" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Mendadak nikah ( 6 )
Dari pagi kesibukan di dapur mulai terlihat dirumah orang tuanya Juleha.
Bapaknya Juleha memotong ayam kampung sebanyak lima ekor, beuh, bakalan makan besar nih.
Namanya juga lebaran.
Mahmud sudah datang dengan golok yang ditentengnya, eh salah, diletakkan dalam kantong plastik yang sudah dibalut dengan kertas koran bekas.
" Wak, buat apa dua ayam jantan ada dirumah jika untuk memotong ayam saja, harus aku juga yang mengerjakan "
Mahmud melirik ke arah Zainal dan Abdul yang duduk manis di teras rumah, seperti anak perawan yang menunggu dilamar.
" Aku bukan tidak berani memotong ayam itu Mud, aku kan jaga jaga "
Jawab Zainal sekenanya.
Mertuanya dan Abdul menatap Zainal dengan dahi berkerut dalam.
" Jaga jaga untuk apa ? "
Tanya Mahmud tidak mengerti.
Zainal bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Mahmud yang masih duduk diatas jok motornya.
" Siapa tahu, dalam perut Juleha sudah ada calon bayi kami, masa belum apa apa aku sudah mau jadi pembunuh berdarah dingin, janganlah ! "
Mahmud melotot.
" Bisa aja lu cari alasan, bilang aja kalau lu takut ? "
Mahmud mencibir.
" Nah lu Dul, apa alasanmu ? jangan bilang lu gak tega motong ayam peliharaan seperti alasan Wak Denan "
Ekor mata Mahmud melirik ke Bapaknya Abdul dengan nyengir sedikit.
" Hatiku selembut sutra Mud, aku tidak sanggup melihat pandangan memohon dari ayam ayam itu ketika mata golok sudah menempel di lehernya "
Zainal dan Mahmud melongo.
Bapaknya mesem, bisa aja tuh Abdul ngeles.
" He nganten baru, lu kalau mau ngerayu noh, ama bini lu, Sarah, jangan berpuitis pula sama ayam, ayo Wak, segera kita selesaikan urusan ayam ayam ini, gak ada gunanya ada dua jantan dirumah Uwak, paling juga mereka berdua jagonya cuma ngerayu bininya aja "
Ejek Mahmud mulai mengeksekusi lima ekor ayam yang gede gede.
" Tak apalah Mud, yang mereka rayu, yang satu anak dan yang satu mantu, nah elu sendiri kapan ? "
Mahmud terkekeh.
Semua Ayam sudah dipotong dan mulai dibawa ke arah dapur.
Juleha tiba tiba berlari dengan wajah pucat.
" Ada apa dek ? "
Zainal memegang tangan Juleha dan membawanya duduk.
" Dia paling takut melihat ayam yang baru di potong dengan leher yang masih terlihat darahnya "
Ujar Abdul.
" Iya dek ? "
Tanya Zainal sembari mengusap dahi Juleha yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
Juleha hanya mengangguk.
" Ya udah, gak usah ke dapur dulu, sini aja sama Abang "
Zainal merengkuh bahu Juleha dan menepuk nepuk pelan.
" Zai, puasa puasa ! "
Tegur Mahmud.
" Apa hubungannya ? "
" Nah lu, mesra mesra'an ama Juleha "
" Eh, lu kelama'an jomblo ya gitu, otak rada rada tumpul, nah kalau elu yang beginian sama cewe lu, tentu aja gak boleh dan dosa, kalau aku mah enggak.
Kami suami istri, cuma memeluknya enggak membatalkan puasa, kecuali...."
Zainal tidak meneruskan ucapannya.
" Kalau udah tenang, dek Leha bantu yang lain aja, beres beres rumah ya sayang ! biar bang Abdul yang akan membantu kak Sarah di dapur "
Zainal mengusap pelan kepala Juleha yang berbalut kerudung, mengecup pelipisnya sebentar.
Abdul membuang muka ke arah yang lain asal tidak melihat Zainal yang terus mempertontonkan kemesraannya.
Terkadang Abdul berpikir, perlakuan manis Zainal pada Juleha, mungkin itu yang menyebabkan Juleha sangat cepat menyukai Zainal, diperlakukan dengan manis, lembut dan mesra, perempuan mana yang tidak klepek klepek.
" Eh adik ipar kurang ajar, bisa bisanya lu nyuruh aku membantu Sarah di dapur ? yang benar aja ? " Abdul melotot horor.
" Memang tega ngebiarin Sarah sama ibuk, ngebersihin ayam sebanyak itu berdua aja ? gak mungkin aku kan ? hitung hitung biar makin dekat dan makin mesra "
Zainal mencebikkan bibirnya.
" Benar kata Zainal, Dul, ke dapur sono ! "
Mahmud ikutan ngusir.
