NovelToon NovelToon
DI BALIK SENYUM VARA

DI BALIK SENYUM VARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPAT MILIAR

"Sayang."

Monica merentangkan tangannya saat Dirga memasuki kamar yang ditempatinya selama dinas di luar kota.

Dengan senang hati, Dirga membalas pelukan Monica.

"Akhirnya kita bisa berduaan," ucap Monica dengan suara manja.

"Iya, Sayang. Aku senang banget bisa sama kamu beberapa hari ini," balas Dirga sambil melonggarkan pelukannya dan menatap wajah kekasih gelapnya.

"Vara nggak curiga, kan?"

"Tentu saja tidak," jawab Dirga santai. "Dia itu bodoh."

Monica terkekeh kecil.

"Istri kamu memang bodoh, Sayang."

Dirga hanya mengiyakan, lalu mengajak Monica duduk di sofa.

"Maaf, ya, Sayang. Kita harus bersembunyi seperti ini."

"Tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting, sekarang kita bisa bersama lagi." Monica menggenggam tangan Dirga.

Cup!

Dirga mengecup pipi Monica, membuat wanita itu tersenyum malu.

"Setelah semua aset Vara sudah berada di tanganku, aku akan berpisah dengannya. Dan kamu akan kujadikan Nyonya Pratama."

Mendengar itu, senyum Monica semakin lebar.

"Aku akan menunggu hari itu tiba."

Monica masih memeluk Dirga dengan erat. Wajahnya tampak begitu bahagia membayangkan masa depan yang selama ini ia inginkan.

"Kalau begitu, aku nggak perlu bersembunyi lagi nanti?" tanyanya.

Dirga menggeleng. "Tentu tidak. Setelah semuanya selesai, kamu bisa datang ke rumah itu sebagai istriku."

Monica tersenyum puas.

"Aku suka mendengarnya."

Dirga mengusap lembut rambut Monica. "Tapi untuk sekarang, kamu harus tetap sabar. Jangan sampai Vara mengetahui hubungan kita."

"Tenang saja. Aku bisa menjaga rahasia."

"Bagus."

Dirga kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. "Yang paling penting sekarang adalah aset Vara. Mama sudah mengurus restoran, tinggal menunggu waktu sampai semuanya bisa kita kuasai."

"Kalau perusahaan?"

Dirga tersenyum tipis. "Perusahaan juga sedang aku pikirkan."

"Bagaimana caranya?"

"Aku masih mencari jalan yang paling aman. Kalau Vara sampai curiga, semuanya bisa berantakan."

Monica mengangguk setuju. "Aku percaya sama kamu."

Dirga menggenggam tangannya. "Percayalah. Aku sudah memikirkan semuanya."

Monica kembali tersenyum. "Kalau begitu, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Pratama."

"Tentu."

Dirga menatap Monica dengan penuh keyakinan. "Tinggal tunggu waktunya saja."

Mereka berdua tidak menyadari bahwa rahasia gelap yang mereka rencanakan perlahan terbongkar di mata orang yang mereka anggap paling mudah dibohongi.

Tanpa sepengetahuan mereka, Vara sudah mulai mengatur strategi. Kali ini, bukan lagi istri yang naif dan percaya begitu saja. Melainkan seorang wanita yang tengah menghitung setiap kesalahan mereka, menunggu momen sempurna untuk menyerang balik.

Tak lama kemudian, suara bel terdengar dari arah pintu.

Ting!

Dirga yang masih duduk di sofa langsung beranjak. Ia berjalan menuju pintu, lalu menatap layar kecil di sampingnya untuk melihat siapa yang datang.

Wajah Reno, asistennya, terlihat di layar.

Dirga menekan tombol untuk berbicara. "Ada apa?"

"Meeting tinggal beberapa menit lagi, Pak. Klien kita sudah ada di tempat," ujar Reno.

Dirga mengangguk. "Urus semuanya. Sebentar lagi saya ke sana."

"Baik, Pak."

Dirga mematikan interkom dan kembali menutup pintu.

Reno berjalan meninggalkan tempat tersebut. Namun, sebelum masuk lift, ia menghela napas pelan.

"Kasihan sekali Bu Vara memiliki suami brengsek seperti Pak Dirga," gumamnya.

Sementara itu, Dirga kembali menghampiri Monica.

"Siapa?" tanya Monica.

"Reno, Sayang."

"Ngapain dia?"

"Memberikan informasi. Sebentar lagi aku meeting dengan klien. Kamu tunggu aku di sini, ya."

Monica mengangguk.

"Iya, aku akan menunggumu."

Dirga mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga Monica.

"Pakai pakaian kesukaanku. Malam ini adalah malam kita."

Senyum malu muncul di wajah Monica. "Aku akan menunggumu," jawabnya dengan nada menggoda.

Dirga tersenyum, kemudian mengecup kening Monica sebelum akhirnya berpamitan.

"Aku pergi dulu."

"Hati-hati, Sayang."

Dirga pun meninggalkan kamar tersebut. Setelah pintu tertutup, Monica berdiri dan berjalan menuju jendela besar di dalam kamar.

Di hadapannya, pemandangan kota Westara terlihat begitu indah dengan cahaya lampu yang menghiasi gedung-gedung tinggi.

Namun, senyum yang terbit di bibir Monica sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Senyum itu justru terlihat penuh keyakinan.

"Vara..."

Monica menyebut nama itu pelan.

"Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."

Ia membayangkan wajah Vara ketika suatu hari mengetahui suaminya telah mengkhianatinya. Betapa hancurnya wanita itu ketika mengetahui semua kebohongan yang selama ini disembunyikan Dirga.

Monica terkekeh pelan.

"Jangan salahkan aku, Vara."

Tatapannya kembali mengarah ke gemerlap Kota Westara.

"Dirga memang seharusnya bersamaku."

°°°°

Di sebuah mal terbesar di kota Elvaris, Vara memasuki salah satu toko perhiasan paling terkenal. Langkahnya tenang, meskipun pikirannya masih dipenuhi wajah Dirga dan Monica.

Hari ini, Vara ingin memanjakan dirinya. Bukan karena ingin melupakan pengkhianatan suaminya, melainkan karena ia tidak ingin menghabiskan air matanya untuk orang-orang yang tidak pantas mendapatkannya.

Ia mengeluarkan ponselnya dan kembali melihat rekaman Dirga bersama Monica.

"Puas-puaslah kalian bersama," gumam Vara dengan senyum tipis. "Nikmati semuanya sampai aku menyingkirkan kalian ke tempat asal kalian."

Vara menghembuskan napas panjang. Tentu saja, melihat suaminya bersama wanita lain tetap terasa menyakitkan. Namun, menangis bukan solusi. Itulah alasan ia datang ke toko perhiasan ini. Baginya, lebih baik membeli sesuatu yang mewah untuk dirinya sendiri daripada terus membuang air matanya yang berharga.

"Nyonya Vara."

Seorang pegawai toko menghampirinya dengan ramah. Di tangannya terdapat sebuah kotak perhiasan berukuran cukup besar.

"Selamat datang, Nyonya," sapanya ramah.

Vara membalas dengan senyum hangat. "Ada berlian model terbaru?"

"Tentu ada, Nyonya."

Pegawai itu meletakkan beberapa kotak di atas meja kaca agar Vara bisa melihatnya dengan leluasa.

"Ini adalah koleksi berlian terbaru kami."

Vara menatap satu per satu perhiasan tersebut. Matanya langsung tertuju pada sebuah kalung berlian yang berkilau terkena cahaya lampu toko.

"Ini baru?" tanyanya.

"Iya, Nyonya. Koleksi terbaru yang baru kami terima beberapa hari yang lalu."

Pegawai tersebut membuka kotaknya.

"Kalung ini menggunakan berlian dengan potongan khusus. Bagian tengahnya dibuat sebagai fokus utama, kemudian dikelilingi berlian-berlian kecil agar kilaunya terlihat lebih menonjol saat dikenakan."

Vara mengangguk pelan.

"Saya ambil kalung ini."

Pegawai itu tersenyum sumringah, ia segera mengambilnya dengan hati-hati.

Vara kemudian mengalihkan pandangan ke kotak lainnya. "Kalau cincin?"

"Untuk cincin, kami memiliki beberapa pilihan."

Pegawai itu menunjukkan beberapa cincin berlian.

Vara memperhatikan sebentar. "Yang itu." Ia menunjuk salah satunya. "Dan antingnya juga."

Pegawai tersebut tersenyum lebar. "Tentu, Nyonya." Ia segera mengambil sepasang anting dan cincin pilihan Vara.

"Ketiganya satu set, Nyonya. Kalau dipakai bersamaan, tampilannya akan terlihat sangat elegan."

Vara mengangguk santai. "Saya ambil ketiganya."

Pegawai itu terdiam sesaat. "Semuanya, Nyonya?"

"Iya."

Vara bersandar santai di kursinya.

