NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Dengan wajah pucatnya yang masih menyisakan lelah, Anya menatap Arhan. Matanya bertanya tanpa curiga, jernih meski kelelahan terlihat jelas di sana.

"Bicara apa Han emangnya?" tanya Anya.

Suara Anya pelan, tapi ada rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia masih duduk di kursi dekat meja, lily putih yang kelopaknya memar masih berada di depannya. Matanya menatap Arhan yang terlihat ragu untuk melanjutkan kalimat.

Arhan menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa berat di lidah, seperti ada yang menahan di tenggorokan.

"Tentang..." kata Arhan.

Kalimatnya menggantung di udara, tidak selesai. Kata keajaiban masih berputar di kepalanya sejak percakapan di dalam mobil tadi, membuatnya bingung harus mulai dari mana dan dengan kalimat seperti apa.

Belum selesai ia berbicara, Anya terlihat meringis. Alisnya bertaut, bibirnya terkatup menahan sesuatu yang tiba-tiba datang. Tangannya mencengkeram ujung kursi dengan kuat.

"Tunggu Han... Panggulku... Panggulku sakit lagi," kata Anya dengan suara tertahan.

Wajahnya yang tadi sudah pucat kini menegang. Napasnya berubah, tidak lagi teratur.

Arhan dengan sigap segera merangkul Anya dengan wajah yang khawatir. Kepanikan terlihat jelas di matanya.

"An... Anya," panggil Arhan. Suaranya naik, terdengar cemas.

Dengan wajah yang masih menahan sakit, Anya berkata dengan lirih.

"Tolong Han, bantu aku ke kamar," kata Anya.

Arhan segera berdiri, merangkul Anya, membantunya berdiri. Lengannya melingkar di punggung Anya, menopang tubuhnya yang terasa lebih ringan dari biasanya.

"Pelan aja An. Pelan biar nggak terlalu sakit," kata Arhan dengan suara lembut.

Anya tidak menjawab. Dia tengah berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang. Napasnya terputus, pelan namun berat.

Rasa sakit yang selalu datang, bahkan sebelum vonis Dokter Rendra itu dijatuhkan kepada Anya. Rasa sakit yang sudah ia kenal selama berbulan-bulan, yang datang tanpa permisi dan membuatnya tidak bisa berdiri tegak.

Arhan terlihat cemas, dengan pelan dia membantu Anya berjalan menuju kasur. Langkah mereka rapat dan hati-hati menuju kamar. Setiap langkah diatur agar tidak mengguncang tubuh Anya.

Kasur yang masih rapi pagi tadi kini menjadi tempat Anya berbaring kembali. Seprai putih itu masih wangi deterjen, masih terlipat rapi di ujung. Arhan membantu Anya duduk dulu di tepian kasur, lalu perlahan merebahkannya, memastikan bantal menopang punggungnya dengan posisi yang pas. Gerakannya hati-hati sekali, seolah Anya terbuat dari kaca yang sama rapuhnya seperti vas yang pecah tadi.

"Makasih ya Han. Maaf, aku kayaknya kecapean," ucap Anya, suaranya lirih hampir tidak terdengar.

Lalu Arhan menjawab dengan cepat.

"Nggak usah minta maaf sayang. Yaudah, kamu istirahat dulu ya," kata Arhan.

Anya mengangguk lemas, wajahnya yang tadinya sudah pucat detik itu terlihat lebih pucat lagi. Keringat tipis muncul di pelipisnya, membasahi rambut yang menempel di kulit.

Arhan mengusap kepala Anya dengan lembut. Rambut Anya yang tipis karena efek pengobatan, ia usap dengan pelan, seperti menenangkan anak kecil yang sedang demam.

Tidak menunggu lama, Anya pun tertidur. Napasnya akhirnya teratur kembali, meski masih terdengar berat dan sesekali tersendat. Mungkin rasa sakitnya mereda, atau tubuhnya yang sudah terlalu lelah memilih untuk menyerah pada tidur.

Arhan masih duduk di tepi kasur, menatap wajah istrinya yang pucat itu. Di bawah mata Anya ada lingkar tipis kehitaman, tanda malam-malam yang tidak pernah benar-benar nyenyak, tanda lelah yang menumpuk.

Arhan mengecup keningnya, lama. Ia menempelkan bibirnya di sana, berharap kecemasannya bisa berpindah, berharap rasa sakit itu bisa ia ambil alih.

