NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Jarum jam dinding di ruang tamu sudah menunjuk ke angka sepuluh malam.

Detiknya terdengar begitu nyaring di tengah rumah yang hening, seolah-olah sengaja membilang tiap detik kecemasan yang diendapkan Maya sejak tiga jam lalu.

Maya duduk sendirian di sofa berbalut kain abu-abu, memangku sebuah bantal kecil.

Di atas meja kaca, semangkuk sup ayam dan piring berpenutup tudung saji sudah dingin. Ia berkali-kali melirik ponselnya.

Layar hitam itu tak kunjung menyala membawa kabar yang ia tunggu.

"Harusnya kantornya sudah tutup dari jam lima sore..." bisik Maya pada dirinya sendiri. Tangannya yang dingin mengelus permukaan ponsel, ragu apakah harus menelepon lagi untuk kelima kalinya.

Tepat saat ia berniat menekan tombol panggil, suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar berhenti di depan pagar.

Jantung Maya berdesir—perpaduan antara rasa lega dan benih prasangka yang mulai bertunas sejak sore tadi.

Suara langkah kaki berderak pelan di atas rumput halaman, disusul gemerincing kunci yang dimasukkan ke dalam lubang pintu.

Knop pintu berputar, dan sosok Bagas muncul di ambang pintu.

Pria itu tampak begitu lelah. Kemeja putih kantornya sudah kusut, lengan kemeja digulung hingga ke siku, dan dasinya sudah dilonggarkan sedemikian rupa.

Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Namun, bukan penampilannya yang membuat Maya terpaku, melainkan gestur tubuh Bagas yang mendadak menegang ketika pandangan mereka beradu.

"Kamu... belum tidur, May?" suara Bagas terdengar serak. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Maya berdiri pelan dari sofa, menaruh bantal memangkuan ke samping. "Belum. Aku nungguin kamu."

Bagas melangkah masuk, menutup pintu kayu di belakangnya pelan-pelan, seolah takut menimbulkan suara keras yang dapat memecahkan kecanggungan di antara mereka.

Ia melepas sepatu pantofelnya dan meletakkannya di rak.

"Kan aku sudah bilang, tidak usah ditunggu. Kalau sudah malam, kamu tidur duluan saja," ujar Bagas sambil berjalan mendekat. Ia melepas tas kerjanya dan menggeletakkannya begitu saja di atas meja.

"Gimana aku bisa tidur tenang, Gas?" Maya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Ponsel kamu dimatikan dari jam tujuh malam. Aku telpon ke nomor kantor, satpam bilang gedung sudah kosong dari jam enam. Kamu ke mana saja?"

Dada Bagas berdesir hebat. Rasa bersalah menghentak dadanya bagai hantaman benda tumpul.

Ia tahu betul betapa jujurnya hubungan mereka selama dua tahun pernikahan ini.

Tak pernah sekalipun ada rahasia, apalagi kebohongan. Namun malam ini, kenyataan yang baru saja dialaminya terlalu rumit dan berbahaya jika harus dibagikan kepada Maya.

Aku tidak punya pilihan lain, batin Bagas berusaha membenarkan diri.

Kalau aku jujur sekarang, Maya pasti panik. Ini demi kebaikan kita juga.

Bagas menghela napas panjang, memasang raut wajah seolah-olah ia adalah korban dari hari yang amat melelahkan.

"Maafkan aku, May. Tadi itu... benar-benar kacau di luar

," Bagas mulai merangkai cerita, kata demi kata disusunnya hati-hati. "Ponselku mati total, baterainya habis saat aku di jalan."

"Baterai habis?" Maya memiringkan kepalanya sedikit. "Bukannya kamu selalu bawa powerbank di tas?"

"Iya, tapi powerbank-nya juga lupa aku isi ulang semalam," sahut Bagas cepat.

Ia menghampiri Maya dan mencoba memegang kedua bahu istrinya, tetapi Maya tidak bergerak menyambut hangat seperti biasanya. "Lalu kenapa aku baru pulang jam segini? Tadi mobilku mogok di dekat daerah pegunungan waktu mau ketemu klien."

Maya mengerutkan dahi. "Mogok? Klien di mana jam tujuh malam?"

"Pak Rahmat," jawab Bagas menyebut nama salah satu klien lamanya tanpa berkedip. "Dia mendadak minta ketemu di kafe daerah pinggiran kota untuk tanda tangan draf kontrak esensial sebelum dia terbang ke luar negeri besok pagi.

