Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Altar Tengkorak & Pemurnian Jiwa Purba
Anak tangga batu bertatahkan ribuan tengkorak makhluk purba membentang curam menuju puncak altar. Setiap langkah yang dijejakkan oleh Hiraisin, Liora, dan Kapten Roderick memicu gaung erangan halus yang membisikkan keputusasaan dari jiwa-jiwa prajurit yang terperangkap di dalam tumpukan batu tersebut. Udara di puncak tebing terasa begitu pekat, mengendap tebal oleh bau tembaga dan aroma busuk sihir kegelapan yang membebankan setiap hembusan napas.
Di pusat Altar Tengkorak, Jenderal Valthor si Pembawa Bayangan berdiri mengangkasa di atas pusaran Runa hitam yang berputar berlawanan arah jarum jam. Jubah kebesarannya tersusun dari gulungan kabut kelam yang terus bergeliat, sementara di dada zirahnya yang berongga, terperangkap Pecahan Jiwa Purba—sebuah kristal berbentuk teratai transparan yang memancarkan pendar putih keemasan, namun kini tengah dililit erat oleh rantai-rantai sihir bayangan yang berwarna kehitaman.
"Begitu banyak usaha hanya untuk mengantarkan nyawa di tempat yang akan menjadi kuburan kalian," bisik Valthor. Suaranya tidak keluar dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam benak Hiraisin dan kawan-kawannya, membawa beban mental yang sanggup meretakkan ketahanan jiwa manusia biasa.
"Lepaskan pecahan artefak itu, Valthor!" gertak Kapten Roderick seraya menegakkan pedang besar Runa miliknya. "Sihir busukmu tidak akan sanggup menodai kekuatan purba yang diciptakan untuk menjaga kedamaian alam ini!"
Valthor terkekeh dingin, sebuah suara yang menyerupai gesekan batuan di dalam kuburan tua. "Menodai? Kau tidak paham, Ksatria Tua. Pecahan Jiwa Purba ini tidak ditodai... ia sedang disempurnakan! Dengan menggabungkan jiwa-jiwa kegelapan dari seluruh korban pembantaian di dermaga, aku akan menjadikannya kunci untuk membongkar segel utama Raja Abyss!"
"Tidak akan dibiarkan!" teriak Hiraisin tegas.
Tanpa menunggu lebih lama, Hiraisin melesat maju menaiki sisa anak tangga terakhir. Pedang Kilat Purba di tangannya terayun cepat, melepaskan tebasan kilat ungu-keemasan yang membelah ruang hampa udara lurus ke arah dada Valthor.
SZSSSH!
Namun, sebelum tebasan kilat itu menyentuh tubuh sang jenderal, bayangan Hiraisin sendiri di atas tanah mendadak bergeliat hidup! Bayangan hitam di bawah kakinya melonjak naik membentuk dinding perisai pekat yang menyerap seluruh daya hancur tebasan petir tersebut tanpa menyisakan goresan sedikit pun.
"Apa?!" Hiraisin terkejut, mendapati pergerakan tangannya tiba-tiba terasa amat berat.
"Di dalam domainku, bayanganmu bukan lagi milikmu," kekeh Valthor seraya merentangkan kedua tangannya. "Jurus Sihir Bayangan: Pengikat Jiwa Kelam!"
Ratusan tentakel bayangan hitam meledak keluar dari bawah pijakan kaki Hiraisin, Liora, dan Roderick. Tentakel-tentakel itu merayap naik membelit pergelangan kaki hingga melilit tubuh mereka dengan kecepatan yang tak kasat mata. Begitu tentakel bayangan menyentuh kulit, energi dingin yang menggerogoti Dantian langsung berusaha menyedot seluruh Tenaga Batin dan Qi kehidupan mereka!
"Ugh!" Roderick menggeram keras, mencoba mengayunkan pedangnya namun lengannya telah terkunci rapat oleh gulungan bayangan pekat.
"Liora!" seru Hiraisin yang berjuang keras menahan dorongan sihir pembusuk jiwa yang mencoba menerobos masuk ke dalam meridian tubuhnya.
