Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Saat motor matic milik Aini tiba didepan rumah orang tuanya, ia terkejut melihat sebuah mobil terparkir didepannya
Ia mengenal baik siapa pemilik kendaraan roda empat ini, dengan amarah yang ada didalam hatinya, Aini turun dan melangkah masuk kedalam rumah
Amarah yang sudah sangat meluap terpaksa ia pendam karena Aini disambut oleh senyum putri kecilnya
"Kasih" Aini melangkah cepat, memeluk gadis kecil itu dengan erat. Seolah ia ingin meluapkan segala kerinduan yang ada dihatinya ini
"Kasih" Aini menangkup kedua pipi putrinya lalu menghujaninya dengan kecupan
"Bu" Aini tersenyum haru, panggilan itu memang belum sempurna namun terdengar begitu menenangkan
"Iya sayang, ini ibu" Aini kembali mengecup wajah putrinya lalu memeluknya
Andra melihat semuanya, ia sedikit merasa menang. Mungkin dengan mempertemukan Aini dan Kasih membuat wanita yang ini memutuskan untuk kembali padanya
"Kasih demam karena sangat merindukan ibunya" Ucapan Andra mengejutkan Aini
Ia menyentuh wajah putrinya dan memang terasa sedikit panas
"Kenapa bisa sakit? Apa kamu tidak bisa merawat anak?" Tanya Aini dengan penuh amarah
"Dia merindukan ibunya, jika kamu masih sayang sama Kasih, kembalilah kerumah, lalu kembali menjadi istriku"
"Apa?" Aini tidak percaya, mudah saja Andra mengatakan semua itu, harusnya ia sadar apa kesalahannya dan malu meminta semua itu "Itu tidak akan pernah terjadi"
"Kenapa kamu sangat keras kepala Aini, aku janji akan bersikap adil, kamu dan Sarah akan mendapatkan hak yang sama" Ujar Andra meyakinkan wanita itu
"Oh ya? Apa kamu lupa saat kamu menjalin hubungan dengan wanita itu, aku bahkan harus berhemat untuk keperluan rumah, itu yang kamu bilang adil?"
Sudahlah, Aini sudah muak untuk bertengkar, terlebih disini ada putrinya. Ka tidak ingin anak menjadi korban dari pertengkaran orang tuanya
"Biarkan Kasih disini malam ini"
"Tidak bisa"
"Mas, aku mohon!" Aini memelas "Dia sedang sakit, aku hanya minta setidaknya sampai dia sembuh"
"Kenapa kamu keras kepala, dek. Kamu bisa bersama Kasih selamanya jika kamu mau sedikit saja mengalah" Andra tidak akan bosan membujuk istrinya ini
"Apa kamu mau menceraikan Sarah?" Pertanyaan yang membuat Andra terdiam. Ia mencintai Aini tapi juga tidak ingin kehilangan Sarah, terlebih mereka baru saja dikaruniai seorang putra
"Aku sudah tau jawabannya"
Andra diam sejenak "Aku akan menceraikan Sarah, asalkan kamu mau kembali sama aku" Ucapnya dengan sangat yakin
"Kamu yakin?"
