Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 — Arya, Kita Rujuk, Ya?
Keesokan sore, Arya menerima surel dari alamat Sherly.
Pesannya singkat. Karina ingin menyerahkan satu dokumen terkait kesepakatan dan kehamilan. Pertemuan diminta di taman terbuka dekat Sungai Kalimas, tempat yang ramai dan memiliki kamera keamanan.
Arya membaca pesan itu dua kali. "Dia pasti tidak hanya membawa dokumen."
Anindya yang duduk di sampingnya mengangguk. "Aku ikut."
"Tidak perlu kalau kamu tidak nyaman."
"Jangan memutuskan itu untukku lagi."
Arya teringat pagi ketika ia berlari sendiri. "Baik. Kita pergi bersama."
Mereka tiba tepat waktu. Dua petugas keamanan vila menunggu jauh di area parkir, tidak mencolok tetapi mudah dipanggil. Arya dan Anindya berjalan berdampingan menuju bangku dekat jalur pejalan kaki.
Karina sudah ada di sana bersama Sherly.
Penampilan Karina berbeda. Tidak ada gaun mahal atau riasan mencolok. Ia mengenakan blus sederhana, wajahnya pucat, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding setengah bulan lalu.
"Mas datang," katanya.
"Mana dokumennya?"
Karina menatap Anindya. "Aku ingin bicara berdua."
"Tidak," jawab Arya. "Apa pun yang berkaitan dengan pernikahan kami dibicarakan di depan istriku."
Kata itu kembali menusuk Karina, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia mengeluarkan map dari tas dan menyerahkannya.
Arya membuka map. Isinya hanya salinan hasil pemeriksaan kehamilan lama dan beberapa foto pernikahan mereka.
"Ini bukan dokumen baru."
"Aku cuma butuh alasan supaya Mas mau datang."
Arya menutup map. "Kalau begitu, pertemuan selesai."
Ia berbalik. Karina segera berdiri dan menangkap lengannya, tetapi Arya menarik diri tanpa kasar.
"Tunggu! Aku benar-benar mau minta maaf."
Orang-orang yang berjalan di jalur taman mulai memperhatikan. Karina menarik napas, lalu berlutut di atas paving.
Sherly tampak kaget meski sudah mengetahui rencananya. Anindya juga berhenti, tetapi tidak bergerak meninggalkan sisi Arya.
"Berdiri," kata Arya.
"Aku nggak akan berdiri sampai Mas mendengarkan."
"Berlutut tidak membuat kebohongan menjadi lebih benar."
Karina mengeluarkan sebuah kotak kecil lain. Di dalamnya ada cincin pernikahan lama yang dulu ia lepaskan bahkan sebelum sidang selesai.
"Aku simpan ini," katanya. "Aku pakai lagi setiap malam sejak Bapak pulang dari rumah sakit."
Arya menatap cincin itu. Ia masih ingat hari ketika membelinya dengan mencicil selama delapan bulan. Karina pernah mengeluh batunya terlalu kecil dan meminta menggantinya ketika ekonomi mereka membaik.
"Kamu melepasnya saat meminta cerai," kata Arya.
"Karena aku bodoh. Sekarang aku tahu nilainya."
"Kamu tahu nilainya setelah melihat jam di tanganku dan mobil yang kubawa."
Karina tersentak. "Bukan begitu."
"Di kafe, hal pertama yang kamu tanyakan adalah berapa banyak uang yang kuterima. Di telepon, keluargamu meminta biaya operasi. Hari ini kamu membawa kartu bank. Setiap permintaan maafmu selalu ditemani angka."
Karina menggenggam cincin tersebut. Tepi logam menekan telapak tangannya.
"Aku nggak tahu cara lain," katanya lirih.
"Mulailah dengan menerima kata tidak."
Anindya tidak menyela. Ia melihat Arya menatap cincin masa lalunya tanpa rindu. Yang tersisa di wajah pria itu hanyalah lelah karena luka lama kembali dipamerkan sebagai alat tawar.
Air mata Karina mengalir. "Aku salah karena minta cerai. Aku salah karena meremehkan Mas waktu kena PHK. Aku pikir hidupku akan lebih baik setelah mendapat uang. Ternyata aku kehilangan semuanya."
"Kamu tidak kehilangan semuanya. Kamu mendapat tepat seperti yang kamu pilih: perceraian dan satu miliar rupiah."
"Aku nggak mau uangnya lagi. Ambil semua yang tersisa."
"Aku tidak menjual keputusan."
