NovelToon NovelToon
Istri Tomboy Tuan Muda

Istri Tomboy Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Azra ziya

Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.

Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.


"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)

"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Berubah

Dengan raut wajah panik Ara berlari masuk ke dalam rumah sakit mencari bangsal tempat Bara sedang ditangani.

Belum sempat bernapas lega Ara sudah dihadapkan dengan wajah sedih adik perempuan Bara yang masih duduk di bangku SMA.

"Kak Jodie," panggil Hani adik perempuan Bara.

"Bagaimana keadaan Bara?" tanya Ara pada ketiga sahabatnya.

"Bara pasti baik-baik saja." Galih menepuk pundak Ara dua kali.

"Apa orangtua Bara sudah dihubungi?"

"Mama sama Papa sedang di Jepang, Kak. Bagaimana ini?" Hani terisak sembari duduk bersandar di bahu Alex sahabat kakaknya.

"Kamu tenang saja! Kakak kamu pasti baik-baik saja. Baim, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bara bisa kecelakaan?" Ara menarik tangan Baim sedikit menjauh.

Baim menceritakan semua kronologis bagaimana kecelakaan tunggal itu bisa terjadi. Mereka tidak menyangka bahwa niat mereka untuk adu kecepatan dengan motor untuk terakhir kalinya malam ini membuat Bara harus mengalami nasip naas.

Bara tidak sadarkan diri setelah motor yang ia kendarai tiba-tiba kehilangan kendali. Baim sendiri tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Bara tidak pernah seperti ini sebelumnya, cukup lama ia menguasai lokasi tempat mereka biasanya melakukan aksi berani tersebut.

Seorang pria berprofesi dokter keluar dari ruangan Bara. Bercakap sebentar pada Galih yang lebih dulu menanyakan kondisi Bara.

Lega, akhirnya mereka bisa bernapas lega. Bara baik-baik saja setelah siuman. Ia hanya pingsan tadinya. Luka-luka di beberapa bagian tubuhnya juga sudah ditangani dengan baik oleh dokter ahli.

Ara memegang kedua lututnya yang semula terasa lemas. Kepanikan yang mendera gadis itu sebelumnya kini telah terkendali. Seutas senyuman terbit dari bibir merah alaminya saat ia ternyata masih bertemu dengan pria yang selalu memberi perhatian penuh padanya.

Lelaki kedua setelah sang ayah yang selalu membuatnya menjadi seorang ratu. Bara meringis saat gadis tomboy itu tak sengaja menyenggol luka jahitan di tangannya.

"Syukurlah kamu baik-baik saja, Bar."

Masih begitu jelas dipikiran Ara. Bagaimana pertemuan pertama antara gadis itu dan Bara. Pria yang selalu berada di garda terdepan saat Ara mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa senior perempuan yang iri pada keberuntungan gadis itu.

Memiliki teman pria yang selalu membelanya dan berprestasi di sekolah serta memiliki kecantikan alami tanpa polesan make up, membuat Ara sering menjadi pelampiasan kekesalan para wanita yang tidak terima dengan kelebihan Arabella.

"Ini sudah terlalu malam, apa kamu bersama suami kamu ke sini?" Bara masih sempat mengkhawatirkan Ara.

Ara menggeleng. Dan itu berhasil membuat Bara murka pada ketiga teman laki-lakinya. Galih, Alex dan Baim hanya menunduk merasa bersalah karena sudah menghubungi Ara.

"Tadinya kita panik, Bar. Takutnya ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu." Alex berseringai.

"Kalian terlalu berlebihan." Bara mendecik.

"Kakak." Hani lkut duduk di sebelah Ara. Gadis manis itu tampak sudah lebih baik setelah Bara sadar.

"Kamu juga, jangan bilang kalau kamu juga pergi sendiri ke sini?" Bara menoleh sang adik yang begitu ia sayangi.

"Tidak, Kak. Hani dijemput Kak Alex." Hani menggeleng.

"Kamu sebaiknya pulang saja, Jod. Im, antarkan Jodie pulang!" Bara tersenyum tipis saat mengucapkan kalimat yang sebenarnya sangat berat ia ucapkan. Dia sangat ingin melihat gadis itu lebih lama lagi.

Namun jika ia tetap keras kepala untuk tetap bersama gadis itu, Bara sangat yakin bahwa semuanya akan semakin berat baginya dan juga Arabella sendiri. Status gadis itu sudah mengubah segalanya. Dia sangat mengerti itu. Bara memang pria yang penuh pengertian.

"Aku akan menunggu di sini, setidaknya sampai pagi hari. Aku ngantuk." Ara malah memutuskan menunggu hingga pagi hari baru ia akan pulang ke rumah. Sekelebat bayangan tentang kejadian tegang di rumahnya tadi, tiba-tiba membuatnya enggan untuk kembali pulang.

Ara duduk bersandar di tembok. Melipat kedua tangannya di dada lalu memejamkan matanya.

Bara mengubah posisinya menjadi duduk. "Jod, berdiri!" suruh Bara.

"Hmmm, kenapa?" Ara menoleh Bara.

"Sini," kata Bara pelan. Menepuk ranjang pasien tempat ia dirawat sebelumnya.

Ara bangkit lalu duduk di sebelah Bara.

Bara turun sambil memegang botol infus. "Tidurlah di sini, di situ tidak nyaman," ucap Bara menoleh ke arah kursi yang tadinya di tempati Ara.

"Kamu yang sakit kenapa aku yang tidur di sini?"

"Jangan membantah, Jod! Aku akan meminta pulang sekarang juga jika kamu membantah. Aku akan keluar sebentar, jadi tidurlah."

Ara mengangguk. Dia benar-benar sudah sangat mengantuk.

Bara menghampiri Galih, Baim, Alex dan Hani .

"Antarkan Hani pulang, Lex."

"Apa Kakak tidak apa-apa?" Hani tampak iba melihat luka yang tertutup perban di tangan sang kakak.

"Tidak apa-apa, pulanglah. Besok Kakak akan meminta pulang." Bara mengusap lembut surai adik perempuannya.

Hani mengggukan kepala. Pergi bersama Alex yang akan mengantar gadis remaja itu pulang.

Malam yang hampir habis itupun dihabiskan Bara, Baim, Galih dan Arabella di rumah sakit.

.

.

.

.

Pagi menyapa mereka saat seorang perawat masuk memastikan kondisi pasiennya. Bara meminta perawat tersebut melepas jarum infus di tangannya, karena dia sudah lebih baik.

Perawat itu keluar setelah melepas infus Bara. Galih, Alex dan Baim masih betah saling bertukar kehangatan di lantai kamar, sedangkan Bara yang semula terpejam di kursi, kini sudah beralih duduk di dekat Arabella.

"Jod ... bangun, sudah pagi." Bara menepuk lengan Ara pelan.

"Aku masih ngantuk, Kak." Ara tidak sadar bahwa dia sekarang di rumah sakit bukan di rumahnya.

Kak? Apa dia berpikir aku suaminya?

Sakit, sangat sakit hingga mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.

Bara tersenyum tipis sebelum akhirnya memilih menjahili gadis tomboy itu.

Bara mengambil sedotan plastik bekas minumannya semalam. Memasukkan sedikit ke lubang hidung Ara.

"Apa yang kamu lakukan, Tuan!" Ara spontan mencengkram kerah pria yang sudah menjahilinya. Menarik kuat hingga wajah keduanya berdekatan. Mata Ara dan Bara melebar sempurna.

Saling menatap dalam manik mata masing-masing.

"Bara?" Ara melepas cengkraman tangannya di leher Bara.

"Apa kamu lupa bahwa di sini tidak ada Lano? Kamu kira aku suamimu?" Bara tersenyum tipis setelah Ara melepasnya.

"Maaf, Bar. Tuan muda itu selalu membuatku kesal akhir-akhir ini." Ara duduk sembari menguap lebar.

Bara spontan menutup mulut gadis itu dengan tangannya. "Tutup mulut kamu, Ara."

"Hehehe." Ara tak biasa menjaga imej di depan Bara. "Apa kamu sudah lebih baik?" Melirik Bara.

"Aku baik-baik saja." Bara menjawab yakin.

"Syukurlah, semalam aku khawatir sekali."

"Lain kali jangan begini lagi, jangan pergi malam-malam sendiri. Apalagi naik motor, bagaimanapun kamu perempuan, Jodie. Sekuat apapun kamu tetap saja orang-orang yang menyayangimu akan khawatir."

"Kamu juga khawatir, Bar?" Ara menoleh. Nasehat Bara membuat Ara bisa menyimpulkan bahwa laki-laki di sebelahnya sekarang juga khawatir padanya. Dan berarti Bara juga menyayangi dirinya.

"Tentu saja, kita sahabat Jod. Aku sangat menyayangi kalian semua." Menunjuk ketiga sahabat laki-lakinya juga. Padahal jelas sekali perasaan sayangnya pada Arabella berbeda.