"Aku akan menceraikan Sarah, tapi sebelum itu, kamu bersedia rujuk dengan aku"
Aini tertawa sumbang, sungguh ia tidak menyangka jika suaminya akan menjawab seperti itu. Dengan sangat percaya dirinya Andra mengatakan semua itu
"Lalu kamu ingin aku yang merawat anak hasil selingkuh kamu itu? Aku gak sudi, mas"
Aini menyadari kesalahannya, harusnya ia tidak bicara seperti itu karena disini ada putrinya yang masih kecil
"Maafkan ibu yaa nak"
"Baiklah, kamu bisa bersama Kasih sampai dia sembuh, setelah itu aku akan membawa dia lagi" Ujar Andra lalu meninggalkan rumah sang mantan istri
"Kasih sakit yaa sayang" Aini mengusap kepala putrinya "Kasih sabar yaa, nanti kalau ibu sudah ada uang, kita bisa bersama selamanya" Aini mengusap pipinya
"Sebaiknya kamu bawa Kasih kekamar, nak! Kasian dia lagi demam" Titah Dedi
"Iya pak" Aini menggendong putrinya kedalam kamar, ia duduk kan Kasih diujung tempat tidur
"Kasih ganti baju dulu yaa" Bayi satu tahun itu tertawa saat sang ibu menggelitik perutnya
Senyum diwajah Aini menghilang saat melihat tubuh sang putri yang terdapat memar dan merah
Tadi memang tidak terlihat karena Kasih menggunakan jaket, bukan hanya satu, bekasnya ada dibeberapa tempat seperti lengan, punggung, bahkan perut nya
"Ya Allah nak, siapa yang melakukan ini" Aini mengusap bekas memar itu, hatinya terluka melihat putri kesayangannya diperlakukan seperti ini, ia tahu ini adalah bekas cubitan
"Ibu tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti kamu nak" Aini memeluk tubuh mungil putrinya, Air matanya menetes saat membayangkan bagaimana putrinya dirumah itu
Sementara itu dikediaman besar keluarga Kusuma, Karina tidak mengerti apa yang membuat sang cucu sedih, bahkan Melody tidak ingin keluar kamar sejak pulang sekolah
"Belum keluar juga?" Tanya Tristan pada sang ibu
"Belum, Mama khawatir sayang" Ujar Karina dengan wajah cemas
"Biar aku yang bicara" Tristan berdiri didepan pintu kamar putrinya lalu mengetuk "Sayang, ini Papa! Buka pintunya yuk!"
Terdengar suara kunci yang diputar, lalu tak lama pintu terbuka menampilkan gadis kecil dengan manik yang dipenuhi cairan bening
"Hey, ada apa? Kenapa princess nya Papa sedih?" Tristan mengusap pipi gembul putrinya "Ada apa sayang?"
"Aku mau punya Mama" Melody kembali menangis
"Kenapa tiba-tiba, selama ini Melody bahagia kan?" Tristan harus berucap lembut agar tidak melukai putrinya
"Tapi Melody ingin ibu guru Aini jadi Mama nya Melody, jangan sampai jadi Mama nya Bisma"
Tristan tidak mengerti, apa anak sekolah sekarang berebut seorang guru untuk dijadikan sebagai ibu
"Tapi belum tentu kan, ibu guru Aini mau sama Papa"
"Papa harus seperti Papa nya Bisma, Papa nya Bisma selalu bawa bunga untuk ibu guru"
"Apa sekolah sekarang menjadi tempat untuk pacaran?" Tristan tidak mengerti
"Mama mau bicara sama kamu Tristan!" Pria tampan itu menatap sang ibu "Melody tenang yaa sayang, Oma janji kalau ibu guru Aini akan jadi Mama nya Melody bukan Mama nya Bisma"
Melody menghapus air mata di pipinya "Oma serius kan? Ibu guru Aini akan jadi Mama aku"
Karina tersenyum lalu mengangguk "Iya sayang, sekarang Melody kembali kekamar, bibi akan bawain makan malam ke kamar kamu"
"Iya Oma"
Pasangan ibu dan anak itu sudah berada diruang tengah, Karina duduk berhadapan dengan putra semata wayangnya itu
"Kamu bisa lihat sendiri bagaimana kesedihan Melody, kan? Apa kamu tidak bisa menuruti keinginannya?" Karina memasang wajah memelas berharap sang putra luluh
"Bagaimana jika wanita itu tidak sebaik yang Mama dan Melody lihat selama ini? Bagaimana jika dia sama saja dengan perempuan-perempuan yang selama ini Mama perkenalkan dengan aku"
"Jika Aini bukan wanita yang tepat, maka Mama tidak akan pernah memaksa kamu untuk menikah lagi dengan perempuan manapun" Karina mengatakannya dengan penuh keyakinan
"Mama serius kan? Mama tidak akan berbohong?"
"Mama serius, kamu bersedia?" Tanya Karina dengan wajah penuh pengharapan "Jika kamu bersedia, Mama akan bicara dengan Aini"
"Aku akan atur pertemuan dengan wanita itu" Ujar Tristan pada akhirnya
"Terima kasih sayang, setidaknya kamu melakukan ini demi putrimu" Karina tersenyum pada putranya itu
Tristan tidak menjawab, ia akan melakukan pertemuan ini. Ia akan lihat sampai dimana sang ibu tidak lagi memaksa
"Aku akan membuat Mama sendiri yang melarang aku menikahi wanita itu"
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik