Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dia menjambak rambut kotor Rizky dan mencakar wajah pemuda itu dengan kuku-kukunya yang panjang.
"Mati kamu penipu! Kembalikan uang Papaku!" teriak Cynthia mengamuk.
"Lepaskan rambutku wanita gila! Kamu yang bodoh mau saja aku tipu!" balas Rizky membalas tarikan rambut Cynthia.
Mereka berdua bergulingan di atas tanah yang kotor saling pukul dan saling cakar tanpa ampun.
Pemandangan itu terlihat sangat menyedihkan sekaligus menggelikan bagi siapa saja yang melihatnya.
Para penjaga rentenir dan pemulung lainnya malah berkumpul mengelilingi mereka sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ayo hajar terus! Tarik rambutnya yang kuat Mba!" sorak salah satu penjaga menikmati tontonan gratis itu.
"Tonjok mukanya anak muda, masa kalah sama perempuan!" sahut pemulung lain bertepuk tangan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat melerai perkelahian sepasang mantan kekasih tersebut.
Rizky dan Cynthia terus saling menyakiti melampiaskan semua rasa frustrasi dan kehancuran hidup mereka.
Mimpi mereka untuk hidup bergelimang harta dan gengsi kini terkubur di bawah gunungan sampah yang bau busuk.
Sementara itu di ruang kerja Direktur Utama Grup Sentosa yang sejuk dan mewah.
Rio Dirgantara duduk dengan tenang di kursi kebesarannya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.
Nadia melangkah masuk ke dalam ruangan dan meletakkan sebuah tablet komputer di atas meja kerja Rio.
"Tuan Rio, ada hiburan siang hari yang mungkin ingin Anda lihat," kata Nadia tersenyum profesional.
Rio meletakkan cangkir kopinya dan mengambil tablet tersebut dengan raut wajah datar.
Di layar tablet itu sedang memutar video rekaman langsung dari tempat pembuangan akhir.
Video itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana Rizky dan Cynthia saling cakar dan bergulingan di atas sampah.
Terdengar juga suara sorakan para penjaga yang menertawakan penderitaan mereka berdua.
"Tim lapangan sengaja merekam kejadian ini saat mantan tunangannya datang melabrak Tuan Rizky," jelas Nadia memberikan konteks.
Rio menonton video itu tanpa berkedip sedikitpun.
Tidak ada rasa kasihan di matanya melihat adik kandungnya babak belur dipukuli wanita.
"Binatang yang kelaparan memang akan saling menggigit jika disatukan dalam satu kandang," gumam Rio tersenyum dingin.
"Biarkan saja mereka saling menghancurkan, itu adalah tontonan yang sangat pantas untuk pengkhianat," tambahnya menyerahkan kembali tablet itu pada Nadia.
"Baik Tuan Rio, saya akan menyuruh tim lapangan terus mengawasi tanpa ikut campur," angguk Nadia patuh.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Ibu hari ini Nadia?" tanya Rio menyandarkan punggungnya ke kursi.
Sikap dingin Rio langsung menguap digantikan dengan raut kekhawatiran seorang anak saat membahas ibunya.
"Nyonya Santi sangat sehat Tuan, pagi ini beliau sedang belajar merangkai bunga bersama kepala pelayan di taman belakang," lapor Nadia dengan nada suara yang melembut.
"Tuan Besar Bramantyo juga menemani beliau minum teh dan mengobrol santai tadi pagi," lanjutnya.
Rio menghela nafas lega mendengar ibunya bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya.
"Syukurlah, pastikan dokter gizi memantau menu makanan Ibu setiap hari."
"Aku ingin tubuh Ibu kembali bugar dan tidak terlalu kurus seperti kemarin," pesan Rio penuh perhatian.
"Tentu Tuan Rio, semua sudah diatur sesuai dengan standar kesehatan terbaik," jawab Nadia meyakinkan.
Tok tok tok.
Tiba-tiba pintu ruangan Rio diketuk dari luar.
Seorang sekretaris masuk dengan wajah sedikit panik membawa sebuah map dokumen.
"Maaf mengganggu Tuan Direktur, ada masalah darurat dari anak cabang perusahaan kita di Surabaya," lapor sekretaris itu gugup.
Rio langsung menegakkan posisi duduknya dan menatap sekretaris itu dengan tajam.
"Masalah apa? Jelaskan dengan singkat dan jelas," perintah Rio kembali ke mode bos besarnya.
"Gudang logistik utama kita di sana tiba-tiba terbakar habis subuh tadi Tuan."
"Dugaan sementara ini adalah sabotase dari pihak pesaing karena sistem keamanan sengaja dimatikan dari dalam," jelas sekretaris itu menyerahkan laporannya.
Rio membaca laporan itu dengan cepat dan matanya memicing berbahaya.
Grup Sentosa adalah raksasa bisnis, sangat jarang ada yang berani mencari gara-gara dengan mereka secara terang-terangan.
"Siapa pesaing yang punya nyali sebesar ini untuk membakar gudangku?" tanya Rio dengan suara bariton yang berat.
Nadia segera membuka data di tabletnya untuk mencari informasi terkait proyek di Surabaya.
"Satu-satunya perusahaan pesaing yang sedang memperebutkan tender proyek yang sama di Surabaya adalah Grup Harimau Tuan."
"Pemimpin mereka adalah Tuan Darmawan, seorang pengusaha tua yang terkenal licik dan punya banyak koneksi dunia hitam," ungkap Nadia membacakan profil pesaing mereka.
Rio mendengus pelan dan melemparkan map dokumen itu ke atas mejanya.
"Darmawan ya? Orang tua bangka itu rupanya sudah bosan hidup tenang," desis Rio menyeringai kejam.
"Dia pikir dengan membakar satu gudang bisa menghentikan langkah Grup Sentosa?"
Rio berdiri dari kursinya dan mengancingkan jas hitamnya dengan gerakan elegan.
"Siapkan jet pribadi perusahaan sekarang juga Nadia."
"Kita terbang ke Surabaya siang ini, aku ingin melihat langsung seberapa besar nyali Tuan Darmawan itu," perintah Rio tanpa ragu.
"Baik Tuan Rio, penerbangan akan siap dalam waktu empat puluh lima menit," jawab Nadia sigap.
"Sekretaris, batalkan semua rapatku hari ini dan besok," tambah Rio menatap sekretarisnya.
"Paham Tuan Direktur," jawab sekretaris itu menunduk hormat lalu segera keluar ruangan.
Rio menatap pemandangan kota Jakarta dari balik kaca jendela ruang kerjanya.
Baru saja dia menyelesaikan masalah keluarganya, kini dunia bisnis kembali memanggil insting predatornya.
"Siapapun yang berani menyentuh milikku, entah itu keluargaku atau perusahaanku, harus membayar dengan harga yang sangat mahal," batin Rio membulatkan tekadnya.
Permainan baru akan segera dimulai di kota yang berbeda.
Dan Rio Dirgantara siap menghancurkan musuh barunya dengan cara yang jauh lebih kejam.