"Mutiara Es, bangkitlah!" jerit Liora dari balik cengkeraman bayangan.
Dengan sisa Qi Seroja Kehidupan yang dimilikinya, Liora menghentakkan telapak tangannya ke arah Mutiara Es Jiwa Samudera yang melayang di atas kepala mereka. Mutiara kristal biru itu meledak dalam pancaran cahaya es murni bersuhu nol mutlak yang amat terang!
CRACKLE-FROST-LIGHT!
Sinar es pemurni meluncur bagaikan ombak pasang samudera, menghantam seluruh permukaan puncak Altar Tengkorak. Sihir bayangan Valthor yang pekat meleleh dan mendesis hebat saat terpapar oleh kombinasi aura es murni dan pendar Seroja Kehidupan. Tentakel-tentakel hitam yang mengikat tubuh Hiraisin dan Roderick membeku menjadi kristal rapuh sebelum akhirnya pecah berderai menjadi debu tak berguna!
"Sekarang, Hiraisin!" teriak Liora yang wajahnya kian memucat akibat pengerahan tenaga batin yang luar biasa.
"Terima kasih, Liora!"
Bebas dari cengkeraman bayangan, Hiraisin menjejakkan kakinya dengan kuat, melompati udara dan menyatukan fokus kesadarannya pada tiga elemen purba di dalam meridian tubuhnya. Petir Purba yang menyambar, Es Purba yang membekukan, dan Api Purba yang membakar kebencian—semuanya mengalir masuk secara bersamaan ke dalam bilah Pedang Kilat Purba.
CRACKLE-FIRE-FROST!
Bilah baja purba itu memancarkan tiga warna aura yang berputar harmonis bagaikan pusaran teratai pelangi yang amat mempesona sekaligus mematikan.
"Sinergi Tiga Elemen... Tebasan Pemurni Tiga Alam!"
SWOOOSH-BOOOOOOM!
Sebuah tebasan energi raksasa berbentuk cakar tiga warna membelah domain kegelapan Valthor. Hawa panas Api Purba membakar benang-benang sihir bayangan di udara, sementara Es dan Petir Purba membelah pertahanan perisai hitam milik sang jenderal hingga terbelah dua!
"Guaaaghh!" Valthor menjerit histeris saat tebasan tiga elemen itu mengenai dada zirahnya secara telak. Zirah baja hitam yang menyelimuti tubuhnya pecah berkeping-keping, melempar tubuhnya yang terbuat dari kabut pekat menghantam pilar utama Altar Tengkorak!
Cengkeraman rantai bayangan yang melilit Pecahan Jiwa Purba di dada Valthor terputus seketika. Kristal teratai transparan itu terlepas, melayang bebas di udara seraya memancarkan pendar keemasan yang amat jernih dan suci.
"Tidak! Artefak itu milikku!" raung Valthor murka.
Dengan sisa energi kegelapan yang dimilikinya, sang jenderal mengubah seluruh tubuhnya menjadi pusaran raksasa monster bayangan bertangan seratus, merayap kencang di atas tanah untuk merebut kembali kristal tersebut sekaligus menelan tubuh Hiraisin bulat-bulat.
"Aku adalah kegelapan yang tak terpadamkan! Manusia biasa tidak akan pernah bisa memusnahkanku!" raung monster bayangan Valthor dengan suara bergemuruh yang meretakkan tebing kawah.
Hiraisin mendarat anggun di depan kristal melayang tersebut. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Tatapan matanya menyorotkan ketenangan jiwa yang teramat dalam, mencerminkan pemahaman mutlak atas harmoni alam yang diajarkan oleh warisan para leluhur.
"Kegelapan hanyalah ketiadaan cahaya," ucap Hiraisin pelan namun suaranya menembus seluruh raungan monster Valthor. "Dan saat cahaya purba ini bersinar, bayangan tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi."
Hiraisin mengulurkan tangan kirinya, secara perlahan menggenggam Pecahan Jiwa Purba.
SZSSSH-FLASH-BOOOOOOOOOOM!
