NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Perangkap Kebenaran

Kepulan asap hitam dan bunyi gemerincing pecahan kaca di lobi bawah menyebarkan gelombang ketakutan yang mencekam di seluruh sudut kediaman Ardiansyah. Namun, di tengah situasi kacau tersebut, Gavin tidak sedikit pun menunjukkan rasa panik. Sorot matanya tetap dingin dan tajam, bagaikan seorang kapten yang telah memperhitungkan arah angin sebelum badai menerjang.

"Naya, tetap di atas bersama Pak Danu!" teriak Gavin penuh wibawa.

Sebelum orang-orang berpakaian hitam yang menerobos masuk sempat melangkah lebih jauh ke area tengah rumah, sirene meraung keras dari luar gerbang utama. Lampu kilat biru dan merah berputar-putar membelah kegelapan malam, memantul di kaca-kaca jendela yang pecah.

Beberapa unit mobil kepolisian bersama regu penindak khusus mengepung halaman depan. Langkah kaki bersepatu lars menggema keras membelah lorong, disusul seruan tegas dari AKP Rian, kepala unit kejahatan terorganisir yang telah bekerja sama secara rahasia dengan Gavin selama dua bulan terakhir.

"Kepolisian! Lepaskan senjata dan angkat tangan kalian!"

Orang-orang suruhan Eleanor tertegun. Mereka terperangkap. Serangan malam yang mereka rancang untuk mengintimidasi dan merebut dokumen rahasia di rumah Gavin ternyata telah diantisipasi sepenuhnya. Gavin tak pernah membiarkan kediamannya tanpa pengawasan sejak ia menyadari gerak-gerik Eleanor yang makin terdesak. Serangan fisik malam itu hanyalah pemicu utama yang ditunggu kepolisian untuk membekuk komplotan eksekutor lapangan milik Eleanor secara langsung atas tindak pidana terorisme dan pengrusakan.

Di tengah riuhnya proses penangkapan para penyusup di lantai bawah, Gavin menaiki tangga dengan langkah cepat. Ia menghampiri Naya yang berdiri mendekap dadanya yang berdegup kencang.

"Kamu tidak apa-apa, Naya?" tanya Gavin seraya merengkuh jemari istrinya yang dingin.

Naya menggeleng pelan, napasnya perlahan mulai teratur saat melihat petugas kepolisian telah mengamankan situasi. "Aku tidak apa-apa, Gavin... Tapi, apakah ini bagian dari rencanamu?"

Gavin menatap Naya dengan ketulusan yang pekat. "Ini baru awal, Naya. Eleanor berpikir dia bisa memegang kendali dengan menyebarkan ancaman dan terror. Tapi malam ini, kita yang memegang kendali atas takdirnya."

Tiga hari kemudian.

Gedung Polda Metro Jaya berdiri megah di bawah terik matahari siang. Di dalam sebuah ruang interogasi khusus yang berdinding kedap suara dan berpendingin udara dingin, Eleanor Ardiansyah duduk dengan keanggunan palsunya yang tersisa. Wanita paruh baya berpenampilan glamor itu menyilangkan kakinya, menatap sinis ke arah tim penyidik dan pengacara senior Ardiansyah Group yang duduk di seberang meja.

"Ini konyol," dengus Eleanor dengan senyum remeh, membetulkan letak selendang sutranya. "Kalian menahanku hanya karena tuduhan bohong dari preman-preman pasar yang kalian tangkap di rumah Gavin? Saya tidak ada hubungannya dengan penyerangan itu. Pengacara saya akan memastikan kalian semua dipecat sebelum matahari terbenam."

Pintu ruang interogasi terbuka perlahan.

Gavin melangkah masuk dengan tenang, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Di belakangnya, Naya berjalan mendampingi—mengenakan gamis marun elegan dan hijab senada. Wajah Naya yang bersahaja tidak lagi memancarkan ketakutan atau keraguan; ada keteguhan luar biasa yang terpancar dari binar matanya.

Eleanor menoleh, dan senyum sinisnya makin lebar saat melihat sosok Naya.

"Oh, lihat siapa yang datang," sindir Eleanor dengan nada menyengat. "Gavin dan istri kecilnya yang penuh kebohongan. Mengapa kamu membawa wanita pembohong ini ke sini, Gavin? Apakah kamu membawanya untuk menyaksikan bagaimana imperium bisnismu runtuh setelah rahasia pernikahan palsu kalian aku bongkar?"

Gavin tidak membalas sindiran itu. Ia menarikkan kursi untuk Naya, lalu duduk di samping istrinya. AKP Rian yang memimpin interogasi meletakkan sebuah berkas tebal bersampul merah di atas meja kaca.

"Nyonya Eleanor," buka AKP Rian dengan suara berat dan datar. "Kami berada di sini bukan untuk membahas tuduhan penyerangan rumah Saudara Gavin semata. Tuduhan itu sudah memiliki cukup bukti saksi dan aliran dana dari rekening cangkang milik Anda. Namun hari ini, kami melimpahkan berkas perkara baru yang jauh lebih berat."

Eleanor tertawa kecil, meski ada guratan ketegangan yang mulai muncul di sudut matanya. "Berkas baru? Jangan membual. Kalian tidak punya apa-apa untuk menjatuhkan saya."

Gavin memajukan tubuhnya, menatap Eleanor dengan pandangan sedingin es. "Bagaimana dengan berkas pembunuhan berencana lima tahun lalu, Eleanor? Kasus tabrak lari di Jalan Sudirman yang menewaskan seorang wanita bernama Rahmi?"

Kata 'Rahmi' bergema di dalam ruangan itu bagaikan dentang lonceng kematian.

Raut wajah Eleanor berubah drastis dalam sekejap. Senyum meremehkannya luntur seketika. Rona merah di pipinya memudar, digantikan oleh kepucatan nyata yang menyergap seluruh wajahnya. Tangannya yang dipenuhi perhiasan mahal tampak bergetar pelan di atas meja.

"A-apa yang kamu bicarakan...?" gagap Eleanor, berusaha keras menjaga intonasi suaranya agar tidak pecah. "Saya tidak kenal siapa itu Rahmi! Itu kasus tabrak lari biasa yang sudah ditutup polisi lima tahun lalu!"

"Kasus itu ditutup karena Anda menyuap oknum penyidik saat itu dan menghilangkan rekaman CCTV," potong AKP Rian tegas. "Namun, tiga minggu lalu, tim forensik digital bersama kepolisian berhasil memulihkan server cadangan dari area parkir gedung kediaman Anda lima tahun lalu. Di dalamnya tercatat jelas kendaraan operasional atas nama yayasan Anda membuntut mobil korban hanya sepuluh menit sebelum kejadian."

AKP Rian kemudian memutar sebuah rekaman audio digital yang diputar melalui pengeras suara ruangan.

“Pastikan wanita pembantu itu tidak pernah sampai ke kantor polisi. Dia sudah mendengar terlalu banyak tentang rapat saham Ardiansyah Group. Buat terlihat seperti kecelakaan murni.”

Suara tajam di dalam rekaman itu adalah suara Eleanor lima tahun lalu—dingin, tanpa belas kasihan, dan penuh dengan niat membunuh.

Eleanor tersentak mundur di kursinya, matanya terbelalak menatap pita rekaman di meja dengan ketakutan yang teramat sangat. Napasnya mulai tersengal-sengal. "Ti-tidak... Itu... itu suara rekayasa AI! Kalian menjebakku! Gavin, kamu merekayasa ini semua!"

"Itu bukan suara rekayasa, Eleanor," sela Naya. Suaranya tidak keras, namun mengandung bobot emosi yang sanggup meremukkan dinding kesombongan Eleanor.

Eleanor menoleh tajam ke arah Naya. "Tutup mulutmu, wanita tidak tahu diri! Kamu cuma alat yang dimanfaatkan Gavin! Kamu tidak tahu apa-apa!"

Naya menatap lurus ke dalam iris mata Eleanor yang dipenuhi kegelisahan. Air mata genit menumpuk di pelupuk mata Naya, namun tidak ada satu tetes pun yang diizinkan jatuh.

"Ibu Rahmi... wanita asisten rumah tangga yang kamu bunuh secara keji lima tahun lalu karena berusaha menegakkan kebenaran..." ujar Naya dengan suara bergetar namun sarat akan kekuatan jiwa. "...adalah ibuku. Ibu kandungku."

DEG.

Kata-kata itu menghantam Eleanor bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Ruangan mendadak hening total, seolah pasokan udara tersedot habis.

Eleanor mematung. Matanya membelalak lebar, memandangi wajah Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tak percaya. Bayangan lima tahun lalu saat seorang wanita paruh baya berwajah lembut memohon ampunan sebelum ditabrak secara brutal, mendadak berkelebat hebat di ingatan Eleanor. Wajah wanita itu... memiliki garis wajah dan kelembutan iris mata yang persis sama dengan gadis muslimah yang kini duduk di hadapannya.

"Kamu... kamu anak dari wanita itu...?" bisik Eleanor dengan bibir yang gemetar hebat. Suaranya sirnah dari segala keangkuhan yang selama ini ia agungkan.

"Ya," tegas Naya, menggenggam tangan Gavin yang berada di sampingnya. "Aku adalah anak dari wanita yang kamu anggap remeh, wanita yang kamu kira bisa kamu bungkam suaranya dengan kematian. Kamu berpikir bisa menghancurkan hidupku dengan ancaman dan kebohongan, tapi Allah menuntun langkahku tepat ke dalam jantung kehidupanmu."

Naya berdiri dari kursinya, menatap Eleanor dari ketinggian dengan penuh keanggungan seorang wanita yang telah memenangkan pertarungan batiniyahnya.

"Selama ini aku hidup dalam ketakutan dan kebohongan karena aku merasa kotor dan tidak berharga," lanjut Naya dengan mata yang memancarkan kebenaran murni. "Tapi hari ini, di depan hukum dan di hadapan Allah, aku berdiri sebagai saksi dan ahli waris tunggal dari Ibu Rahmi. Kebenaran tentang kematian ibuku tidak akan pernah bisa kamu beli lagi dengan uang atau kekuasaanmu."

Eleanor tersandar lemas di kursinya. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh tipu daya, manipulasi, obsesi kekuasaan, dan rencana jahat yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika di hadapan kenyataan bahwa anak dari korban kejahatannya sendirilah yang menjadi kunci utama kejatuhannya.

AKP Rian berdiri dan membacakan surat penangkapan resmi. "Eleanor Ardiansyah, Anda resmi ditahan atas dakwaan pembunuhan berencana, pemerasan, penyuapan, dan pengorganisasian tindak kejahatan terencana. Anda berhak untuk diam dan menghubungi penasihat hukum Anda."

Dua petugas polwan masuk dan memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangan Eleanor. Saat diseret keluar dari ruang interogasi, Eleanor tidak lagi menjerit atau memaki. Wanita yang dulu begitu ditakuti itu kini melangkah terhuyung-huyung dengan pandangan kosong, hancur berkeping-keping oleh penyesalan dan bayang-bayang dosa masa lalunya.

Sore harinya, langit Jakarta berhiaskan rona jingga yang tenang. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut di kompleks pemakaman umum yang asri dan hijau.

Naya berlutut di samping batu nisan marmer putih yang terukir nama ibunya: Rahmi binti Ahmad.

Di sampingnya, Gavin berlutut dengan khusyuk, menyiramkan air mawar dan menaburkan bunga-bunga segar di atas pusara tersebut. Keduanya baru saja selesai memanjatkan doa bersama—sebuah doa yang dilantunkan dengan keikhlasan dan rasa syukur yang mendalam.

"Ibu..." bisik Naya lembut, jemarinya mengelus permukaan batu nisan yang dingin. "Keadilan untuk Ibu akhirnya tegak. Orang yang telah menumpahkan darah Ibu kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia... dan kelak di akhirat."

Setetes air mata keharuan menetes di pipi Naya, jatuh membasahi tanah pemakaman. Namun kali ini, air mata itu bukanlah air mata ketakutan atau penderitaan, melainkan air mata kedamaian dari jiwa yang telah merdeka.

Gavin merangkul bahu Naya dengan penuh kehangatan, menarik istrinya ke dalam dekapannya yang protektif.

"Ibu pasti bangga melihatmu hari ini, Naya," ucap Gavin tulus, mengecup kening istrinya yang terbalut hijab. "Kamu adalah wanita terkuat dan terpuji yang pernah aku kenal. Terima kasih karena sudah bertahan... terima kasih karena sudah memilih untuk berjuang bersamaku."

Naya mendongak, menatap wajah suaminya yang tampan dengan ukiran senyum ketulusan. Rasa takut, kepalsuan, dan rasa bersalah yang dulu membelenggu hatinya kini telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh cinta murni yang berlandaskan iman.

"Terima kasih, Gavin," balas Naya pelan, menyandarkan kepalanya di dada Gavin yang hangat. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri. Karena cintamu dan petunjuk-Nya, aku belajar bahwa kebenaran... selalu menjadi kepercayaan yang paling berharga."

Di bawah naungan langit sore yang damai, di atas tanah yang menyaksikan keadilan telah ditegakkan, dua jiwa yang dulunya terluka oleh kebohongan dan duka masa lalu kini melangkah bersama menuju masa depan yang terang—sebuah kehidupan manis yang diridhai Allah SWT.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!