NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 UJIAN PERTAMA

Perdebatan di ruang dewan berlangsung sampai lewat tengah malam.

Aku duduk di ujung meja bundar dengan Vivi yang tertidur di atas lipatan jubahku, sementara para ranger beradu pendapat seolah aku tak ada di sana. Robert berpendapat orang luar tanpa kartu identitas terlalu berisiko. Dax membalas bahwa justru orang luar yang pernah bertemu langsung dengan entitas dan masih bernapas adalah aset yang tak ternilai. Hana lebih banyak diam, sesekali mencatat sesuatu di bola cahayanya.

"Tapi dia kalah telak melawan entitas itu," kata Robert akhirnya, tanpa maksud menghina. "Kita semua juga melihatnya kan ?."

"lagipula dia satu-satunya yang pernah berdiri di depan salah satu dari mereka," balas Cecilia. "Kamu pikir berapa banyak prajurit kita yang mau menyerahkan pedangnya sebelum sempat mengayun sekali?"

Robert terdiam. Ia menatapku lama, lalu mengembuskan napas panjang. "Kalau semisalnya dia ikut, dia bisa ikut dari bawah. Tanpa pengecualian."

"sebenarannya Itu yang kuinginkan," jawab Cecilia.

Hana mengangkat wajahnya dari catatan. "Kalau begitu dengarkan baik-baik, Arka. Mulai hari ini kami para pliar mengangkat kamu untuk masuk ke anggota korps ranger sendira. Korps ranger Sendira punya tiga pangkat. Yang pertama pemula, yang baru bergabung dan masih harus membuktikan diri. Kedua master, yang sudah berpengalaman memimpin regu dan menghadapi ancaman tingkat menengah. Dan yang ketiga pilar, pangkat tertinggi yang hanya dipegang segelintir orang, contohnya kaya kami dan juga masih ada beberapa yang menjalankan misi diluar kota ini.

"lalu tujuannya?"

"Oh... tentu aja kita akan merebut kembali delapan kristal itu, menjaga lima batu akik, dan menghentikan Zaranos sebelum ia bebas sepenuhnya," jawab Cecilia. Ia menatap lurus ke mataku. "Itu satu-satunya tujuan korps ini sekarang. Kau siap menyandangnya?"

Aku memikirkan lembah batu hitam, pedangku yang tergeletak di atas abu, dan delapan cahaya yang menghilang di langit. Aku tak tahu apakah aku cukup kuat. Tapi aku tahu aku tak bisa pulang ke selatan dan pura-pura tak melihat apa pun.

"Ok, Aku siap," kataku.

Cecilia mengangguk pelan, seolah jawabanku sudah ia duga. "Nah...Kalau begitu kamu resmi masuk sebagai calon anggota pemula. Pengangkatan resminya menunggu satu ujian."

"Ujian apa?"

Senyumnya tipis. "Besok pagi kamu akan tahu."

Hana menyembuhkan lukaku sebelum fajar. Ia menggerakkan tangan di atas rusukku, dan hangat yang menjalar dari telapaknya membuat nyeri yang kubawa dari lembah menguap pelan-pelan. Rahangku berhenti berdenyut. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran itu, aku bisa menarik napas sedalam-dalamnya.

"Ingat ya...jangan terlalu bergantung padaku," pesannya sambil menarik tangannya. "Sihir penyembuhan hanya menutup luka, bukan mengajarimu menghindari pukulan berikutnya."

"Ok, Aku ingat," gumamku.

Pagi itu, kabut tipis menggantung di atas Sendira. Aku berdiri di gerbang timur dengan pedang di punggung dan roti kering di sabukku, sementara Vivi bertengger di bahuku sambil menguap. Cecilia sudah menunggu, busurnya yang berpendar biru tergantung di bahu, dan di pinggangnya terselip sarung berisi belasan anak panah bercahaya.

"Ini seriua hanya kita berdua?" tanyaku.

"Ya...Hanya kita berdua aja," katanya. "Robert terlalu mencolok, terus Dax suka bertindak sendiri, dan Hana sedang menjaga tembok. Lagi pula, ini ujianmu, bukan pertunjukan kami."

Kami keluar lewat celah sempit di gerbang. Di balik tembok, dunia terasa jauh lebih liar daripada kota. Rerumputan tinggi bergoyang dihembus angin dingin, dan di kejauhan, asap tipis melayang dari beberapa titik di cakrawala.

"Nah, Itu kemah mereka," kata Cecilia, menunjuk ke timur. "Kami sudah mengamatinya sejak kemarin. Jumlahnya tidak banyak, sekitar sepuluh kroco. Cukup untuk menjadi latihan, tidak cukup untuk membunuhmu kalau kau tidak ceroboh."

"terus tugasku apa?"

"Gampang kok, kamu kalahkan mereka. Semuanya. Tanpa bantuanku, kecuali nyawamu terancam." Ia melirik Vivi. "Dan tanpa bantuan peri itu juga."

Vivi mendengus pelan. "Uh...aku bukan alat bantu tau."

"iya aku tahu," jawab Cecilia, nadanya lebih lembut.

"Karena itu aku mengizinkanmu ikut."

Kami berjalan sekitar satu jam hingga tiba di sebuah cekungan tanah berbatu. Cecilia memberi isyarat agar kami merunduk di balik tebing kecil, lalu mengintip lewat celahnya.

Di bawah sana berdiri kemah-kemah yang kutemui kemarin: tenda dari kulit hewan, tiang kayu miring, dan api unggun yang mengepulkan asap hitam. Sembilan, mungkin sepuluh kroco bermukim di sana, kulit mereka kelabu, telinga lancip, mata kuning menyala. Beberapa sedang menimbang karung curian, yang lain berebut potongan daging, dan salah satunya sibuk menancapkan bendera lusuh bergambar tengkorak.

Di sudut kemah, tertumpuk peti-peti kayu bertanda cap pedagang Sendira.

"Mereka mulai menjarah kafilah yang keluar dari kota kemarin sore," bisik Cecilia. "Nah, aku ingin barang-barang itu kembali."

Aku mengangguk dan menarik pedang perlahan. Telapak tanganku berkeringat, tapi bukan karena takut. Ini rasa lain, rasa yang pernah kukenal di halaman latihan sebelum duel dimulai.

"Ingat satu hal ini Arka," bisik Cecilia sebelum aku bergerak. "Kroco itu bukan entitas. Mereka lemah, tapi jumlah mereka bisa membuatmu mati kalau kau terkepung. Jangan biarkan mereka mengitarimu."

"Mengerti."

Aku menarik napas, lalu melompat dari balik tebing.

Kroco pertama bahkan tidak sempat berteriak. Bilahku menyapu dari bawah ke atas, menghantam gagang tombaknya hingga patah dan menjatuhkannya ke tanah. Dua lainnya menoleh, melolong kaget, lalu menerjang sambil mengayunkan golok berkarat.

Tubuhku bergerak sebelum pikiranku. Tebasan pertama menepis golok di kiri, tendangan memutar menjatuhkan yang di kanan, dan tusukan rendah melumpuhkan kroco berikutnya yang mencoba menyelinap dari belakang. Setiap gerakan terasa seperti napas. Tak ada keraguan, tak ada kabut hitam yang menghilang dari bilahku. Lawan-lawan ini nyata, bisa disentuh, bisa dilukai.

Aku mendengar Vivi bersorak dari atas tebing. "Disebelah kiri, Arka! Ada yang melompat dari arah kiri!"

Aku menunduk. Sebuah kapak berayun melewati kepalaku, dan aku membalas dengan sikut ke perut sebelum menebas gagangnya. Lalu dua kroco sekaligus berlari ke arahku dari depan, sementara tiga lagi memutar mencoba mengepung.

Jangan biarkan mereka mengitarimu.

Aku mundur selangkah ke dinding batu, memastikan punggungku terlindung. Dari sana, aku menunggu. Begitu dua kroco itu mendekat, aku memutar pedang dalam lingkaran lebar, jurus pertahanan yang dulu tak mempan di lembah itu. Kali ini bilahnya menghantam keras dan menjatuhkan keduanya sekaligus.

Tinggal tiga. Mereka berhenti sejenak, saling berpandangan dengan mata kuning yang mulai gentar. Salah satu dari mereka melemparkan goloknya dan lari tunggang-langgang. Yang lain menyusul, meninggalkan satu kroco yang gemetar dengan kapak di tangan.

"Pergilah kalian," kataku pelan. "Kalau kamu pergi sekarang, aku tidak akan mengejarmu."

Kroco itu menggeram, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, lalu menerjang dengan teriakan putus asa. Aku menepis ayunannya, memutar bilahku, dan menghantam gagang pedang ke pelipisnya. Ia ambruk tak sadarkan diri.

Kesunyian turun di kemah itu. Asap api unggun masih mengepul, dan debu perlahan mengendap.

Aku berdiri terengah-engah di tengah tubuh-tubuh yang tumbang, pedang masih tergenggam erat. Tanganku gemetar, tapi bukan karena kelelahan. Untuk pertama kalinya sejak lembah itu, aku merasa tubuhku kembali menjadi milikku.

Cecilia melompat turun dari tebing dengan gerakan ringan. Busurnya belum ditarik sekali pun.

"Ok hasilnya tujuh jatuh, tiga kabur," katanya sambil mengamati sekeliling. "Tidak buruk juga."

"Aku sengaja membiarkan mereka lari, Mereka kroco, bukan penyebabnya." Aku menyarungkan pedang.

"Yang kubutuhkan bukan nyawa mereka, tapi jalan menuju yang di atas mereka."

Cecilia tersenyum untuk pertama kalinya hari itu. "Kamu belajar lebih cepat dari yang kukira ya."

Vivi terbang menghampiri dan mendarat di bahuku, wajah kecilnya berbinar. "Wah...Kau hebat! Aku tidak berhenti berteriak, tapi kau tidak mendengarku, kan?"

"Aku mendengarmu kok," kataku jujur. "Kamu yang menyelamatkanku dari kapak itu, makasih ya vivi"

"Sama sama,setidaknya aku berguna juga kan ?," sahutnya bangga.

Kami membawa peti-peti curian itu kembali ke Sendira, dibantu beberapa penjaga yang dikirim Cecilia lewat sinyal cahaya. Di sepanjang jalan, tak ada yang bicara banyak, tapi beberapa warga menatapku dengan sorot berbeda. Bukan sebagai orang luar, melainkan sebagai seseorang yang baru saja melakukan sesuatu untuk mereka.

Pengangkatan resminya dilakukan sore itu di aula utama istana.

Ruangan itu lebih ramai dari malam sebelumnya. Puluhan ranger berdiri berbaris di kedua sisi, mengenakan seragam kelabu dengan lambang bintang bersudut delapan di dada kiri. Di ujung ruangan, empat pilar berdiri berjajar: Cecilia di tengah, Robert dan Dax di sampingnya, dan Hana di ujung.

Cecilia melangkah maju membawa sebuah lencana kecil dari logam kelabu, dengan delapan sudut yang terukir halus.

"Dengan ini kami mengangkat Arka, seorang pengembara dari distrik selatan," serunya, suaranya jernih dan menggema. "menjadi bagian dari anggota korps ranger kota sanderia, berikan tepuk tangan yang meriah....

Lalu aku berlutut di hadapannya, seperti yang diajarkan Hana tadi pagi.

"Selamat Arka, kamu menerima lencana ini sebagai pemula korps ranger Sendira. Kamu bersumpah menjaga perdamaian kota, melindungi mereka yang tak mampu melindungi diri, dan mengabdikan pedangmu untuk satu tujuan: merebut kembali delapan kristal dan menghentikan Zaranos."

Aku menelan ludah. " Ya...aku bersumpah."

Cecilia menyematkan lencana itu di dadaku. Logam dingin menyentuh kulitku, dan entah kenapa aku merasakan sesuatu mengendap di sana, berat dan hangat sekaligus.

Para ranger bertepuk tangan, tidak riuh, tapi tulus. Dax bersiul pendek dari barisan pilar, dan Robert mengangguk padaku dengan senyum yang hampir tak terlihat.

Aku bangkit dan memandangi lencana di saku jubahku

"Selamat datang di korps ranger sanderia, Arka," bisik Cecilia ketika ia melewatiku. "Tapi ini baru permulaan. Pemula hanya pangkat terendah, dan perjalananmu masih sangat panjang."

"Ya..Aku tahu."

"Besok pagi, kamu akan bertemu dengan peta lima batu akik." Ia berhenti sejenak, matanya serius. "Dan kita harus memutuskan mana yang akan kita cari lebih dulu."

Aku menatap jendela besar di ujung aula. Di balik kaca, matahari sore mulai tenggelam, dan di atas cakrawala, retakan di langit berpendar samar seperti luka yang belum sembuh.

Di bahuku, Vivi meringkuk pelan dan menguap. "Hmmmmm.....Besok ya...," gumamnya setengah mengantuk, "Ok...aku mau sarapan dulu."

Aku tertawa kecil, dan untuk sekali ini, aku merasa dunia tidak terlalu berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!