Lalu ia keluar dari kamar, dan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar. Ia sengaja tidak menutupnya, agar bisa melihat Anya dari luar jika Anya terbangun atau memanggil. Cahaya dari ruang tengah ia biarkan masuk sedikit ke kamar, tidak terlalu terang, cukup untuk menemani agar kamar tidak gelap sepenuhnya.

Arhan duduk di kursi dekat meja makan. Meja yang tadi masih berantakan karena pecahan vas kini sudah bersih, hanya lily putih yang memar itu yang tersisa di atasnya. Arhan duduk di sana dengan punggung sedikit membungkuk, kedua sikunya bertumpu di atas meja.

Meja makan itu menjadi saksi banyak hal selama pernikahannya. Tempat Anya duduk sambil menatap jendela, tempat mereka makan berdua. Tempat mereka berpadu dalam canda dan kehangatan. Kini, hanya ada laptop yang menyala dan lily putih yang kelopaknya memar dan sedikit terkulai.

Ia menatap lily itu lama. Bunga yang tadi jatuh bersama vas kini terlihat rapuh. Sama seperti Anya. Sama seperti harapan yang ia genggam.

Pikiran Arhan kembali ke mobil tadi. Kata keajaiban dari Pak Hendra bukan kata yang biasa ia dengar. Ayah mertuanya adalah orang yang paling rasional yang ia kenal, bahkan lebih rasional dari Arhan.

Seorang pekerja keras yang selalu bicara dengan data dan logika. Jika dari mulutnya keluar kata keajaiban, itu artinya memang sudah tidak ada lagi jalan medis yang bisa ditempuh. Tidak ada lagi obat, tidak ada lagi terapi.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih kencang karena panik tadi. Dadanya terasa sesak.

Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena dingin, tapi karena sisa panik tadi masih tertinggal di ujung jarinya. Ia menyalakan laptopnya, berharap kesibukan bisa mengalihkan pikirannya dari rasa takut yang baru saja muncul.

Layar menyala, menampilkan naskah yang belum selesai sejak pagi. Kursor berkedip di tempat yang sama, menunggu kalimat selanjutnya.

Ia mencoba melanjutkan, tapi pikirannya kosong. Kata-kata tidak keluar. Yang ada di kepalanya hanya wajah Anya yang meringis tadi, dan kata keajaiban dari Pak Hendra yang terus berputar tanpa henti. Dua hal itu bertabrakan di kepalanya, membuatnya tidak bisa menulis satu kalimat pun dengan benar.

Saat akan melanjutkan naskahnya, ponselnya yang berada di saku celananya berdering. Getarannya membuat meja sedikit bergetar dan mengejutkan Arhan.

Arhan terkejut. Ia merogoh saku dengan cepat, melihat layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuat bahunya menegang seketika.

Ayah.

Panggilan itu dari Ayahnya. Sudah lama ia tidak menelepon, sudah berbulan-bulan tidak ada kabar.

Arhan menoleh ke arah kamar, Anya masih terlelap. Selimut menutupi tubuhnya sampai dada, naik turun dengan ritme napas yang pelan. Arhan tidak ingin membangunkannya, tidak ingin suara keras apa pun masuk ke dalam tidur singkat yang baru saja Anya dapatkan. Tidur itu terlalu berharga.

Lalu Arhan pun mengangkat panggilan itu dengan suara pelan, hampir berbisik.

"Halo, Ayah. Ada apa Ayah telepon?" kata Arhan.

Wajah Arhan terlihat cemas. Cemas yang berbeda saat melihat Anya terbaring. Jika cemas pada Anya adalah cemas karena cinta yang begitu besar, maka cemas pada ayahnya adalah cemas karena luka lama yang belum sembuh. Cemas yang sudah ia kenal sejak kecil, sejak ia berusaha keras untuk dianggap cukup tetapi selalu gagal.

Lalu di balik ponselnya, terdengar suara yang cukup lantang, bahkan tanpa pengeras suara pun terdengar jelas di ruangan yang sepi itu.

"Arhan! Mau sampai kapan kamu merawat istrimu yang penyakitan itu?"

Kalimat itu jatuh begitu saja, keras dan tanpa jeda. Tidak ada sapaan, tidak ada tanya kabar. Langsung menghakimi, langsung menusuk.

Arhan terdiam. Tangannya yang memegang ponsel mengencang. Matanya melirik ke arah kamar, memastikan suara itu tidak membangunkan Anya.

Di dalam dadanya, dua rasa cemas itu kini bertemu menjadi satu: cemas pada istri yang tertidur pucat di dalam kamar, dan cemas pada ayah yang suaranya masih bisa membuatnya merasa sangat kecil, bahkan di usianya yang sudah dewasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!