"Kamu benar, aku juga sangat peduli dengan kalian. Aku rindu masa-masa dimana kita masih bebas. Sekarang yang aku lihat setiap hari hanya kehidupan tuan muda itu." Ara menghela napas panjang.

"Kamu pasti bisa melewati semuanya, Jod. Katakan saja padaku bila kamu sudah tidak baik-baik saja, aku akan selalu ada untukmu." Bara berdiri, berjalan menuju kamar mandi.

"Mau kemana, Bar?"

"Kamar mandi, Jodie."

"Apa mau aku bantu? Tanganmu sedang sakit."

"Aku masih punya tangan satunya, Jodie. Apa setelah punya suami kamu sudah berani mengintip?" Bara tertawa.

"Mesum! Aku hanya bercanda Bara." Ara melempar bantal pasien ke arah Bara.

Turun dari ranjang dan tanpa sadar menginjak tiga sekawan yang masih tidur nyaman di lantai.

"Adduuuhhh ... JODIE!" teriak ketiganya saat Ara tak sengaja menginjak senjata sakti milik Baim, perut Galih dan kaki Alex.

"Eh ... maaf, maaf. Sengaja," kata Ara tertawa puas.

"Memang tak ada akhlak kamu, Jod." Baim mengoceh sembari menahan sakit.

"Salah kalian kenapa tidur di situ." Bara membela Arabella.

"Dasar pasangan suami istri jahat," ketus Alex. Tanpa sadar bahwa kelakar itu tidak seharusnya ia ucapkan lagi.

Tiba-tiba hening. Gelar itu sepertinya tidak pantas lagi disandang Bara dan Arabella.

***

~Jejak....

1
Angelica James
namanya temankuu 😄
Ran Aulia
Luar biasa
Qaisaa Nazarudin
Harusnya dr awal kamu jujur, Kalo seandainya dr awal udah jujur mungkin gak ada adegan surat cerai dan pengajuan cerai waktu itu..
Qaisaa Nazarudin
Bara aja..
Qaisaa Nazarudin
Kalo aku jadi Ara mending milih Lano yg sudah Sah2 suaminya dan juga masih suci,Dari harus kamu yg sudah jadi barang bekas,banyak Jalang..
Qaisaa Nazarudin
Mmg harusnya begitu,Harusnya Lano bisa mengalah membujuk Ara saat Ara marah,Bukannya dia juga ikutan emosi,Dua2 nya egois..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Lano,Biar Ara bisa berpikir jgn mau ikuta dgn keras kepala nya,Sekali2 kadih dia pelajaran..
Qaisaa Nazarudin
Cih dasar Egois..Dia aja seenak jidatnya berdekatan dgn pria lain,Tanpa memikirkan perasaan suaminya,Terus kenapa sekarang kamu marah Lano berdekatan dgn wanita lain..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Walau pun Ara juga memiliki rasa ke Bara tapi Ara harus ingat kalo sekarang Lano lah SUAMINYA,Apapun alesan mereka menikah,Ara tdk seharusnya seperti itu bersikap ke Lano,,,Lano juga gak ada manis2 nya Ke Ara..
Qaisaa Nazarudin
Iler…Ternyata hanya mimpi,omg aku pikir beneran Ara kek gitu agresifnya 😂😂
Qaisaa Nazarudin
Gak usah ngajak Lano duel, yg ada ntar belum apa2 dia yg trrkencing duluan dicelana,,udah kayak opa2 korea aja ngandalin tampang doang,😂
Qaisaa Nazarudin
Astaga Lano langsung tdk mencermin kan sikap seorg cowok keren. Udah kayak cewek aja maunya hanya naik mobil, karena takut penampilan nya berantakan..
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Bara mencintai Ara dlm diam..😔
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Ini semua sudah di rencakan👏🏻👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻😂
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Feeling ku mengatakan kalo ini rencana para ortu, Kan Dilan maunya Ara yg jadi mantu bukannya Gisela..
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwk mampus kau Lano akhirnya ditolak dan di permalukan oleh cewek pilihan mu 👏🏻👏🏻👏🏻👎🏻👎🏻
Qaisaa Nazarudin
wkwkwwk yg ada saat ketemu ntar malah bagai tom and Jerry..😂😂😜😜
Qaisaa Nazarudin
Calon ibu dari anak2 kamu tuh 🤣🤣😜😜
Qaisaa Nazarudin
Waahh pertemuan yg paling mengesankan, kenangan yg paling hak bisa di lupakan 🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Dan sekarang doa kamu di kabulkan dapat calon istri yg gak suka pake rok minim 😀😀😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!