Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Suasana di dalam ruang kerja mewah itu mendadak terasa begitu sunyi dan mencekam.
Monitor portabel kecil di samping brandar masih memancarkan bunyi detak jantung yang stabil dan teratur.
Beep... beep... beeep...
Clara Wijaya masih berdiri membeku di dekat lantai dengan manik mata yang tidak berkedip menatap Arka.
Pikiran wanita cantik itu benar-benar kosong total, tidak mampu mencerna apa yang baru saja disaksikan matanya.
"Bagaimana... bagaimana mungkin kamu bisa melakukannya dalam waktu secepat itu..." bisik Clara dengan suara bergetar lemah.
Arka tidak langsung menjawab pertanyaan dari wanita di depannya tersebut.
Ia perlahan-lahan mencabut ketiga jarum perak yang tertancap di titik akupunktur dada Kakek Wijaya dengan sangat hati-hati.
"Sudah selesai," ucap Arka dengan nada suara datar yang kembali terdengar polos.
"Pasien tinggal dibiarkan istirahat sebentar lagi juga pasti bangun."
Mendengar suara Arka yang kembali terdengar dungu, Clara merasa ada sesuatu yang tidak sinkron di dalam otaknya.
Pria yang berdiri di hadapannya sekarang ini sama persis dengan tukang pel bodoh yang tadi pagi ia caci maki di lobi rumah sakit.
Namun, cara pria itu bergerak menyelamatkan nyawa kakeknya tadi sama sekali bukan ciri-ciri orang bodoh.
Gerakannya sangat presisi, penuh perhitungan mutlak, dan menunjukkan keahlian medis tingkat dewa yang tidak dimiliki oleh profesor spesialis mana pun.
"Arka... kamu sebenarnya sedang mempermainkan aku, ya?" tanya Clara dengan nada suara tercekat di tenggorokan.
Arka mendongakkan kepalanya lalu menyengir lebar dengan gaya khas seorang pria linglung.
"Eh? Mempermainkan apa, Nona? Saya kan cuma ikutan perintah perawat buat datang ke sini," jawab Arka polos.
Sebelum Clara sempat melanjutkan pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara batuk kecil dari atas brandar.
Uhuk... uhuk...
Kedua kelopak mata Kakek Wijaya perlahan-lahan mulai bergerak terbuka.
"Kakek!" seru Clara histeris sambil langsung melompat mendekati brandar tempat tidur darurat tersebut.
Ia menggenggam kedua tangan pria tua renta itu dengan air mata yang kembali tulus menetes membasahi pipinya.
Kakek Wijaya mengerjap-nerjap pelan menyesuaikan cahaya lampu ruangan yang menyilaukan matanya.
"Clara... kenapa kamu menangis separah itu..." bisik Kakek Wijaya dengan suara serak dan lemah.
"Aku takut sekali kehilangan kakek..." isak Clara sambil mendekatkan wajahnya ke tangan sang kakek.
"Tadi... tadi kakek tiba-tiba ambruk dan tidak bernapas..."
Kakek Wijaya menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mewah tersebut.
Pandangan mata pria tua itu akhirnya berhenti tepat pada sosok pemuda berseragam sederhana yang berdiri di samping sudut ruangan.
Begitu melihat Arka, bibir Kakek Wijaya langsung tersenyum lebar penuh rasa terima kasih.
"Ah... Dokter Arka... akhirnya Anda datang juga tepat waktu," ucap Kakek Wijaya dengan nada lega.
Mendengar panggilan hormat yang diucapkan oleh kakeknya, bola mata Clara kembali melotot lebar untuk kesekian kalinya.
"Dokter... Dokter Arka?!" ulang Clara dengan nada suara melengking tinggi penuh kebingungan.
"Kakek, apa kakek sudah salah minum obat? Kenapa kakek memanggil tukang pel rumah sakit ini dengan sebutan dokter?!"
Kakek Wijaya menoleh tajam ke arah cucunya dengan tatapan tidak suka mendengar nada bicara tersebut.
"Clara! Jaga mulut lancangmu itu!" bentak Kakek Wijaya dengan suara tegas meskipun masih sedikit parah.
Clara terperanjat kaget mendengar bentakan keras dari kakeknya yang sangat menyayanginya itu.
"Tapi kakek... dia itu..." protes Clara sambil menunjuk ke arah Arka dengan jari yang bergetar.
"Dia adalah penyelamat hidup kakek, sekaligus pria yang sudah kakek pilih untuk menjadi suami masa depanmu!" potong Kakek Wijaya tanpa ragu-ragu.
"Suami masa depan..." gumam Clara dengan kepala terasa semakin pusing berputar.
"Kakek pasti sudah gila! Dia kan cuma petugas kebersihan rendahan yang kerjaannya membersihkan lantai kotor!"
Kakek Wijaya mendengus kesal lalu berusaha bangkit dari posisinya dibantu oleh para pelayan yang segera mendekat.
"Bodoh! Kamu benar-benar cucu yang tidak tahu diuntung!" maki Kakek Wijaya kepada Clara.
"Beliau adalah dokter jenius lulusan luar negeri yang sengaja menyamar untuk menguji kebusukan para petinggi di rumah sakit kita sendiri!"
