya tiba tiba ponsel nya berdering menandakan ada panggilan masuk, ia kemudian merogoh saku celana untuk mengambil ponsel nya.

dreett.... deettt..

Terpampang jelas nama Tuan Darren di layar ponsel Jack yang berdering, dengan gugup ia terpaksa menerima panggilan telepon dari sang atasan tersebut.

"Pergi kemana kau Jack? kenapa kau tidak memberi tahu ku jika akan pergi saat sedang jam kantor? kau ingin ku potong gaji hah? " tanya Darren dengan nada kesal sedikit membentak setelah sambungan telepon terhubung.

Jack nampak ragu untuk menjawab, kemudian ia menatap tuan dan nyonya besar nya secara bergantian. Mama Diana yang paham akan kegelisahan Jack langsung menyambar ponsel yang Jack genggam.

"Halo Darren ini mama, papa sengaja memerintahkan asisten mu untuk pergi ke mansion. Mama sudah menanyakan semua kebenaran tentang calon menantu mama, dan rupanya kau masih berani berbohong kepada mama Darren. Tapi tidak apa-apa setelah mendengarkan cerita dari Jack mengenai kau menabrak seorang gadis yang bernama Hani itu mama menjadi sedikit lega, mama harap kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu, agar kau bisa menepati janjimu dengan membawa calon menantu mama pulang saat berumur 30 tahun. Dan setelah ini jangan kau coba coba untuk memarahi asisten pribadi mu karena mama yang mendesak papa agar memerintahkan asisten mu itu datang ke mansion" ucap mama Diana panjang lebar.

Tuttt..

Mama Diana mematikan telepon secara sepihak sebelum anak nya itu protes akan kata-kata yang ia lontarkan tadi. Kemudian ia memberikan ponsel itu kembali kepada Jack.

"Kembalilah ke kantor Jack, Darren tidak akan berani memarahi mu, kalau sampai dia memarahi mu maka aku sendiri yang akan menjewer telinga nya" ucap mama Diana kepada Jack.

"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi kembali ke perusahaan" Ucap Jack lalu pergi meninggalkan mansion keluarga Vireaux.

Ketika malam tiba, di rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu putih menggantung dingin, sementara langkah kaki perawat terdengar seperti detak waktu yang pelan dan menyakitkan.

Hani duduk di ruangan rawat VVIP kedua orang tua nya, tatapan nya kosong, penuh penyesalan, Hening tanpa suara hanya terdengar bunyi monitor tanda vital, garis hijau di monitor bergerak naik turun dengan irama pelan, bip… bip… teratur, seolah menegaskan bahwa hidup kedua orang tua nya masih bertahan di malam yang panjang.

Ia duduk diantara tempat tidur medis sang ayah dan ibu, pikiran nya kalut dan berantakan. Tangan kanan nya menggenggam tangan sang ayah, sementara tangan kiri nya menggenggam tangan sang ibu. Ia menghembuskan nafas kasar penuh penyesalan.

" Aku tidak tahu caranya memaafkan diriku sendiri yah, bu. Aku telah gagal menjaga kalian berdua, aku melupakan kalian berdua karena kesibukan ku. Aku beranji akan menemukan orang tidak bertanggung jawab yang telah membuat kalian menjadi seperti ini. Aku akan menuntut keadilan kepada nya, bahkan menuntut kematian sekalipun. Aku harap ayah dan ibu bisa mendengarkan permintaan maaf dan juga janjiku, dan aku juga berharap ayah dan ibu segera sadar untuk melihat aku sukses kedepannya. Aku janji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu." Lirih Hani sembari meneteskan air mata nya.

Ia menunduk, seraya menggenggam tangan kedua orang tua nya makin erat.

Biiiiiipp...

Bunyi monitor tanda alat vital panjang dan dingin memenuhi ruangan, garis di layar tak lagi bergerak, membuat waktu seakan berhenti. Hani menatap layar monitor kedua orang tua nya yang menampilkan garis lurus, ia menggeleng geleng kan kepalanya seakan tak percaya.

"tidak tidak AYAHH IBUU!! " teriak Hani dengan histeris, perawat yang sedang melewati lorong rumah sakit sontak menoleh lalu ia membuka pintu kamar tersebut.

"Maaf nona apa ada yang terjadi?" tanya perawat tersebut lalu melihat layar monitor yang menampilkan garis lurus.

"Panggil dokter CEPAT!! " perintah Hani pada perawat tersebut, meski ia tahu bahwa kedua orang tua nya telah tiada tapi ia masih berharap dapat diselamatkan.

Perawat tersebut kembali ke ruangan dengan bersama seorang dokter yang mengikuti nya, Hani di giring untuk menunggu diluar ruangan. Ia tak henti-hentinya menangis ketika menunggu dan berharap nyawa kedua orang tua nya masih bisa diselamatkan.

Tak lama kemudian dokter tersebut keluar bersama beberapa perawat yang tadi ikut masuk kedalam ruangan.

Hani langsung berdiri lalu menghampiri dokter tersebut.

"Apakah orang tua saya masih bisa diselamatkan dok? " tanya Hani dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.

"Maaf nona, kita sudah berusaha memulihkan detak jantung menggunakan Defibrillator namum tidak ada reaksi dari tubuh kedua pasien, jadi mereka tidak dapat kami selamatkan" ucap dokter tersebut.

"T- tidak... ini tidak mungkin" ucap Hani dengan segala penyesalan nya.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!