"Berapa semuanya?"

Pegawai tersebut segera menghitung total harga ketiga perhiasan itu.

"Untuk kalung, cincin, dan anting ini, totalnya empat miliar rupiah, Nyonya."

Vara mengangguk tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

"Baik."

Ia mengambil kartu dari dalam tas, lalu menyerahkan kepada pegawai tersebut.

Pegawai itu menerima kartu Vara dengan kedua tangan.

Wajahnya terlihat semakin cerah. Sudah bukan rahasia bagi Vara adalah salah satu pelanggan yang paling mereka sukai. Bukan hanya karena selalu memilih koleksi terbaik, tetapi Vara juga hampir tidak pernah menawar harga.

"Silakan ditunggu sebentar, Nyonya. Kami akan membungkuskan semuanya dengan aman."

Vara mengangguk.

"Pastikan semuanya dibungkus dengan baik."

"Tentu, Nyonya."

°°

Sementara itu, di tempat lain, Dirga sedang berada di sebuah ruang meeting bersama klien.

Pembicaraan bisnis sedang berlangsung serius ketika ponsel yang diletakkan di atas meja tiba-tiba bergetar.

Bzzzt...

Dirga melirik sekilas.

Awalnya ia mengira Monica yang menghubunginya. Namun, begitu melihat notifikasi yang muncul di layar, matanya langsung terbelalak.

Notifikasi transaksi rekening: Rb4.000.000.000.

Dirga membeku.

"Empat miliar?" gumamnya pelan.

Tanganya segera meraih ponsel tersebut. Ia membuka notifikasi itu dan memastikan kembali nominal yang tertera di layar.

Empat miliar rupiah baru saja keluar dari rekening miliknya.

Dirga semakin heran ketika melihat nama merchant yang menerima pembayaran tersebut. Sebuah toko perhiasan mewah di Elaris Mall.

"Perhiasan?" gumamnya tak percaya.

Dirga langsung teringat Vara. Hanya Vara yang memiliki akses ke rekening tersebut.

Selama ini Vara memang memiliki kebiasan membeli barang-barang mahal, tetapi jumlah sebesar itu tetap membuat Dirga terkejut. Apalagi, ia sedang berusaha menguasai aset istrinya.

Kalau Vara mulai mengeluarkan uang dalam jumlah besar, rencananya bisa terganggu.

"Pak Dirga?"

Suara salah satu klien membuat Dirga tersadar. Ia segera mengangkat wajah dan memasang ekspresi tenang.

"Maaf. Silahkan lanjutkan."

Klien tersebut mengangguk dan kembali menjelaskan mengenai kerja sama yang sedang mereka bicarakan.

Namun, pikiran Dirga sudah tidak lagi sepenuhnya berada di ruang meeting.

"Untuk apa dia membeli perhiasan sebanyak ini?"

1
Ayudya
Dirga tidur mu terlalu nyenyak hingga lupa bangun🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Sabar, Vara ada kejutan🫰🫰😁😁
Meee
vara mending keluarga toxik begitu di lebas secepatnya😡😡
Ayudya
gimana sadar orang matanya Uda ketutup ma batu kerikil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
siapa pun akan berubah ibu diana.apa lagi masalah yg menyangkut pekerja 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
lah Bu Diana menghancurkan Vara yg ada kamu akan hancur di buat ma Vara Bu diana🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ok Dirga nikmati aja dulu masa senang mu kan ntar lagi kamu bakalan kembali kesetalan pabrik🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Karma Be Like: Tunggu aku Monica😁🫰
Ayudya
lah hasil ngerebut songong Lo monika.ntar yg ada kamu nyesel dan malu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
saat rencana kamu berhasil yg ada dirga stres banget🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Kak Dirga, bukan Arga😭🤭😁😂
Ayudya
hadeh monica kamu bilang Arga ga tergoda ma Vara kamu salah Arga sudah tergoda habis oleh vara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
Bu Diana kalau mimpi jangan siang hari ntar yg ada sakit
Nona Jmn: Wkwkwhhh
total 1 replies
Ayudya
vara kamu jangan kelihatan lemah di depan Dirga dan monika.kamu harus lebih badas lagi biar tau tu si Dirga dan Monika kalau kamu ga gampang di tindas🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn: Kita lihat kejutan Vara, ya🤭
total 1 replies
Nona Jmn
/Sob/
Ayudya
mampir kak
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Ayudya
niat banget Bu Diana dan Dirga buat merebut harta vara
Ayudya
Daras Dirga mokondo tapi banyak tingkah🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!