Clara tertegun membeku di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Seluruh informasi mengejutkan itu menghantam kepalanya bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Pria dungu yang tadi pagi ia injak-injak harga dirinya di lobi rumah sakit ternyata adalah seorang dokter jenius pilihan sang kakek.
Bahkan, pria itu jugalah yang baru saja menyelamatkan nyawa kakeknya dari ambang kematian dalam waktu beberapa detik saja.
Clara perlahan-lahan menolehkan kepalanya ke arah Arka dengan perasaan bersalah, malu, dan bingung yang bercampur aduk menjadi satu.
Arka berdiri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana kerjanya, memasang senyum tipis yang terlihat sangat misterius.
"Maaf ya, Nona Clara," ucap Arka dengan nada suara santai yang tidak lagi terdengar bodoh.
"Sepertinya kesan pertama saya di matamu benar-benar sangat buruk hari ini."
Wajah cantik Clara langsung merona merah padam menahan rasa malu yang teramat sangat di hadapan pria tersebut.
Ia teringat kembali semua ucapan kasarnya, hinaannya, dan ancaman yang ia berikan kepada Arka di lobi rumah sakit tadi pagi.
Jika Arka mau, pria itu bisa saja membiarkan kakeknya mati di tempat tadi sebagai balasan atas penghinaan tersebut.
Namun, Arka tetap datang dan menyelamatkan nyawanya tanpa pamrih sedikit pun.
"Aku... aku minta maaf..." cicit Clara dengan suara sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh telinga.
"Suara apa itu? Saya tidak dengar, Nona," ujar Arka sengaja menggoda sambil mendekatkan telinganya dengan gaya jenaka.
Clara menggigit bibir bawahnya erat-erat karena merasa sedang dikerjai habis-habisan oleh Arka.
"Aku bilang, aku minta maaf atas semua perlakuanku tadi pagi!" ucap Clara dengan nada agak keras karena kesal.
[Sistem Mendeteksi Penurunan Arogan Tokoh Clara Wijaya Sebesar 50 Persen]
[Peluang Membuka Jalur Pendekatan Harem Tahap Awal Meningkat Tajam]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.
Arka tersenyum lebar mendengar laporan sistem yang berjalan sesuai dengan rencana besarnya.
"Permintaan maaf diterima dengan baik, Nona calon istri," jawab Arka sambil mengedipkan sebelah matanya pelan.
Clara mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya karena tidak tahan melihat senyuman menyebalkan namun mempesona itu.
Kakek Wijaya yang melihat interaksi cucunya dengan Arka tertawa kecil penuh kepuasan di atas brandar.
"Sudahlah, kalian berdua tidak usah bertengkar terus," kata Kakek Wijaya menengahi.
"Dokter Arka, terima kasih banyak karena sekali lagi Anda telah menyelamatkan nyawa orang tua renta ini."
Arka membungkukkan sedikit badannya menghormati sang kakek.
"Sudah menjadi tugas saya, Tuan Wijaya," jawab Arka sopan.
"Kondisi jantung kakek sudah stabil, tapi untuk pemulihan total butuh istirahat total selama beberapa hari ke depan."
Kakek Wijaya mengangguk pelan menyetujui saran medis dari Arka.
"Clara, antar Dokter Arka kembali ke rumah sakit sekarang juga dengan mobil pribadimu," perintah Kakek Wijaya kepada cucunya.
"Hah?! Aku harus mengantar dia?!" protes Clara dengan mata melotot tidak terima.
"Tentu saja! Tidak mungkin kamu membiarkan calon suamimu pulang naik angkutan umum setelah menyelamatkan nyawa kakekmu!" tegas Kakek Wijaya mutlak.
Clara tidak berani membantah perintah kakeknya yang sudah kembali tegas.
Ia melirik tajam ke arah Arka yang berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah... kakek menang," gerutu Clara dengan nada pasrah.
Mereka berdua akhirnya berjalan berdampingan keluar dari ruang kerja menuju halaman depan kediaman utama.
Mobil mewah Clara sudah terparkir rapi menunggu di depan teras utama rumah.
Pak Joko sang sopir pribadi membukakan pintu mobil dengan wajah heran melihat nona mudanya berjalan bersama sang petugas kebersihan.
"Silakan masuk, Dokter Arka," ucap Clara dengan nada suara yang masih sedikit ketus namun jauh lebih lunak dari sebelumnya.
Arka masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC dingin dengan sangat tenang.
Clara menyusul duduk di sebelah Arka, memberikan jarak beberapa sentimeter di antara mereka berdua.
Mobil mewah itu perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah megah menuju arah Rumah Sakit Medika Sentosa.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara berbicara.
Clara terus mencuri-curi pandang ke arah profil wajah Arka dari balik kaca jendela mobil.
Pria di sebelah nya ini benar-benar menyimpan sejuta misteri besar yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
Dan di dalam hati kecil Clara yang paling dalam, rasa benci yang tadinya memenuhi dadanya kini perlahan-lahan mulai berganti dengan rasa penasaran yang teramat besar.