Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
Hera Grahansa duduk di dekat tungku batu, memeluk tas ransel kecilnya erat-erat. Kehangatan api dari kayu gaharu perlahan mengusir rasa menggigil di tubuhnya, namun pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut gubuk pohon eksotis itu.
Luasnya cukup besar untuk ukuran tempat tinggal di atas pohon, namun ada satu masalah besar yang baru saja disadari oleh otak profesornya. Gubuk ini sama sekali tidak memiliki dinding penyekat. Ruang tengah, tempat memasak, jajaran rak senjata, hingga ranjang besar beralaskan kulit beruang yang empuk itu berada di satu area terbuka yang sama.
Sulung, dengan ketenangan yang luar biasa, mulai bergerak. Pria bertubuh tegap itu melepas rompi kulit binatangnya, menyisakan tubuh bagian atasnya yang telanjang, memamerkan guratan otot dada dan perut yang kokoh serta beberapa bekas luka lama.
Dia melangkah menuju ranjang kulit beruang, lalu merebahkan tubuhnya begitu saja dengan posisi berbantalkan lengan kirinya yang kekar. Matanya terpejam, bersiap untuk beristirahat.
Hera melotot, rasa panik dan jengkel mendadak naik ke ubun-ubunnya.
Watak keras kepalanya langsung tersulut. Dia berdiri dari balok kayu, melangkah cepat mendekati tepi ranjang dengan tangan terlipat di dada.
"Hei! Tuan Sulung!" seru Hera, suaranya melengking memecah kesunyian gubuk. "Kau bercanda, ya? Kau mau tidur di situ?"
Sulung membuka sebelah kelopak matanya perlahan. Tatapannya tetap datar, dingin, dan tidak terusik. "Ini ranjangku."
"Aku tahu ini ranjangmu! Masalahnya, gubuk ini tidak ada sekatnya sama sekali!" omel Hera, tangannya menunjuk-nunjuk sekeliling ruangan dengan gusar. "Lalu aku harus tidur di mana? Kau ini seorang pria, dan aku wanita. Kita tidak bisa tidur di satu ruangan terbuka begini tanpa ada pembatas! Di duniaku, ini namanya tidak sopan!"
Sulung tidak langsung menjawab. Dia membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Hera dari ujung kepala hingga ujung sepatu bot gunungnya dengan pandangan aneh, seolah-olah Hera sedang mengocehkan bahasa alien yang tidak penting.
"Tidur saja di lantai dekat tungku, atau di ujung rak senjata. Kain kulit rusa ada di sana," jawab Sulung pendek, lalu kembali memejamkan matanya seolah percakapan itu sudah selesai.
"Apa?! Di lantai dekat rak senjata?!" Hera mendengus kencang, mukanya memerah padam karena merasa terhina.
"Aku ini tamu di sini! Mana ada tuan rumah membiarkan tamunya tidur di lantai dingin sementara dia mendengkur di atas kulit beruang yang empuk? Sifat liarmu itu benar-benar keterlaluan ya!"
Sulung mengembuskan napas panjang dari hidungnya, tampak mulai jengah dengan kegaduhan yang terus dibuat oleh wanita kota ini. "Jika kau tidak mau, tidur saja di luar dahan bersama burung malam. Anginnya bagus untuk mulutmu yang berisik."
Hera mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia tahu mendebat pria keras kepala ini tidak akan ada ujungnya. Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, Hera menghentakkan kakinya kasar, berjalan menuju sudut ruangan dekat rak senjata. Dia mengambil selembar kulit rusa kering yang tebal, menggelarnya di atas lantai papan kayu, lalu duduk di sana dengan bersungut-sungut. Tas ranselnya ia jadikan bantal darurat.
Malam semakin larut. Keheningan Alas Purba kembali mencengkeram gubuk pohon tersebut. Hanya ada suara kertas-kertus ranting yang terbakar di dalam tungku batu. Hera mencoba memejamkan matanya, namun rasa pening di pelipisnya dan ketidaknyamanan tidurnya membuat dia terus gelisah membalikkan badan ke kiri dan ke kanan.
Hingga jarum jam biologis di tubuhnya mendadak mengirimkan sinyal darurat yang lain. Perut bagian bawahnya terasa mulas dan penuh.
Efek dari ketakutan setelah berlari, hawa dingin yang ekstrem, dan terlalu banyak meminum air hangat di rumah tadi sore mulai menuntut haknya. Hera ingin buang air kecil.
Hera mendesah frustrasi.
Dia duduk tegak, menatap ke sekeliling gubuk dengan bingung. Tentu saja, tidak ada toilet modern atau bilik kamar mandi dengan pancuran air di dalam hunian purba ini.
Hera melirik ke arah ranjang.
Sulung tampak tertidur sangat pulas, napasnya terdengar teratur dan dalam. Dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Hera berdiri.
Dia berniat berjalan menuju pintu kayu gubuk, berpikir untuk mencari semak-semak atau sudut gelap di luar pelataran dahan pohon untuk menyelesaikan urusannya sendiri.
Namun, begitu jemari tangannya baru saja menyentuh permukaan pintu kayu gubuk, sebuah suara berat dan kering mendadak bergema dari arah belakang tubuhnya.
"Mau ke mana?"
Hera tersentak kaget, tubuhnya berputar cepat. Sulung sudah terduduk di atas ranjangnya. Matanya yang setajam elang malam berkilat di tengah kegelapan ruangan yang hanya diterangi keremangan bara api.
Tangan kanannya bahkan sudah bertumpu pada gagang Khanjar tulangnya.
"Aku mau keluar sebentar!" jawab Hera gagap, namun dengan cepat mengubah nadanya menjadi ketus untuk menutupi rasa malunya.
"Jangan keluar. Hutan malam ini sedang tidak bersahabat," kata Sulung dingin, memberi perintah mutlak.
"Aku tidak peduli ya! Aku harus keluar sekarang!" balas Hera keras kepala, tangannya mencengkeram handel pintu lebih erat.
"Katakan maumu, Wanita. Jangan menguji kesabaranku," desis Sulung, aura intimidasinya perlahan merayap naik, menuntut keterbukaan.
Wajah Hera mendadak terasa sangat panas. Dia memalingkan mukanya ke arah samping, merasa sangat gengsi dan malu harus mengatakan urusan biologis ini kepada seorang pria asing yang baru ia kenal beberapa jam. Namun, rasa mulas di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Aku, aku ingin buang air kecil, tahu!" seru Hera akhirnya dengan setengah berteriak, mukanya merah padam sampai ke telinga.
"Puas?! Di dalam sini tidak ada kamar mandi, jadi aku harus mencari tempat di luar!"
Sulung tertegun sejenak. Ekspresi datarnya berubah sedikit aneh, seolah merasa lucu dengan kepanikan wanita kota di depannya. Pria itu berdiri dari ranjang, mengambil rompi kulitnya kembali, lalu berjalan mendekati Hera.
"Tunggu di sini. Aku ambil wadah batu," ucap Sulung santai.
"Hah?! Wadah batu?!" Hera melotot sempurna dengan mata membelalak. "Kau gila, ya?! Aku tidak akan pernah buang air di dalam mangkuk batu di ruangan terbuka yang sama denganmu! Lebih baik aku mati menahan kencing daripada harus melakukan hal menjijikkan seperti itu!"
Perdebatan sengit pun pecah di dekat pintu gubuk. Hera bersikeras menolak solusi gila dari Sulung, sementara Sulung tetap melarang Hera keluar sendirian karena bahaya mahluk predator malam Alas Purba yang bisa menyergap dari kegelapan dahan kapan saja.
"Hukum hutan tidak peduli pada rasa malumu, Wanita kota," kata Sulung, suaranya meninggi satu oktav. "Jika kau keluar sendiri, dalam tiga langkah kau bisa jatuh dari ketinggian dahan ini atau dicakar oleh musang raksasa."
"Aku tidak peduli! Pokoknya aku mau turun ke bawah tanah! Aku mau cari semak-semak yang aman!" balas Hera, watak keras kepalanya benar-benar berada di titik puncak. Dia bahkan mencoba mendorong tubuh Sulung agar menyingkir dari depan pintu.
Sulung menghela napas panjang, tampak menyerah menghadapi kekeraskepalaan mutlak dari profesor muda ini.
Dia mencengkeram pergelangan tangan Hera dengan cepat, mengunci gerakannya agar tidak berbuat nekat.
"Baik. Kita turun ke bawah," ujar Sulung dengan nada dingin yang pasrah. "Tapi kau harus tetap berada tepat di belakang punggungku. Jangan melepaskan tanganmu sekejap pun. Paham?"
Hera mengangguk cepat penuh kemenangan, meskipun di dalam hatinya dia masih merasa sangat dongkol.
Sulung membuka pintu gubuk kayu tebal tersebut. Embusan angin malam yang sangat dingin langsung menyapu wajah mereka, membawa kabut tebal Alas Purba yang merayap di sekitar tangga akar.
Dengan perasaan campur aduk—antara malu, kesal, dan lega—Hera terpaksa mencengkeram erat bagian belakang kain rompi kulit Sulung, melangkah hati-hati mengikuti sang Panglima klan yang terpaksa mengantarkannya turun memanjat pohon raksasa di tengah kegelapan malam terisolasi demi urusan toilet daruratnya.