"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 Janji Masa Lalu
"Mas, kamu serius bicara begitu?" Siska tak mampu lagi menutupi rasa terkejutnya.
Ardy memejamkan mata beberapa saat, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menatap Siska dengan sorot bersalah.
"Maafkan aku, Siska. Aku memang mencintaimu," ucap Ardy pelan. "Tapi, aku juga punya sebuah janji yang mengikatku."
Seketika, ruangan itu pun mendadak sunyi. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar. Sarah ikut mengerutkan kening, menatap putranya dengan tatapan menuntut.
"Janji? Janji konyol apalagi maksudmu?" tanya Sarah mulai emosi.
Ardy menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
"Dulu, sebelum meninggal, kakek Kirana adalah orang yang menyelamatkan perusahaan keluarga kita dari jurang kehancuran."
Sarah terdiam kaku. Wajah angkuhnya sedikit memucat. Tentu saja ia masih ingat masa-masa krisis itu.
"Kalau bukan karena suntikan dana pribadi dari beliau, mungkin perusahaan sudah gulung tikar dan kita sudah jatuh miskin sejak sepuluh tahun lalu, Ma. Sebagai bentuk balas budi di detik-detik terakhir napasnya, aku berjanji akan menjaga Kirana. Menjadikannya nyonya di rumah ini. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah menceraikannya."
Siska yang mendengarkan penjelasan itu refleks mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik gaunnya.
"Lalu aku ini bagaimana, Mas?!" jerit Siska dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Kau anggap aku apa di matamu?!"
"Kalau suatu hari nanti kita memang berjodoh dan ingin menikah, itu harus dengan persetujuan Kirana. Aku harus menjadikannya istri pertama yang merestui. Aku tidak mau menikah diam-diam dan menjadi pecundang yang mengingkari janji, sama seperti pernikahan kita kemarin."
Hati Siska hancur berkeping-keping mendengarnya.
"Jadi, selama mbak Kirana tidak sudi mengizinkan, aku akan terus menjadi perempuan simpanan tanpa status yang jelas di rumah ini, Mas?" Siska tertawa sumbang di sela tangisnya.
Ardy menunduk dalam, tidak mampu memberikan jawaban pasti. Keheningan pria itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan yang pernah Siska terima.
"Kalau mas Ardy terlalu pengecut untuk menceraikan mbak Kirana karena janji konyol itu, berarti aku sendiri yang harus membuat perempuan kampung itu pergi dengan kemauannya sendiri," batin Siska.
*
*
"Makasih ya, Van. Buat hari ini. Jangan kapok nemenin aku keliling mall seharian," ucap Kirana. Ia tersenyum tulus sambil menurunkan belasan paper bag belanjaannya.
Vanessa terkekeh pelan dari balik kaca jendela taksi yang terbuka.
"Kapok sih enggak," lanjut Vanessa seraya menggelengkan kepala. "Cuma jantungku rasanya hampir copot lihat kamu gesek kartu kredit miliaran rupiah tanpa berkedip sama sekali."
Kirana ikut tertawa renyah. Tawa yang sudah sangat lama tidak ia dengar dari bibirnya sendiri.
"Nanti kalau kamu suntuk, butuh teman ngobrol, atau mau berburu lagi, hubungi aja aku," pesan Vanessa dengan kedipan mata.
"Pasti."
Kirana menarik napas panjang. Begitu taksi itu menghilang di tikungan, senyum di bibirnya perlahan memudar. Matanya menatap lurus ke arah bangunan megah di hadapannya. Dulu, rumah ini adalah sumber kebahagiaan dan harapannya, tapi sekarang entah kenapa terasa begitu asing.
"Tahan sebentar lagi, Rana. Kamu pasti bisa," batinnya.
Dengan punggung tegak dan dagu terangkat, ia melangkah masuk menenteng belasan paper bag belanjaan mahal tersebut.
"Astaga!" teriakan Sarah langsung membelah keheningan ruang tamu.
Wanita paruh baya itu berdiri dari sofa mewahnya dengan wajah merah padam menahan amarah. Tatapan matanya yang tajam langsung jatuh pada tumpukan paperbag yang memenuhi kedua tangan menantunya.
"Kamu pikir uang Ardy itu daun yang tumbuh di pohon, hah?!" bentak Sarah dengan urat di lehernya sampai menonjol keluar.
Kirana menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan dengan raut wajah yang luar biasa tenang.
"Kamu benar-benar perempuan tidak tahu diri!" maki Sarah sambil menunjuk wajah Kirana. "Kamu menghabiskan uang suamimu hanya untuk belanja seperti orang kesurupan? Benar-benar istri benalu!"
Berbeda dengan Kirana di masa lalu yang pasti akan menunduk dan menangis meminta maaf, Kirana yang sekarang hanya menatap ibu mertuanya dengan dingin.
"Bukannya selama ini harta seorang suami memang diperuntukkan untuk membahagiakan istrinya, Ma?" balas Kirana dengan nada datar nan menusuk.
Sarah seketika terdiam. Matanya melotot tak percaya mendengar bantahan itu.
Kirana melangkah maju seraya menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
"Atau kartu kredit unlimited itu memang aturannya cuma boleh dipakai untuk membiayai gaya hidup wanita selingkuhan?" lanjut Kirana sontak membuat wajah angkuh Sarah langsung berubah pucat.
Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari bibirnya. Tepat pada detik yang sama, Ardy baru saja menuruni anak tangga. Ia mendengar dengan sangat jelas ucapan istrinya.
Rahang pria itu mengeras keras. Seharian ini ia memang sudah menahan emosi dan berniat memarahi Kirana habis-habisan karena rentetan tagihan fantastis yang masuk ke ponselnya.
Namun, sebuah tamparan realita menghantam logikanya. Bukankah kartu kredit hitam itu memang sengaja ia serahkan sendiri ke tangan Kirana pagi ini sebagai bentuk
kompensasi sikap arogannya?
"Mas tunggu!" Siska yang entah sejak kapan berada di belakang Ardy, segera berlari memeluk lengan pria itu.
"Apa kamu mau diam saja melihat ibumu dihina? Lihat mbak Kirana, Mas! Dia sengaja menghabiskan uang hasil kerja kerasmu untuk foya-foya! Katakan sesuatu, Mas. Tegur dia!" bisik Siska sengaja memanas-manasi.
Ardy mematung. Matanya memandang lurus ke arah Kirana. Tatapan wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu begitu tenang, sedingin es, tanpa ada sorot rasa bersalah atau ketakutan sedikitpun.
"Mas, jawab dong!" desak Siska lagi, mengguncang lengan Ardy.
Ardy sendiri tetap bungkam seribu bahasa. Lidahnya tiba-tiba kelu. Melihat tidak ada satu pun dari tiga orang di ruangan itu yang mampu membalas ucapannya, Kirana kembali membalikkan badan.
"Permisi. Aku capek mau istirahat," ucap Kirana melangkah menaiki tangga itu dengan anggun. Namun, baru beberapa anak tangga ia lewati, Ardy menyusulnya.
"Kirana!" panggil Ardy.
Kirana tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan hingga masuk ke dalam kamar tidur utama mereka.
Dibelakangnya, pintu kamar ditutup dengan sangat kasar oleh Ardy. Ia menghampiri Kirana dengan napas memburu. Lalu meraih pergelangan tangan Kirana, memaksa wanita itu berbalik menghadapnya.
"Kita perlu bicara," ujar Ardy.
Kirana menatap tangan besar Ardy yang menggenggam pergelangan tangannya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
"Mau bicara apa Mas?"
"Untuk apa belanja sebanyak ini, Kirana? Kamu tahu persis berapa miliar uang yang sudah kamu habiskan dalam waktu beberapa jam saja!" seru Ardy.
"Memangnya saat kamu mengajak Siska belanja, aku pernah protes, Mas?" balas Kirana.
Tubuh Ardy seketika membeku. Cengkeramannya mengendur tanpa sadar.
"Dulu, kamu membelikan tas mewah limited edition untuknya. Sepatu, perhiasan bahkan kamu membelikan sebuah apartemen mewah seharga puluhan miliar untuk perempuan itu." Kirana mendekat hingga hampir bersentuhan dengan dada Ardy.
"Dan selama itu pula, aku diam. Aku tutup mata, Mas. Aku tidak pernah sekalipun mempertanyakan kemana uangmu mengalir atau habis untuk apa."
Kini, kilat kemarahan yang sesungguhnya akhirnya terpancar dari sepasang mata Kirana.
"Jadi, kenapa sekarang kamu tiba-tiba repot mempertanyakan apa yang aku beli dengan kartu yang kamu berikan sendiri dari tanganmu?"
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy