Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi ini suasana Mansion Mahardika sedikit berbeda dari biasanya.
Raka sudah berpakaian sangat rapi dengan setelan jas biru dongker yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan.
Tapi sayangnya, langkah bos besar itu tertahan di depan pintu utama.
Grep.
Sepasang tangan mungil memeluk erat kaki panjang Raka bagai koala yang menempel di dahan pohon.
"Tidak mau! Papa jangan pergi!" rengek Elvan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Raka memijat pelipisnya perlahan, bingung menghadapi putranya yang tiba-tiba sangat manja hari ini.
"Elvan, Papa harus bekerja mencari uang untuk membelikanmu mainan," bujuk Raka selembut mungkin.
"Tidak mau mainan! Mau ikut Papa sama Mama!" jerit Elvan semakin kencang.
Dewi yang berdiri di samping mereka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo sayang, sama Mama saja di rumah. Kita main masak-masakan lagi ya?" tawar Dewi mencoba meraih tubuh Elvan.
Namun Elvan malah menyembunyikan wajahnya di celana mahal Raka dan menggeleng kuat.
"Mau ikut Papa ke kantor! Harus sama Mama juga!"
Raka menatap Dewi dengan pandangan menuntut solusi, seolah berkata cepat jinakkan anak ini.
"Jangan menatapku seperti itu Bos, anakmu ini memang sedang mode keras kepala," balas Dewi acuh tak acuh.
Ding!
Suara mekanis andalan tiba-tiba berbunyi nyaring di kepala Dewi.
Layar biru transparan langsung terpampang jelas di depan matanya.
[Misi Harian: Invasi Markas Besar Grup Lentera!]
[Kondisi: Tuan Muda sedang mengalami kecemasan perpisahan dan butuh keamanan dari kedua orang tuanya.]
[Misi: Paksa Tuan Raka untuk membawa Anda dan Elvan ke kantornya hari ini!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +15 dan Item Kacamata Penilai Bos!]
[Hukuman Kegagalan: Elvan akan mogok makan seharian penuh!]
Dewi langsung menelan ludah membaca hukuman yang mengancam ketenangan hidupnya itu.
"Tidak ada pilihan lain Tuan Raka, sepertinya kau harus membawa kami ikut bekerja hari ini," ucap Dewi mantap.
Raka melebarkan matanya dan menatap Dewi seolah wanita itu baru saja bicara bahasa alien.
"Kau gila? Kantor itu tempat bekerja, bukan tempat penitipan anak!" tolak Raka mentah-mentah.
"Bram, lepaskan anak ini dari kakiku sekarang."
Bram maju selangkah, tapi urung melakukan perintah bosnya karena melihat wajah Elvan yang sudah merah menahan tangis membludak.
"Huwaaa! Papa jahat!"
Tangisan Elvan pecah, suaranya menggema ke seluruh penjuru lobi mansion.
Dewi buru-buru berjongkok dan memeluk Elvan dari belakang.
"Bos, kau mau anakmu sakit lagi karena menangis seharian?" ancam Dewi sambil menatap tajam ke arah Raka.
"Aku bisa menjaganya di ruanganmu tanpa mengganggu pekerjaanmu sedikit pun. Aku janji."
Raka menghembuskan napas sangat panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak pagi-pagi.
"Hanya hari ini. Jika kalian membuat keributan sedikit saja, aku akan menyuruh satpam mengusir kalian."
"Asyik! Ayo Elvan, kita pergi ke kantor Papa!" seru Dewi kegirangan sambil menggendong anak itu.
Elvan langsung berhenti menangis dan tersenyum lebar menampilkan gigi-gigi kecilnya.
Setengah jam kemudian, mobil sedan panjang milik Raka berhenti tepat di depan gedung pencakar langit Grup Lentera.
Gedung itu menjulang tinggi membelah awan dengan dinding berlapis kaca yang memantulkan sinar matahari.
Bram membukakan pintu dan Raka keluar lebih dulu dengan wajah kembali sedingin es.
Dewi menyusul turun sambil menggandeng tangan kanan Elvan, sementara tangan kiri anak itu menggandeng Raka.
Pemandangan langka itu seketika membuat semua resepsionis dan satpam di lobi utama menghentikan nafas mereka.
"T-selamat pagi, Pak Direktur," sapa salah satu satpam dengan suara bergetar.
Raka hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya menuju lift khusus eksekutif.
Sepanjang perjalanan melintasi lobi, puluhan pasang mata menatap mereka dengan tatapan horor campur penasaran.
"Siapa wanita itu? Berani sekali dia menggandeng Tuan Raka?" bisik seorang karyawan wanita di dekat meja resepsionis.
"Dan anak itu... apakah itu anak rahasia Tuan Raka? Wajahnya sangat mirip!" timpal temannya dengan heboh.
Dewi tentu saja mendengar bisikan-bisikan itu, tapi dia memilih bersikap cuek bebek.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai lima puluh, lantai khusus untuk jajaran direksi dan CEO.
Begitu mereka keluar dari lift, suasana lantai itu terasa sangat sunyi dan kaku.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki mereka menggema di lorong yang berlapis karpet merah tebal.
"Raka! Syukurlah kau sudah datang."
Sebuah suara wanita yang melengking memecah keheningan lantai lima puluh itu.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