Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Teng! Teng! Teng!
Suara lonceng sekolah berbunyi nyaring memecah suasana pagi yang masih agak sejuk.
Suasana kelas sebelas IPS dua yang awalnya riuh seketika menjadi hening.
Wali kelas mereka, Bu Rina, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa setumpuk formulir.
"Selamat pagi semuanya, ibu punya pengumuman penting dari kepala sekolah," ucap Bu Rina di depan papan tulis.
Semua murid langsung duduk tegak dan menatap ke arah guru fisika yang terkenal tegas itu.
"Minggu depan, sekolah kita akan mengadakan seleksi Olimpiade Akademik tingkat kota," jelas Bu Rina sambil membagikan selebaran ke barisan depan.
"Setiap kelas diwajibkan untuk mengirimkan dua orang perwakilan untuk mengikuti tes kualifikasi."
Suara keluhan dan gumaman malas langsung terdengar dari penjuru kelas.
Bagi anak IPS dua yang rata-rata pemalas, mengikuti tes akademik adalah sebuah mimpi buruk.
"Nadin, sebagai juara kelas, kamu otomatis menjadi perwakilan pertama dari kelas kita," kata Bu Rina sambil menatap Nadin.
"Baik, Bu, saya siap," jawab Nadin dengan nada mantap dan percaya diri.
"Nah, sekarang kita butuh satu orang lagi untuk menjadi perwakilan kedua." Bu Rina mengedarkan pandangannya ke seluruh murid.
"Siapa yang bersedia maju?"
Hening.
Tidak ada satu pun murid yang berani mengangkat tangan mereka.
Semua orang menunduk, pura-pura sibuk membaca buku atau mencari pulpen yang jatuh ke lantai.
"Ayo, masa dari tiga puluh murid tidak ada satu pun yang punya inisiatif?" tegur Bu Rina mulai jengkel.
Di tengah keheningan itu, Bagas tiba-tiba mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Saya punya usul, Bu!" seru Bagas sambil tersenyum licik.
"Bagus, Bagas, kamu mau mengajukan diri?" tanya Bu Rina dengan sedikit terkejut.
"Oh, tentu bukan saya, Bu," jawab Bagas santai. "Saya usul Tommy saja yang mewakili kelas kita."
Pernyataan Bagas itu seketika membuat seisi kelas menahan tawa.
Beberapa murid bahkan menutup mulut mereka rapat-rapat agar tawanya tidak meledak.
Bu Rina mengerutkan keningnya dan menatap Bagas dengan tajam.
"Jangan bercanda kamu, Bagas," tegur Bu Rina.
"Kamu tahu sendiri nilai Tommy adalah yang paling rendah di kelas ini."
"Justru itu alasannya, Bu," bantah Bagas sambil berdiri dari kursinya dengan gaya sok pahlawan.
"Kalau Tommy terus-terusan diam di pojokan, dia tidak akan pernah berkembang."
Reno yang duduk di sebelah Bagas langsung ikut menimpali.
"Benar kata Bagas, Bu, hitung-hitung melatih mental Tommy biar gak jadi pecundang terus," sahut Reno.
"Lagian ini kan baru seleksi tingkat sekolah, kalah juga tidak masalah kan, Bu?" tambah Bagas dengan senyum mengejek.
Seisi kelas akhirnya tidak bisa lagi menahan tawa mereka.
"Iya, Bu, setuju! Tommy aja yang maju!" teriak murid-murid lain bersahutan.
Nadin menoleh ke arah belakang dan menatap tajam ke arah Bagas.
"Lo pada jangan keterlaluan deh, ini kompetisi bawa nama kelas," ucap Nadin membela secara tidak langsung.
"Kalau dia maju dan nilainya nol besar, satu kelas yang bakal nanggung malu!"
"Udahlah, Din, biarin aja si Tommy unjuk gigi sekali-kali," balas Bagas tidak peduli.
Tommy yang duduk di bangku paling belakang hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ia meremas ujung seragamnya, berakting seolah-olah ia sedang sangat ketakutan dan panik.
"Tapi saya bodoh, Bu," ucap Tommy dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
"Saya pasti tidak bisa mengerjakan satu pun soal ujiannya nanti."
Bagas berjalan mendekati meja Tommy dan menepuk pundaknya dengan keras.
"Tenang aja, Tom, kita semua bakal dukung lo kok dari belakang," ucap Bagas berbisik.
"Dukung buat ngetawain lo pas lo nangis di depan panggung nanti," lanjut Bagas dengan suara sangat pelan yang hanya bisa didengar Tommy.
Bu Rina tampak sangat ragu melihat situasi tersebut.
Tetapi melihat tidak ada murid lain yang mau mengajukan diri, dan tenggat waktu pendaftaran yang mepet, ia akhirnya menghela napas pasrah.
"Baiklah, karena satu kelas sepakat menunjukmu, ibu harap kamu bisa berpartisipasi dengan baik, Tommy," putus Bu Rina akhirnya.
"Namamu akan ibu masukkan ke dalam daftar perwakilan kelas bersama Nadin."
"Baik, Bu," jawab Tommy pelan dengan kepala tertunduk.
Di balik wajah menunduknya itu, Tommy tersenyum sangat tipis dan dingin.
"Kau pikir bisa mempermalukanku di depan umum, Bagas?" batin Tommy meremehkan.
"Kau baru saja memberiku tiket gratis untuk menghancurkan kalian semua."
Kringgg!
Pelajaran pun dilanjutkan seperti biasa setelah pengumuman tersebut selesai.
Dito yang duduk di depan Tommy diam-diam menyelipkan secarik kertas ke belakang.
Tommy membuka gulungan kertas kecil itu dan membacanya.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Tom? Mereka sengaja ingin mempermalukanmu."
Itulah tulisan tangan Dito yang rapi di atas kertas tersebut.
Tommy mengambil pulpennya dan menulis balasan singkat sebelum melemparkannya kembali ke meja Dito.
"Tonton saja pertunjukannya nanti."
Dito menelan ludah membaca balasan singkat penuh percaya diri dari Tommy itu.
Anak berkacamata itu perlahan mulai menyadari bahwa Tommy sedang menyusun sebuah rencana yang sangat besar.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