Karina membuka tas dan mengeluarkan kartu bank. "Mas bisa ambil. Aku cuma ingin kita kembali seperti dulu."
Arya melihat kartu itu tanpa menyentuhnya. "Seperti dulu bagaimana? Aku membayar tagihan, mengurus orang tuamu, menerima hinaan, lalu meminta maaf setiap kali kamu marah?"
Karina menggeleng cepat. "Aku akan berubah. Aku akan jadi istri yang baik."
"Kamu bilang begitu setelah orang tuamu pulang dalam keadaan sakit dan kamu harus mengurus semuanya sendiri."
"Karena itu aku baru sadar betapa besar pengorbanan Mas."
"Kamu sadar aku berguna. Belum tentu kamu sadar aku terluka."
Karina terisak lebih keras. Beberapa orang berhenti. Seorang anak menarik tangan ibunya dan bertanya mengapa perempuan itu berlutut. Ibunya segera mengajaknya pergi.
"Mas, kita rujuk, ya?" pinta Karina. "Aku masih mencintai Mas. Kita punya anak. Bapak dan Ibu juga membutuhkan Mas."
"Aku sudah menikah."
"Dua bulan itu belum selesai. Setelah warisan Anindya aman, kalian bisa berpisah."
Anindya mengepalkan tangan. Arya merasakan gerakan itu dan meraih tangannya di depan Karina.
"Pernikahanku bukan masa tunggu untukmu," katanya. "Aku tidak akan menceraikan Anindya."
Karina menatap tangan mereka. "Mas menikahinya karena kontrak."
"Awalnya mungkin begitu. Tapi aku tetap memilih mengucapkan akad, dan setiap hari setelahnya aku memilih tinggal."
Anindya menoleh cepat. Ini pertama kalinya Arya menyatakan bahwa tinggal bukan sekadar menjalani kewajiban.
Karina menggeleng seolah menolak mendengar. "Dia membayar Mas. Itu bukan cinta."
"Dan kamu dibayar untuk melepaskanku," jawab Arya. "Mengapa menurutmu uang hanya membuat pilihan orang lain palsu, tetapi pilihanmu sendiri tetap suci?"
Sherly mendekat. "Karina sudah merendahkan diri sampai begini. Masa hati lo nggak tersentuh sedikit pun?"
Arya memandangnya. "Kalau seseorang berlutut untuk memaksa jawaban, itu bukan kerendahan hati. Itu tekanan dengan bentuk lain."
Karina memegang ujung celananya. "Aku mohon, Mas. Demi bayi ini."
Arya mundur satu langkah agar tangannya terlepas. "Jangan gunakan bayi untuk menyentuhku. Atur pemeriksaan dengan baik. Setelah lahir, kita ikuti tes resmi."
"Kalau terbukti anak Mas, Mas akan pulang?"
"Tidak."
"Tapi dia butuh keluarga lengkap!"
"Keluarga lengkap tidak berarti dua orang dewasa harus memaksakan pernikahan yang sudah berakhir. Kalau dia anakku, aku akan hadir sebagai ayah. Kamu tetap ibunya. Itu saja."
Jawaban tersebut menghancurkan harapan terakhir yang coba dibangun Karina.
Ia masih berlutut, tetapi Arya tidak lagi melihat perempuan berkuasa yang dulu menentukan harga dirinya. Ia melihat seseorang yang baru takut setelah semua kenyamanan hilang.
"Berdirilah," kata Anindya akhirnya. "Kamu sedang hamil. Jangan sakiti diri sendiri atau anak hanya untuk pertunjukan."
Karina menatapnya marah. "Lo senang melihat gue begini?"
"Tidak. Aku pernah menganggapmu sahabat. Melihatmu seperti ini tidak menyenangkan. Tapi kesedihanku tidak berarti aku harus menyerahkan suamiku."
Arya menggenggam tangan Anindya lebih erat. "Kami pergi."
Karina kembali meraih, tetapi Sherly menahannya setelah melihat dua petugas keamanan mendekat dari kejauhan.
"Jangan bikin lebih ramai," bisik Sherly.
Arya dan Anindya berjalan menuju parkiran tanpa menoleh.
"Mas," teriak Karina, "aku benar-benar menyesal!"
Langkah Arya tidak berhenti.
Karina telah menjatuhkan lututnya di depan banyak orang. Namun, orang yang ingin ia dapatkan kembali tidak melihat pengorbanan.
Ia hanya melihat bentuk baru dari tuntutan lama.