Lah, besok membawa rantang isi opor ayam ama ketupat kan kerumah orang tua Zainal juga dan orang tua Sarah, kenapa aku dan Sarah yang dikorbankan ?
Abdul ngedumel sendiri tapi kakinya melangkah juga menuju ke arah dapur.
" Zai, nikah itu enak kaya'nya Zai, lu kelihatan bahagia banget "
Mahmud menggeser duduknya agar lebih dekat ke tempat duduk Zainal di kursi teras rumah.
" Nikahnya ya enak gak enaklah, apa lagi pas ijab qobul, beuh, deg deg deg'kan, Mud, yang enak itu malemnya "
Zainal ngakak, Mahmud melotot.
" Gak perlu lu jelasin terlalu frontal juga Zai, lu manas manasin aja.
Aku juga pengen nikah Zai, tapi calon belum ada "
" Aku punya temen kantor, anaknya baik, lu mau gak kalau dikenalin, atau aku kasih nomornya, nah lu kenalan sendiri, bilang aja aku yang kasih nomor "
" Mantan pacar lu ? ogah ! "
" Bukan, temennya, kalau lu mau, kalau kagak yang gak apa apa "
Zainal bangun dari duduknya, mulai melangkah ke arah dapur juga.
Mau ngapain bang Zai ?
" Zai, kenapa justru elu yang jual mahal ? " Mahmud mengikuti Zainal dari belakang.
Zainal terkekeh.
" Nih nomornya, namanya Lusi, selanjutnya lu usaha sendiri, kalau perlu lu ajak kawin aja langsung "
" Kawin, nikah, bahasa lu Zai, mentang mentang udah punya bini, omongan-nya nyerempet nyerempet ke situ mulu, aku kan jadi pengen juga, Eh "
Mahmud terkekeh sendiri, untungnya Zainal sudah ngeloyor ke belakang, melewati dapur, ada kedua mertuanya sedang mengobrol sembari tangan ibuk mertuanya mengupas bawang.
Abdul bersama Sarah mencuci ayam.
" Sar, temani Abang yuk ! "
" Kemana ? "
" Terserah aja, Abang mau beli baju Koko, besok kita kan sholat Idulfitri ke lapangan "
Kenapa hati Abdul tiba tiba merasa bahagia ya ? terbayang dalam pikirannya berjalan bersama Sarah menuju lapangan, ada Zainal dan Juleha, Bapak dan Ibuknya.
Wajah Abdul sudah sudah terlihat sumringah, padahal baru juga ngayal.
Tahu menikah dengan Sarah tidak seseram yang dibayangkannya, kenapa kemarin ogah ogahan bang Dul.
" Tapi bang, kasihan ibuk di dapur sendirian "
" Kita bantuin ibuk dulu yang penting penting, setelah itu kita pergi ya ! "
Sarah mengangguk.
Beberapa surai rambut keluar dari jilbab instan yang Sarah kenakan.
Abdul mencuci tangannya dengan sabun, perlahan jari jemari tangan Abdul memasukkan helaian rambut Sarah ke dalam jilbab.
Walaupun beberapa lembar, itu tetaplah aurat.
Wajah Sarah memerah malu, dadanya berdebar kencang, ini kali pertama jari jemari tangan Abdul menyentuh pipinya yang semakin merah.
" Sar, wajahmu cocok dengan julukan istri Baginda Rasulullah "
Abdul menatap lekat lekat wajah Sarah.
" Mak-maksudnya Bang "
Sarah tergagap, bagaimana tidak gugup jika Abdul memandangi wajahnya dengan jarak yang sangat dekat, hembusan hangat napasnya saja menyapu permukaan kulit wajah Sarah.
Untungnya masih pagi, coba kalau siang atau sore, bisa pingsan Sarah, Dul.
Bulan puasa Dul, aroma napas maknyus.
" Pipimu merah, seperti julukan Baginda Rasulullah pada ibunda Aisyah, Humairah, pipi yang kemerahan merah-an "
Cie cie, Abdul gak mau kalah sama Zainal, ngegombal terus, biar bisa belah ketupat ya bang Dul ntar malem, kan malem lebaran ?
" Abang bisa aja "
Wajah Sarah semakin memerah.
Ekhem
Abdul dan Sarah menoleh kaget.
Zainal nyengir di depan pintu dekat dapur, tepatnya ruangan untuk mencuci piring, pakaian dan yang berhubungan dengan sayuran atau ikan.
" Maaf, sebenarnya aku bermaksud membantu, menggantikan posisi istriku yang tersayang, tetapi sepertinya tidak perlu, oke, lanjutkan rayuan gombalnya ! "
Zainal membalikkan badannya sembari tergelak.
" Dasar adik ipar gak tahu sopan santun "
Maki Abdul pelan.
" Maaf, Sar ! keceplosan "
Abdul nyengir kuda.
...*****...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