Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Ruang Bawah Tanah Gubuk Bambu & Medali Giok Klan Lin
Xiao Hu segera menghapus air matanya dan mengangguk cepat. Ia menarik tangan Lin Xuan menuju bagian belakang gubuk bambu yang hancur, tepat ke arah sebuah batu asah pedang raksasa seberat lima ribu kati yang selama puluhan tahun digunakan Tetua Mo Chen untuk mengasah pedang patahnya.
Para murid Aula Penegak Dharma telah mengobrak-abrik seluruh isi gubuk dan bahkan menggali lantai kamar, namun tak seorang pun dari mereka memeriksa bagian bawah batu asah raksasa yang tampak menyatu dengan tebing tersebut.
Xiao Hu menunjuk ke tiga goresan kuku yang sangat tipis di bagian bawah batu asah itu—kode rahasia yang dulu diajarkan Tetua Mo Chen kepada Lin Xuan: tiga ketukan Qi di sisi kiri, satu dorongan di sisi kanan.
Lin Xuan berlutut di depan batu asah tersebut dan mengetukkan Qi-nya sesuai pola itu.
KLIK... GRRRRR...
Batu asah seberat lima ribu kati itu bergeser pelan tanpa suara, memperlihatkan sebuah ceruk batu kering sedalam satu tombak yang terlindung oleh segel peredam Qi!
Di dalam ceruk batu itu, terletak tiga benda: sebuah kotak kayu besi kuno, sebuah buku kulit binatang yang sudah menguning, dan sepucuk surat yang ditulis dengan jari berdarah di atas kain putih!
Tangan Lin Xuan sedikit bergetar saat membuka surat kain milik Tetua Mo Chen tersebut:
"Xuan'er, jika suatu hari kau berhasil keluar hidup-hidup dari Jurang Tulang Iblis dan membuka ceruk ini, jangan pernah mencoba menyelamatkanku. Guru sudah tua dan mataku sudah lama buta, kematian tidak lagi menakutkan bagiku.
Di dalam buku kulit ini terdapat separuh bagian asli dari Seni Pedang Sembilan Kehancuran (Nine Destructions Sword Art) yang kubawa dari Wilayah Tengah tiga puluh tahun silam. Dan di dalam kotak kayu besi itu adalah benda yang kutemukan di dalam bedung bayi saat aku memungutmu tujuh belas tahun lalu di tepi Sungai Kabut. Pergilah jauh dari Wilayah Timur, Xuan'er. Hiduplah dengan bebas!"
Lin Xuan melipat surat kain itu dengan hati-hati dan menyimpannya tepat di dekat dadanya.
"Tidak menyelamatkan Guru?" bisik Lin Xuan dengan mata yang memancarkan keteguhan mutlak. "Tanpa Pil Penahan Nyawa dan Pedang Pemutus Takdir yang Guru berikan di tepi tebing malam itu, nyawa Lin Xuan sudah lama tamat di dasar jurang. Selama aku masih bernapas, tak seorang pun di Sekte Pedang Awan Biru ini boleh menyentuh sehelai pun rambut Guru!"
Lin Xuan kemudian membuka buku kulit binatang tersebut.
Begitu dibuka, aura pedang yang liar, buas, dan penuh semangat pantang menyerah langsung menyembur dari halaman-halamannya!
Seni Pedang Sembilan Kehancuran bukanlah teknik pedang milik Sekte Pedang Awan Biru, melainkan teknik pedang tingkat tinggi dari Wilayah Tengah yang terbagi menjadi sembilan jurus beruntun! Tiga jurus pertamanya cocok untuk kultivator Ranah Pembangunan Fondasi dan Inti Emas:
Jurus Pertama: Pedang Hancur Membelah Gunung (Shattered Sword Splitting Mountain) — Memadatkan seluruh Qi cair di Dantian ke dalam satu garis tebasan berat yang menghancurkan pertahanan lawan secara paksa.
Jurus Kedua: Seribu Bayangan Pedang Gugur (Thousand Falling Sword Shadows) — Menciptakan hujan seribu bayangan pedang tajam yang mengurung seluruh ruang gerak lawan dalam radius sepuluh tombak.
Jurus Ketiga: Satu Pedang Menuju Kematian (One Sword Toward Death) — Jurus pamungkas yang menggandakan kekuatan serangan hingga tiga kali lipat dengan mempertaruhkan seluruh semangat pedang!
"Teknik pedang ini seolah diciptakan khusus untuk dipadukan dengan Pedang Pemutus Takdir dan Niat Pedang Senja milikku!" mata Lin Xuan berbinar tajam saat menghafal seluruh diagram jalur Qi dari ketiga jurus tersebut ke dalam benaknya.
Terakhir, Lin Xuan membuka kotak kayu besi kuno yang ditemukan bersama dirinya saat masih bayi tujuh belas tahun silam.
Di dalam kotak itu, di atas sehelai kain sutra putih yang memiliki bercak darah kering berusia tujuh belas tahun, terletak sekeping Medali Giok Hitam Berukir Naga Patah dengan satu aksara kuno yang terukir megah di tengahnya:
(LIN)
Saat jari Lin Xuan menyentuh medali giok hitam itu dan mengalirkan setetes Qi Meridian Kembar Dewa-Iblis ke dalamnya, medali giok itu tiba-tiba memancarkan cahaya redup dan memproyeksikan sepotong suara wanita yang lembut namun penuh keputusasaan dari masa tujuh belas tahun silam:
"Xuan'er, anakku... maafkan Ayah dan Ibumu yang tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa. Pasukan Kekaisaran Daqian dan utusan langit telah mengepung kediaman Klan Lin kita di Wilayah Tengah karena kunci Gerbang Kuno... Ayahmu telah membelah ruang untuk mengirimmu bersama Paman Mo ke Wilayah Timur... Ingatlah, sebelum kau mencapai Ranah Jiwa Nascent (Nascent Soul), jangan pernah memperlihatkan Medali Klan Lin ini di Wilayah Tengah..."
Suara itu terputus diiringi suara ledakan dahsyat di latar belakang rekaman, lalu medali giok hitam itu kembali tenang.
Lin Xuan menggenggam erat medali giok hitam tersebut di telapak tangannya. Teka-teki tentang asal-usulnya akhirnya terbuka!
"Klan Lin di Wilayah Tengah... Kekaisaran Daqian... dan Tetua Mo Chen ternyata adalah 'Paman Mo' yang mengorbankan matanya dan bersembunyi selama tujuh belas tahun di sekte kecil ini demi menjagaku tumbuh dewasa!"
Getaran emosi yang mendalam memenuhi dada Lin Xuan. Hutang budinya kepada Tetua Mo Chen kini bukan lagi sekadar hutang murid kepada guru, melainkan hutang nyawa sejak ia masih bayi!
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....