Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Mama jangan menangis
"Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kamu dan Arhan, Nak," jawab Nyonya Sari akhirnya. Suaranya terdengar lembut, tetapi ada kesungguhan yang begitu jelas di dalamnya. "Namun, Ibu ingin kamu mengingat satu hal. Menjadi seorang istri bukan berarti kamu harus selalu mengalah, begitu juga menjadi seorang ibu bukan berarti kamu harus mengorbankan seluruh perasaanmu demi orang lain."
Nadira perlahan mengangkat wajahnya.
"Ibu mengerti bahwa dalam rumah tangga, kita memang harus belajar bersabar, memahami pasangan, dan menerima kekurangan satu sama lain. Tidak ada pernikahan yang selalu berjalan mulus. Akan ada saatnya kamu harus mengalah, begitu juga Arhan. Kalian berdua harus belajar melakukan itu bersama-sama."
Wanita paruh baya itu mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut.
"Tapi, kalau hanya kamu yang terus mengalah, sementara suamimu tidak pernah berusaha memahami perasaanmu, lalu sampai kapan kamu bisa bertahan seperti itu?"
Pertanyaan tersebut membuat Nadira terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan sampai kapan dirinya sanggup bertahan. Selama ini, ia hanya menjalani hari demi hari dengan harapan bahwa suatu saat Arhan akan menyadari segala pengorbanannya.
Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa suaminya hanya sedang lelah, sedang banyak
pikiran, atau belum bisa memahami bagaimana seharusnya memperlakukan seorang istri.
Setiap kali merasa kecewa, Nadira selalu mencari alasan untuk memaklumi sikap Arhan.. Setiap kali hatinya terluka, ia berusaha meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah bagian dari kehidupan rumah tangga.
Namun, semakin lama ia bertahan, semakin ia menyadari bahwa dirinya justru semakin kehilangan kebahagiaan yang dahulu begitu ia impikan ketika memutuskan untuk menikah.
"Aku juga tidak tahu, Bu," jawab Nadira lirih.
Senyuman yang sejak tadi dipaksakannya perlahan menghilang. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku selalu berpikir kalau aku cukup sabar, semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir kalau aku terus berusaha memahami Arhan dan keluarganya, suatu hari mereka juga akan melakukan hal yang sama kepadaku."
Nadira menarik napas panjang. Namun, bukannya merasa lebih lega, dadanya justru semakin sesak ketika ia mulai mengingat berbagai kejadian yang selama ini berusaha dilupakannya.
"Aku tidak pernah meminta Arhan untuk memilih antara aku dan keluarganya. Aku juga tidak pernah ingin memisahkannya dari orang-orang yang sudah membesarkannya. Aku tahu dia punya tanggung jawab kepada orang tuanya, dan aku tidak pernah keberatan dengan itu."
Ia mengusap sudut matanya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Tapi, Bu, aku juga istrinya. Aku juga ingin diperhatikan. Aku ingin pendapatku didengar, perasaanku dipertimbangkan, dan keberadaanku dihargai. Apa salahnya kalau sesekali aku ingin didahulukan oleh suamiku sendiri?"
Nyonya Sari merasakan dadanya menghangat sekaligus perih mendengar perkataan putrinya. Ia tidak menyangka Nadira menyimpan begitu banyak keinginan sederhana yang selama ini bahkan tidak berani diungkapkan secara terang-terangan.
Padahal, bukankah hal-hal seperti itulah yang seharusnya bisa didapatkan seseorang dari pasangannya? Nadira tidak meminta kemewahan. Ia tidak menuntut kehidupan yang sempurna. Ia hanya ingin diperlakukan sebagai seseorang yang juga memiliki perasaan, seseorang yang keberadaannya berarti bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun, mengapa hal sesederhana itu justru terasa begitu sulit baginya?
"Nak, lihat Ibu," ujar Nyonya Sari pelan.
Nadira mengangkat wajahnya dengan mata yang mulai memerah.
"Sejak kamu kecil, Ibu selalu mengajarkanmu untuk menghormati orang lain, tidak bersikap egois, dan berusaha memahami keadaan orang-orang di sekitarmu. Ibu bangga karena kamu tumbuh menjadi perempuan yang peduli terhadap keluarga. Tapi, sepertinya ada satu hal yang lupa Ibu ajarkan kepadamu."
Nadira mengernyitkan dahi. "Apa itu, Bu?"
"Bahwa kamu juga harus belajar menghargai dirimu sendiri."
Nadira terdiam. Nyonya Sari tersenyum tipis, kemudian mengusap pipi putrinya yang mulai basah oleh air mata.
"Kamu boleh menjadi istri yang baik. Kamu boleh menjadi menantu yang menghormati keluarga suamimu. Kamu juga boleh menjadi ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anakmu. Tapi, kamu tetap seorang manusia yang memiliki perasaan, Nak. Kamu bisa lelah, kamu bisa kecewa, dan kamu berhak merasa sedih ketika seseorang menyakitimu."
Air mata Nadira akhirnya jatuh. Ia segera menundukkan wajahnya, mencoba menghapus air mata tersebut sebelum ibunya menyadari betapa rapuh dirinya saat ini. Namun, usahanya sia-sia. Semakin ia berusaha menahan tangis, semakin sulit pula baginya untuk mengendalikan perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya.
Sang ibu tidak mendesaknya untuk segera berbicara. Ia hanya menggeser duduknya lebih dekat, kemudian merangkul bahu putrinya dengan penuh kasih sayang.
Dalam pelukan itu, Nadira akhirnya membiarkan dirinya menangis. Tangisannya tidak terdengar keras. Ia hanya terisak pelan, seolah-olah masih berusaha menjaga agar kesedihannya tidak mengganggu orang lain. Bahkan ketika sedang menangis di hadapan ibunya sendiri, Nadira masih terlihat berusaha mengendalikan diri.
Pemandangan itu membuat hati sang ibu semakin pilu. Sari segera mengelu punggung putrinya dengan lembut, ia tahu putrinya itu sudah terlanjur lelah dengan suaminya. Ditambah ia baru tahu kalau keluarga dari Arhan tidak pernah menganggap Nadira dan Naya sama seperti keluarga yang lain.
"Kalau mereka tidak peduli denganmu dan Naya, lebih baik kamu cerai saja. Ibu dan ayah akan menggunakan pengacara terkenal untuk membuat Arhan dan keluarganya itu tidak menerima sedikit pun hartamu."
Nadira mendongakkan pandangannya, ia menatap ibunya dengan tatapan berkaca kaca.
" Nadira boleh cerai sama Arhan ma? " tanyanya, pelan.
Sari segera mengangguk,"Ibu tidak suka anak ibu diperlakukan semena mena," ujarnya.
Naya yang sedari tadi menatap ibunya dan mendengarkan percakapan ibunya dan neneknya segera berlari ke arah Nadira, tangan kecilnya segera meraih tangan sang ibu.
"Mama, jika papa membuat mama sedih, lebih baik mama tinggalkan saja. Naya tidak apa apa jika punya papa lagi, asal mama bisa bahagia dan tidak disakiti nenek dan papa lagi," ujarnya, polos.
Nadira membeku mendengar perkataan putrinya. Ia menatap Naya yang kini berdiri di hadapannya sambil menggenggam tangannya erat-erat. Wajah polos gadis kecil itu tampak begitu serius, seolah-olah ia benar-benar memahami arti dari setiap kata yang baru saja diucapkannya.
Namun, justru itulah yang membuat hati Nadira terasa semakin sakit.
Naya masih begitu kecil. Seharusnya, anak seusianya hanya perlu memikirkan permainan, makanan kesukaan, atau cerita sebelum tidur. Seharusnya, ia tidak perlu memikirkan apakah ibunya bahagia atau tidak, apalagi sampai merasa harus mengorbankan keinginannya sendiri demi melihat Nadira tersenyum.
"Naya, Sayang ...." Suara Nadira terdengar bergetar.
Ia segera merentangkan kedua tangannya, mengundang putrinya untuk mendekat. Tanpa menunggu lebih lama, Naya langsung naik ke pangkuannya, kemudian memeluk leher sang ibu dengan erat. Nadira membenamkan wajahnya di bahu kecil itu. Air matanya kembali mengalir, membasahi pakaian putrinya.
"Maafkan Mama, Sayang," bisiknya lirih.
Naya menggeleng kecil. "Kenapa Mama minta maaf?"
Nadira tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap punggung putrinya berulang kali, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali berbicara.
"Karena Mama belum bisa membuat Naya bahagia."
Naya segera menjauhkan wajahnya, lalu menatap sang ibu dengan kedua mata yang membulat.
"Naya bahagia sama Mama." Jawaban polos itu membuat Nadira terdiam.
"Kalau sama Mama, Naya bisa main, bisa tidur sama Mama, bisa dipeluk Mama. Naya juga suka kalau Mama bacain cerita sebelum tidur." Gadis kecil itu mengangkat tangannya, mengusap pipi Nadira yang basah oleh air mata. "Jadi, Mama jangan sedih lagi, ya?"
Nadira menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang kembali mendesak keluar. Bagaimana mungkin ia tidak merasa hancur mendengar semua itu?
Selama ini, ia selalu berusaha mempertahankan rumah tangganya karena memikirkan kebahagiaan Naya. Ia takut putrinya kehilangan sosok ayah, takut Naya tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab, dan takut suatu hari nanti anak itu menyalahkannya karena tidak mampu mempertahankan pernikahannya.
Namun, sekarang, anak yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan justru mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan jika harus memiliki ayah baru, asalkan sang ibu tidak lagi disakiti.
"Naya lebih suka bersama mama dibanding bersama ayah yang selalu menyayangi adik Arkan."
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