Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kota Tak Bertuan dan Rahasia Cincin Lu Chen
Udara di perbatasan Lembah Bayangan terasa jauh lebih tipis dan berdebu. Jiangzhu memimpin rombongan kecilnya menuju sebuah reruntuhan pemukiman yang dikenal sebagai Kota Tak Bertuan sebuah tempat yang bahkan peta resmi kerajaan pun enggan mencantumkannya. Bau lumut kering dan kencing serigala gurun menyengat hidung saat mereka memasuki sebuah bangunan yang dulunya mungkin adalah sebuah bank, kini hanya menyisakan pilar-pilar marmer yang sombong namun retak.
"Berhenti di sini," perintah Jiangzhu. Suaranya serak, setiap kata yang keluar terasa seperti menyeret kerikil di tenggorokannya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai marmer yang dingin. Rasa sakit di lengan kirinya yang bersisik hitam kini berubah menjadi sensasi gatal yang membakar, seolah-olah ada ribuan rayap yang sedang mencoba membangun sarang di bawah kulitnya. Di ruang jiwanya, Li’er mulai mendengkur suara yang lebih mirip geraman harimau yang kenyang setelah memangsa.
"Kau harus mengobati lukamu, Jiangzhu. Darahmu sudah berubah warna," Yue mendekat, tangannya memegang botol kecil berisi cairan hijau lumut pemberian Gu Mo.
"Urus saja ibuku dan Awan," potong Jiangzhu tanpa menoleh. Ia merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda yang sudah lama ingin ia periksa: Cincin Ruang milik Lu Chen, jenius Sekte Cahaya Suci yang ia bunuh di lembah sebelumnya.
Cincin itu terbuat dari perak murni dengan permata safir di tengahnya yang masih memancarkan cahaya biru tenang sangat kontras dengan tangan Jiangzhu yang berlumuran darah kering dan debu.
Bocah, segel di cincin itu adalah 'Segel Kesadaran Jiwa'. Jika kau memaksa membukanya, energi di dalamnya akan meledak dan menghancurkan seluruh bangunan ini, Penatua Mo memperingatkan, sosok proyeksinya muncul samar di samping Jiangzhu, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
"Lalu bagaimana? Aku butuh sumber daya di dalamnya. Aku butuh pil untuk Ibu," desis Jiangzhu.
"Gunakan energi Li’er. Energi mayat bisa menidurkan segel itu sebelum kau mematahkannya dengan energi Iblismu. Ibarat kau membius penjaga pintu sebelum mendobraknya," saran Mo.
Jiangzhu memejamkan mata. Ia memanggil hawa dingin yang mematikan dari Li’er. Tangannya perlahan membeku, embun es hitam mulai menutupi cincin tersebut. Begitu cahaya safir itu meredup, Jiangzhu menyentakkan energi Iblisnya yang kasar.
KLING!
Segel itu hancur. Sebuah ruang dimensi seluas gudang kecil terbuka di dalam pikiran Jiangzhu. Matanya membelalak. Lu Chen benar-benar seorang anak emas. Di dalamnya terdapat ribuan batu energi tingkat tinggi, puluhan botol pil giok, dan beberapa gulungan teknik bela diri. Namun, satu benda menarik perhatian Jiangzhu.
Sebuah kotak kayu cendana hitam yang dibalut rantai emas kecil.
Jiangzhu mengeluarkan kotak itu. Begitu tutupnya dibuka, aroma harum yang luar biasa memenuhi ruangan, seketika menetralkan bau busuk di sekitar mereka. Di dalamnya terdapat sebuah buah berbentuk jantung manusia yang bersinar dengan cahaya keemasan.
"Buah Nirwana Surgawi?" Yue tersentak, matanya membelalak tak percaya. "Itu... itu adalah bahan utama untuk membangkitkan kembali nadi spiritual yang hancur. Lu Chen pasti membawanya untuk terobosannya ke Tahap Inti Emas tingkat tinggi."
Jiangzhu menatap buah itu, lalu beralih menatap ibunya yang sedang terbaring lemah di pangkuan Awan.
"Pak Tua, apakah ini bisa menyembuhkan Ibu?" tanya Jiangzhu lewat batin.
Penatua Mo terdiam lama. Bisa, tapi risikonya besar. Tubuh ibumu sekarang dipenuhi racun 'Yin' dari penjara. Buah ini adalah energi 'Yang' murni. Jika kau memberikannya langsung, mereka akan bertarung di dalam tubuhnya dan bisa membunuhnya seketika.
"Kecuali... ada seseorang yang bisa menjadi jembatannya," Jiangzhu menggumamkan pikirannya sendiri.
"Jangan gila, Jiangzhu!" Yue seolah bisa membaca pikiran gila pemuda itu. "Kau ingin menyerap racun dari tubuh ibumu ke tubuhmu sendiri agar dia bisa menerima buah itu? Kau sudah hampir menjadi monster, jika kau menambah racun hukuman langit ke tubuhmu, kau akan mati!"
Jiangzhu berdiri perlahan, kakinya bergetar namun matanya berkilat dengan tekad yang mengerikan. "Aku sudah mati sejak hari aku lahir dengan nadi lumpuh, Yue. Hidup yang kujalani sekarang adalah bonus yang kubeli dengan darah orang lain. Jika aku harus mati untuk membelikan ibuku satu hari lagi sebagai manusia, itu adalah perdagangan yang paling menguntungkan yang pernah kubuat."
Awan mulai menangis, ia memegang ujung jubah Jiangzhu. "Kakak... tolong jangan pergi..."
Jiangzhu mengusap kepala Awan dengan tangannya yang tidak bersisik. "Aku tidak akan pergi, Awan. Aku hanya akan melakukan sedikit pembersihan."
Ia mendekati ibunya. Dewi Ling'er perlahan membuka matanya, ia seolah mengerti apa yang akan dilakukan putranya. "Zhu-er... jangan..." bisiknya parau.
"Diamlah, Ibu. Kali ini, biarkan putramu yang menjagamu," Jiangzhu tersenyum tipis sebuah senyum yang terasa menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Ia meletakkan tangannya di atas dahi ibunya dan tangan satunya memegang buah Nirwana tersebut. Ia mulai mengaktifkan Segel Tiga Dunia.
Seketika, ruangan itu berguncang. Uap hitam mulai ditarik keluar dari tubuh Ling'er, mengalir masuk ke dalam lengan Jiangzhu. Wajah Jiangzhu langsung berubah menjadi biru keunguan, pembuluh darah di lehernya menonjol keluar seperti ingin pecah. Di saat yang sama, ia menghancurkan buah Nirwana itu dan menyalurkan sari pati emasnya ke dalam mulut ibunya.
"ARGHHHHHHH!"
Raungan Jiangzhu mengguncang Kota Tak Bertuan. Langit di atas reruntuhan itu mendadak menjadi gelap, petir ungu menyambar-nyambar seolah-olah alam semesta sedang marah karena ada makhluk yang berani menantang hukuman langit.
Yue hanya bisa menonton dengan ngeri, memeluk Awan erat-erat. Di tengah badai energi itu, ia melihat Jiangzhu seorang pemuda yang seharusnya menjadi sampah, kini sedang bertarung melawan takdir dengan seluruh keberadaannya.
Jiangzhu mencengkeram lantai marmer yang retak, merasakan dinginnya batu yang beradu dengan panas di sekujur tubuhnya. Setiap inci nadinya terasa tegang, menahan beban yang luar biasa. Ia bisa merasakan racun hukuman langit dari tubuh ibunya mulai merayap masuk ke dalam sumsum tulangnya, dingin dan mematikan, beradu dengan panasnya energi Yang dari buah Nirwana yang baru saja ia hancurkan.
"Jangan hanya berdiri di sana dan menonton, Yue!" Jiangzhu mengerang, suaranya pecah karena usaha keras. "Jika aku kehilangan kendali... bawa Awan dan Ibu lari dari tempat ini. Jangan menoleh ke belakang, jangan coba-coba menjadi pahlawan. Aku sudah cukup sesak dengan satu pahlawan di ruangan ini."
Yue menelan ludah, tangannya yang memegang belati bergetar hebat. Ia melihat perubahan pada kulit Jiangzhu, mengeluarkan uap yang sangat pekat hingga melunakkan permukaan marmer di sekitarnya. "Kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, Jiangzhu. Tidak ada manusia yang bisa menampung kutukan itu tanpa hancur!"
"Aku... bukan... manusia lagi!" Jiangzhu meraung, matanya kini membelalak lebar, penuh dengan tekad dan rasa sakit.
Di dalam kepalanya, Penatua Mo berteriak sekuat tenaga, mencoba mengarahkan aliran racun itu ke arah Segel Tiga Dunia agar tidak langsung menghantam jantung. Jiangzhu bisa merasakan setiap inci tubuhnya menahan tekanan yang luar biasa. Namun, saat ia melihat rona merah mulai kembali ke wajah ibunya, sebuah rasa puas yang sakit dan gelap membuncah di ulu hatinya.
"Ambil semuanya..." bisik Jiangzhu pada racun itu, bibirnya yang membiru melengkung membentuk seringai yang aneh. "Ambil setiap tetes rasa sakit darinya, dan berikan padaku. Aku sudah terbiasa hidup di dalam kesulitan, sedikit beban lagi tidak akan membuatku takut."
Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang berat terdengar dari arah langit yang gelap di luar reruntuhan. Bau amis yang sangat dikenal Jiangzhu kembali tercium. Klan Kelelawar Merah belum sepenuhnya habis, dan mereka membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar raja mereka yang sudah mati. Jiangzhu tersungkur, tubuhnya ambruk di samping ibunya, napasnya terdengar berat, tepat saat bayangan raksasa mulai menutupi cahaya lampion terakhir di ruangan itu.