Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Meminta Haknya Kembali
Meng Lin baru kembali sekitar pukul lima sore.
Begitu membuka pintu, langkahnya sedikit melambat. Ada sesuatu yang berbeda.
Ruang tengah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Paman dan Bibi Lin sudah pulang bekerja, tetapi keduanya tidak sedang melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.
Mereka duduk di ruang tengah. Meng Wan dan Meng Ji juga ada di sana, keempat orang itu menatapnya bersamaan.
Udara di dalam rumah terasa tegang dan suram. Meng Lin menutup pintu, dia tahu mereka pasti sudah menunggunya.
Paman Lin akhirnya membuka suara. “Meng Lin, duduklah. Paman ingin bicara denganmu.” nada suaranya seperti biasa.
Meng Lin menatapnya sebentar. Kemudian ia berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan dengan mereka.
Paman Lin menghela napas. “Paman ingin tahu sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?”
Meng Lin mengangkat alis. “Berubah?"
“Kemarin kamu masih baik-baik saja. Sekarang kamu tiba-tiba tidak mau melakukan pekerjaan rumah, tidak mau membantu bibimu, bahkan berani membantah orang tua.” ujarnya.
Meng Lin menghela napas panjang.
Dia merasa pembicaraan ini sebenarnya tidak perlu. “Tadi pagi aku sudah menjelaskannya.”
Tatapannya menyapu mereka satu per satu.
“Aku tidak akan mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Mulai sekarang, kalian mengurus pekerjaan kalian masing-masing.” balas Meng Lin dengan serius.
Meng Ji yang sejak tadi diam langsung menyela. “Kalau kamu cuma ingin tinggal di sini, makan, dan bersantai, lebih baik kamu pergi saja!”
Meng Lin menoleh kepadanya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Memang aku akan pergi.”
Meng Ji sedikit terkejut. Padahal dia hanya ingin menggertak saja seperti biasanya. Dulu, jika dia mengancam seperti itu, Meng Lin pasti berusaha membujuknya agar tidak diusir.
“Tapi bukan sekarang." Senyum Meng Lin berubah menjadi dingin. “Tunggu sampai kamu keluar dari rumah peninggalan orang tuaku.”
Ruangan langsung sunyi. Wajah Meng Ji berubah. “Apa maksudmu?” tanyanya. Sebenarnya dia sudah tahu dari Ibunya, tapi dia tidak percaya, jadi ingin membuktikannya sendiri.
“Rumah ini milik orang tuaku.” Meng Lin menatapnya tanpa gentar. “Setelah mereka meninggal, rumah ini menjadi hakku. Aku tidak pernah memberikan rumah ini kepadamu.”
Meng Ji langsung berdiri. “Aku sudah tinggal di sini sejak menikah! Kamu menyuruhku pindah begitu saja?” tanyanya dengan emosi. Kenapa Meng Lin baru protes setelah mereka sudah terbiasa.
“Itu urusanmu.” Meng Lin tidak ingin menunda lagi.
Meng Ji semakin emosi. “Pindah rumah bukan sesuatu yang mudah!” Dia beserta istri dan anaknya sudah sangat nyaman tinggal di rumah itu. Itu juga bisa membuat mereka menabung lebih banyak.
Meng Lin bersandar santai di kursinya.
“Kalau begitu, kamu dan istrimu bisa mulai mencari tempat tinggal dari sekarang.”
“Kamu—”
“Dan tidak perlu repot membawa perabotan.”
Meng Lin memotong ucapannya. “Semua perabotan di rumah itu milikku.”
Meng Ji menatapnya dengan marah. “Kamu jangan keterlaluan!”
“Aku hanya mengambil kembali milikku. Aku juga sudah dewasa, aku bisa tinggal sendiri di sana." ujar Meng Lin. Enak saja, itu semua akan jadi barang antik nya.
“Rumah ini sudah kami tempati bertahun-tahun! Dan selama bertahun-tahun itu, aku membiarkan kalian tinggal di sini.”
Suara Meng Lin tetap tenang. “Bukan berarti aku memberikan rumah ini kepada kalian.”
Meng Ji mengepalkan tangannya. “Aku tidak akan pergi!”
Meng Lin justru tersenyum remeh. “Kalau begitu, tidak masalah.” Dia berdiri. “Aku hanya perlu pergi ke kantor polisi.”
Wajah Meng Ji dan yang lainnya berubah langsung berubah tegang dan tak percaya.
“Surat tanah dan surat rumah ada padaku. Kalian tinggal di sana tanpa persetujuanku.”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Paman Lin dan Bibi Lin saling berpandangan.
Mereka tahu masalah ini akan menjadi jauh lebih rumit jika benar-benar sampai ke polisi.
Meng Lin kembali duduk. Tatapannya kini beralih kepada Paman dan Bibi Lin “Ada satu masalah lagi.”
Paman Lin mengerutkan kening. “Apa?”
Wajah Bibi Lin sedikit berubah. Lagi-lagi Meng Lin bahas uang.
“Setiap bulan, kalian mengambil 45 yuan dari uang yang dikirim kakakku untukku.” Meng Lin menatap mereka satu per satu. “Selama ini aku diam.” Dia berhenti sebentar. “Tapi sekarang aku ingin semuanya dikembalikan.”
Bibi Lin langsung berseru, “Dari mana kami punya uang sebanyak itu?” sekarang dia benar-benar marah.
Meng Lin menatapnya datar. “Bibi pikir aku akan percaya? Apakah harus pergi ke BANK untuk melihat berapa tabungan kalian?"
"Jika kamu tidak setuju kami mengambil uang sebanyak itu, kenapa dulu kamu cuma diam saja?" tanya paman Lin bingung. Sudah dikasi tapi diminta balik. Apa maksudnya?
"Dulu itu, aku masih 10 tahun. Jadi aku merasa, memegang uang banyak sangat bahaya untuk anak kecil. Jadi aku membiarkan Paman dan Bibi mengambilnya.! Waktu itu Bibi juga berkata, kalau uang itu dia tabung untukku sampai bisa mengurus diri sendiri. Dan saat ini sudah waktunya!" ujar Meng Lin.
"Tidak... Itu tabungan untuk mas kawinku. Kamu tidak boleh mengambilnya!" seru Meng Wan dengan marah.
"Oh.. Dari mana uang itu berasal? Sedangkan gaji orang tuamu sudah kamu habiskan untuk mentraktir teman-temanmu setiap hari!" kata Meng Lin dengan nada mengejek.
"Tidak.. Ibu bilang, tabungan itu milikku. Kamu jangan menyentuhnya. Kalau kamu berani, aku akan melaporkanmu!" ucapnya emosi.
"Laporkan saja! Polisi akan menyelidiki dari mana semua uang itu berasal. Sedangkan gaji orang tuamu tidak sebanyak itu.!"
Meng Wan menatap Meng Lin dengan marah. Tangannya terkepal erat, padahal dia sudah sangat bahagia karena memiliki banyak mas kawin. Jika dia menikah, keluarga suaminya mana berani meremehkannya.
"Meng Lin. Itu sangat banyak! Kamu tidak perlu pegang uang sebanyak itu!" kata Bibi Lin berusaha membujuk.
"Bagus kalau banyak. Karena sekarang aku butuh uang. Aku sudah mendaftar ke Desa, jadi banyak barang yang harus aku siapkan. Hidup di Desa juga tidak muda.!" sahut Meng Lin.
"Apa.. Kamu sudah daftar?" tanya paman Lin. Dia baru saja ingin bahas masalah itu. Ternyata Meng Lin malah bernisiatif sendiri.
"Ya. Berangkat minggu depan! Jadi siapkan uangku besok. Kalian bisa memotongnya 5 yuan setiap bulan sebagai uang tempat tinggal dan makanku selama ini!"
"Hmm.. Baguslah kalau kamu pergi..!" Kata Meng Wan dengan raut wajah yang tampak lebih rileks. Karena tidak ada lagi yang membanding-bandingkan mereka berdua.
Mata Meng Ji berbinar terang. "Kalau begitu aku tidak perlu pindah. Karena kamu juga akan pergi ke Desa."
"Oh boleh saja. Tapi kamu harus bayar sewa selama tiga tahun.!" Meng Lin tersenyum puas, lumayan ada pemasukan lagi.
"Apa? Kenapa harus bayar?" tanya Meng Ji terkejut dan marah. "Kamu tahukan, tidak bisa menyewa rumah pribadi, di luar sana penjagaan sangat ketat!"
"Tahu.. Kalau kamu tidak bayar, lebih baik dikosongkan saja!" kata Meng Lin dengan santai. Enak saja, mau tinggal gratis, dia saja bayar tinggal di rumahnya.
Meng Ji terdiam, dia menatap orang tuanya untuk meminta bantuan. Tapi orang tuanya hanya bisa menggeleng. Mereka tidak bisa melawan, penjagaan sangat ketat. Jika Meng Lin nekat melapor, semuanya akan runyam. Bahkan bisa kehilangan pekerjaan.
"Haaahh.. Baiklah.. Aku pulang dulu untuk berunding dengan istriku!" ucapnya dengan kesal dan pasrah.
"Hmm besok aku tunggu hasilnya..!" balas Meng Lin.
Meng Lin tidak terlalu bersikap kejam, karena mereka juga tidak pernah main fisik. Mereka hanya mengambil uang dan menjadikannya pembantu.
Jika mereka tidak melakukan itu, mungkin Meng Lin akan membiarkannya tinggal gratis selama dia pergi ke Desa. Tapi dengan sikap mereka yang tidak tahu balas budi, Meng Lin juga tidak ingin bersikap baik.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