Pas aku mau pulang, mesin mobilnya tiba-tiba mati total. Bengkel langganan libur, jadi aku harus nunggu bengkel panggil serba lambat yang datangnya hampir dua jam kemudian."

Bagas mengusap wajahnya, berpura-pura sangat frustrasi.

"Di sana sinyal buruk sekali, May. Aku mau pinjam telepon orang bengkel juga mereka tidak bawa ponsel yang ada kuotanya.

Aku benar-benar panik memikirkan kamu di rumah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Maya memandangi Bagas lama. Ada nada kesungguhan dalam suara Bagas, tetapi intuisi seorang istri membisikkan ada sesuatu yang janggal.

Ada aroma tipis yang tidak asing tercium saat Bagas berdiri dekat dengannya—bukan bau oli atau asap jalanan, melainkan wangi samar parfum lembut wanita, mengalahkan bau keringat Bagas.

"Pak Rahmat... bukannya dia masih dirawat di rumah sakit minggu lalu?" tanya Maya pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Tubuh Bagas membeku seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik yang menyiksa.

Ia lupa bahwa tiga hari lalu ia sendiri yang bercerita pada Maya tentang kondisi kesehatan kliennya itu.

"Ah... maksudku, sekretarisnya Pak Rahmat, Pak Hendra!" Bagas dengan cepat mengoreksi kalimatnya, berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil dan tidak gemetar.

"Pak Rahmat yang minta Pak Hendra mewakilinya. Maaf, aku sudah terlalu capek sampai salah sebut nama."

Bagas meraih tangan Maya, menggenggamnya erat-erat dengan kedua tangannya yang terasa agak dingin dan lembap oleh keringat dingin.

"Aku minta maaf ya sudah bikin kamu cemas setengah mati? Tolong jangan marah. Aku benar-benar cuma mengurus pekerjaan ini supaya bonus akhir bulan kita aman

," puji Bagas, mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang emosional.

Maya menatap tangan mereka yang bersatu. Dulu, sentuhan ini selalu membawa rasa aman yang luar biasa.

Namun malam ini, sentuhan itu terasa seperti sebuah perisai yang dibangun Bagas untuk menutupi sesuatu di belakang punggungnya.

"Kamu sudah makan?" tanya Maya akhirnya, memilih untuk tidak mengejar ketidakcocokan cerita itu lebih jauh—setidaknya untuk malam ini.

Bagas mengembuskan napas lega yang sangat kentara. "Belum. Tapi aku tidak terlalu lapar, cuma pengin mandi dan istirahat."

"Aku sudah masak sup ayam kegemaran kamu. Masih ada di meja," kata Maya dingin. "Aku panaskan sebentar kalau kamu mau."

"Tidak usah repot-repot, May. Nanti aku makan sendiri setelah mandi.

Kamu tidur duluan ya, wajah kamu pucat sekali," ujar Bagas halus sambil mengecup kening Maya.

Ciuman yang biasanya terasa hangat kini terasa begitu formal dan terburu-buru.

Bagas berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Maya yang masih berdiri kaku di tengah ruang tamu.

Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemericik air shower terdengar, Maya melangkah pelan mendekati meja tempat Bagas meletakkan tas kerjanya.

Matanya tertuju pada jas kemeja Bagas yang disampirkan di sandaran kursi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Maya meraih jas tersebut. Ia mendekatkannya ke hidung. Aroma itu makin jelas—parfum vanilla rose yang elegan dan mahal.

Bukan aroma yang biasa digunakan oleh rekan kerja pria Bagas, dan jelas bukan aroma parfum milik Maya sendiri.

Di dalam kamar mandi, Bagas bersandar di balik pintu yang terkunci.

Ia membiarkan air dingin membasahi kepala dan wajahnya. Tangan kanannya mengepal keras, memukul tembok keramik dengan pelan.

Maafkan aku, Maya, batin Bagas penuh penyesalan yang mendalam. Aku harus bohong. Kalau kamu tahu aku baru saja bertemu dengan dia... kehidupan kita tidak akan pernah sama lagi.

Kebohongan pertama itu telah diucapkan. Bagas tahu, seperti domino yang rubuh, kebohongan satu ini tidak akan menjadi yang terakhir.

Dan di luar kamar mandi, di bawah remang lampu ruang tamu, Maya menyadari bahwa pondasi kepercayaan dalam rumah tangga mereka baru saja retak untuk pertama kalinya.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!