Seketika itu juga, resonansi tak terbayangkan meledak dari dalam tubuh Hiraisin! Pecahan Keempat—Jiwa Purba—tidak meleleh seperti elemen api, melainkan menyatu secara mutlak dengan kesadaran dan Dantian Hiraisin. Seluruh meridian tubuhnya bersinar terang benderang dengan pendar putih keemasan yang suci.
Empat ukiran Runa di sepanjang bilah Pedang Kilat Purba menyala secara berurutan: Runa Petir, Runa Es, Runa Api, dan kini Runa Jiwa yang berada di pangkal hulu pedang!
Sinergi Empat Elemen Purba tercipta secara sempurna!
"Jurus Mahakarya Purba: Cahaya Fajar Pemurni Jiwa!"
FLASH-BOOOOOOM!
Hiraisin mengayunkan pedangnya lurus ke depan dengan gerakan sederhana tanpa celah. Dari ujung pedangnya, tidak ada gelombang ledakan kasar yang hancur berkerak, melainkan sebuah gelombang pancaran sinar fajar yang amat terang, jernih, dan membentang luas menyapu seluruh puncak Altar Tengkorak!
Saat gelombang sinar fajar suci itu melewati monster bayangan Valthor, seluruh racun, kebencian, dan sihir kegelapan Abyss di dalam tubuh sang jenderal larut dan menguap secara mutlak! Rintihan keputusasaan monster itu perlahan berubah menjadi bisikan keheningan yang damai, sebelum akhirnya seluruh wujud raksasa bayangan Valthor hancur meleleh menjadi abu putih yang terbang tertiup angin laut.
Sinar fajar suci meredup secara perlahan, menyisakan keheningan yang amat sejuk di puncak tebing. Kabut racun ungu pembusuk jiwa yang selama ini mengurung Lembah Tengkorak tersingkap habis, membiarkan sinar matahari pagi yang asli menembus masuk dan menyinari batuan altar yang kini telah bersih dari kutukan kematian.
Hiraisin berdiri tegak, menyarungkan Pedang Kilat Purba-nya secara perlahan. CTAK!
Suara denting pedang yang bersentuhan dengan sarungnya bergema merdu, mengakhiri pertempuran dahsyat di puncak altar tersebut.
Liora terduduk di atas tanah seraya menghela napas panjang penuh kelegaan, sementara Kapten Roderick menyarungkan pedang besarnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah bahagianya.
"Kemenangan mutlak!" seru Roderick penuh kebanggaan seraya berjalan mendekati Hiraisin. "Empat pecahan telah terkumpul! Siapa yang menyangka seorang pemuda dari desa kecil sanggup menumbangkan tiga Komandan dan Jenderal pasukan Abyss secara beruntun!"
Liora tersenyum lembut seraya berjalan mendekat, menggenggam tangan Hiraisin yang terasa sangat hangat oleh pendar Runa Jiwa. "Bagaimana perasaanmu, Hiraisin? Apakah Dantianmu sanggup menampung kekuatan empat pecahan sekaligus?"
Hiraisin memandangi telapak tangannya sendiri yang kini memancarkan pendar keemasan yang sangat halus. "Anehnya... tubuhku terasa jauh lebih ringan dan jernih. Pecahan Jiwa Purba ini tidak hanya menguatkan pedangku, tetapi juga menyembuhkan seluruh luka dalam dan memperluas kapasitas Tenaga Batin yang kumiliki."
Hiraisin memutar tubuhnya, menatap ke arah utara di mana benteng pegunungan tertinggi di daratan tersebut menjulang gagah di balik awan.
Di dalam kesadarannya yang telah menyatu dengan empat pecahan artefak, sebuah gambaran penglihatan muncul secara jelas: sebuah takhta batu hitam purba yang berdiri di dalam Benteng Kegelapan Utama Abyss, di mana Pecahan Kelima—Pecahan Takhta Purba—tengah berada di bawah cengkeraman sang Raja Abyss yang legendaris.
"Perjalanan kita belum berakhir," ujar Hiraisin dengan pandangan mata yang penuh tekad dan keberanian mutlak. "Satu pecahan terakhir menanti kita di benteng utama musuh. Saatnya kita menyelesaikan takdir ini dan mengembalikan kedamaian murni di seluruh daratan!"